Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(32)

Halaman 156-160

 

“Wah, wah, kau itu sepertinya bukan lelaki saja atau kau pura-pura. Sejak kita remaja pun kita sudah tahu, kalau daerah situ banyak tempat begituannya, kan ?”

“Cheng, Cheng, kau ini kurang informasi, barangkali. Data masih remaja kau ungkapkan pada saat tua, ya tidak benarlah.”

“Maksudmu di sana tidak ada lagi rumah bordir ?”

“Tidak ada Cheng, sekarang tidak ada lagi.”

“Aku tidak percaya ! Nanti kalau Lulu sudah datang, aku akan keluar dan jalan ke sana.”

“Ke sana untuk apa ?”

“Yah, mengecek kebenaran omonganmu lah.”

“Aduh, kau ini bagaimana sih Cheng, tempat begituan saja mau diperiksa segala. Nggak ada kerjaan lain apa ? Kau cemburu ya, kalau aku pergi bukan main kartu. Tetapi main……”

“Terserah kau mau mengatakan aku cemburu atau tidak. Mau main apalah. Suipen ni lah, yah terserahlah. Kau keberatan kalau aku tahu nama temanmu itu ?”

“Sebegitu pentingnya kah nama temanku itu, bagimu ?”

“Aku rasa penting. Minimal kalau Kuo Wei datang, aku bisa beritahukan dia. Atau kalau anak-anak kita menanyakannya, minimal aku dapat memberitahukan pada mereka, di mana papa mereka berada.”

“Sepertinya begitu disiplin ! sejak kapan aturan ini berlaku ? Atau ada undang-undang baru di rumah ini sekarang. Aku jadi takut keluar rumah.”

“Aturan ini berlaku sejak kau pulang, dan bersedia berhenti main judi.”

“Berhenti main judi ? Kita kan sudah sepakat, kalau perahu motor yang kita gadaikan itu kita jual, kau tidak keberatan uangnya kujadikan modal untuk main judi, begitu kan ?”

“Ya ! Tetapi kesepakatan itu kan belum kita laksanakan. Aku mengumpulkan dulu anak-anak kita dan Kuo Wei. Kita lihat saja nanti bagaimana perundingan tersebut.”

“Oke lah, bagaimana nanti saja. Sekarang aku pergi dulu, nanti teman-teman marah padaku kalau sampai aku terlambat datang. Besok kita bicarakan lagi.” Ujar Wong berdiri dan menepuk perlahan bahu isterinya, Cheng Yuen Ma.

Cheng Yuen Ma berharap suaminya benar-benar akan menghentikan kebiasaannya bermain judi. Kehilangan sebuah perahu motor bukanlah masalah. Karena masalah yang paling besar dialaminya selama ini, adalah kehilangan kehangatan suaminya. Bagaimana kalau suaminya menang, dan pihak yang dikalahkan tidak terima, meminta main terus ? Kalau begitu, aku akan minta suamiku mengatakan pada lawan mainnya, bahwa permainan kali itu adalah permainan terakhir. Baik untuk kalah ataupun menang. Bagaimana kalau hasil penjualan perahu motor ludes ? Apakah dia tidak panas ? Hal-hal inilah yang harus aku cantumkan dalam perjanjian nanti.

“Nyonya mau makan sekarang ?” Sapa Maimunah membuyarkan lamunan Nyonya Wong.

“Tidak, tidak Munah. Aku menunggu Lulu dan Ang Mei,” jawab Nyonya Wong tanpa melihat ke arah Maimunah. Huh ! Wanita ini telah mengganggu lamunanku. Seandainya suamiku benar-benar akan tinggal di rumah ini, perlukah aku memberhentikannya ? Kalau itu aku lakukan, apakah aku tidak membuatnya sengsara nanti ? Sesama wanita, aku tidak sampai hati melakukan hal itu. Sebaliknya, kalau kehadirannya di rumah ini hanya sebagai pelampiasan nafsu suaminya terus-menerus, aku juga tidak tega. Untungnya, Maimunah wanita baik-baik dan kelihatan tabah. Tidak pernah berpakaian yang mengundang godaaan suaminya. Tidak bergenit-genit, atau manja sebagaimana wanita-wanita penghibur. Munah benar-benar membutuhkan kerja, membutuhkan kehidupan. Tidak saja untuk dirinya, tetapi untuk berbakti pada keluarganya.

