Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di taman Merlion Singapura-(4)

Halaman 16-20

 

“Akh, baru satu minggu. Kapalku lagi bongkar muat, tuh di tengah sana. Kalau kau ?” Regar balik bertanya.

“Sama, aku juga baru di sini. Bahkan baru pertama kali aku ke sini. Kalau kau mungkin sudah lama kerja di kapal ?”“Akh, nggak juga, baru setahun lebih lah. Kalau kau ngapain di sini ? Main-main atau kuliah ?”

“Apa pula main-main, ya kerja lah. Baru hari ini aku diterima di Tan Hau Shipping. Katanya sih kapal tanker, tapi aku sendiri belum lihat kapalnya. Rencananya baru besok aku ke kapal.”

“Hebat juga kau ini, baru datang terus dapat kerja. Sementara orang lain, sampai habis visanya, diperpanjang berulangkali pun belum ada lowongan. Di Tan Hau Shipping lagi ya, pasti kau ada yang menolong, ya kan ?”

“Benar, aku ditolong pamanku yang sudah lama kerja di Tan Hau. Kalau kau, kapal apa dan rutenya ke mana saja ?” Jefri ingin tahu lebih jauh tentang Regar.

“O, aku di kapal barang, Ever Green, milik Kuo Sheng Shipping. Rutenya paling jauh juga Jepang, Taiwan, Bangkok, Malaysia, dan kembali ke sini.”

“Kau bagian apa di kapal tanker, apa namanya ?”

“Namanya Bay Tank. Aku ditempatkan di bagian mesin.”

“Ya, sudah bagus itu. Dari pada kau ditempatkan jadi pelayan, kan gawat juga. Oh ya, selama ini kau tinggal di mana ?”

“Di mess perusahaan, di daerah Beach Road.”

“Ya. aku tahu itu. aku sering juga ke daerah itu. Nggak jauh dari situ, ada rumah makan Padang. aku dan teman-teman sering makan di sana. Belanja pakaian juga murah di daerah situ. Ya, daerah Arab Street atau Queen Street lah.”

Wah, aku belum tahu daerah itu. Tetapi, nanti malam aku coba ke sana. aku ada orang tua angkat baru, yang aku kira menemani aku ke sana. Atau paling tidak ditemani anaknya.”

“Laki-laki atau perempuan anaknya ?” Tanya Regar ingin tahu.

“Ya dua-duanya. Kalau yang perempuan nggak mau, ya adiknya yang laki-laki.”
“Masih muda ?”

“Masih. Paling juga 17 atau 18 tahun lah,” jawab Jefri seadanya, karena memang dia belum mengetahui sebenarnya berapa usia Azizah.

“Wah, beruntung lagi kau ini. Tapi, kalau melihat kegantenganmu, siapa sih wanita yang tidak tertarik padamu,” goda Regar.

“Kau ini bisa saja.”

“Benar. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku saja yang laki-laki dapat menilaimu demikian, apalagi perempuan ? Aku serius, Jef.”

“Akh sudahlah, kita ke sini kan mau nostalgia tentang kampung halaman atau apalah, tetapi bukan soal pikat memikat, atau masalah perempuan, iya kan ?”

“Ha, ha, ha. kau ini baru Jef, tetapi begitu kau minum air laut, dihempas ombak dan berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bulanan tidak lihat daratan, baru kau tahu. Sekarang sih belum Jef. Nantilah, kalau panjang umur kita ketemu lagi, aku yakin, malah kau duluan yang cerita soal perempuan.”

“Yah, bagaimana nantilah. Cerita begituan sudah tidak asing lagi aku mendengarnya, bahkan pelaut itu sudah dicap di mana kapal ditambat, di situ cinta melekat. Di mana kapal berlabuh, di situ sang pelaut berteduh. Begitu kan ?”

“Betul. Betul begitu Jef. Itu bukan cerita lagi, tapi kenyataannya memang begitu lho. Aku belum separah itu, tetapi teman-temanku yang sudah puluhan tahun di kapal, mengalaminya. Nggak tahulah Jef, dulu waktu pertama kali aku kerja, aku masih bisa mengalaminya. Ngirim uang ke orang tua di Siantar sana masih lancar. Sekarang, wah, kacaulah Jef,” keluh Regar.

“Tetapi, yang pasti kau bukan menakut-nakuti aku, kan ?”

