Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(25)
Halaman 121-125

“Hei, mama jadi ingat dengan Hidayat, apa dia masih sering datang ke rumah ? Katakan padanya mama baik-baik saja di Bali. Begitu pula dengan papamu tentunya.”
“Masih Ma, dia masih bertemu dengan Lulu, kami sering pergi dan pulang kuliah bersama-sama, kalau Papa, belum ada kontak Ma.”
“Sudah dulu ya, mama mau istirahat dulu, besok mama akan ceritakan lagi tentang pengalaman mama.”
“Malam Ma.”
Pagi-pagi sekali Wayan sudah menghubungi Nyonya Wong. Ketika mereka meninggalkan kota Sanur, suasana kota belum begitu ramai. Memasuki kota Tohpati, Nyonya Wong dan Nyonya Ong mulai terlelap. Wayan sengaja tidak membangunkan kedua tamunya, karena rencananya mereka akan makan siang di Ubud. Kota Ubud pusatnya pelukis-pelukis terkenal di Bali, diantaranya Halls Inel, Arie Smith, dan yang cukup senior Antonio Blanco. Di sepanjang jalan terdapat galeri-galeri yang sangat menarik perhatian para wisatawan. Ada dua museum yang sering dikunjungi, yaitu Puri Lukisan, dan Museum Neka. Bonar menghentikan mobilnya dekat Puri Lukisan.
Sebenarnya setelah makan siang Nyonya Wong akan melihat-lihat keadaan galeri, tetapi Wayan mengingatkan perjalanan masih agak lama sampai ke Kintamani. Wayan berjanji pada Nyonya Wong akan kembali lagi ke Ubud, terutama ke kediaman Antonio Blanco. Betapa gembiranya Nyonya Wong ketika Wayan berjanji akan mengenalkan Antonio Blanco padanya.
“Kamu serius akan memperkenalkan Ibu padanya, Wayan ? Saya pernah membaca tentang Antonio di salah satu majalah, apakah dia tinggal di daerah sini ?” Tanya Nyonya Wong serius.
“Tentu, kita akan ke sana besok dan itu sudah saya jadwalkan. Sekarang kita ke Kintamani saja dulu, keburu sore, kurang baik ke Desa Trunyan-nya.”
“Okey, saya bangga apabila dapat berkenalan dengan Antonio Blanco,” ujar Nyonya Wong.
Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, sebenarnya suatu desa yang terpencil di Pulau Bali. Kehidupan masyarakatnya yang kurang lebih 3.000 jiwa, selain bertani, berdagang di kawasan wisata, juga mencari ikan di danau yang luasnya lebih dari 20 hektar. Di depan warung yang banyak pengunjungnya, Bonar memarkirkan mobilnya. Wayan langsung menemui salah seorang pemilik perahu motor.
“Bonar, buat apa Wayan kak sana tu,” tanya Nyonya Wong ketika melihat Wayan begitu tergesa-gesa ke kerumunan perahu-perahu motor.
“Kita akan naik perahu motor itu ke seberang sana,” jawab Bonar menunjuk ke arah desa Trunyan.
“Ayolah, kita turun,” ajak Bonar pada kedua tamunya.
Di antara danau yang luas membentang, bukit-bukit yang hijau, dan derunya motor perahu, Nyonya Wong agak gemetar juga.
“Ni kelihatannya tenang-tenang saja, apa tidak kebayang kalau sebentar lagi kita akan melihat mayat-mayat berserakan di tanah ?” Tanya Nyonya Wong pada Nyonya Ong.
“Sebenarnya, aku juga merasa agak takut, tetapi aku ingin tahu, yah kita lihat bagaimana nanti saja, kita kan tidak berdua.”
“Ya, pengunjungnya bukan hanya kita, jangan-jangan di sana malah banyak orang, jadi jangan khawatirlah.” Wayan coba menenangkan tamunya.
Sebelum merapat, Bonar sudah melompat duluan. Dia akan membantu kedua tamunya agar dapat naik ke darat dengan selamat. Di sela-sela hutan belukar, terdapat rumah-rumah penduduk. Pohon-pohon tinggi dengan daunnya yang rindang menyejukkan suasana yang bagi Nyonya Wong agak mencekam. Jalan menuju ke dalam sangat kecil, sehingga Nyonya Wong dan Nyonya Ong tidak dapat jalan berdampingan.
Di tempat yang agak luas, Wayan berhenti dan menunjuk ke arah kanan. Betapa kagetnya Nyonya Wong dan Nyonya Ong. Mereka berpelukan dan sama-sama mengeluarkan sapu tangan untuk menutup hidung mereka. Bonar dan Wayan tertawa melihat tingkah kedua tamunya, yang agak takut melihat mayat-mayat berserakan.