Dia selalu meminta Lulu untuk menyimpan uangnya di bank. Begitu percaya dan yakinnya dia pada Lulu. Aku sendiri tidak tahu apa yang direncanakannya pada Lulu. Yang jelas, dia mengikuti saran Lulu. Karena sejak itu, setiap bulannya Lulu lah yang menerima uang gajinya dariku. Demikian akrabnya mereka berdua. Ini sungguh sangat dilematis bagiku. Di satu sisi aku memisahkannya dari suamiku, tetapi pada sisi lain, aku tidak mungkin memisahkannya dari suamiku, juga pada sisi lain, aku tidak mungkin memisahkannya dari puteriku. Terkadang aku sendiri iri melihat hubungan mereka yang demikian akrab. Sampai pada hal-hal tertentu, malah puteriku terbuka padanya, padahal aku ibu kandungnya. Inilah yang pernah aku katakatan pada Wong Chung Hwa, suamiku. Jangan sampai Lulu tahu affair antara dia dengan suamiku. Aku tidak bisa membayangkan, kalau itu sampai terjadi. Lulu akan mengusir Maimunah, atau malah mencaci maki papanya, dan mereka berdua kabur ke Indonesia. Kemudian mereka mencari Hidayat dan menikahlah Lulu di sana. Hidayat tentunya akan membawa Lulu ke mana dia mau, karena Lulu telah menjadi Nyonya Hidayat. Aku tinggal seorang diri di sini, di rumah ini. Aduh sangat mengerikan. Mengerikan sekali !

“Jangan bawa dia pergi, Munah !” teriak Nyonya Wong.

Munah yang kebetulan berada dekat dengan Nyonya Wong, sangat terkejut mendengar teriakan Nyonya Wong, dan memanggil namanya.

“Nyonya, ada apa Nyonya, saya ada di sini”, ujar Munah mendekati Nyonya Wong.

“Ada apa ?” Nyonya Wong kembali bertanya.

“Lho, bukannya barusan Nyonya meneriakkan nama saya ?”

“Hah ? Aku berteriak memanggil namamu ? Aduh, maaf, maaf Munah. Aku tidak bermaksud……”

“Tetapi, saya perhatikan dari tadi, Nyonya sepertinya termenung terus. Atau barangkali Nyonya letih. Sebaiknya Nyonya istirahat saja dulu di atas. Kalau Lulu dan Ang Mei datang, nanti akan saya bangunkan,” usul Munah seraya menunduk-nundukan kepalanya dan tangan kanannya menunjuk ke arah kamar Nyonya Wong.

“Benar juga saran kau Munah. Kalau begitu, aku istirahat dulu lah,” jawab Nyonya Wong berdiri dan terus melangkah perlahan, menapaki tangga menuju ke kamarnya.

Beberapa orang di Wisma Atria membenarkan, kalau orang tua Hidayat telah meninggal dunia. Hanya, untuk informasi yang lebih lengkap, mereka menyarankan pada Lulu dan Ang Mei untuk langsung saja menanyakannya ke bagian penerangan di Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berada di Chatsworth Road No. 7 Singapura. Lulu dan Ang Mei meninggalkan Wisma Atria. Ang Mei membelokkan mobil ke kiri, memasuki Paterson Road. Kemudian ke kanan ke arah Grange Road, memasuki kawasan Chatsworth Ave, langsung belok ke kiri ke Chatsworth Road. Tanpa ragu-ragu Ang Mei langsung memasuki Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Singapura.

Seorang petugas keamanan mengantarkan mereka ke bagian penerangan. Dari pihak penerangan, Lulu mendapatkan keterangan yang sama sebagaimana yang mereka dapatkan di Wisma Atria tadi.

“Bapak keberatan kalau kami mengetahui apa yang menyebabkan orang tua Hidayat sampai meninggal dunia ?” Tanya Lulu pada staf penerangan yang menerima kehadirannya.

“Benar Dik, yang kami terima kabar dari Jakarta, bahwa beliau meninggal karena penyakit jantung. Selebihnya, kami tidak tahu. Pihak kami hanya diperintahkan untuk memberitahukan pada Hidayat dan menitipkan Hidayat pada pesawat kenegaraan.”

Pada saat Lulu berbincang-bincang dengan staf kedutaan. Ang Mei iseng-iseng mengambil majalah dari meja kecil yang tidak jauh darinya. Ang Mei senang melihat wajah seorang pria Indonesia yang gagah mirip dengan wajah Hidayat. Walaupun di sana tertera namanya bukan Hidayat. Apalagi dengan seragam militer. Cover majalah itu sangat menarik perhatiannya. Ketika Lulu pamit untuk pergi, Ang Mei yang sedang menggenggam majalah tersebut, langsung memintanya. Sesampai di mobil, Ang Mei meletakkan majalah yang dibawanya di atas dashboard.