“Ya tidaklah. Tetapi sebagai teman yang duluan terjun, aku mengingatkan kau bahwa jadi pelaut itu banyak sekali tantangannya.”

“Terima kasih Regar. aku akan ingat cerita kau ini. Kapan-kapan kau main ke kantorku. Selama kata mereka kapal ada di sini, aku yakin kita pasti ketemu.”

“Ya, kau juga gitu Jef. Sesekali mainlah ke kantorku, mereka tahu di mana saja aku dan kapalku berada. Kelihatannya kau mau ada perlu Jef ?” Tanya Regar pada Jefri yang telah melihat jam tangannya.

“Benar, Regar. Aku janji dengan seseorang yang akan menemaniku pulang ke mess,” angguk Jefri yang khawatir kalau-kalau Pak Hasan menantinya di kantor.

“Okey lah, Jef. Sampai ketemu lagi. Biar ini aku yang beresin,” kata Regar menjulurkan tangannya memberi salam pada Jefri.

“Terima kasih, Regar. Sampai bertemu lagi.”

Jefri pelan-pelan menelusuri Robinson Road sambil sesekali menatap ke gedung-gedung pencakar langit yang mengelilinginya. Jefri coba melintasi Cross Street, tetapi dia tidak mau buru-buru ke kantor, karena dia yakin Pak Hasan juga belum datang. Jefri mau belanja, tetapi pesan Regar temannya, kalau mau belanja yang agak miring, di daerah dekat tempat tinggalnya. Tetapi Jefri penasaran, ingin tahu masalah harga-harga di Singapura. Tidak jauh dengan kantornya, memang ada pusat perbelanjaan China Square, dan Jefri hampir tiba di sana. Dengan langkah yang mantap, Jefri memasuki China Square. Dari satu stand ke stand lainnya diperhatikan barang-barang beraneka ragam di etalase sangat menarik perhatian. Untungnya pengunjung banyak, sehingga pelayan toko tidak langsung menyapanya, begitu Jefri memperhatikan daftar harga.

Jefri teringat akan pesan teman barunya, Siregar. Memang benar harga-harga demikian mahal. Dari uang saku yang baru diterimanya, ternyata tidak begitu berarti dibandingkan dengan daftar harga yang baru saja dilihatnya. Tetapi, hitung-hitung menunggu waktu pulang, Jefri keliling terus dari satu lantai ke lantai lainnya. Tidak terasa Jefri telah satu jam berada di China Square. Tidak jauh di seberang kantornya ada pasar, Jefri akan menyebrang. Tetapi dibatalkannya, dia takut kalau-kalau Pak Hasan menunggunya terlalu lama. Kalau pun Pak Hasan belum datang, akan lebih baik dia yang menunggunya, dari pada Pak Hasan yang menunggu dirinya.

Akhirnya, Jefri memutuskan kembali ke kantor. Para karyawan telah masuk kembali. Sebelum duduk, Lili memberitahukan kalau Pak Hasan sudah menuju ke kantor.

“Jef, tak lama lagi, Pak Hasan datang. kau jangan keluar lagi, ya !”

“Baik Bu, saya akan tunggu di sana saja,” ujar Jefri menunjuk ruang tamu.

“Sepertinya lebih baik begitu, nanti saya call office boy untuk membuatkan kopi untukmu.”

“Terima kasih, terima kasih, Bu Lili,” kata Jefri mengepalkan tangannya diangkat-angkat sedikit ke atas.

“Kembali,” Lili menyibukkan diri kembali menyelesaikan tugas-tugasnya.

Di antara tumpukan majalah, Jefri melihat MATRA terbitan Juni 1995. Betapa senangnya Jefri membaca rubrik wawancara dengan Goenawan Mohammad, salah satu tokoh pers Indonesia yang dikaguminya. Tokoh yang satu ini memang sangat terkenal dengan “Catatan Pinggir” di majalah TEMPO yang dipimpinnya. Pada saat Jefri meninggalkan tanah air, majalah ini sedang mengalami masalah dengan pemerintah. Bersamaan dengan DETIK dan EDITOR yang juga kena bredel. Melalui Surat Keputusan No. 123/KEP/MENPEN/1994 tanggal 21 Juni 1994, majalah berita mingguan TEMPO dibatalkan dengan segala akibat hukumnya. Dicabutlah Surat Ijin Penerbitan Pers (SIUPP) TEMPO. Pada saat itu, TEMPO menurunkan berita dengan judul “Habibie dan Kapal itu”. Perjuangan panjang Goenawan ini sangat menarik perhatian. Tidak saja bagi para praktisi pers di tanah air, pers luar negeri pun mengikuti perkembangan gugatan TEMPO terhadap pemerintah. Begitu juga praktisi hukum, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, dan masyarakat, banyak simpati pada majalah TEMPO. Tidak heran setiap sidang digelar, selalu ramai pengunjungnya.

