Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di taman Merlion Singapura
Halaman 1-5

Prolog
Melangkah di permukaan bumi sudah sedemikian jauh. Sejauh dari sebuah perjalanan panjang yang tiada pernah untuk kita pikirkan, sudah berapa juta sebenarnya jumlah langkah kita. Terkadang kita lupa, untuk menghitungnya. Itu akan berbeda kalau kita mengira-ngira berapa banyak kenangan yang ada pada diri kita. Hal itu sangat tergantung, sejauh mana kita dapat memutar kembali memori yang terekam di serat-serat otak kita. Mulailah dari detik ini terus, ke masa-masa silam. Tentunya tidak mudah. Diperlukan konsentrasi, tekad yang kuat, kesabaran, dan perenungan yang dalam.
Apabila berhasil, tentu dia akan mengalir deras sebagaimana mengalirnya air dari puncak bukit ke bibir pantai. Berliku-liku melewati ramainya kota, tiupan angin, teriknya matahari, dinginnya malam, dan hempasan ombak di tengah aneka ragam watak manusia. Akan lahirlah dari padanya goresan romantika kehidupan. Kelak, bisa saja hasil goresan itu sama dengan kehidupan, kekasih, orang tua, atau malah nama isteri Anda. Di sanalah kebetulan dan kemiripan itu tidak sengaja untuk direkayasa.
Manakala kita membayangkan peran kita saat itu, atau peran masa lalu kita, tentu tidak selamanya sama. Dalam meniti hidup dan kehidupan ini, tidak ada yang statis. Karena ketetapan itu memang bukan wewenang kita. Bisa saja saat ini kita presiden, menteri, gubernur, walikota, artis, wartawan, atau malah seorang pelaut. Nah, dari kata terakhir inilah bermulanya cerita ini.
M.S. UCOK TAMBUNAN
LELAKI Batak kelahiran Kota Udang Cirebon ini sangat gandrung akan dunia jurnalistik. Debutnya, bernaung di MEDIA INDONESIA, SKM BARATA. SKM SENTANA, MINGGU PAGI (Yogyakarta), MAJALAH FAKTA (Surabaya), KRIMININALITAS & PENCEGAHAN, dan DETIK. Bergulir mudahnya pengurusan SIUPP, turut membidani Surat Kabar Umum REFORMASI TOTAL dengan hambatan sampai menjadi Pemimpin Redaksi.
Pernah melanglang buana ke beberapa Negara di kawasan Asia Afrika. Pengalaman itu melahirkan Antologi Puisi (dua bahasa Indonesia – Inggris).”Nyanyian Ombak” (The Ballads of Wave). Kemudian novel “KUTUNGGU KAU DI TAMAN MERLION SINGAPURA, LIU CHING SHIA”. Pernah bermukim di Singapura, dan terakhir sebelum menetap di Bandung, pernah pula bermukim di Hongkong.
Berkesenian, khususnya teater, belajar dengan Remy Sylado dan Uddin Lubis. Pernah pentas di Rumentang Siang Bandung dalam cerita “Somebody Say Something”. Karya / Sutradara Remy Sylado. Beberapa tahun mengajar di Lembaga Pendidikan Wartawan Indonesia (LPWI) Bandung. Selain sebagai Pemimpin Redaksi TOTAL, aktif memberikan ceramah dan konsultasi media massa (cetak) di bawah bendera Lembaga Konsultasi Media Massa Indonesia (LKMMI) yang dipimpinnya. Menulis diktat jurnalistik (bahan buku) dengan judul “PEMIMPIN REDAKSI MENULIS UNTUK WARTAWANNYA”.
Menikah dengan Ida S., wanita Sunda kelahiran Bandung dengan dua buah hati, Taufik dan Silvya. Kini tinggal di Kompleks Bumi Asri – Gempolsari, Bandung 40215. Kelahiran novel ini banyak dibantu rekan-rekan dan simpatisan yang karena banyaknya, tidak dapat disebutkan satu persatu. Tetapi, dengan hati yang tulus, saya menghaturkan terima kasih. Kiranya Allah SWT. memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.
