Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(21)
Halaman 101-105

“Aduh Dayat, mama nggak tahu harus bilang apa. Tetapi kalau mama berangkatnya berdua, tidak apa-apa ?” Ujar Nyonya Wong gembira.
“Tidak, tidak ada masalah. Apalagi hanya berdua, aku kira satu kamar juga cukuplah. Kendaraan juga sudah disiapkan di sananya.”
“Aku kira, sudah tidak ada masalah lagi, Ma. Besok atau lusa kalau papa jadi datang, ya Mama tinggal memberitahukannya saja. Tetapi kalau tidak datang, yah Mama telepon sajalah. Mama kan sudah pernah memberitahukan rencana ini, sehingga aku kira, papa tidak akan kaget lagi, kalau Mama berangkat ke Bali.”
“Aku harap juga begitu. Kalau tidak, Mama tidak akan pernah ke Bali. Apalagi, sekarang ada fasilitas, sayang kan ?”
“Nah, kalau begitu kan Lulu senang melihatnya. Bagaimana kalau kabar baik ini Lulu beritahukan pada mamanya Ang Mei, Mama setuju ?” Kata Lulu terus berdiri.
“Tidak usah, biar mama saja yang menelpon ke mamanya Ang Mei, biar dia yang datang ke sini. Selagi ada Hidayat di sini.”
“Tolong, sekalian suruh saja Ang Mei mengantarkannya Ma, kebetulan aku ada perlu sama Ang Mei, dia kan belum berkenalan dengan Hidayat.”
Nyonya Wong menuju ke meja telepon. Terlihat Nyonya Wong mengangguk-anggukkan kepalanya, sesekali tertawa dan mengangguk kembali. Diletakkannya gagang telepon, kemudian menghampiri Lulu dan Hidayat.
“Ya, kau tunggu saja sebentar Dayat, Nyonya Ong, dan Ang Mei, sedang menuju kemari. Dia penasaran juga ingin berkenalan denganmu. Mama tunggu di depan ya ?” Kata Nyonya Wong meninggalkan Hidayat dan Lulu berdua di ruang makan.
“Secepat itu kau mengurus keperluan mama ke Bali. Aku mengira, orang tuamu pastilah orang sangat berpengaruh di Jakarta, atau di Indonesia, sehingga fasilitas terhadap mama begitu mudahnya kau urus. Apa aku boleh tahu, kau anak siapa ?”
“Boleh, kau boleh tahu, aku adalah anak dari ayah dan ibuku.”
“Aku serius, Dayat. Tetapi kalau kau keberatan, untuk menjaga privacymu di sini, ya tidak apa-apa,” suara Lulu merendah.
“Please, Lu, jangan sekarang ya ! Sewaktu-waktu, nanti kau akan tahu sendiri, dan aku kira itu akan lebih baik, bagimu. Dengan demikian, aku harap hubungan kita hubungan yang tidak berpretensi apa-apa, kecuali hubungan dua anak manusia, aku dan kau.”
“Aku mengerti, aku mengerti Hidayat. Untungnya aku orang sini, kalau saja aku orang Indonesia, bisa-bisa, malah aku sulit untuk berkenalan denganmu, apalagi sampai berhubungan seperti saat ini. Kalau pun berteman, apalagi sampai berhubungan, orang akan mencurigai aku. Begitu kan ?”
“Syukurlah kalau kau dapat memahaminya. Walaupun sebenarnya, aku tidak seperti dugaanmu. Kalaupun kedudukan orang tuaku membatasi lingkunganku, di Jakarta sana aku bergaul pada semua lapisan, semua strata. Aku biasa-biasa saja, Lu.”
“Well, forget it ! Yang jelas, atas nama keluarga Wong, atas usahamu itu, selayaknya aku harus mengucapkan terima kasih padamu. Sebenarnya, dari dulu aku sangat kepingin membiayai mama untuk sering-sering berlibur. Aku ingin masa tuanya tidak lagi dibebani urusan-urusan kerja, dagang, atau apapun namanya yang membuatnya lelah atau sedih. Itulah angan-anganku.”
“Aku kagum padamu Lu. Sebagai anak bungsu dari keluarga besar tuan Wong, sepantasnya kau lebih banyak menikmati berbagai fasilitas kemewahan. Jangankan ke Bali, aku kira keliling dunia pun, orang tuamu pasti dapat membiayainya. Aku yakin itu, tetapi kau tidak menuntut itu semua. Sungguh, aku sungguh kagum padamu.”
“Ada wanita baja yang mendidik aku, membesarkan aku dengan pola-polanya yang penuh dengan kesederhanaan dan keprihatinan. Wanita baja itu adalah mama ! Tanpa dia, aku kira aku sama saja dengan anak-anak zaman megapolitan, yang ada di depan mata kita. Terasa agak kuno memang, tetapi aku dapat menerima dan menghayatinya.”
