Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(68)

Halaman 328-330

“Eh, Pak Hidayat, silahkan, silahkan masuk. Sudah ditunggu non Lulu dari tadi,” kata Maimunah membukakan pintu untuk Jefri.

“Maaf Bu, nama saya bukan Hidayat, tetapi J…e…f…r…i.”

“Jefri ? Ya, ya, terus, terus saja ke belakang.”

Lulu langsung berdiri, dan menghampiri Jefri. Sejenak mereka saling pandang, kemudian berpelukan. Lulu melingkarkan tangannya ke pinggang Jefri. Jefri juga melakukan hal yang sama. Mereka jalan berdampingan menuju ke meja makan.

“Terima kasih, Abang telah datang memenuhi undangan Lulu. Tadinya Lulu kira malah Abang tidak datang.”

“Oh, pasti, pasti Abang datang. Hanya, maaf sedikit terlambat.”

“Oh tidak apa-apa. Buktinya, kini Abang, sudah ada di sampingku. Sebentar, Lulu akan memanggil mama dulu, baru nanti kita makan bersama. Sebentar, ya Jef ?”

Jefri memandang sekeliling ruangan. Rumah sebesar ini terlihat sepi. Ke mana kah semua penghuninya ? Baru saja Lulu pamitan akan memanggil mamanya. Hanya mama ? Ke mana papa, dan penghuni lainnya ? Ternyata, di kota megapolitan seperti Singapura ini masih saja ada ruang-ruang sepi dalam sebuah rumah tangga. Bagaimana dengan rumah tangga orang lain ? Apakah juga sesepi rumah ini ? Kehidupan megapolitan telah memacu warganya untuk bekerja keras. Sehingga, setiap detik dari waktu yang ada mereka gunakan untuk menutupi biaya hidup yang tinggi.

Mendengar suara derap langkah, Jefri menoleh ke arah tangga. Jefri menduga, wanita yang turun bersama Lulu, pastilah mamanya. Jefri berdiri, menganggukkan kepalanya ke arah wanita paruh baya yang berada di sisi Lulu.

“Ma, ini Jefri yang Lulu ceritakan pada mama. Jef, ini mama,” ujar Lulu.

“Selamat malam, Bu. Nama saya Jefri, Jefri Darmawan.”

“Ya, ibu sudah dengar tentang kau. Ayo, ayo silahkan duduk. Oh ya, orang-orang biasa memanggil ibu dengan sebutan nyonya Wong. Ya, kau juga boleh memanggil seperti itu. Tapi, baiknya, panggil mama sajalah,” balas Nyonya Wong menyambut tangan Jefri.

“Benar itu Jef, kau panggil mama saja. Padahal Jef, nama mamaku ini Cheng Yuen Ma. Di masa mudanya, orang-orang memanggilnya Cheng-Cheng,” tambah Lulu langsung rnelangkah mendekati Jefri, menggeser kursi untuk mereka berdua. Sehingga mereka duduk saling berhadapan dengan Nyonya Wong.

“Sejak sore, Lulu dan Maimunah sibuk menyiapkan hidangan ini semua Jef. Jadi jangan sampai ada yang terlewatkan untuk kita santap. Terutama kau jef. Jarang-jarang wanita manja disampingmu itu masak Jef”

“lh si mama, yang begitu saja dilaporkan. Wanita kan tempatnya memang di dapur, iya kan Jef ?”

“Kau setuju itu Jef ?”

“Kalau saya, bagaimana Lulu saja. Kalau dia senang menjadi orang rumahan, atau senang mengurus rumah, ya saya senang. Tetapi kalau dia mau kerja, mengembangkan ilmunya, ya saya setuju-setuju saja.”

“Nah, sekarang, tinggal keputusanmu Lu. Kau harus menentukan salah satunya.”

“Enggak perlu dipilih, atau dipisah-pisah, ma. Kedua-duanya jalankan saja, beres, kan ?”

