Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di taman Merlion Singapura-(10)

Halaman 46-50

Jefri tidak ingat kapan dia terlelap tidur. Tetapi yang jelas, saat Fendi membangunkannya, Jefri melirik jam tangannya, ternyata hampir pukul 04.00 pagi. Jefri bergegas ke kamar mandi, menyiapkan minuman, langsung turun ke kamar mesin.

“Jef, sebentar lagi sampai di Trenggano, kau mau jalan jalan lagi ?” Tanya Fredick saat Jefri sedang memeriksa jurnal.

“Sepertinya saya di kapal saja Chief, soalnya saya sangat mengantuk, Chief.”

“Baguslah, soalnya kita juga tidak lama di sini. Paling sore kita sudah kembali ke Singapura,” jelas Fredick.

“Kita kembali ke Singapura, Chief ?”

“Ya, kenapa, sepertinya kau sangat gembira Jef, pasti kau sudah rindu dengan kekasihmu, ya kan ?”

“Biasalah Chief, anak muda.”

“Kau keberatan menyebut nama kekasihmu padaku Jef ?”

“Tidak, aku tidak keberatan. Namanya Azizah, Chief.”

“Berarti kau udah…….. “

“Belum, belum Chief, aku belum…….. “

“Hah ! kau ini salah sangka Jef, maksudku apakah kau sudah tunangan.”

“Oh, aku kira…………..”

“Huh ! dasar piktor ! sudahlah, sudah saatnya kau mengontrol.”

“Okey Chief, aku permisi dulu,” ujar Jefri berdiri dan melangkah melaksanakan tugasnya.

Fredick sibuk juga melayani order over kalajuan mesin, apakah maju, mundur, penambahan kecepatan, atau pengurangan kecepatan. Ketika ada benturan lambung dan mesin pada kecepatan rendah, menandakan kapal bersandar di dermaga. Mesin utama telah dimatikan, suasana kamar mesin hanya terdengar suasana mesin diesel. Fredick telah naik ke atas, sementara Jefri sendiri di kamar mesin. Jefri tidak tahu apa yang terjadi di atas sana, karena belum waktunya dia memanggil Udin untuk menggantikannya. Ketika Jefri menulis jurnal, Udin sudah berada di depannya.

“Jefri, kau tidak siap-siap untuk turun ke darat ?”

“Aku sepertinya malas, Din. Aku mau istirahat saja lah.”

“Jefri, Terengganu itu lebih mantap dari pada Kuantan. Bisa-bisa kau menyesal nanti kalau tidak jalan-jalan. Banyak yang mau turun Jef.”

“Turun juga percuma Din, iniku kosong,” ujar Jefri menepuk kantung celananya.

“Kalau soal itu, kau tinggal lapor ke Mualim Dua, nanti diberi kasbon. Keuangan di kapal ini kan dia, Jef. Sudahlah yang penting kau kumpul-kumpul saja di atas.”

“Oke, aku tinggal dulu Din,” kata Jefri meninggalkan Komarudin.

Di pesisir Laut Cina Selatan, Terengganu suatu kota pantai yang indah. Terutama pasir putih yang memanjang di antara lindungan pohon-pohon kelapa yang tinggi. Terutama di lokasi pada waktu-waktu tertentu ada pertunjukan tari-tarian tradisional. Pantai yang banyak dikunjungi orang untuk berjalan-jalan di malam hari dengan bertelanjang kaki. Terasa hangatnya pasir kelembutan butir-butiran pasir yang membuat kesan tersendiri. Selain terdapat kediaman Sultan, terdapat juga museum yang merupakan kebanggaan tersendiri kota Terengganu.

“Jef, kau kan off kenapa tidak ikut dengan mereka-mereka,” sapa Jafar dekat tangga.

“Aku mau istirahat di sini saja Far. Percuma waktunya singkat.

“Nah, kau sendiri kenapa masih ada di sini.”