“Itu sebabnya aku mengatakan kekagumanku tadi padamu, Lu. Aku sendiri, sebagaimana pengakuanku padamu, berada pada anak zaman yang gamang tanpa pijakan. Kedua orang tuaku, hanya sebutan bahwa aku mempunyai ayah dan ibu. Hanya itu ! Orang tuaku milik Bangsa dan negaranya, bukan milikku atau adik-adikku. Pembantu yang dulu besar bersama ayahku, adalah pembantu setia kami. Pembantu kami, adalah anak pembantu orang tua ayahku atau kakekku. Begitulah !”
“Di satu sisi, memang aku bangga dan bahagia, karena ada mama. Tetapi kalau kau tahu sisi lainnya, khususnya tentang papaku, maka itu akan berbalik seribu derajat. Aku sendiri tidak sanggup menceritakannya padamu. Untuk yang satu ini, aku juga mohon sebagaimana permohonanmu tentang posisi ayahmu tadi, ya nanti kau akan tahu sendiri.”
“Hebat, hebat juga diplomasimu. Artinya, marilah kita sama-sama menjadikan suatu misteri tentang siapa ayah kita masing-masing, bukankah begitu nona cantik ?”
“Sudahlah, kau jangan memujiku demikian. Aku takut ada hal lain yang kau inginkan dengan ucapan itu.”
“Hal lain apa ? Hayo katakan, kalau tidak nanti kau kucium.”
“Nah, benar kan ? Akhirnya terjawab juga. Sebelum itu akan kau lakukan, aku sudah tahu, kalau kau ingin menciumku, dan ternyata dugaanku benar.”
“Jadi, kau keberatan kalau aku menciummu ?”
“Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya tahu ke mana arahnya pembicaraanmu, itu saja. Yang lainnya sih, aku…..”
“Pasti bersedia dicium, iya kan ?”
“Huh..! Kau jahat, kau jahat,” ketus Lulu berdiri menghampiri Hidayat, dan memukul-mukul bahunya.
“Eeee, apa-apaan ini. Tuh, malu dilihat Maimunah.”
“Biar ! Aku malah akan menyuruhnya mengambil sapu untuk memukulmu. Kau tahu sendiri, pukulan Maimunah sangat kuat, sekali pukul saja, kau bisa KO !” ledek Lulu seolah-olah dia jatuh.
“Nah, kalau begini, kau mau memukulku dari mana ?” Kata Hidayat, yang berhasil menangkap Lulu dari belakang dan terus dipeluknya.
“Lepaskan, lepaskan Dayat, nanti mama datang kita kena marah.”
“Biar saja, biar dia tahu kalau aku tidak akan melepaskanmu.”
“Ya, tapi itu siapa, coba lihat ! Ayo, lepaskan, cepat !”
Hidayat melihat ada seorang wanita muda masuk. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dan melangkah menuju meja makan. Lulu tidak tahu, Apakah Ang Mei melihat dirinya atau tidak ketika dipeluk Hidayat. Dihampirinya Ang Mei yang juga sedang melangkah menuju ke ruang belakang. Ditenangkannya hatinya, seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Kalaupun Ang Mei melihatnya, aku harus berbuat apa ? Aku kira hal itu bukan hal yang memalukan.
“Hei Mei, mama mana, kenapa tidak diajak ke sini ?”
“Ada, ada di depan. Pasti sebentar lagi juga mereka ke sini.”
“Oh ya Mei, kenalkan ini teman,” kata Lulu menunjuk ke arah Hidayat.
“Ang Mei !”
“Hidayat !”
Ang Mei duduk bersebelahan dengan Lulu. Mereka berhadapan dengan Hidayat.
”Oh ini yang namanya Hidayat, yang tinggal di………………….”
“Di Wisma Atria !” potong Hidayat.
“Tempat kalian pernah makan soto, kan ?”
“Huh !” Ketus Lulu sembari menginjak pelan kaki Ang Mei.
“Ya, ya, aku pernah cerita pada Ang Mei, kalau kau pernah mentraktirku makan soto. Dan Ang Mei belum pernah makan di sana, apalagi yang namanya soto,” ujar Lulu menambahkan keterangan Ang Mei, agar dia tidak terlalu malu, bahwa soal makan di Wisma Atria bersama Hidayat, diceritakannya pada Ang Mei.
“Kalau begitu, kapan-kapan kita sama-sama ke sana lagi dan kita makan soto bersama, oke?” Hidayat menawarkan pada Ang Mei dan Lulu yang dilihatnya agak tegang.
