Potret Buram Sebagian Warga Desa Tanjungwangi tak Memiliki Fasilitas MCK

Bandung Barat-tabloidreformasi.com
Kabupaten Bandung Barat pada hari Senin, (19/06/2023) menginjak usia 16 Tahun, peringatan hari jadi kabupaten Bandung Barat yang ke-16 yang bertempat di Lapangan Mekarsari Pemerintahan Kabupaten Bandung Barat, Senin (19/06/2023).
Potret buram sebagian warga Desa Tanjungwangi yang tak memiliki fasilitas Mandi,Cuci, Kakus ( MCK ) seakan jadi kado terburuk bagi pemerintahan Bandung Barat.yang tak sesuai dengan tema hari lahirnya ” Semangat Gotong Royong Menuju Ekonomi Kuat ”
Beberapa waktu yang lalu Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Brigjen TNI (Purn) dr. Noch T Mallisa menekankan pentingnya ketersediaan akses jamban sehat bagi masyarakat demi mempercepat penurunan angka gagal tumbuh atau stunting di Indonesia. Terlebih, Presiden Joko Widodo telah menargetkan penurunan angka stunting 14 persen pada 2024.
Mallisa mengatakan, ketersediaan jamban sehat dan memadai dapat meminimalisir terjadinya kontaminasi lingkungan dan penyebaran penyakit. Hal ini sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi saluran pencernaan dan penyakit diare yang dapat menyebabkan kekurangan gizi dan stunting pada anak-anak.
“WC for all itu sangat penting. Dalam arti jamban yang sehat. Sebab ini menjadi salah satu indikator untuk menurunkan stunting. tetapi berapa besar potensinya untuk penurunan angka stunting, itu yang kami minta untuk dilakukan risetnya,” kata Mallisa usai menerima audensi pakar sanitasi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr. dr Budi Laksono, MHSc, di gedung Bina Graha Jakarta, Rabu (10/5).

Berbeda halnya yang di rasakan oleh Hermawan (39), warga Kampung Pasir Tengah RT 04 RW 09 Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menunjukkan tempat mandi, cuci dan kakus (MCK) miliknya yang berada di samping rumah biliknya.
MCK yang dibuat alakadarnya tersebut, menyatu dengan bangunan utama tetapi terbuka. Hanya ditutupi pagar kayu dan karung bekas, setengah badan.
Di situ ada WC dan toren untuk menampung air. Di situ pula keluarga kecilnya mandi, cuci dan buang air besar. “Airnya kita ambil dari sumber mata air yang ada di atas. Itu pipanya, yang ditampung di sini (toren),” ungkapnya, dalam Bahasa Sunda.
Mirisnya, saluran pembuangan air dari aktivitas mandi dan cuci tidak menggunakan pipa sebagaimana layaknya. Hanya dibuang begitu saja, melalui aliran kecil dari rumahnya ke bagian bawah. Posisi rumah ayah dua anak ini, berada di atas jalan desa.
dia bukan tidak paham dengan kesehatan lingkungan, namun apa daya kondisi ekonomi keluarganya tidak mampu membuat MCK yang memadai.
Penghasilannya tidak seberapa dari kerja keras sehari-hari sebagai kuli serabutan. “Pastinya senang, kalau pemerintah membantu membuatkan kamar mandi yang layak buat keluarga kita,” lirihnya.

Senada dengan itu, Rahman (36), warga RT 4 lainnya yang rumahnya agak jauh dari Hermawan mengharapkan dapat bantuan pemerintah. Selain tidak memiliki tempat MCK, rumah gubuknya cukup memprihatinkan. Berhadapan dengan kandang domba, rumah milik Rahman terbuat dari bilik.
“Kalau mau mandi, mencuci atau buang air besar, saya, istri dan anak saya, nebeng ke rumah mertua,” bebernya, seraya menunjuk rumah mertuanya yang berada di atas rumahnya.
Lebih tepatnya, keluarga Rahman nebeng di rumah milik salah satu kerabatnya. dia sendiri mengaku belum memiliki rumah.
“Saya hanya mendapat upah dari kuli, paling-paling hanya Rp300 ribu sebulannya. Tidak cukup memang tetapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya.
Masih di lingkungan RT 04 RW 09, seorang nenek tua bernama Itoh yang hidup sebatang kara, juga tidak memiliki MCK.
“Emak, kalau mau mandi ke rumah saudara saja di rumah itu. Kalau malam-malam, tidak kuat mau kencing ya di conggang (sela-sela lantai dari bambu) saja,” tutur nenek yang diperkirakan berusia 80-an tahun.
Ketua RT 04 RW 09, Suryaman mengatakan, untuk kebutuhan sehari-hari selama ini warganya hanya mengandalkan air yang berasal dari sumber mata air.
Dari sumber mata air tersebut, warga mengambilnya dengan menggunakan pipa kecil seadanya.***