“Biasalah Jef, ada job kecil-kecilan dari bos-bos kita di atas, tapi sudah beres kok Jef. Bagaimana kalau kita turun ke dennaga, hitung-hitung kita pernah menginjakkan kaki kita di Terengganu. Bagaimana, Jef ?”

“Benar juga Far, ayolah kita turun,” ajak Jefri terus menuruni anak tangga yang tidak terlalu tinggi lagi, karena kapal mulai sarat muatan. Bahkan sore nanti, tidak diperlukan lagi tangga, karena palka kapal dan dermaga sejajar.

“Ya, ya, aku segera turun,” kata Jafar mengikuti Jefri turun ke dermaga.

Jefri memandang Bay Tank mulai dari antena, cerobong asap, turun ke bawah ke lambung kapal. Di lambung hulu kapal terbaca jelas dengan huruf kapital : BAY TANK. Di buritan juga demikian, terbaca jelas BAY TANK. Dekat tangga di dinding kapal ada lingkaran kecil di garis tengah ada huruf A sebelah kiri dan B sebelah kanan. Di sisi kanan ada garis-garis dengan huruf T, S, W, dan WNA. Semua itu memiliki arti, yang perlu diketahui, terutama para perwira kapal. Jefri mendapat penjelasan banyak dari Jafar. Huruf huruf tersebut katanya memiliki arti yang berlaku di seluruh dunia. Seperti A dan B, menurut Jafar, adalah singkatan dari The American Bureau of Shipping, yaitu lembaga yang mencantumkan tanda-tanda, sampai berada dalam suatu kapal menurut hukum dapat dimuati dalam berbagai daerah dan musim. Seperti T, kata Jafar, berarti, Tropical atau tropis, S berarti Summer, musim panas, W berarti Winter atau musim dingin, F singkatan Freshwater atau perairan tawar. Sementara WNA berarti Winter in the North Atlantic, cuaca musim dingin Atlantik Utara, artinya kapal yang menuju daerah itu dikurangi bebannya sampai garis yang berhuruf WNA.

“Kalau angka haluan itu, apa pula artinya, Far.”

“Nah, coba kau lihat Jef, baik yang di haluan ataupun di buritan, itu angka-angka tanda sarat. Menunjukkan ukuran jarak dari tunas kapal sampai garis airnya.”

“Ukurannya bagaimana ?” Tanya Jefri lebih jauh.

“Ukuran dinyatakan dalam kaki, atau sama dengan 0,304 meter. Kedalaman sarat kapal ialah besar rata-rata kedalaman sarat haluan dan buritan.”

“Standar ukurannya bagaimana, apa berlaku seluruh dunia ?”

“Tentu Jef, Undang-undang Maritim mempersyaratkan bahwa angka-angka itu harus setinggi 15 sentimeter dan terpisah spasi 15 sentimeter.”

“Terus dengan kapal kita ini, dengan angka itu, maksudnya “

“Nah, di sana tertera 30,2 atau lebih kurang 9,14 meter. Artinya, kedalaman sarat pada kapal kita saat ini, ya sedalam itu,” jelas Jafar menunjuk ke angka yang persis berada di atas permukaan air.

“Sudah Far, kau sudah begini. Sudah pantas aku memanggilrnu Chief Officer atau Mualim lah,” ujar Jefri mengacungkan jari jempolnya ke atas.

“Ya, do’akan saja Jef. Walaupun aku harus kerja keras untuk cita-citaku tersebut. Kau sendiri bagaimana Jef ?”

“Aku sepertinya kurang pas kerja di kapal, walaupun aku pernah berkeinginan untuk itu.”

“Tetapi, kau kan pernah memasuki akademi pelayaran, Jef “

“Ya, tetapi berantakan, dan itu hutang buat diriku kelak.”

“Maksudmu, hutang apa Jef ?”

“Maksudku, suatu waktu nanti, aku harus meningkatkan pendidikanku. Untuk itu, aku tidak akan pulang kampung sebelum aku meraih titel, walaupun bukan bidang perkapalan lagi. Itulah hutangku Far.”