“Mei, soal orang tua kita yang mau berangkat ke Bali, apa orang tuamu sudah cerita kalau Hidayat akan memberikan fasilitas pada mereka. Bagaimana dengan ibumu, apakah dia tertarik dengan tawaran Hidayat itu ?” Lulu coba mengalihkan pembicaraan.
“Oh tentu. Kalau tidak mana mungkin aku dan mama ada di sini. Kebetulan, tu mereka datang,” kata Ang Mei yang melihat mamanya dan mama Lulu menuju ke arah mereka. Ang Mei langsung berdiri dan menggeser kursi di sebelah kiri Hidayat. Lulu mengambil kursi lainnya juga duduk di sebelah kanan Hidayat, sehingga mereka berhadapan dengan orang tua Lulu dan Ang Mei.
“Dayat, ini kenalkan Nyonya Ong,” ujar Nyonya Wong pada Hidayat.
“Go Siok Kim. Atau kau boleh juga memanggilku Nyonya Ong, karena Papa Ang Mei dari marga Ong. Lengkapnya Ong Wen Piaw,” tutur Nyonya Ong.
“Dayat, lengkapnya adalah Hi da yat.” balas Hidayat menyambut tangan Nyonya Ong.
“Pakai lengkap-lengkap segala, seperti petugas imigrasi saja.”
“Tetapi Hidayat sebetulnya belum lengkap, karena dia tidak mencantumkan nama belakangnya, atau tidak menyebut marga, di belakang namanya. Ini tidak adil kan ?” canda Lulu dan menoleh ke arah Hidayat.
“Hus, kamu tidak boleh begitu, Lu. Nanti Hidayat………”
“Ah, mama serius sekali, Lulu kan hanya bercanda, nggak marah kan ?” Tukas Lulu mengarah ke Hidayat kembali.
“Tidak, tidak apa-apa. Di keluarga kami, biasa mencantumkan nama kakek di belakang nama-nama kami. Aku tidak tahu, apakah itu dapat juga dikatakan marga. Tetapi pada suku-suku tertentu, di Indonesia, seperti suku Batak, umpamanya, mereka memiliki apa yang disebut marga. Dan itu telah berlaku turun temurun dari ratusan tahun yang lalu, sampai akhir zaman. Terkadang, malah nama asli mereka tidak disebut, tetapi justru nama marga mereka yang dipanggil,” papar Hidayat.
“Kalau demikian, jarang orang yang tahu nama asli mereka, ya. Contohnya seperti apa Dayat ?” Tanya Ang Mei penasaran.
“Contohnya, Herbin Partaonan Sihombing. Orang sana, tidak memanggilnya Herbin, atau Partaonan, tetapi memanggilnya Sihombing. Terkadang. malah disingkat, menjadi Hombing. Yah, begitulah kira-kira.”
“Wah, menarik juga, ya. Kalau soal……..”
“Aduh, Mama ini bagaimana, Dayat kan bukan dosen. Dia ke sini kan mau menjelaskan, apa, bagaimana, dan kapan Mama-Mama berangkat ke Bali, ya kan ? Itulah persoalannya, ya nggak Mei ?” Lulu memotong pembicaraan mamanya dan meminta dukungan Ang Mei.
“Maksud mama juga ke situ. Tetapi keburu kau potong, ya sekarang bagaimana Dayat sajalah. Maaf saja Dayat, kami jadi tidak enak ini denganmu.”
“Tidak apa-apa. Masalah ke Bali, saya tinggal menunggu kapan Ibu-ibu mau berangkat. Begitu pesawat mau take off, saya tinggal kontak, dan nanti bawa tulisan di kertas atas nama Ibu, akan ada orang yang menjemputnya.”
“Nah, begitu Nyonya Ong, dengar sendiri kan ? Ini kesempatan dalam mewujudkan angan-angan kita berkunjung ke Bali.”
“Kita berdua saja ? Bagaimana teman-teman kita yang lain ?” Tanya Nyonya Ong.
“Yang lain nanti dulu lah. Belum tentu satu bulan kita dapat mengumpulkan mereka semua. Sementara kita di Bali, paling lama juga satu minggu, iya kan ? Begitu pulang nanti, kita ceritakan sama teman-teman kita, kejutan kan ?”
“Oke lah, aku setuju. Bagaimana kalau hari Sabtu, kita berangkat, jadi kita ada waktu tiga hari lagi mengurus segala sesuatunya,” usul Nyonya Ong.
“Aku kira itu baik. Kalau begitu, kita harus siap-siap, ayolah kita ke depan lagi. Anak-anak muda ini mau rapat lagi barangkali,” ujar Nyonya Wong berdiri dan menarik tangan Nyonya Ong.
“Tunggu, tunggu !” kata Lulu dan Ang Mei serentak.
“Mama, Mama kan Sabtu depan berangkat ke Bali, terus kami-kami kapan berangkatnya ?” Tanya Lulu.