BAGIAN PERTAMA
Queen Elizabeth Walk
Air mancur begitu derasnya keluar dari mulut patung singa berbadan ikan yang menjulang tinggi di Taman Merlion, tepat berada di muara Sungai Singapura. Sebuah patung karya Lim Nam Seng yang menjadi simbol bangsa Singapura. Senja itu Jefri berada di sana, untuk menepati janji seorang wanita bernama Liu Ching Shia atau Lulu. Wanita yang baru saja dikenalnya secara tidak sengaja di kantor pos besar Singapura. Kedatangannya kali ini memang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di Singapura. Ada beban berat yang harus dihadapinya. Selain kehilangan orang yang sangat dihormatinya, yaitu Pak Hasan, dia juga kehilangan puteri Pak Hasan yang bernama Azizah.
Sejak Pak Hasan meninggal, isteri beserta anak-anaknya pindah dari flat perusahaan di Beach Road, ke kawasan Bukit Timah. Sayangnya, Jefri belum tahu alamat pastinya. Setibanya kemarin di Bandara Changi, Jefri tidak langsung menuju ke mess perusahaan. Tetapi dipilihnya hotel yang jaraknya tidak begitu jauh dari kawasan Beach Road. Kini, dari Taman Merlion, Jefri menatap ke seberang. Tertuju pada sebuah bangunan tua yang masih kokoh, terawat apik, yang oleh pemerintah Singapura dijadikan kantor pos besar. Jefri kembali terbayang pada seorang wanita muda yang tergesa-gesa menabraknya dari belakang. Wanita itu terkejut ketika membaca nama kota Bandung di sampul surat yang dipegang Jefri.
Wanita itu begitu lincah, ceria, menawan, dan cepat akrab. Saat mereka saling bertatapan, detak jantung Jefri berdenyut kencang. Ada perasaan aneh yang dirasakannya, yang tidak pernah dialaminya ketika di Bandung bersama Desy. Sekilas memang, tetapi pandangan sekilas itu pula telah meluluhkan hatinya yang gundah karena ketidakpastian di mana sebenarnya Azizah berada. Jefri melirik jam tangannya. Angka menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit. Untuk membuang waktu, akhirnya Jefri memutuskan untuk menyebrang ke kantor pos. Dibelinya beberapa helai kartu pos yang bergambar obyek-obyek wisata Singapura, sebagaimana yang dipesankan Desy padanya. Sambil menuruni anak tangga, Jefri menatap ke Taman Merlion. Ketika di sana, aku memandang ke sini. Sekarang, aku berdiri di sini, memandang ke sana.” Huh, aku benar-benar bingung pada kesendirianku di keramaian kota Singapura ini,” keluh Jefri sambil menyandarkan badannya ke tiang lampu kantor pos.
Jefri tersentak ketika melirik jam tangannya. Dia buru-buru menelusuri Fullerton Road, melintasi jembatan Anderson, masuk lorong, menembus ke Queen Elizabeth Walk. Di seberang, terlihat megah, City Hall (balai kota) yang menurut ceritanya, dibangun sekitar tahun 1929, berdekatan dengan gedung pengadilan, yang pernah menggegerkan Indonesia saat Kartika berebut harta waris dengan Taher, mantan pejabat tinggi Pertamina. Pukul lima kurang tujuh menit, Jefri telah tiba kembali di Taman Merlion.
“Sorry ya Bang, saya sedikit terlambat,” ujar Lulu mengagetkan Jefri yang sedang melihat ke arah laut.
“Akh, tak apa, tak apa,” jawab Jefri terkejut, karena Lulu sudah berada di belakangnya.
“Kita di sini saja, atau… kita ke tempat lain Bang ?”
