Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(71)
Halaman 338-340

Seiring dengan kesibukan Jefri, kesibukan Desy, Irene, dan orang-orang di Easy Tour & Travel, seiring itu pula hubungan Jefri dan Lulu kian hari kian akrab. Walaupun mereka berdua tidak setiap hari bertemu. Ang Mei sendiri belum mendapatkan teman pria. Sehingga waktu-waktu luangnya selalu dihabiskan bersama Jefri dan Lulu.
Keakraban telah melahirkan benih-benih cintanya pada Jefri. Tidak sedikit pun Lulu curiga atau cemburu pada Ang Mei. Baginya, Ang Mei adalah sahabat, sekaligus saudara. Sesekali Lulu, melihat Ang Mei memeluk pinggang Jefri, atau Ang Mei memegang bahu belakang Jefri. Tetapi bagi Lulu, hal itu wajar-wajar saja, karena mereka dua memang manja pada Jefri. Jefri sendiri,walaupun Ang Mei lebih lincah dari Lulu hatinya tidak tergoyahkan. Sulit bagi Jefri untuk jatuh cinta, sebagaimana pertemuan persahabatannya dengan Desy.
Teringat akan Desy, Jefri juga teringat saat Desy menginginkan fotonya bersama Lulu. “Paling tidak. Desy kan tahu bagaimana calon kakak ipar Desy iya kan Bang Jef ?” Begitu kata Desy dalam suratnya, yang dilampirkan bersama laporan perkembangan perusahaan mereka. “Kakak ipar ? Setulus itukah Desy menyebut Lulu sebagai kakak iparnya ?” Untuk memenuhi permintaan Desy. Jefri telah memberikan foto dirinya. hasil bidikan Lulu, ataupun Ang Mei. Foto dirinya berdua dengan Lulu, semuanya hasil bidikan Ang Mei. Sebaliknya foto berduanya bersama Ang Mei, hasil bidikan Lulu. Foto hasil bidikan Ang Mei di Taman Merlion, yang sangat disenangi Jefri. Ang Mei membidik saat Jefri memeluk Lulu, dan Lulu menempelkan pipinya ke pipi Jefri. Dengan ukuran 10 R, Jefri mengirimkannya untuk Desy. Yang hebatnya, begitu foto sampai Desy langsung menghubungi Jefri. Jefri sangat terharu, ketika Desy mengabarkan bahwa fotonya bersama Lulu, akan dibingkai, dan diletakkan di atas meja kerjanya. Semula Jefri berpikir kalau Desy akan memperolokkannya, bahwa Jefri hanya ingin berpacaran atau menikah dengan wanita asing. Ternyata, Desy menempatkannya demikian baik. Untuk itu Jefri tidak berani memberikan komentar, kenapa foto berduanya bersama Lulu yang dipajangkan, bukan foto dirinya sendiri. Bagi Jefri, itulah misteri, misteri kehidupan. Misteri penempatan foto Jefri dan Lulu di atas meja kerja Desy, beberapa bulan kemudian, ternyata rnemberikan suatu cerita baru yang hampir saja meretakkan hubungan Jefri dan Lulu. Pasalnya ? Pada saat Easy Tour & Travel menerima karyawan baru, dari sekian banyak pelamar, Tatang menemukan seorang pelamar yang pernah bermukim dan kuliah di Singapura. Bagi Tatang, sang pelamar tersebut sangat dibutuhkannya. Pada saat Tatang sedang berbincang-bincang dengan sang pelamar, Desy masuk ke ruang Tatang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Betapa Kagetnya Desy melihat lawan bicara Tatang.
“Bang Jef mah licik, datang tidak memberi kabar, tahu-tahu sudah ada di kantor,” kata Desy langsung melingkarkan kedua tangannya ke bahu sang pelamar.
Sang pelamar kaget, karena tiba-tiba saja ada seorang wanita muda, cantik dan harum, memeluknya dari belakang. Tatang berdiri dan memandang wajah Desy.