“Ya, kami kapan Ma ?” Ulang Ang Mei.
Nyonya Wong dan Nyonya Ong berhenti melangkah dan saling memandang. Keduanya terdiam tidak dapat menjawab pertanyaan anak-anak mereka. Akhirnya Nyonya Wong menepuk bahu Nyonya Ong perlahan, seakan memberi isyarat bahwa dia saja yang menjawabnya. Nyonya Ong menganggukkan kepalanya.
“Kalau menurut pendapat mama, yang menentukan sebaiknya Hidayat saja. Nah, kalian tanya saja sama dia, oke ?” Jawab Nyonya Wong kembali menarik tangan Nyonya Ong.
“Sudahlah, masalah Bali adalah masalah yang kecil. Yang penting, bagaimana kalau sekarang kita isi perut kita dengan soto, kan tadi katanya Ang Mei ingin mencobanya,” sambut Dayat mengalihkan pembicaraan tentang Bali.
“Good idea ! Ayo Mei, kunci mobilmu kasihkan saja ke Mama, kita berangkat pakai mobilnya Hidayat saja,” sambut Lulu gembira terus menarik tangan Hidayat. Hidayat juga menarik tangan Ang Mei.
“Oke lah,” kata Ang Mei terus berdiri mengikuti tarikan tangan Hidayat dan Lulu.
Ketika sampai di Wisma Atria, Hidayat pamitan pada Lulu dan Ang Mei untuk menyimpan sesuatu di kamarnya. Hidayat memesan soto khas Atria tiga porsi dan minuman. Lulu melihat Hidayat menunjuk ke arah mereka.
“Mei, jangan-jangan si manajer mengenali kita, wah matilah kita Mei. Apa kata Hidayat nanti, aduh aku jadi gemetar Mei.”
“Sudahlah, tenang saja. Kalau tidak ada sesuatu yang penting, yang namanya manajer tidak akan pernah keluar dari ruang kerjanya. Jadi kita tenang-tenang sajalah.
Wajah seperti kita ini kan wajah pasaran, kenapa harus takut ?”
“Pasaran bagaimana ? Kalau pasaran, berarti kita bisa diobral. Kau ini ngacau saja. Sudah-sudahlah, tu Hidayat sudah datang ke sini.”
“Aku sudah pesankan soto untuk kita. Tetapi kalau kalian ingin yang lain, aku akan memesannya,” kata Hidayat pada Lulu dan Ang Mei, terus menarik kursi dan duduk.
“Aku kira cukuplah. Bukankah kita sengaja memesankan soto agar Ang Mei tidak penasaran lagi nantinya. Iya kan Mei ?”
“Ya, ya, aku ingin sekali mencicipinya. Siapa tahu ketagihan, dan aku bisa masuk anggota pelanggan tetap di sini. Boleh kan Dayat ?”
“Tentu, tentu saja boleh. Kalau perlu, aku panggilkan manajer restoran ini, agar kalian dapat mengenalnya secara langsung dan mendaftar padanya saat ini juga.”
“Hah ? Memanggil manajer ? Jangan, jangan, jangan Dayat.” Lulu tersentak, ketika Hidayat menyebut manajer, apalagi mau memanggilnya.
“Aku cuma bercanda, Dayat. Mana mungkin aku terus-terusan ke sini. Hanya untuk semangkok soto, kalau Lulu nggak tahu juga, karena ada kau,” canda Ang Mei.
“No, no way ! Please Mei, jangan buat aku pusing, atau lebih baik aku meninggalkan tempat ini,” ujar Lulu berdiri.
Melihat Lulu berdiri, spontan Hidayat juga berdiri, begitu pula dengan Ang Mei. Sayangnya, pelayan datang, sehingga secara serentak mereka duduk kembali. Bersiap-siap untuk makan. Suara emas Mus Mulyadi mengalun merdu dengan irama keroncong menambah keunikan tersendiri bagi Lulu dan Ang Mei. Sangat jarang mereka mendengar irama yang kini sedang berkumandang dan cengkok Mus Mulyadi yang khas mendayu-dayu, naik dan turun. Ang Mei terlihat sangat menikmati soto yang sedang dimakannya. Berbeda dengan Lulu. Sejak peristiwa kedatangannya bersama Ang Mei, dalam penyelidikan awal tentang Hidayat ke restoran ini, Lulu sangat ketakutan. Saat yang lain menunduk menghadap hidangan, Lulu malah menyapu setiap sudut ruangan dengan matanya yang sipit. Siapa tahu waktu aku makan, sang manajer datang, dan mengenali diriku, matilah aku. Tetapi kalau siaga begini, kalau dia datang, aku bisa buru-buru keluar. …..Bersambung……..