“Bagaimana kalau kita ke sana saja.” Jefri menunjuk ke arah Queen Elizabeth Walk. Lulu menganggukkan kepalanya. Lulu tanpa canggung memegang tangan Jefri, jalan berdampingan menuju Queen Elizabeth Walk. Suatu tempat minum-minum di tepi Sungai Singapura yang banyak dikunjungi orang. Jefri dan Lulu mencari kursi yang berada di tepi. Lampu-lampu kapal di seberang mereka menyala satu-satu. Senja berangkat menuju malam. Awan biru-putih, tersapu warna kuning kemerah-merahan, menyiram laut yang tenang, setenang hati Jefri dan Lulu. Perahu-perahu motor pengangkut barang dari kapal-kapal besar di tengah laut memasuki Sungai Singapura melintas satu-satu di bawah jembatan Anderson. Lampu taman menyala serentak. Bangku taman satu-satu terisi. Muda-mudi bercengkrama melepas penat sehabis pulang kerja. Menjamurnya rumah-rumah susun di Singapura, taman adalah satu-satunya tempat bersosialisasi bagi masyarakat. Tempat lain, tentunya memerlukan biaya yang tinggi.
Malam kian larut. Satu-satu bangku taman Queen Elizabeth Walk, mulai ditinggalkan. Langkah-langkah gontai pasangan muda mudi yang berpelukan, melintas di depan Jefri dan Lulu. Lulu menyandarkan kepalanya ke dada Jefri. Dengan sangat hati-hati dan perlahan, Jefri membelai rambut Lulu. Pada saat mesra demikian, kata-kata memang selalu terkunci rapat. Jefri memandang lampu-lampu kapal. Jefri teringat pada pamannya, Mustafa. Surat sakti pamannya pada Tan Shia Bok, atau yang biasa dipanggil Mr. Tan pemilik Tan Hau Shipping, menjadikannya seorang kelasi kapal. Sangat beruntung Jefri dapat bertemu pamannya di Belawan, pada saat Jefri hampir putus asa karena kegagalannya menamatkan kuliahnya di Akademi Pelayaran. Puluhan tahun pamannya mengabdi pada Tan Hau Shipping. Setingkat demi setingkat pendidikan pelayaran dilalui paman. Baik dalam ataupun luar negeri, sehingga paman berhak menyandang pangkat kapten, telah mendapat pengakuan dunia pelayaran internasional. Pada saat itu, Jefri tidak memikirkan apa-apa lagi. Apalagi pamannya memberikan biaya pengurusan paspor, perjalanan, dan surat untuk Mr. Tan. Tanpa memberitahukan pada kedua orang tuanya, setelah paspor dan buku kesehatannya selesai, oleh pamannya Jefri tidak langsung diberangkatkan ke Singapura, tetapi dititipkan pada kapal kecil yang kebetulan menuju Tanjung Pinang. Pegawai syahbandar Tanjung Pinang, kebetulan teman baik pamannya.. Di sana Jefri menetap beberapa hari, sebelum berangkat naik ferry menuju Singapura.
Begitu menginjakkan kakinya di pelabuhan ferry Clifford Pier, yang pertama ditanyakannya pada petugas imigrasi yang baru saja selesai memeriksanya, adalah di mana Robinson Road, dan Tan Hau Shipping. Petugas imigrasi dengan ramah memberitahukan pada Jefri di mana Tan Hau Shipping itu berada, dan Jefri tidak perlu naik taksi, untuk menuju ke sana. Dengan langkah mantap Jefri memasuki kantor Tan Hau Shipping. Melihat Jefri berdiri, seorang wanita muda datang menyambutnya.
“May I help you, Sir ?” Tanyanya ramah.
“I will give this letter to Mr. Tan,” jawab Jefri menyerahkan surat dari pamannya.
“Hei, anda apanya Kapten Mustafa ?”tanyanya dalam logat Melayu, begitu melihat amplop yang ada di tangannya.
“Saya keponakannya,” jawab Jefri menunjuk sendiri dirinya.
“Sebentar ya, duduk saja dulu, saya coba menghubungi Mr. Tan,” kata sang wanita langsung mengangkat telepon dan berbicara dengan Mr. Tan. Tak lama kemudian, dia berdiri, dan meminta Jefri untuk masuk ke ruangan kerja Mr. Tan.