“Apa gunanya kau membawa majalah itu Mei,” tanya Lulu tanpa ingin mengambilnya.

“Akh, iseng saja. Aku hanya melihat wajah yang ada di majalah itu mengingatkan aku pada Hidayat,” jawab Ang Mei sekenanya.

“Kau ingat dia juga Mei ?”

“Tentulah. Baru saja kita bermain-main dengannya siang hari, tahu-tahu malamnya kita sudah kehilangan dia. Sepertinya, dia lenyap tertelan bumi, tanpa informasi sedikit pun.”

“Benar Mei, itu juga yang aku pikirkan. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan kepada kita tentang orang tua Hidayat. Aku bingung juga Mei. Begitu terkenalnya orang tuanya di sana, tetapi ketika meninggal, kita tidak mendapatkan beritanya sama sekali.”

Ang Mei tidak turun lagi ketika tiba di rumah Lulu. Pada saat Lulu akan masuk ke kamarnya, Munah datang menghampirinya. Ketika Munah menyampaikan pada Lulu akan membangunkan Nyonya Wong, sebagaimana pesan yang diterimanya, Lulu melarang Munah membangunkan mamanya.

“Tak payah lah Munah, saya ingin istirahat. Kalau nanti mama terbangun, katakan saya tidak mau diganggu. Kita bertemu saat makan malam sajalah,” pinta Lulu terus membuka pintu dan masuk ke kamarnya.

Ada kehampaan hati yang dirasakan Lulu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada orang yang dapat memberi informasi baik tentang Hidayat atau sebab-sebab orang tuanya meninggal dunia. Apa salahnya sehingga Hidayat dapat melupakannya begitu saja. Lulu coba mengingat-ingat, kalau ada ucapannya yang salah atau tingkah lakunya yang membuat Hidayat begitu membencinya ? Ingin rasanya dia menjerit sekuat-kuatnya agar dada terasa lapang, tetapi Lulu mengurungkan niatnya. Akhirnya dia keluar kamar mencoba menemui Maimunah. Lulu teringat dengan teman-temannya yang merokok. Kata temannya, rokok dapat menghilangkan pikiran-pikiran yang buntu. Kalau begitu, kenapa aku tidak mencobanya ?

“Munah, tolong kau keluar sebentar, belikan aku rokok sebungkus. Sekalian dengan korek apinya, ya ! Ini nih uangnya,” titah Lulu pada Maimunah.

“Apa saya tidak salah dengar Non ? Bukankah selama ini saya tidak pernah melihat Non merokok,” jawab Maimunah agak ragu mengambil uang dari Lulu.

“Pokoknya kau beli sajalah,” kata Lulu terus memberikan uangnya ke tangan Maimunah.

Lulu coba menghisap rokoknya perlahan. Lulu terbatuk-batuk, tapi diteruskannya juga. Lama-lama Lulu merasakan ada keasyikan tersendiri. Lulu menyandarkan tubuhnya ke dinding ranjang. Diisapnya rokok dalam-dalam, kemudian dihembuskannya kembali ke udara. Dipandangnya gumpalan asap putih sampai lenyap lagi dan menghilang. Lulu berulang-ulang melakukannya. Lulu baru tersentak ketika jari tangannya terasa panas.

”Inilah rokok pertama yang aku rasakan,” desah Lulu menekan rokoknya di bekas tempat parfum, sampai mati.

Pada saat Nyonya Wong dan Lulu menikmati makan malam, tanpa mereka duga, Ang Mei datang, dengan tergopoh-gopoh. Nyonya Wong kaget, tetapi yang lebih kaget lagi, justru Lulu, karena Ang Mei datang dengan membawa majalah yang dulu mereka bawa dari kantor kedutaan. Serentak pula Nyonya Wong dan Lulu menghentikan makannya.

“Ada apa Mei, kelihatannya ada kabar penting akan kau sampaikan ?” Tanya Nyonya Wong.

“Ini Bi, ini masalah……”

“Masalah Hidayat, Mei ? Kalau itu benar, jangan sungkan-sungkan, katakan saja mama tidak apa-apa lah mendengarnya,” kata Lulu memotong perkataan Ang Mei yang terlihat agak ragu-ragu akan mengatakan sesuatu.

