Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(20)
Halaman 96-100

“Masalah serius lagi nih ?”
“Menurut pendapatku, justru hal yang satu ini, hal yang sangat serius. Terutama, bagiku.”
“Hal apa itu, Lu. Aku jadi berdebar juga mendengarnya, cepatlah katakan.”
“Tentang wanita, Dayat. Aku ingin tahu, Apakah ada wanita lain di hatimu saat ini. Baik di sini ataupun di Jakarta sana. Atau jangan-jangan ada wanita lain yang menunggu kepulanganmu. Jawablah dengan jujur, Dayat”
“Oh, masalah itu. Aku kira apa. Kalau saat ini, dengan jujur aku mengatakannya padamu, bahwa aku tidak ada teman wanita yang istimewa, kecuali kamu. Sure, trust me, Lu.” Hidayat kembali mengangkat tangan kanannya, seolah-olah sedang disumpah.
“Aku harus percaya atas pengakuanmu. Aku justru ingin membangun hubungan kita ini dengan nilai-nilai kepercayaan. Tanpa saling percaya, tentunya kita akan sia-sia menjalin hubungan yang baru kita rintis ini.” Mendengar kata-kata Lulu yang sangat mengharukannya, Hidayat langsung berdiri, memutar badannya persis di depan Lulu. Dengan sedikit membungkuk, dipegangnya dagu Lulu, diangkatnya sedikit ke atas.
“Terima kasih atas kepercayaanmu, Lu. Terima kasih, kau mau menerima aku apa adanya. Aku jadi bertambah kagum padamu. Aku sayang padamu, Lu,” ujar Hidayat terus mendekatkan wajahnya ke pipi Lulu.
“Aku sayang padamu, Lu,” desah Hidayat.
“Akh,” rintih Lulu terus mendekap perut Hidayat erat, seakan menyembunyikan wajahnya.
Hidayat hampir terjatuh ke belakang. Dipegangnya kedua pangkal lengan Lulu, diangkatnya sedikit. Akhirnya mereka sama-sama berdiri, dan terus saling berpelukan.
“Aku juga sayang padamu, Dayat,” bisik Lulu ke telinga Hidayat.
Lulu kian keras memeluk Hidayat. Hidayat mundur selangkah, dan Lulu tetap dalam pelukannya. Sepintas orang mengira mereka sedang berdansa. Melihat itu, sepasang muda mudi mendekat ke kursi yang baru saja ditinggalkan Hidayat dan lulu. Sang pria sedikit mengangguk ke arah Hidayat dan mengedipkan matanya. Hidayat memahami isyarat itu. Dilepaskannya tangan kanannya dari pelukan Lulu, dan menjulurkannya pada pria yang baru saja mengedipkan matanya pada Hidayat, seakan mempersilahkan untuk mengisi kursi yang baru selangkah ditinggalkan Hidayat dan Lulu.
“Mari kita pulang, Lu,” bisik Hidayat sembari mengecup perlahan pipi Lulu.
Lulu membalas mencium pipi Hidayat, dan melepaskan pelukannya.
Dengan langkah berat, mereka meninggalkan taman yang telah mematrikan hubungan mereka. Suatu tempat yang sangat monumental untuk dicatat dalam lubuk hati mereka masing-masing. Warna pipi Lulu yang putih, kian cemerlang tersiram pantulan langit kuning kemerah-merahan.
Matahari sembunyi di ranting-ranting pepohonan jauh di seberang mereka. Kicauan burung saling bersahutan menyambut senja. Kursi-kursi taman penuh sudah. Restoran kian ramai. Mobil yang dikemudikan Hidayat meluncur kencang memasuki kawasan Bukit Timah. Rumah-rumah berpagar tinggi, kampus, apartemen-apartemen di sepanjang kanan-kiri jalan, seakan menyambut kegembiraan Hidayat dan Lulu. Sampai di daerah Rochor Canal Road, Hidayat memutar mobilnya ke arah kanan memasuki Victoria Street.
Maimunah baru saja menutup toko. Dia membatalkan menutup pintu pagar depan, ketika melihat Hidayat dan Lulu datang. Tanpa canggung lagi, sambil berjalan, Lulu memegang tangan Hidayat. Lulu mendekati Maimunah.
“Munah, Mama ada di dalam ?”
“Ada, ada non. Tetapi ada tamunya, tuan Kuo Wei.”