“Hebat juga cita-citamu, Jef.”

“Yah, paling tidak untuk antisipasi masa depan, aku kira peningkatan pendidikan itu sangat penting. Aku kira apa yang akan kau lakukan, juga bagian dari apa yang kita bicarakan ini, iya kan Far ?”

“Sama-samalah Jef. Kita saling berdo’a saja, semoga apa yang kita cetuskan di Terengganu ini memiliki sejarah penting bagi kehidupan kita.”

“Amin ! Kita harus salaman untuk deklarasi Terengganu ini,” ungkap Jefri meraih tangan Jafar, terus memeluknya. Saat mereka saling berpelukan, di dermaga tanpa mereka ketahui, Kapten Martin memperhatikan mereka dari anjungan. Karena kapal sarat, tepukan dan suara Kapten Martin terdengar jelas oleh Jefri dan Jafar.

“Bukan main, orang-orang pada cari pelukan di kota sana, kalian malah di situ saling berpelukan. Bukan main,” teriak Kapten Martin seraya bertepuk tangan.

“Eh, siang Kap,” kata Jefri dan Jafar hampir serentak melihat ke anjungan.

“Tetapi kalian tidak sedang berpacaran, kan ?”

“Tidak, tidak Kap ! Kami sedang bertekad untuk sama-sama belajar,” jawab Jafar.

“Baguslah, kalian masih muda-muda, manfaatkan waktu yang benar.”

“Terima kasih, Kap,” kata Jafar. Jefri hanya menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana Jef, kalau kita urus kampung tengah dulu, nanti keburu ada musiknya,” tawar Jafar pada Jefri.

“Kampung tengah mana ?”

“Ini nih perlu diisi dulu, ayo Jef,” kata Jafar menunjuk ke arah perutnya.

“Oh itu, aku kira apa tadi, huh ! Ada-ada saja kau Far.”

“Biasalah, itu istilah si Udin, dan kami jadi terbiasa dengan istilah itu kalau mau mengisi perut atau makan.”

“Hebat juga si Udin itu.”

“Gitu-gitu Jef, si Udin itu pelaut kawakan, ya senior lah. Sayang pendidikannya hanya sampai SMP, jadi ya dia begitu-begitu saja. Padahal, duluan dia jadi pelaut dari pada Kapten Martin. Bahkan dulunya, mereka pernah sama-sama kelasi di African Line.”

“Aku tidak menyangka, Far. Soalnya orangnya ramah dan suka bercanda.”

“Si Udin memang begitu, hanya kalau soal berkelahi atau membela teman, wah………… dia paling depan membelanya. Orangnya suka nekad, Jef.”

“Berarti, kita harus hati-hati sama dia.”

“Kalau kita sih nggak apa-apa, paling dianggap adiklah sama dia.”

“Oh, begitu. Tadinya, aku ngeri juga Far.”

Ah, sudahlah nggak usah dipikirkan, yang perlu kita pikirkan, ini nih kampung tengah, ayolah.”

“Oh, ya, ya. Ayolah,” ujar Jefri terus ke atas mengikuti Jafar ke ruang makan.