Memang, bagi Jefri bukan pertama kali ini dia mengetahui riwayat hidup Goenawan Mohammad yang biasa juga dipanggil GM. Tetapi, mengikuti sidang-sidang gugatannya sangat menarik perhatian. Terutama saat Hakim Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Benjamin Mangkoedilaga, SH mengabulkan gugatan GM terhadap Menteri Penerangan Harmoko. Keputusan ini dinilai banyak orang merupakan angin segar dalam penegakan hukum di Indonesia. GM memang sangat identik dengan TEMPO yang telah 23 tahun dipimpinnya. Ketika akhirnya dibredel, pada wartawan, GM mengatakan,” Saya tidak dendam atau marah. Saya sudah puas berkarier. Saya hanya sedih bila memikirkan nasib teman-teman yang baru mulai melangkah dan ikut dipatahkan cita-citanya karena kematian itu.”

Demikian GM yang “Catatan Pinggirnya” telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris menjadi “Sidelines” dan bahasa Jerman “Am Rande Bekert”. Terlihat pada foto di majalah MATRA, GM didampingi isterinya Widartim, rekannya Fikri Jufri, dan Marsilam Simajuntak, serta maraknya pengunjung di PTUN Jakarta.

Berita lain yang juga menarik perhatian Jefri tentang kian maraknya internet di berbagai sisi kota di Indonesia. Apalagi masalah pornografi tanpa sensor, yang tidak terhindarkan dari sisi kecanggihan internet. Rubrik biografi, tentang Ludwig van Beethoven, dan suplemennya tentang Madura, dengan judul “Tradisi dan Industri”. Belum sampai habis dibaca, tiba-tiba Jefri dikejutkan suara yang sangat dikenal memanggilnya.

“Hei Jef, maafkan Bapak terlalu lama meninggalkan kau di sini.”

“Eh, tidak apa-apa Pak, saya baru saja datang dari jalan-jalan,” ucap Jefri sambil berjalan mendekati Pak Hasan.

“Apakah tidak kesasar Jef ?”

“Tidak, saya kan tinggal melihat nama gedung ini, nama jalannya, terus saya lihat sekelilingnya. Bahkan waktu istirahat siang tadi, saya berkenalan dengan Siregar.”

“Siapa Siregar itu, Jef ?”

“Dia orang satu kampung dengan saya. Dia juga bekerja di kapal. Katanya kapalnya lagi bongkar barang di tengah sana,” kata Jefri menunjuk ke jendela.”

“Dia beri alamatnya tak ?” Kata Pak Hasan ingin tahu.

“Tidak, tetapi katanya di sering makan di Kandahan Street.”

“Oh, Bapak tahu lah itu. Di situ kan ada rumah makan Padang.”

“Rumah makan Padang ?”

“Ya Jef, rumah makan Padang. Bapak pernah sesekali makan kak sana. Enak juga makanannya Jef. Tetapi agak pedas lah. Kapan-kapan Bapak nak ajak kau kak sana. Siapa tahu ketemu lah dengan teman kau tu.”

“Mudah-mudahan Pak. Oh ya, sekarang kita balek ?”

“Ya, kita balek sekarang lah. Tetapi bagaimana dengan urusan kau, Jef, sudah beres ?”

“Sudah Pak, sudah. Malah saya diberi uang oleh Mr. Tan. Katanya, untuk beli baju kerja dan keperluan lainnya.”

“Bagus lah Jef, nanti Bapak suruh Zizah mengantarkan kau belanja.”

“Tetapi kata teman saya kalau belanja ke daerah Arab Street,” ujar Jefri mengingatkan pesan Regar.

“Ya, Bapak kira benar juga teman kau tu Jef. Kalau dari flat kita, tinggal jalan kaki tak begitu jauh lah.”

“ Kata teman saya juga begitu, Pak.”