“Oh, Paman Kuo. Oke lah Munah, kami masuk dulu,” ujar Lulu meninggalkan Munah yang kembali membersihkan halaman depan
She Kuo Wei, orang kepercayaan Wong Chung Hwa agak kaget juga melihat Lulu berdampingan dengan seorang pria yang bukan dari keturunan Cina. Dia melihat ke Nyonya Wong. Dengan spontan, Nyonya Wong memperkenalkan Hidayat padanya.
“Dayat, kenalkan ini Paman Kuo Wei, orang kepercayaan Bapak.” kata Nyonya Wong pada Hidayat. Kuo Wei berdiri menyambut tangan Hidayat.
“She Kuo Wei.” Katanya, menggenggam erat tangan Hidayat.
“Hidayat !” Cepat Hidayat menarik tangannya kembali.
Jari jarinya terasa sakit, karena digenggam Kuo Wei sangat kuat. Hidayat tidak mengerti, kenapa tamu keluarga Lulu yang satu ini memperlakukannya demikian. Terlihat wajahnya yang kurang baik menerima kehadiran Hidayat. Ternyata, Lulu melihatnya juga ekspresi wajah Kuo Wei yang kurang simpati pada Hidayat.
“Maaf Bu, saya tidak lama, saya mengantarkan Lulu,” ujar Hidayat sedikit membungkukkan badannya ke arah Nyonya Wong.
“Kok buru-buru, apa tidak minum dulu. Bagaimana Lu, kenapa Hidayat tidak diberi minum ?” Nyonya Wong juga bertanya pada Lulu.
“Sudah, sudah Bu. Saya permisi saja,” kata Hidayat yang juga mengarah ke She Kuo Wei.
Lulu mengantarkan Hidayat sampai di pintu pagar depan, dan melambaikan tangannya ketika Hidayat membunyikan klakson mobilnya. Lulu kemudian masuk ke kamarnya. Tidak mungkin dia bergabung dengan mamanya, walaupun banyak cerita yang akan disampaikan pada mamanya. Dari tatapannya, terlihat sekali kalau Kuo Wei kurang simpati pada Hidayat. Ini suatu pertanda kurang baik bagi hubungannya dengan Hidayat, dan Lulu yakin kalau papanya akan segera mengetahui hubungannya dengan Hidayat. Kuo Wei pasti lapor. Lulu sudah tidak sabar menunggu Kuo Wei pulang. Ingin rasanya dia mengusir Kuo Wei. Mengusir orang yang tidak senang kepada Hidayat kekasihnya. Tidak ada alasan sebenarnya Kuo Wei tidak simpati pada Hidayat. Bahkan Lulu melihat Hidayat meringis kesakitan ketika bersalaman dengan Kuo Wei. Terkadang Lulu heran juga, kenapa begitu percaya papanya terhadap Kuo Wei. Bahkan melebihi kepada keluarganya sendiri, termasuk dengan mamanya. Lulu merebahkan badannya ke ranjang. Dipeluknya bantal guling bermotif Mickey Mouse erat-erat.
Tidak biasa-biasanya Kuo Wei melaporkan kegiatan usaha begitu lama pada mama. Lulu yakin ada hal penting yang sedang diperbincangkan. Lulu mencoba bangkit dari tempat tidur. Didekatkannya telinganya ke pintu, kalau-kalau suara mamanya dan Kuo Wei terdengar. Sayang, Lulu tidak dapat mendengarkannya. Lulu kembali ke tempat tidur. Baru saja akan direbahkannya tubuhnya, terdengar suara mamanya.
“Lu, Paman Wei mau pulang.”
“Ya Ma,” ujar Lulu melangkah ke pintu dan keluar menemui Kuo Wei.
“Selamat jalan, Paman Wei,” lanjutnya memberi hormat.