Para petugas imigrasi Malaysia berada di anjungan memeriksa kembali kelengkapan paspor, sebelum Bay Tank berangkat. Tali-tali tambatan di haluan, tengah, dan buritan telah lepas dari dermaga. Kapal mulai bergerak perlahan-lahan meninggalkan pelahuhan minyak Terengganu. Terus melaju, lurus pada posisi 6 derajat Lintang Barat. Kian lama, kian bergeser pada posisi 104 derajat Lintang Selatan dengan tujuan penyulingan minyak Pulau Bukum, Singapura. Ombak Laut Cina Selatan terus menggoyang perlahan, deru mesin kian keras terpacu. Kecepatan pada tingkat puncak kian mendekat ke Singapura. Jefri merasakan jantungnya kian terpacu. Ingin rasanya dia dijemput di pelabuhan apabila tiba di Singapura nanti. Tetapi mungkinkah dari Pulau Bukum ke Singapura ? Atau ada boat khusus untuk mengantar awak kapal ke dermaga Clifford Pier ? Kalau dapat diantar kesana, berarti tidak jauh ke kawasan Beach Road dan dapat bertemu dengan Azizah. Adakah kerinduan Azizah pada dirinya sebagaimana yang dirasakannya saat ini ? Jefri melirik ke jam tangannya. Tinggal dua puluh menit lagi tiba gilirannya. Apakah tidak lebih dulu aku tanyakan hal ini pada Efendi, siapa tahu dia punya pengalaman tentang servis boat. Jefri bergegas menemui Efendi di kamar mesin.

“Sorry Fen, aku mengganggumu.”

“Lho, belum saatnya kan Jef ?”

“Yah, paling tidak kau tidak perlu lagi memanggilku, kan ?”

“Tetapi aku penasaran Jef, aku yakin ada sesuatu yang ingin kau bicarakan.”

“Ah, kau tahu saja Fen. Itu Fen, kalau bongkar di Pulau Bukum nanti, ada nggak jemputan dari perusahaan ?”

“Wah, aku belum dengar Jef, tetapi kalau hal yang sangat penting, aku kira bisa saja. Atau kau bisa tanyakan pada Pak Sabar, siapa tahu dia mau belanja.”

“Benar juga Fen, besok pagi aku akan tanyakan padanya.”

“Kau kelihatannya semangat sekali Jef, pasti ada seseorang yang kau rindukan di sana, dan itu sekali lagi kalau aku boleh menebaknya, pastilah seorang wanita ! Benar nggak Jef ?”

“Benar Fen, dia seorang gadis Melayu kelahiran Singapura dan kau pasti mengenal ayahnya.”

“Kenapa kau begitu yakin kalau aku mengenal ayahnya, Jef.”

“Karena ayahnya adalah Pak Hasan.”

“Puterinya Pak Hasan ? Kau bisa saja Jef, tetapi bagaimana dengan Pak Hasan atau keluarganya, apakah mereka mau mengambil menantu seorang pelaut ?”

“Kalau pelaut kenapa Fen ? Kau punya pengalaman yang sama ?”

“Tidak, tetapi kau tahu sendiri lah pelaut itu, paling terkenal kejelekannya.”

“Jelek bagaimana Fen ? Pak Hasan sendiri kan kerja di kantor pelayaran, pasti sedikit banyaknya dia tahu lah kehidupan pelaut, dan tidak semua jelek kan ?”

“Ya, jeleknya itu bayak ceweknya, tukang minum dan pemain judi.”

“Semua itu belum terjadi pada diriku, terutama soal minum dan main judi.”

“Bagaimana tentang cewek ? kok, tidak kau sebut, Jef.”

“Soal cewek atau wanita, aku terus terang belum dapat menjaminnya. Tetapi dengan yang satu ini, aku berusaha keras untuk setia.

“Aku suka kejujuranmu Jef. Tetapi ya sudahlah kau masih muda dan baru terjun jadi pelaut.”

“Kalau pelaut, kenapa Fen ?”

“Pelaut itu harus tegar dalam suasana apapun. Alam melatih kita dari terpaan ombak, badai, Bahkan topan dahsyat sekali pun.”

“Terus hubungannya dengan usia dan baru jadi pelaut tadi apa ?”

“Hanya soal sentimentil, aku kira di situ hubungannya, Jef”

“Apakah pelaut itu tidak boleh sentimentil, Far ?”

“Boleh, boleh saja sih, tetapi kalau terlalu sentimentil, tak dapat menahan rindu, terus sering termenung, bisa-bisa kecebur ke laut. Ya, kalau siang kelihatan, bagaimana kalau malam hari, bisa gawat kan ?”