“Kamu ini memang bisa saja. Semua persoalan kamu anggap ringan.”

“Lulu kan puteri mama. Puteri yang telah mama tempa dari gelombang ombak, dan badainya kehidupan. Bang Jef, kalau mau belajar ketabahan, dan kesabaran, ya sama mamaku, tak perlu dibayarlah,” puji Lulu menatap ke arah Jefri.

“Jangan percaya Jef. Ceritanya suka dilebih-lebihkan. Sudahlah, kalau kita bicara-bicara terus, kapan kita menyantap makanan di depan kita ini. Ayo Lu, ajak Jefri …….”

“Sebentar ma, Lulu pilihkan makanan kesukaan Bang Jefri,” kata Lulu mengambil piring dari hadapan Jefri, dan menuangkan nasi. Kemudian menuangkan perlahan-lahan sayur cumi kesenangan Jefri.

Makan malam yang sederhana, tetapi sangat indah bagi Lulu, Jefri dan tentu saja Nyonya Wong. Indah bagi Nyonya Wong karena melihat sinaran kebahagiaan puterinya semata wayang. Baginya, kebahagian Lulu adalah kebahagiaan dirinya. Terlepas pria itu baru dikenal puterinya atau apapun pekerjaannya. Dia percaya puterinya dapat menjaga diri, dan memilih mana yang baik, dan mana yang buruk. Satu yang membuatnya terkejut, ketika tadi berhadapan dengan Jefri. Lelaki itu begitu miripnya dengan Hidayat. Oraang yang telah memberinya kesempatan, kemudahan dan pengalaman berwisata di Pulau Dewata, Bali. Dia tidak dapat membayangkan apabila lelaki yang kini bersama puterinya akan meninggalkannya kembali sebagaimana yang dilakukan Hidayat. Luka, dan duka yang dialami puterinya kini telah sembuh atas kehadiran Jefri. Untuk itu, dia belum berani terlalu jauh mencampuri hubungan Jefri dengan Lulu. Sesampai didalam kamarnya, sebenarnya Nyonya Wong ingin menonton TV, tapi diurungkannya. Pikirannya masih tertuju pada lelaki yang statusnya di Singapura ini belum jelas. Apakah statusnya mahasiswa seperti Hidayat dulu, pekerja, atau jangan-jangan ……. Dia tidak ingin membayangkan terlalu jauh.”Saya harus positif thinking bahwa lelaki yang kini sedang berduaan dengan puterinya, adalah lelaki yang baiknya dan bertanggung jawab. Menyayangi, sekaligus mencintai puterinya sampai mereka memasuki kehidupan rumah tangga. Mungknkah itu terjadi ?” Nyonya gelisah.

Lulu mengajak Jefri meninggalkan meja makan. Mereka sebenarnya punya keinginan untuk saling mengetahui pribadi masing-masing. Tetapi tidak ada yang berani untuk memulainya. Keduanya menjaga jarak, karena bagi mereka yang penting saat ini mereka berdua menikmati apa adanya. Waktu nantinya yang akan menentukan apakah mereka berdua dapat mempertahankan kedekatan mereka saat ini, atau mereka berdua hanya sekedar teman biasa.

“Bang, sejak bertemu dengan Abang, tiba-tiba merasa ada yang aneh, something different ! Aku tak tahu lah Bang.”

“Perasaan itu juga aku alami, Lu. Kalau aku boleh berterus terang, sebenarnya aku sedang berduka di Singapura ini.”

“Kenapa nasib kita bisa sama ya Bang ? Beberapa waktu lalu, aku mengalami hal yang sama. Aku pernah menjalin kasih dengan seorang pria asal Indonesia. Terakhir, aku dengar dia berada di kota Bandung.”

“Di Bandung ? Oh, aku jadi ingat, ingat ketika kau begitu antusiasnya ingin tahu kota Bandung. Bahkan kau tidak menyangka aku dari Bandung iya kan ?”