“Pamanmu memang sangat jeli. Pada saat saya memerlukan orang, dia mengirimmu. Padahal, dia sudah lama tidak menghubungiku. Baiklah, nanti kau kutempatkan di kapal baru. Sekarang, kau istirahat saja, tinggalkan paspormu pada Lili, nanti aku hubungi dia,” kata Mr. Tan kemudian mengangkat telepon.
Begitu keluar dari ruangan Mr. Tan, wanita yang tadi menyambutnya memanggilnya lagi. Jefri yakin, wanita yang berada di depannya, pastilah Lili. Dia mengenalkan Jefri pada seorang tua yang bernama Pak Hasan. Dia meminta Pak Hasan untuk mengantarkan Jefri ke mess perusahaan, yang berada di kawasan Beach Road. Dalam perjalanan, Pak Hasan banyak bercerita tentang Tan Hau Shipping, termasuk tentang pamannya.
“Pamanmu sangat disegani tidak saja di Tan Hau Shipping, tetapi juga perusahaan-perusahaan pelayaran di Singapura ini. Sudah banyak orang yang dibantunya, semuanya baik-baik, dan berhasil. Pihak perusahaan, kalau membeli kapal baru, pastilah pamanmu yang disuruh,” ungkap Pak Hasan dengan aksen Melayunya yang sangat kental.
Oleh Pak Hasan, Jefri dikenalkan pada Ahmad, warga negara Malaysia, yang bertugas sebagai pelayan mess. Dengan ramah, Ahmad menyambut kehadiran Jefri, dan menyiapkan kamar untuknya. Jefri menghaturkan terima kasih pada Pak Hasan dan Ahmad sebelum dia masuk kamar yang telah disiapkan perusahaan untuknya. Dihempaskannya badannya ke atas ranjang. Ditatapnya langit-langit kamar. Pikirannya jauh menerawang. Jauh, jauh sekali.
“Bang, Lulu besok off, jadi kita di sini saja sampai pagi, ya Bang ?” bisik Lulu ke telinga Jefri. Hembusan nafas Lulu telah membuyarkan ingatan Jefri pada saat-saat pertama kehadirannya di kota Singapura.
“Maksud Lulu, kita tidak pulang ? Terus bagaimana dengan orang tuamu, apa mereka nanti tidak memarahimu ?” Balas Jefri. Padahal dalam hatinya dia ingin terus berduaan dengan yang kembali menyandarkan kepala dan memeluknya penuh manja.
“Tak ada masalah Bang. Lulu sudah minta ijin pada mama. Kalau papa, memang jarang di rumah. Biasanya, kalau datang, dalam keadaan mabuk, lah,” keluh Lulu tanpa merasa sungkan menceritakan perihal papanya, padahal mereka baru berkenalan.
“Kalau begitu, abang bersedia menemanimu sampai pagi. Sudah itu…..”
“Ya sudah itu, kita main-main lah ke Pulau Sentosa. Abang setuju kan ?”
“Jangankan ke Pulau Sentosa, ke manapun kalau Lulu yang mengajak, pasti abang mau. Tetapi, ngomong-ngomong, apa Lulu tidak lapar ?” Tanya Jefri menggoyang bahu Lulu.
“Kalau Abang, lapar tidak ?” Lulu balas bertanya sambil membuka tasnya dan mengambil sepotong roti lalu diberikannya pada Jefri.
“Kamu tahu aja abang lapar,” canda Jefri menerima roti pemberian Lulu, dan dimakannya sedikit, kemudian sisanya dicoba suapkannya ke mulut Lulu. Semula Lulu agak sungkan membuka mulutnya, tetapi dilihatnya Jefri serius, akhirnya dimakannya juga. Masih ada tersisa sedikit lagi, oleh Jefri dihabiskannya. Ternyata Lulu memasukkan kembali tangannya ke dalam tas. Jefri mengira, Lulu akan mengeluarkan roti kembali, ternyata Jefri keliru, karena Lulu mengeluarkan sebuah jeruk manis berwarna kuning. Lulu segera mengupasnya perlahan-lahan. Kulit Jeruk dimasukkannya ke dalam tasnya.