“Ibu-ibu, tidak perlu menutup hidung, karena tidak bau. Nih, lihat saya dan itu Bonar, biasa-biasa saja kan ?”
Dengan agak ragu-ragu Nyonya Wong dan Nyonya Ong menyimpan kembali sapu tangan mereka. Dan benar saja, tidak ada bau mayat sama sekali.
“Sungguh menakjubkan, kenapa ini bisa terjadi, Wayan ?” Tanya Nyonya Wong.
“Ada beberapa ramuan yang harus dipoleskan sebelum mayat digeletakkan di sana. Dengan ramuan-ramuan tradisional tersebut, sampai kapanpun mayat-mayat yang ada di sini tidak akan berbau busuk. Pohon-pohon sekitar sini juga mengeluarkan aroma yang mencegah bau busuk, sehingga inilah keistimewaan desa ini.”
“Tidak perlu dipagar yang tinggi atau pagar yang kuat ?”
“Oh tidak, tidak perlu. Cukup dengan pagar bambu seperti itu. Masyarakat di sini pun turut menjaganya setiap saat, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Padahal masih sama-sama Bali, tetapi kenapa berbeda dengan yang kemarin, apa namanya Cheng ?” Nyonya Ong menanyakan pada Nyonya Wong dengan menyebut nama aslinya.
“Upacara Ngaben,” jawab Nyonya Wong.
“Ya, Ngaben. Kenapa Wayan ?”
Di Bali hal itu biasa, di mana kepercayaan dan aliran masyarakatnya terkadang berbeda-beda. Di sini kepercayaan masyarakatnya beraliran Bali Aga, salah satunya, mereka tidak mengubur atau melakukan upacara pembakaran mayat.”
“Kau sendiri, aliran yang mana, Wayan ?”
“Sebagaimana keluarga-keluargaku yang lain dan kepercayaan agama Hindu yang kuanut, kami melakukan upacara Ngaben.”
“Maaf, kami menanyakan hal ini padamu, ya maafkan kami Wayan,” ujar Nyonya Wong dan Nyonya Ong hampir bersamaan.
“Tidak, tidak apa-apa. Bagaimana, apa kita sudah siap untuk meninggalkan tempat ini ?”
“Ya, kami kira, kami hanya perlu diabadikan dulu, sebelum meninggalkan tempat ini, bagaimana Bonar ?” Kata Nyonya Wong sambil menyerahkan kameranya pada Bonar.
“Siap, Bu !” ujar Bonar memberi hormat pada Nyonya Wong, langsung menerima kamera dari Nyonya Wong.
Wayan dan kedua tamunya tertawa-tawa melihat tingkah Bonar. Pada saat itulah Bonar mengabadikannya. Suatu pemotretan yang baik. Good angle !
Pada saat tiba kembali di terminal Kintamani, Wayan mengajak kedua tamunya untuk istirahat di sebuah restoran. Sebelum sore hari, Wayan sengaja mengajak tamunya singgah di Tampak Siring. Pada senja hari Tampak Siring memang sangat menawan, seakan matahari bersembunyi di antara kuil-kuil. Diantaranya Pura Tirta Empul yang dibangun ribuan tahun lalu, menambah keindahan tersendiri. Di tempat pemandian yang oleh banyak orang dianggap berkhasiat untuk kesehatan, atas permintaan Wayan, Bonar menghentikan kendaraannya. Nyonya Wong dan Nyonya Ong sangat senang ketika diberitahu bahwa air panas tersebut berkhasiat untuk kesehatan dan kesejahteraan. Pada waktu-waktu tertentu, di tempat tersebut selalu diadakan upacara adat dan keagamaan.
“Bagaimana kalau malam ini kita menginap di Ubud saja, agar pagi-pagi kita dapat berkunjung ke kediaman Don Maria Antonio Blanco ?” Tanya Wayan pada kedua tamunya.
“Kalau saya dan Nyonya Ong, bagaimana kata Wayan saja, tetapi kalaupun menginap, kita belanja dulu untuk persiapannya,” jawab Nyonya Wong.
“Kita belanja-belanja dululah, kita kan tidak buru-buru kembali ke…..,” tambah Nyonya Ong.
“Ke Bali Beach hotel di Sanur,” potong Wayan.
“Ibu-ibu belanja ditemani Bonar saja ya, karena saya akan memesan kamar dulu ke hotel, tidak jauhlah dari sini,” kata Wayan pamitan pada kedua tamunya dan terus berangkat.