“Eh Des, apa-apaan ? Lho, kau sadar Des, siapa dia ? Aduh, tamu kok dipeluk, kau ini benar-benar, akh kau mabuk, Des ?”
“Lho, memangnya dia bukan ……….”
“Bukan ! Bukan ! Kau pasti menduga dia …….. Jefri, kan ? Kau ke sinilah, dan coba kau perhatikan, apakah dia benar-benar Jefri, atau bukan ? Ha, ha, ha, Desy, Desy.”
“Maaf, maaf, maaf sekali,” ujar Desy tersipu malu. Disatukannya kedua telapak tangannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya ke arah orang yang sekilas mirip dengan Jefri.
“Oh iya, kenalkan ini Bu Desy, direktur perusahaan ini,” kata Tatang memperkenalkan kepada sang pelamar.
“Selamat Siang Bu. Nama saya Hidayat” ucap sang pelamar berdiri, dan mengulurkan tangannya.
“Siang, siang. Oh ya, silahkan duduk,” balas Desy menyambut tangan Hidayat.
“Dia salah seorang yang saya rekomendasikan untuk mengisi salah satu jabatan yang telah kita sepakati. Tetapi barangkali saja ada tambahan, silahkan saja Des.”
“Kalau kalian sudah selesai, ya silahkan nanti ke ruangan saya,” jawab Desy langsung melangkah keluar menuju ke ruangan kerjanya.
Pelayan masuk ke ruangan kerja Desy meletakkan segelas air putih di atas meja. Desy menghubungi Tatang, meminta agar Hidayat membawa surat lamaran dan file hasil wawancara ke ruangannya. Desy menatap ke bingkai foto. Wajah Jefri begitu cerah dan ceria. Begitu bahagianya dia di samping wanita muda yang putih, dan bermata sipit. Rindu. Desy sangat rindu dengan Jefri. Rindu akan canda, tawa, dan nasehat-nasehat. Bersama Jefri hidup akan tenang, senang setiap saat. Hari-hari bersama Jefri, hari-hari yang penuh ceria, bahagia dan tenang.
“Kau memang penyejuk hati ini Bang.” desah Desy mengusap perlahan wajah Jefri di balik bingkai foto. Ketika akan diangkatnya bingkai foto, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Silahkan, silahkan masuk. Di sini saja duduknya.” kata Desy menunjuk kursi tamu di depan meja kerjanya.
“Terima kasih,” balas Hidayat, langsung menarik kursi, duduk, dan menyerahkan map pada Desy.
Begitu menerima map, Desy langsung membukanya. Dibaca dan dicermatinya satu persatu kelengkapan lamaran atas nama Hidayat. Orang itu mengingatkannya pada Jefri. Sementara Desy membaca dan mencermati isi dari map yang dibawanya, Hidayat memandang sekeliling ruangan. Sampai matanya mengarah pada bingkai foto yang ada di atas meja kerja Desy. Wajah pria yang ada di dalam bingkai, memang sekilas mirip dengan wajahnya. Tetapi bagaimana dengan wajah wanita yang berada di sebelah sang pria ? Darahnya mendidih, jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya tiba-tiba lemas. Wajah wanita itu begitu dikenalnya. Dia, dia pasti Lulu, ya Liu Ching Shia. Hidayat ingin melihatnya lebih dekat. Digerakkannya tangannya perlahan di atas meja. Terus, terus bergerak mendekat ke bingkai foto. Ketika ujung jarinya hampir menyentuh bingkai foto, di saat yang sama, Desy meletakkan map. Hidayat tidak sempat menarik tangannya kembali. Desy melihat jelas ujung jari Hidayat hampir menyentuh bingkai foto Jefri bersama kekasihnya Lulu.
“Anda sepertinya tertarik melihat foto ini. Atau, jangan-jangan Anda mengenal salah seorang dari mereka ?” tanya Desy coba menduga, kemudian menyerahkannya pada Hidayat.
“Apakah mereka saudara Ibu ?” Hidayat kembali bertanya pada Desy.