Setelah kepergian Kuo Wei, Lulu menarik tangan mamanya. Dia mengajak mamanya kembali duduk di meja makan. Nyonya Wong memanggil Munah agar menyiapkan makan malam. Lulu melihat ada rona kesedihan di wajah mamanya. Tetapi dia tidak berani menanyakannya. Dalam dugaan Lulu, persoalan yang diperbincangkan tadi, ada hubungan dengan papanya. Sebelum mamanya mau bercerita tentang keseriusannya berbincang-bincang dengan Kuo Wei tadi, Lulu menginginkan dia yang menceritakan tentang kepergiannya dengan Hidayat. Lulu akan menceritakan, bahwa hubungannya dengan Hidayat kian meningkat, yang tidak lagi sekedar teman biasa. Bagaimanapun hal itu akan diceritakannya. Kecuali tentunya, tentang bibirnya yang telah dikecup Hidayat. Lulu tidak mengerti apa-apa tentang sentuhan itu sendiri. Selain napasnya yang terpacu kencang, dan sekujur badannya lemas. Pada layar lebar, atau pada TV yang pernah ditontonnya, adegan berciuman sepertinya hal yang menyenangkan, menggairahkan. Tetapi apa yang dialaminya bersama Hidayat, bukan menyenangkan tetapi malah menegangkan. Lulu memegang bibirnya. Dicobanya mencium telapak tangannya perlahan-lahan. Dipejamkannya matanya. Nyonya Wong heran melihat tingkah Lulu.
“Ada apa Lu, sepertinya mama melihat ada keanehan yang kau rasakan. Kau mau menceritakannya pada mama kan ?” Tanya Nyonya Wong, yang mengagetkan lamunan Lulu.
“Tidak ma, tidak. Oh ya, itu Ma, masalah Hidayat.”
“Lho, memangnya ada apa dengan Hidayat ? Bukankah tadi kalian baik-baik saja.”
“Soal itu sih, baik-baik saja Ma. Tetapi soal persahabatanku dengan Hidayat, sekarang sudah meningkat Ma.”
“Meningkat bagaimana, maksudmu ?” Tanya Nyonya Wong kian penasaran.
“Itu Ma, kami telah ciuman. Eh, tidak, tidak. Maksudku, kami telah mengikat janji saling mengasihi.”
“Terus kok ada ciumannya, maksudnya, apa ? Kok, belum apa-apa sudah bicara soal ciuman segala. Hayo, anak mama harus berterus terang. Jangan coba membohongi mama. Kau benar sudah…”
“Huh, Mama. Belum apa-apa sudah menduga yang tidak-tidak. Maksud Lulu tadi itu, bahwa kami sudah saling mencurahkan perasaan kami masing-masing. Tidak ada hal-hal yang lain itu. Mama harus percaya padaku.”
“Tentu, tentu mama percaya padamu. Kalau tidak, mama tidak akan pernah mengijinkanmu berduaan pergi dengan Hidayat. Dan mama sendiri percaya, kalau Hidayat dapat menjaga kepercayaan yang mama berikan. Mama percaya pada kalian. Selama itu membahagiakanmu, mama akan mendukungnya.”
“Terima kasih, Ma. Terima kasih,” kata Lulu mendekat ke mamanya dan terus dipeluknya, seakan dia memeluk Hidayat.
“Aku sayang, Mama,” desahnya.
“Sudahlah, sekarang kita makan dulu, ya ?”
“Oh ya, bagaimana dengan mamanya Ang Mei, apa siap untuk berangkat ke Bali?”
“Sepertinya, batal !” tukas Nyonya Wong, lemas dan menghentikan sejenak makannya.
”Memangnya, kenapa Ma ?” Lulu mendesak ingin tahu, kenapa mamanya yang semula menggebu-gebu ingin ke Bali, tiba-tiba membatalkannya begitu saja.
“Kita selesaikan saja makan kita, nanti mama akan menceritakannya padamu.”
“Baiklah Ma,” ujar Lulu menikmati kembali makan malamnya.
Lulu melihat mamanya kurang bersemangat menikmati makan malamnya. Lulu menduga pikiran mamanya tidak tertuju pada makanan yang ada di hadapannya. Munah datang membersihkan meja dan menata kembali makanan yang berserakan.
“Munah, tolong kau buatkan lemon tea dua, dan antar ke ruang tamu atas, ya !”
“Baik Nyonya,” tutur Maimunah.
Nyonya Wong dan Lulu berjalan perlahan menuju tangga. Di depan pagar tangga atas, ada ruang tamu dengan sofa berwarna biru tua. Lampu liontin besar tergantung. Nyonya Wong duduk di sofa yang lebar. Lulu duduk di sampingnya.
“Tadi siang, sebelum pamanmu Kuo Wei datang, papamu telepon. Sekarang dia kesulitan uang. Kalau kita tidak segera mengirimkannya, papamu tertahan di sana,” ungkap Nyonya Wong memulai cerita pada puterinya.