Wayan sendiri agak ragu memilih hotel untuk kedua tamunya, apalagi di kota kecil seperti di Ubud. Kalaupun ada, hanya tingkat hotel kecil atau losmen. Namun semuanya dalam keadaan baik. Wayan tentunya memilih yang terbaik yang ada di Ubud, karena tidak mau mengecewakan kedua tamunya. Tetapi ketika tiba di losmen, kedua tamunya biasa-biasa saja, tidak protes.
“Sebelumnya saya minta maaf, di kota ini, hanya tempat inilah yang terbaik, mudah-mudahan saja ibu-ibu tidak kecewa,” ujar Wayan ketika Bonar memarkirkan kendaraan di halaman hotel Panorama.
“Tak apa-apa, ini juga sudah bagus. Saya senang suasananya,” jawab Nyonya Wong terus turun menuju ke lobby hotel yang penuh dengan patung-patung serta kursi-kursi ukiran.
Wayan memberikan kunci kamar pada Nyonya Wong dan terus membantu Bonar mengangkati barang-barang belanjaan kedua tamunya. Wayan menggunakan telepon hotel untuk memberitahukan ke Sanur, bahwa kedua tamunya tidak bermalam di sana. Wayan kaget juga, karena ada pesan untuk Nyonya Wong untuk segera menelpon ke Singapura, katanya sangat penting dari puterinya Liu Ching Shia. Wayan bergegas menghubungi Nyonya Wong di kamarnya. Betapa kagetnya Nyonya Wong ketika diberitahukan soal ada pesan dari puterinya.
“Lu, ada apa menelpon siang-siang ? Apakah ada masalah besar ?” Tanya Nyonya Wong pada Lulu dengan agak gugup.
“Mama lagi di mana ?”
“Mama sekarang ada di Ubud, dan rencananya kami akan menginap di sini, karena rencananya besok pagi mama mau dikenalkan dengan pelukis terkenal Antonio Blanco.”
“Antonio Blanco, Ma ? Pelukis yang sangat terkenal itu ?”
“Benar, Lu. Kebetulan Wayan mengenalnya, dan kami besok pagi akan berkunjung ke rumahnya, yang tidak jauh dari tempat kami menginap saat ini.”
“Mama sangat beruntung, apabila dapat menemuinya. Kalau masih ada uang, Mama harus beli lukisannya, dan minta dia menuliskan nama Lulu di kanvasnya, ya Ma ?”
“Ya, mama akan coba besok, tetapi kembali ke telepon tadi, ada apa sebenarnya Lu?”
“Paman Kuo, Ma. Dia masih belum bisa berdamai dengan Hidayat, malah agak ramai, karena Hidayat dikatakan membawa sial permainan judi papa.”
“Lho, apa hubungannya Hidayat dengan permainan judi papa ?”
“Tidak tahu, pokoknya kata Paman Kuo, dia hanya menyampaikan pesan papa seperti itu.”
“Tetapi papa kan bisa menghubungi mama di sini, atau paman bisa menghubungi mama, kalau ada apa-apa dengan Hidayat. Sekarang mana pamanmu, apa masih ada di situ ?”
“Paman sudah pulang Ma, tetapi besok malam, katanya mau datang, dan dia minta mama juga pulang besok.”
“Pulang besok ? Apakah persoalannya sangat parah sekali ?”
“Tidak tahulah Ma, paman bicara pada Hidayat, sepertinya ada nada-nada mengancam segala.”
“Mengancam bagaimana, Lu ?”
“Lulu kurang jelas, karena paman berdua saja dengan Hidayat di ruang belakang. Lulu disuruh ke depan. Ini urusan laki-laki, begitu kata paman.”
“Terus, kenapa pamanmu pergi ?”
“Lulu yang mengajaknya ke dalam kamar Lulu, kemudian Lulu katakan, kalau Hidayat itu anak seorang pejabat penting di Indonesia, sehingga paman jangan main ancam segala, bisa perang antar negara.”
“Apakah pamanmu percaya ?”
“Tidak tahulah Ma, yang jelas setelah Lulu beritahu, paman pergi, tetapi masih memandang kurang enak pada Hidayat.”
“Hidayatnya sendiri, bagaimana ? Apakah dia masih ada di sana ? Katakan mama mau bicara dan minta maaf padanya.”
“Wah, baru saja dia pulang Ma. Terus, Apakah Mama jadi pulang besok ?”
“Sebentar, mama akan bicarakan dulu dengan Wayan, Apakah besok sore mama bisa meninggalkan Bali atau tidak, karena harus confirm tiket dulu.”
“Mama tidak apa-apa kalau harus pulang besok ?”