“Jef, kini giliranku menyuapimu, ayo makan, makanlah.” Ujar Lulu menjulurkan belahan jeruk ke mulut Jefri. Kemudian Jefri mengambil sisanya dari tangan Lulu. Dibelahnya, kemudian disuapkannya ke mulut Lulu. Demikian mereka silih berganti, saling suap sampai roti dan jeruk yang dibawa Lulu habis. Jefri merasa bagaikan anak kecil yang sedang disuapi sang ibu. Ada-ada saja ! Jefri penasaran, ketika Lulu kembali memasukkan tangannya ke tas. Dengan sabar Jefri menanti makanan apa gerangan yang dikeluarkan Lulu dari tasnya. Tiba-tiba Lulu mengeluarkan tangannya dan memberikan jari telunjuknya.
“Nih, nih makan,” kata Lulu terus tertawa-tawa.
“Sini,” sambut Jefri menarik tangan Lulu dan jari Lulu dimasukkannya ke mulutnya dan Jefri menggigitnya perlahan.
“Ampun, ampun Jef,” teriak Lulu dan dengan tangan kiri, diraihnya leher Jefri. Wajah mereka beradu. Jefri melepaskan gigitannya. Kembali dia memeluk Lulu. Setelah saling suap, kini mereka saling peluk, sebagaimana pasangan-pasangan lainnya yang berada di Queen Elizabeth Walk.
Di usianya saat ini, Jefri belum pernah mengalami kemesraan dengan makan saling suap, apalagi di taman yang terbuka, di mana orang hilir mudik dan di sekeliling mereka juga banyak orang. Bagi Jefri, bukan berarti dirinya tidak pernah mengalami jatuh cinta atau tidak pernah pacaran, apalagi bermesraan. Semasa menginjak kelas satu sekolah menengah teknik pun, dia pernah jatuh cinta. Wanita itu bernama Nani, puteri tunggal dari seorang asisten di salah satu perkebunan di Sumatera Utara. Bahkan di Singapura, warga negara Singapura, bernama Azizah binti Hasan, yang tinggal bersama kedua orang tuanya di kawasan Beach Road. Mereka saling mencintai dan direstui kedua orang tua Azizah. Hanya sayangnya, abang Azizah, yang juga seorang polisi Singapura, tidak menyukainya, bahkan menentang keras hubungan mereka berdua. Hanya karena Jefri seorang kelasi kapal. Di matanya, tidak ada kesetiaan bagi mereka yang bekerja sebagai pelaut. Dia tidak rela adiknya disia-siakan, ditinggal berbulan-bulan, atau malah bertahun-tahun. Di saat adiknya menanti seorang diri dirundung kesepian, menurut pendapatnya, sang pelaut yang berlabuh dari pelabuhan satu ke pelabuhan lainnya, dari kota satu ke kota lainnya, justru sedang menikmati petualangan cinta, dan kemesraannya.
“Wah, Abang termenung lagi, ya ?” cetus Lulu mengagetkan Jefri dari lamunannya.
“Oh tidak, tidak. Abang hanya kasihankan Lulu. Abang berpikir, Lulu kan penat kerja seharian, bukan istirahat, tetapi malah menemani abang di taman ini,” balas Jefri memberikan alasan. (Padahal, banyak kenangan manis yang memang mengingatkannya pada Azizah, pada saat awal-awalnya dia berada di Singapura).
“Apakah barusan Lulu tidak salah dengar, Bang, kalau Abang kasihankan Lulu ?” Ujar Lulu coba menyanggah pernyataan Jefri.
“Tidak, Lulu tidak salah dengar. Abang memang kasihan pada Lulu. Lulu begitu baik pada abang, mau menemani abang yang tidak punya sanak keluarga ataupun saudara di Singapura ini,” balas Jefri seraya membelai perlahan-lahan rambut Lulu.
Disapunya perlahan rambut Lulu ke belakang, didekatkannya wajahnya dan dikecupnya kening Lulu. Lulu membenamkan wajahnya ke dada Jefri……bersambung