“Jef, mari kita balik sekalian nak kasih tahu Lili, besok pagi-pagi aku nak antar kau ke kapal. Sekalian ada pesanan Kapten Martin yang harus aku sampaikan, karena malam nanti Martin nak tidur di flatnya. Oh ya, sekalian dia beri amanat untuk kau menemuinya malam nanti. Jadi, kita bisa sama-sama ke dia.”

Setelah Pak Hasan menghadap Lili dan Lili memberikan amplop, Jefri menyalami Lili, terus melangkah mengikuti Pak Hasan menuju pintu lift. Demikian mahirnya Pak Hasan menyetir kendaraan. Melalui Cross Street memutar ke kanan melalui South Bridge Road terus lurus ke North Bridge Road. Cukup lama untuk menuju ke Beach Road. Selama perjalanan itu, Pak Hasan mengajak Jefri berbincang-bincang. Sampai akhirnya Pak Hasan mengatakan, kalau dia sudah menginformasikan tentang Jefri ke Kapten Martin. Bahkan melalui Pak Hasan, Martin cash bon pada perusahaan melalui Lili, orang kepercayaan Mr. Tan.

“Jef, bapak sudah bicarakan tentang kau kepada Martin. Dia sangat respek ketika Bapak beritahukan kau itu masih keponakannya Kapten Mustafa. Bahkan dia cerita tentang paman kau tu Jef.”

“Soal apa Pak. Apakah soal yang jelek atau yang baiknya ?” Jefri penasaran.

“Oh, soal yang baik-baiklah. Paman kau tu dulu malah pernah membantu Martin, waktu mereka pernah satu kapal. Paman kau beri dia pelajaran dan mendukungnya untuk menjadi kapten kapal Bay Tank.”

“Tetapi Pak, saya minta diantar ke flatnya nanti,” pinta Jefri.

“Ya, bapak pasti antarkan kau ke dia. Bapak kan sudah janji tadi. Sekalian bapak nak antarkan ini padanya,” jawab Pak Hasan sambil memperlihatkan amplop yang tadi diterimanya dari Lili.

“Walaupun dekat dengan paman saya, tetapi saya harus tetap menghormatinya, Pak. Bukankah dia pimpinan saya nantinya di kapal Bay Tank. Dan itu tetap akan saya jaga, karena di kapal nanti kan banyak orang.”

“Bagus Jef, bapak setuju dengan sikap kau tu. Tetapi percayalah Jef, Martin tu baik dan ramah orangnya. Bapak yakin dia akan memperhatikanmu, Jef. Sudahlah, nanti malam kau akan membuktikannya sendiri.”

“Mudah-mudahan demikian adanya, Pak.”

Kendaraan membelok ke kanan. Pak Hasan memberitahukan pada Jefri mereka telah sampai di Arab Street. Pertokoan biasa dengan beraneka ragam perniagaan tersedia di sana. Jefri membayangkan bagaimana dirinya akan berduaan dengan Azizah berjalan dari satu toko ke toko lainnya. Dia akan meminta Azizah untuk mengantarnya ke rumah makan Padang di Kandahan Street sebagaimana yang dituturkan Siregar dan Pak Hasan padanya, barangkali saja aku bertemu dengan Siregar atau perantau-perantau lainnya. Atau malah ada yang aku kenal. Kalau bertemu saat aku bersama Azizah, dan mereka tanya, apakah aku harus menjawab bahwa Azizah anak teman sekerjaku ? Bagaimana kalau seandainya mereka menanyakan apakah Azizah pacarku ? Seandainya aku jawab iya, kemudian didengar Azizah bagaimana ? Kalau kemudian Azizah kabur, mengadu kepada Pak Hasan, ah…. matilah aku.

“Kau ini kena apa Jef, memukul kepalamu sendiri,” tanya Pak Hasan ketika melihat Jefri mengepal tinjunya dan memukulkan ke dahinya.

“Akh tidak, tidak apa-apa Pak,” jawab Jefri sedikit gugup.

“Oh, bapak kira kau tu pusing. Inilah Jef, Arab Street tu. Kalau kau nak belanja ya kak sinilah. Aku kira Azizah tak pula keberatan menemanimu belanja nanti. Tinggal kau atur saja waktunya. Malam pun tak apa-apa.”

“Ya, ya Pak. Mudah-mudahan saja Azizah tak keberatan menemani aku nanti.”

“Tentu saja tidak Jef. Bapak akan katakan padanya nanti.”

“Terima kasih sebelumnya Pak.”