“Apa itu berarti, pelaut tidak boleh rindu ?”

“Kenapa tidak, tetapi maksudku pekerjaan kita ini terkadang berbulan-bulan baru sampai atau singgah di satu pelahuhan. Dari negara satu ke negara lainnya, kota satu ke kota lainnya. Cuaca panas, dingin atau salju, kita tetap tegar.”

“Aduh, aku tambah tidak mengerti Fen, kok tidak nyambung.”

“Sepertinya begitu, tetapi kesimpulannya sebenarnya, ada ketegaran hati. Kau baru pacar Jef, bagaimana dengan kami-kami yang telah menikah, punya anak dan isteri, bukankah itu lebih berat, Jef ? Di situlah ketegaran seorang pelaut diuji.”

“Aku mengerti sekarang Fen. Pelaut itu memang tidak boleh cengeng. Aku akan coba, dan kerinduan ternyata adalah suatu tantangan. Terima kasih atas saranmu Fen.”

“Okeylah, aku ke atas dulu, mau call Chief Fredick. Nanti keburu Masinis Tiga, Kim Eng Sun yang naik, celaka aku.”

Jefri melakukan kembali tugas rutinnya. Sekali lagi Fredick menawari Jefri bir kaleng, dan dengan hormat Jefri menolaknya. Fredrick tidak marah, bahkan menepuk-nepuk bahu Jefri dan memujinya.

“Bagus Jef, bagus. Walaupun bir berkadar alkohol rendah, sekali kau coba, apalagi kecanduan, kau sulit untuk menghilangkannya.”

“Saya akan coba Chief.”

“Good ! Well, bagaimana ada problem dengan mesin kita ?”

“Sampai saya kontrol tadi, baik-baik saja, Chief”

“Jangan lupa, if there is something wrong, call me, oke ?”

“Siap Chief ! Tetapi, Chief….”

“Tetapi apa Jef, what is wrong ?”

“Tidak, tidak ada apa-apa, hanya soal nanti di pulau Bukum, apa bisa pulang ke Singapura ?”

“Ha, ha, aku tahu arah pembicaraanmu, Jef. Bulan-bulan pertama memang cintamu itu satu, tapi tahun ke satu barangkali cintamu dua, tiga, atau lebih. Dan apabila memasuki tahun ketiga di kapal, cintamu ada dimana-mana, akhirnya………”

“Akhirnya, apa Chief ?”

“Akhirnya, kau tidak pernah mabuk cinta lagi, karena cintamu ada dimana-mana. Barulah kau jadi pelaut sejati, Jef”

“Jadi parameternya soal cinta dimana-mana tadi, Chief ?”

“Jefri, Jefri , kau telalu serius, sudahlah lupakan saja apa yang baru aku katakan, aku hanya bercanda.”

“Justru yang aku dengar selama ini begitu, Chief.”

“Itu zaman Colombus, Jef. Zaman sekarang yang penting ini Jef,” kata Fredick menunjuk kapal dengan jarinya.

“Soal pertanyaan saya tadi bagaimana, Chief ?”

“Sepertinya tidak ada angkutan ke Singapura, Jef. Kita tidak lama di Pulau Bukumnya, tapi sebentar aku tanya dulu,” ujar Fredick menuju ke ruang kerjanya dan menelepon seseorang. Jefri mengikuti dari belakang dan masuk ke ruang kerja Fredick.

Jefri mengira Fredick menghubungi kantor pusat, sehingga begitu selesai Fredick meletakkan telepon, Jefri langsung mendekatinya.

“Bagaimana kabar dari kantor pusat, Chiet ?”

“Kantor pusat ? siapa yang menghubungi kantor pusat ?”

“Lho barusan Chief menelepon siapa ?”

“Aku barusan menanyakan pada Kou Sheng Wei. Dialah orang yang paling tahu soal berita dunia di kapal ini, dan dialah yang setiap saat berhubungan dengan kantor pusat atau kantor-kantor cabang di seluruh dunia. Jabatannya Radio Chief Officer, Perwira Radio, atau kita biasa memanggilnya Spack,” kata Fredick menjelaskan pada Jefri.