“Pasti ini ada kaitannya dengan masalah judi lagi, iya kan Ma ? Terus, papa tertahan di mana ?” Lulu gusar tentang keadaan papanya.
“Papa ada di tengah kapal bersama teman-temannya. Kata papa, uang tersebut titipkan pada pamanmu.”
“Apa papa tidak bawa cek, Ma ?”
“Papamu tidak pernah bawa buku cek kalau berjudi. Paling kalau tidak kalung, gelang, ya pasti jam tangannya lah yang dijualnya.”
“Terus papa butuh berapa banyak, Ma ?”selidik Lulu lebih jauh lagi.
“Yah, pokoknya simpanan mama ludes semuanya,” keluh Nyonya Wong.
“Tetapi kenapa Mama tidak kasih cek saja ?”
“Papamu minta uang kontan. Ketika pamanmu datang, bank sudah tutup. Sementara kau tahu sendiri, mama kan tidak punya ATM, ya persediaan mama untuk ke Bali, mama titipkan saja pada pamanmu Kuo Wei.”
“Terus, kenapa Mama batalkan ke Bali, kan persediaan Mama masih ada di bank. Sewaktu-waktu, Mama tinggal mengambilnya.”
“Tetapi tidak sekarang-sekarang lah berangkatnya. Papamu besok atau lusa, akan datang. Dan mama yakin, papamu membutuhkan uang lagi. Terdengar suaranya begitu emosi tadi sewaktu menelpon.”
“Sampai kapan ya Ma, masalah papa ini berubah ?”
“Sampai koko-kokomu dapat bertindak tegas. Hanya, bagaimana mereka bisa tegas kau tahu sendiri, koko-kokomu juga melakukan hal yang sama. Kecuali kokomu Chung Pha yang berbeda.”
“Lulu juga Ma !” potong Lulu.
“Ya, kalau kau sih sudah pasti. Bahkan mama tahu kalau kau sangat alergi terhadap judi. Sudahlah Lu, kita terima saja nasib kita seperti ini, yang sudah kita jalani puluhan tahun.” “Bahkan, jauh sebelum Lulu ada, iya kan Ma ?”
“Oh, jauh, jauh sekali. Tetapi, sudahlah cerita-cerita ini bukan hal yang baru di tengah keluarga kita. Tetapi, kau tidak menceritakan hal ini pada Hidayat, kan ?”
“Tentu Ma. Mana mungkin Lulu menceritakan sisi gelap keluarga kita. Hanya, Lulu memberikan beberapa kriteria, diantaranya, Lulu katakan bahwa Lulu sangat membenci judi dan pelecehan terhadap wanita.”
“Bisa saja kamu Lu. Terus, apa tanggapan Hidayat, ketika kau katakan begitu.”
“Kelihatannya dia memahaminya, Ma.”
“Tetapi dia tidak menanyakan kenapa masalah itu yang kau tekankan padanya.”
“Lulu kira itu hal-hal umum, sehingga tidak perlu diberitahukan latar belakang kenapa hal itu yang aku tekankan padanya.”
“Terus, kapan dia ke sini lagi ?”
“Dia tidak mengatakan akan kemari, tetapi Lulu yakin besok pagi dia akan kemari, Ma. Tetapi, mama lihat nggak tadi ketika dia mama kenalkan pada Paman Kuo Wei. Sepertinya, Paman Kuo kurang simpati padanya, Ma.”
“Apa hubungannya dia dengan persoalanmu ?”
“Yah, Mama kan tahu, kalau papa sangat percaya pada Paman Kuo. Kalau nanti dia mengatakan hal-hal yang kurang baik, pasti papa akan marah-marah, Ma.”
“Marah-marah bagaimana, Lu. Kalian kan tidak berbuat hal-hal yang memalukan keluarga. Jadi mama kira, kau jangan terlalu gusar lah.”
“Oke lah ma, Lulu mau istirahat dulu,” kata Lulu pamit pada mamanya.
Mendengar cerita mamanya, sebenarnya hati kecil Lulu menjerit. Namun ketenangan mamanya menghadapi setiap permasalahan, Lulu dapat menahan perasaannya. Tidak mungkin pula dia mendendam papanya. Orang tua kandungnya, yang turut juga membesarkannya.
Bersambung……….