Kendaraan belok ke kanan memasuki Beach Road. Flat tempat Jefri tinggal telah kelihatan. Pak Hasan mencari tempat parkir khusus untuk kendaraannya. Pada saat lift menunjukkan angka 2, Pak Hasan berpesan pada Jefri untuk menemuinya selepas Shalat Maghrib.

“Jef, bapak duluan ya. Jangan lupa nanti selepas Maghrib kau jemput bapak, nanti kita sama-sama ke Martin.”

“Sebelum Jefri membalas pesan Pak Hasan, pintu lift telah tertutup kembali. Di depan kamar, Jefri melihat Ahmad sedang menyapu.

“Selamat sore Mad, apa kabar. Apakah aku boleh masuk ?”

“Aku baik-baik saja Jef. Tetapi kenapa pula kau tanyakan apakah kau boleh masuk apa tidak ?”

“Ya, aku melihat kau baru saja membersihkan ruangan ini. Takut kalau nanti gara-gara aku masuk, kotor lagi kan tidak baik, Mad.”

“Engkau ini ada-ada saja lah Jef. Walaupun kotor atau bersih kau tu berhak masuk ke kamar ini. Hayo masuklah dan mandilah. Begitu kau selesai mandi, nanti kau lihat kopi sudah ada di meja, okey ?”

“Okey, Mad. Terima kasih atas kebaikanmu.”

Jefri bergegas memasuki kamarnya. Dia merebahkan badannya. Perjalanannya hari ini cukup lancar. Semua terbayang kembali. Sejak berkenalan dengan Mr. Tan, berhadapan dengan Lili dan staf-staf di Tan Hau Shipping, dengan Siregar, dan tentunya saat menerima uang dari Lili. Oh ya, tiba-tiba Jefri bangkit. Dia baru ingat, kalau di kantongnya ada 800 dollar Singapura. Jefri mengeluarkan amplop dan menyobek pinggirnya pelan-pelan. Uang seratusan dollar sebanyak delapan lembar.

Diperhatikannya satu-satu uang dollar yang seumur hidup baru kali ini dilihatnya. Jefri mengucapkan alhamdulillah atas rezeki dan kemudahan yang Allah berikan padanya. Dimasukkannya uang ke dompetnya, kemudian Jefri menanggalkan celana panjangnya dan menggantikannya dengan celana pendek, kemudian menuju kamar mandi. Ahmad menepati janjinya, begitu Jefri mengganti pakaiannya dan keluar kamar, di meja telah tersedia kopi hangat. Aromanya begitu enak tercium. Tetapi Jefri tidak ingin gegabah.

“Mad, ini kopi buat aku ?”

“Tentu Jef, aku kan sudah janji kalau aku akan membuatkan kau kopi.”

“Terima kasih kalau begitu Mad. Tetapi bagaimana dengan kue-kue dan roti ini, apakah juga boleh aku santap, Mad ?”

“Ya, silahkan, silahkan Jef. Itu memang disediakan untuk dimakan, bukan nak jadi tontonan ataupun penghias meja makan.”

“Hah, kau ni ada-ada sajalah, Mad. Aku takut, kalau-kalau punya Asun, bukan nak jadi tontonan ataupun penghias meja makan.”

“Tak payah nak kau pikirkan, Asun tu Jef. Dia tu tak pula suka kue ataupun roti. Asun tu paling suka bubur palai ca kuei. Jadi, kau ta Jef bolehlah makan sesukamu.”

“Bagaimana dengan kau sendiri, Mad ?” Pancing Jefri.

“He Jef, kau nak habiskan semuanya ? Tetapi tak apa kalau kau bisa habiskan, aku akan berikan kau hadiah.”

“Yang benar Mad, kau tak bohongin aku kan ?”

“Tidak Jef, aku benar-benar akan memberimu hadiah.”

“Hadiahnya apa Mad ?” Tanya Jefri serius.

“Hadiahnya, ya puterinya Pak Hasan lah. Ya, aku akan serahkan Azizah buat kau, Jef !”

“Huh, sialan kau Mad. Aku kira kau tu serius nak beri aku hadiah, tak taunya kau nak berikan Azizah. Awas, sebentar lagi aku ketemu Pak Hasan, kuberi tahu kalau kau….”

“Kalau apa Jef ? Hayo sebut saja, jangan ragu-ragu.”

“Ya, kalau kau benar-benar nak inginkan Azizah.”