“Aduh, jangan panggil Ibu dong. Panggil saja Desy.”
“Tapi ini kan kantor ?”
“Lho, kalau kantor kenapa ? Pimpinan, staf, dan karyawan di sini usianya hampir sama semuanya. Kami sepakat untuk tidak memanggil bapak atau Ibu. Yang penting professional, sinergi, dan kekeluargaan. Hm, tadi pertanyaannya soal keluarga, iya kan ?”
“Iya, iya, soal keluarga. Maksudku, apakah salah seorang di dalam bingkai foto itu ada hubungan saudara dengan Bu Desy ? Eh, maksudku saudaramu ?”
“Tidak. Kedua-duanya bukan saudaraku.”
“Tetapi, kenapa foto mereka demikian terhormatnya ada di atas meja kerjamu ?”
“Ya. Karena aku memang menghormatinya. Dia telah membuka pintu hati, semangat pantang menyerah, dan mengajariku bagaimana rnenikmati hidup ini. Hidup yang nyata.”
“Maksudmu, maaf kalau aku terlalu lancang, dia kekasihmu ?”
“Ha…, ha…, ha…, kekasihku ? Kalau dia kekasihku, apa iya masuk akal kalau aku memajangnya di meja ini. Sekarang kalau aku boleh menduga kau pasti mengenal satu di antara mereka.”
“Benar. Tetapi bisa saja wanita ini mirip dengan seseorang di Singapura sana.”
“Singapura ? Nah benar kataku. Kau benar-benar mengenalnya. Mereka berdua memang berada di Singapura.”
“Kau serius ? Akh. maksudku, benarkah mereka ada di Singapura ?”
“Berarti dia…”
“Liu Ching Shia atau Lulu iya kan ?”
“Kau ternyata benar-benar mengenalnya. Benar namanya Liu Ching Shia.”
“Kau keberatan menceritakan sejauh mana hubunganmu dengan Liu Ching Shia?”
“Dia pernah menjadi bagian dari perjalanan cintaku. Tidak lama memang hubungan kami, tetapi banyak kenangan yang pernah kami ukir bersama.”
“Tetapi, kenapa kalian bisa berpisah ?”
“Hidup ! Suratan hidup telah merubahnya. Nasib yang menimpa keluargaku tidak dapat kuatasi, sehingga aku terpuruk ke jurang obat-obat terlarang. Aku benar-benar terpuruk dan malu menatap dunia, termasuk Lulu.”
“Kau meninggalkan begitu saja ?”
“Tidak hanya dia, tetapi siapa pun kutinggalkan saat itu. Aku benar-benar linglung dan yang aku ketahui kemudian bahwa aku berada dalam lingkungan pesantren. Aku bagian dari sekian banyak orang yang sedang dalam perawatan, atau terapi dari ketergantungan obat-obat terlarang.
“Tetapi kau kan bisa menghubungi atau menyuratinya”
“Tidak, aku sudah tidak-pantas lagi denganya. Aku harus melupakan, ya rnelupakannya. Kalau pria yang berada di sisinya saat ini kekasihnya aku turut bahagia “
“Kau ingin berbicara dengannya atau ingin menyampaikan permintaan maaf padanya barangkali ?”
“Oh jangan, jangan. Kalau bisa, malah jangan sampai tahu dia kalau aku bekerja di sini”
“Tetapi, apa mungkin aku menyembunyikan masalah ini pada orang yang kuhormati di samping wanita ini ?”
“Terserahlah, asal jangan saat ini, bagaimana caranya aku bisa dan mudah-mudahan aku diterima. “
“Ya ampun ! Maaf, maaf. Kok kita jadi membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan lamaranmu. Melihat referensi dan rekomendasi Tatang untukmu, aku menyetujui kau bergabung dengan perusahaan ini dan mulai besok kau sudah boleh bekerja. Kembalilah ke Tatang, dia kan mengatur job yang tepat untukmu.” **
Bersambung……