“Tidak, tidak masalah. Mama ke sini juga tujuannya kan mau cari ketenangan, tetapi kalau kejadiannya begini, mama mau tenang bagaimana, Lu. Pokoknya, setelah bertemu dengan Antonio Blanco, mama terus kembali ke Sanur, dan siap-siap kembali. Itupun kalau ada pesawat sore hari. Untuk itu mama akan berunding dengan Wayan. Setelah itu, mama akan kontak kamu lagi, ya !”
“Baiklah Ma, Lulu akan tunggu kabar dari Mama, sehingga Lulu tidak akan ke mana-mana. Tetapi Mama tenang-tenang sajalah. Masalah di sini, bagaimana nanti saja. Ah, masalah ribut dengan papa, bukan asing lagi buat keluarga kita, ya nggak ma ?”
“Hus ! Kamu itu bisa saja bicara begitu. Ini menyangkut orang lain, dan orang lain itu menurut mama sangat baik, apalagi mama sekarang dalam menikmati fasilitasnya, bagaimana kalau sampai hal ini diketahui Wayan atau Bonar, bisa-bisa mama tidak pulang Lu.”
“Akh, Mama menakut-nakuti Lulu saja. Memangnya mama mau disandera ?”
“Ya, kalau orang tua Hidayat tahu kalau anaknya di Singapura dihina, apakah mereka tidak mengambil tindakan balas dendam ?”
“Hal-hal inilah yang harus kita jaga Lu. Sebaik-baiknya orang di sini, itu karena hormat pada keluarga Hidayat, sekarang kalau mereka tahu kalau Hidayat dibuat macam-macam, tentu mereka lebih memilih membela pimpinan mereka, ya kan Lu ?”
“Kalau begitu, jangan mereka sampai tahu lah ma.”
“Itulah yang mama usahakan. Sudahlah, mama akan berunding dengan bibimu dulu, dan mengabarkan pada Wayan kalau mama segera pulang.”
“Oke Ma, salam buat Bibi Ong.”
Nyonya Wong menceritakan permasalahan yang terjadi di rumahnya pada Nyonya Ong. Kalaupun harus pulang dengan segera, Nyonya Ong tidak keberatan. Bagi mereka, kapan saja kalau ada waktu bisa kembali berlibur ke Bali. Mereka mencoba membicarakan kepulangan mereka yang mendadak pada Wayan.
“Kalau besok sore, ada pesawat ke Singapura ?” Tanya Nyonya Wong pada Wayan.
“Besok sore ? Untuk siapa Bu ?”
“Ya, untuk kami lah. Rencananya, setelah kita bertemu dengan Antonio Blanco, kita akan siap-siap untuk kembali ke Singapura “
“Secepat itu, bukankah masa liburan ibu-ibu masih panjang.”
“Yah, lain kali sajalah Wayan. Kalau ada waktu pasti kita akan kembali. Bahkan kami akan membawa rombongan. Asal kamu tidak lupa saja pada kami.”
“Begini saja Bu. Saya akan kontak dulu kantor sekarang, agar besok pagi, Bonar mengurus open tiket ibu-ibu, jadi saya pinjam dulu paspor ibu-ibu, mudah-mudahan ada jadwal penerbangan untuk besok sore.”
“Ya coba saja diusahakan,” desak Nyonya Wong.
Ternyata penerbangan besok sore ada ke Singapura. Untuk konfirmasi itu semua akan diurus Bonar, sehingga Bonar tidak menginap di Ubud, tetapi langsung pulang ke Sanur. Dari hotel ke rumah kediaman Antonio Blanco, Wayan akan mengajak tamunya dengan naik becak saja, karena desa Campuhan tidak begitu jauh.
Nyonya Wong langsung mengabarkan pada puterinya, bahwa mereka besok sore sudah dapat meninggalkan Bali, Lulu kemudian memberitahukan pada Ang Mei kalau besok sore mereka akan menjemput orang tua mereka di Bandara Changi. Ketika Lulu menghubungi Hidayat, betapa terkejutnya Hidayat mendengarnya.
“Kamu serius Lu, mama akan pulang besok ?” Ujar Hidayat ketika menerima telepon dari Lulu.
”I tell you the truth ! Kita harus jemput mama besok sore, jadi kamu harus datang ke sini ya ?” “Oke, tetapi apakah ini ada hubungannya dengan kejadian dengan Paman Kuo ?”
“Sudahlah, it is small problem, pokoknya aku dan Ang Mei menunggumu di rumah.”
“Ya, sampai bertemu besok.”
Setelah menerima telepon dari Lulu, Hidayat langsung menghubungi Bali. Dari Bali Beach Hotel, Hidayat baru tahu kalau Wayan sekarang berada di Ubud.**Bersambung….