“Kenapa harus aku Jef ? Bukankah kau lebih padan dengan Azizah tu ?”

“Okeylah Mad. Yang penting kue dan roti dan kue di atas meja ini yang sudah pasti. Ini dulu lah yang kita makan, bukan begitu cek Mamad ?”

“Benar juga kau tu Jef, mari kita santap dulu kue dan roti di depan kita ini. Lain perkara kita bicarakan nanti lagi lah, bukan begitu Tuan Jefri ?”

“Kau ini bisa saja Mad, panggil aku tuan segala. Aku ini kuli dan calon tukang oli pula di kapal nanti. Pokoknya aku nantinya bermandikan solar dan oli, Mad.”

“Tak apa-apa Jef, yang penting bagi kita kan ini,” kata Ahmad menggesek-gesekkan jari telunjuk dan jempolnya.

“Maksudnya, apa itu Mad ?”

“Ya, dollar, dollar !”

“Oh, aku kira hanya di Indonesia saja istilah itu. Ternyata kode seperti itu mendunia juga, Mad.”

“Hei Mad, nanti malam aku nak ke rumah Pak Hasan. Selepas itu, kami nak sama-sama ke Kapten Martin.”

“Kapten Martin nak tidur kak sini malam ni, Jef ?”

“ katanya sih begitu. Pak Hasan nak kenalkan aku pada Kapten Martin.”

“Wah, kalau begitu aku nak bersihkan dulu kamarnya Jef. Takut kalau Pak Martin datang ruangannya kotor, bisa-bisa aku kena marah lah.”

“Lho, memangnya Kapten Martin tukang marah Mad ?”

“Tidak juga, Kapten Martin tu baik orangnya. Hanya dia tu tidak suka ruangannya tidak bersih dan rapi.”

“Oh, aku kira dia tukang marah.,” balas Jefri yang semula terkejut kalau Kapten Martin yang akan dikenalkan padanya tukang marah-marah.

“Kau tak perlu takut Jef, pasti dia tu baik orangnya dan suka memberi ini, ni” Ahmad mengulang lagi kode jarinya soal uang.

“Pantas kau nak buru-buru pergi ke kamarnya, ternyata kau nak perlukan hadiah dari Kapten Martin. Ha, bisa saja kau ni Mad !”

Menjelang Maghrib, Ahmad sudah selesai membereskan kamar Kapten Martin. Malah Ahmad mengajak Jefri bersiap-siap untuk melakukan shalat berjamaah. Ketika Jefri memintanya untuk menjadi imam, semula Ahmad menolaknya. Tetapi Jefri menyakinkannya untuk menjadi imam. Seolah-olah masih ada perasaan rendah diri, kalau dia dijadikan imam oleh Jefri. Padahal, yang Jefri tahu, Ahmad lebih memenuhi syarat untuk menjadi imam, terutama bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an yang selalu dilantunkannya demikian fasih. Akhirnya., Ahmad meluluskan juga permintaan Jefri. Begitu juga dalam berdo’a, terlihat sekali kalau tingkat keagamaan Ahmad demikian tinggi. Jefri bangga memiliki teman seperti Ahmad yang sangat khusuk dalam menjalankan ibadah.

Di tengah hiruk pikuknya kota megapolitan seperti Singapura ini, Jefri masih menemukan sosok anak muda yang demikian tekunnya beribadah. Suatu saat, Jefri akan memperdalam masalah keagamaan dengan Ahmad. Jefri percaya, dengan pemahaman agama yang demikian, tidak mungkin didapat satu atau dua tahun. Dalam pemikiran Jefri, seusia Ahmad saja demikian baiknya, bagaimana dengan orang tua atau gurunya di Johor sana ? Keikhlasan Ahmad dalam menjalankan tugas-tugasnya yang terasa demikian ringan tanpa beban, yang perlu untuk dipelajari Jefri. Tuhan demikian murahnya memberikan jalan pada Jefri dengan mempertemukannya dengan orang-orang yang baik, selama beberapa hari ini dia menginjakkan kakinya di Singapura. Mulai dari keluarga Pak Hasan, Mr. Tan dan sekretarisnya Lili, serta Ahmad yang demikian tulus berteman dengannya. Tetapi bagaimana dengan Kapten Martin ? Bukankah dia pejabat tertinggi di kapal nanti ? Rencananya malam nanti akan berkenalan dengan Kapten Martin….. bersambung

Back to top button