“Jawaban Spack, bagaimana Chief ?”

“Unfortunately, ah sayang Jef, dari Pulau Bukum, justru kita langsung ke Port Dickson.”

“Port Dickson, Chief ?”

“Ya, masih dekat-dekat sini juga lah, nah sesudah itu, baru kita masuk Singapura, dan kau bisa melepas rindumu.”

Semula, Jefri kecewa juga tidak dapat pulang saat bongkar di Pulau Bukum. Namun rencananya setelah ke Port Dickson kembali ke Singapura, Jefri terhibur juga. Walaupun sebenarnya pertemuan dengan Azizah tertunda. Dari keterangan Fendi ataupun Fredick, Jefri mulai menyadari bagaimana melatih ketegaran sebagai seorang pelaut. Kerinduan adalah kesibukan. Ini adalah pelayaran awal, pada pelayaran berikutnya, Jefri tidak akan bercerita lagi soal apa itu kerinduaan. Sampai di Singapura nanti, dan berlayar, Jefri tidak akan lagi bercerita soal pribadi, terutama tentang kerinduannya pada seorang wanita. Aku tidak ingin ditertawakan untuk kedua kalinya hanya karena persoalan kerinduan, asmara atau apa pun. Bukankah kehadiranku di kapal ini untuk bekerja ? Mengingat keterusterangannya pada orang di kapal ini, Jefri jadi malu sendiri. Kalau sekiranya hubunganku tidak baik-baik dengan Kapten Martin yang diketahui seisi kapal, barangkali aku sudah ditertawakan orang-orang di atas kapal ini. Atau mereka mengatakan,”Hei lihat itu si pelaut cengeng !”

Kapal bergerak meninggalkan penyulingan minyak Pulau Bukum, memasuki Selat Singapura menuju ke arah Selat Malaka. Kepingin rasanya Jefri naik ke anjungan meminjam alat teropong dan mengarahkannya ke sebelah kiri. Tentunya akan terlihat samar-samar Pulau Sumatera. Atau yang lebih kecil, Pulau Bengkalis. Kapal terlihat tinggi kembali karena tidak ada muatan. Walaupun Selat Malaka lautnya tenang, karena Bay Tank dalam keadaan kosong, terasa juga goyangannya. Perusahaan mendapat kontrak lagi mengangkut minyak mentah dari Malaysia, khususnya kali ini dari Port Dickson. Port Dickson sendiri berada di Negeri Sembilan, dengan ibu kotanya Seremban. Negeri Sembilan adalah salah satu negeri di Malaysia yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Minangkabau, Sumatera Barat. Beberapa adat istiadat kedua kota ini mirip dan hubungan kekerabatan ini telah berlangsung lama, terus dijalin sampai saat ini dan selamanya. Kalau di Seremban kita menemukan demikian banyak rumah makan Padang, adalah hal yang sangat lazim. Begitu pula dengan para pedagang-pedagangnya. Keadaan perniagaan ini sampai juga ke ibu kota negara, Kuala Lumpur. Port Dickson juga pelabuhan yang cukup besar dengan suasana pantainya yang indah, banyak dikunjungi tidak saja wisatawan lokal. tetapi wisatawan mancanegara. Tidak jauh dari Port Dickson, terdapat suatu benteng peninggalan masa lalu, yang disebut Benteng Bugis. Penamaan ini tentunya punya sejarah yang panjang yang berkaitan dengan suku Bugis. Suku Bugis memang sangat terkenal sebagai pelaut-pelaut yang handal. Yang pada zamannya telah mengarungi dunia. Sebagaimana di Indonesia, di Malaysia juga setiap kota ada mesjid agung. Yang di Negeri Senihilan disebut Mesjid Negeri. Daya tarik lainnya, di Negeri Sembilan terdapat Istana Hinggap, juga air terjun Ulu Bendal.