“Benar Bang. Tetapi selain kota Bandung, sebenarnya ada hal lain yang membuatku…”

“Membuatmu apa Lu. Hayo, berterus teranglah Lu. Aku siap untuk mendengarkannya.”

“Aku masih ragu Bang. Apa yang aku rasakan saat ini bagian dari suatu pelarian, atau bagian dari lubuk hatiku yang paling dalam yang perlu aku utarakan.”

“Itu jugalah Lu yang Abang rasakan. Abang malah takut, kalau Lulu menuduh Abang seorang yang iseng, atau mata keranjanglah.”

“Tak lah, Lulu tak punya pikiran semacam itu. Hati dan perasaan Lulu mengalir begitu saja, dan yang paling penting, Lulu senang bersama Abang.”

“Lulu serius ? Tetapi Lulu kan belum tahu kalau Abang hanya kuli di Singapura ini.”

“Tentu saja Lulu serius Bang. Kalau tidak, buat apa Lulu mengundang Abang datang ke runah ini. Soal Abang jadi kuli, atau apalah di Singapura ini, bagi Lulu itu nomor sekian. Kita bicara soal hati Bang, bukan soal pekerjaan.”

“Kalau begitu, di mata Lulu, Abang termasuk yang istimewa. Kita kan baru saja berkenalan, apa Lulu tidak ragu ?”

“Tentu, tentu saja bagi Lulu, Abang tu istimewa. masalah waktu, bagi Lulu bukan menjadi jaminan untuk kita berkenalan, ataupun menjalin hubungan. Tidak perlu ada keraguan dalam menentukan pilihan hati.”

“Pilihan hati ? Lulu berani menatap Abang, dan mengulang kata-kata Lulu barusan ?”

“Kenapa tidak Bang, Abang tak perlu ragulah”ujar Lulu langsung berdiri dan menatap tajam. ke mata Jefri.

Melihat Lulu berdiri menatapnya, Jefri pun berdiri dan menatap ke mata Lulu. Kemudian, diletakkannya kedua tangannya di bahu Lulu. Perlahan-lahan Jefri mendekatkan wajahnya ke wajah Lulu. Lulu kemudian menutup matanya. Jefri mengecup lembut kening Lulu, kemudian didekapnya tubuh Lulu. Lulu pun membalas memeluk erat tubuh Jefri. Lulu memutarkan tubuhnya membelakangi Jefri. Jefri tetap pada posisinya, kemudian didekapnya Lulu dari belakang. Mereka berdua terus saling berdekapan, bahkan tidak terusik sedikit pun atas kehadiran Maimunah di dekat mereka. Maimunah terus sibuk membenahi meja makan. Sesekali Maimunah melirik ke arah Jefri dan Lulu. Bagi Maimunah, kebahagiaan Lulu adalah kebahagiaan dirinya juga. Dia senang, majikan muda yang begitu baik terhadapnya, kini telah pulih, pulih kembali dari kekecewaan. yang menimpanya beberapa waktu lalu. Ketika tiba-tiba Hidayat, kekasih yang sangat dicintainya, meninggalkannya begitu saja. Kemurungan itu kini sirna dengan kehadiran seseorang yang sangat mirip dengan Hidayat. Maimunah hanya berani melirik. Dia tidak berani berlama-lama menatap ke arah Jefri dan Lulu. Nurani wanita dan kesempurnaannya sebagai manusia yang normal, harus bisa dibendungnya. Dia tidak ingat hari, dan tanggal berapa dia terakhir kali dipeluk seorang pria. Yang diingatnya, pria terakhir yang memeluknya adalah Wong Chung Hwa. Majikan yang telah mengangkatnya dari lembah hitam nan kelam. Majikan yang memberinya pekerjaan yang terus dijalankannya sampai saat ini. Saat di mana dia melihat puteri Wong Chung Hwa dalam pelukan seorang pria. Masa silamnya bersama Wong Chung Hwa, tidak membuat dirinya menuntut lebih jauh.**

Bersambung…….

 

Back to top button