Untuk pengisian muatan minyak di Port Dickson, dengan peralatan yang dimiliki Malaysia, setiap kapal tanki yang singgah, tidak akan pernah lama. Demikian juga dengan Bay Tank. Tetapi kesempatan yang tidak lama itu, tetap saja dimanfaatkan crew yang kebetulan tidak kebagian jaga untuk melakukan refreshing. Karena Jafar tidak turun ke darat, Jefri memanfaatkan waktu dengan Jafar untuk keliling sekitar kapal, terutama di anjungan. Peralatan navigasi yang selama ini hanya dapat dilihat oleh Jefri, kini dapat dipegangnya. Diantaranya sekstan, alat pengukur matahari yang bentuknya sangat unik. Ada teropong kecil yang biasanya diarahkan ke matahari pada pagi dan sore hari. Di bawahnya ada bentuk setengah lingkaran, terdapat angka-angka, dan di tengahnya ada lingkaran kecil untuk pegangan. Terdapat juga cermin tembus pandang, untuk melihat matahari, kemudian ditarik ke garis cakrawala, sehingga dapat diperhitungkan berapa ketinggian matahari disamakan dengan tabel yang ada pada lingkaran posisi dan diperkirakan, dan pada lingkaran posisi yang sebenarnya, ada pertemuan garis di mana akhirnya, kita mengetahui posisi kapal kita berada. Kemudian beranjak pada ruang peta. Dicari peta yang direncanakan menjadi tujuan kapal. Peta diletakkan di meja yang khusus, kemudian dibentangkan. Berapa derajat dan pada posisi arah mata angin dapat terlihat dengan jelas. Kemudian, perwira radio yang setiap saat memantau ramalan cuaca, akan memberitahukan posisi-posisi kekuatan arah mata angin.

“Agak rumit memang Jef, tetapi kalau kita tekun, aku kira perhitungan-perhitungan ini tidak masalah. Kalau sudah biasa, nantinya juga akan lancar-lancar saja,” kata Jafar dengan sabar menunjukkan angka-angka pada alat pengukur matahari, dan bagaimana menghubungkannya dengan peta.

“Di tengah laut kan tidak terlihat jalur atau arah ke mana yang harus kira tuju. Tetapi dengan perpaduan pengukuran peta dan pengukuran titik matahari dan cakrawala, kita dapat mengetahui ke mana dan di mana kita berada. Maka posisi itu, dipasangkan pada kemudi, yang otomatis atau manual. Sehingga arah tujuan kapal, dapat sampai pada tujuannya. Begitu operasionalnya ?”

“Tepat Jef, begitulah kira-kiranya. Penentuan angka dan arah, bukan urusan kelasi, ataupun juru mudi untuk memperhitungkannya. Juru mudi cukup mengikuti perintah dan para perwira jaga saja. Ikuti ketetapan angka yang diperintahkan, dan katakan kalau kemudi telah sesuai pada perwira yang memerintahkan kita. Aku kira sekian dululah, anggap saja sekedar penambah pengetahuanmu, Jef.”

“Segitu juga aku mengucapkan terima kasih padamu, Far ! Tanpa kau beritahu, aku buta sama sekali soal navigasi ini.”

“Pada dasarnya, aku tidak tahu banyak, tetapi yang pasti, aku belajar banyak. Ingat Jef, tidak semua perwira-perwira di kapal yang mengijinkan kita masuk-masuk seperti ini. Apalagi mau mengajari kita, wah jarang sekali Jef.”

“Tetapi di kapal ini kelihatannya tidak ada masalah ?”

“Oh tidak, di kapal ini bebas tapi tertib. Itu semua bekat kebijakan Kapten Martin. Dia selalu memberikan kesempatan pada yang muda-muda untuk belajar. Dia selalu mencontohkan bagaimana dulu dirinya yang berangkat dari bawah.”…Bersambung….

Back to top button