“Atau barangkali ada pembicaraan kalian yang rahasia ?” Tanya Nyonya Wong”.

“Tidak, tidak ada yang perlu dirahasiakan, katakan sajalah Mei,” pinta Lulu.

“Ini Lu, kau baca sendirilah. Kau buka halaman 72 pada rubrik Hukum,” kata Ang Mei langsung memberikan majalah yang ada di tangannya.

Dengan berdebar-debar, Lulu coba membuka halaman 72. Di situ tertera judul : “BUNGKAM SETELAH MENINGGAL BERSAMA WANITA SIMPANAN”. Belum lagi hilang ingatan orang tentang berita meninggalnya Drs. AH (52) seorang pejabat tinggi, saat bermesraan dengan IS (27) wanita simpanannya di kawasan Cipanas Jawa Barat, terbetik pula kabar bahwa secara mendadak isteri dan putera-puterinya Drs. AH menghilang, setelah menyerahkan rumah dinas milik Departemen Perhubungan. Salah seorang putera almarhum yang selama ini kuliah di Singapura pun, menurut sumber-sumber KBRI Singapura yang dihubungi mengatakan, sejak pulang mengunjungi orang tuanya yang meninggal, tidak ada lagi kabar beritanya. Pihak Wisma Atria Singapura, di mana putera almarhum selama ini tinggal, ketika dihubungi membenarkan, bahwa putera almarhum sejak itu, tidak kembali lagi. Bahkan barang-barangnya, telah dipaketkan. Mobil yang selama ini digunakan untuk kuliah, lanjut sumber, telah dijual di bawah harga pasar. Sumber lain menyebutkan, putera almarhum, karena malu menghadapi masyarakat dan teman-teman kuliahnya di Singapura, karena gencar diberitakan media cetak dan elektronik, tidak berani keluar rumah. Kalau pun keluar, dia bersama dengan gank lamanya, yaitu gank narkotika. Agar tidak lebih parah, kata sumber, sementara ini yang bersangkutan dipindahkan ke rumah pamannya di Bandung. Bahkan, rencananya, pihak keluarga akan mengirimkannya ke pusat rehabilitasi narkotika di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Langkah yang dilakukan pihak berwajib, hingga kini masih terus menyelidiki kasus yang banyak melibatkan beberapa pejabat tinggi Departemen Perhubungan ini, walaupun salah seorang yang diduga pelakunya telah meninggal dunia. Begitu pula dengan kasus-kasus narkoba, yang kian melanda generasi muda, mendapat perhatian serius dari pihak berwenang.

“Huh, pantes saja mereka-mereka tidak mau memberikan informasi pada kita, ya Mei ? tidak tahunya kasusnya mengerikan juga,” ungkap Lulu.

”Sebaiknya, kau simpan majalah ini baik-baik Mei,” tambah Lulu langsung memberikan majalah yang barusan dibacanya pada Ang Mei.

“Mama lihat kau begitu kesalnya. Ada apa sih Lu ?” Tanya Nyonya Wong.

“Ya, bagaimana tidak kesal Ma, orang-orang yang kami temui, baik di Wisma Atria, maupun yang di kedutaan, tidak satupun yang memberitahukan sebab-sebab meninggalnya orang tua Hidayat. Ternyata, seperti di majalah itu,”  jawab Lulu agak murung.

“Kita harus berbuat apa kalau begini. Mau mengirimkan ucapan duka saja tidak bisa, karena alamatnya tidak jelas, iya kan Lu ?”

“Itulah yang aku sesalkan. Tetapi kau tahu tidak, apa yang membuat aku lebih kesal ? Hidayat ! Aku sangat kesal dengannya.”

“Kenapa bisa begitu, Lu ?”

“Karena mengkonsumsi obat-obat terlarang. Itulah yang aku sesalkan dari Hidayat ! Ingin rasanya aku terbang ke sana untuk memarahinya.”

“Kau akan terbang ke sana, Lu ?” potong Nyonya Wong. ”Alamatnya saja kau tidak tahu, apakah itu tidak berbahaya ? Lebih bahaya lagi kalau kau menemuinya.”

“Bahaya bagaimana Ma, apakah karena Hidayat kini pecandu narkotika ?”

“Benar, benar sekali Mei. Jangan-jangan malah Lulu dianggap komplotannya. Bukankah itu berbahaya ? Kalian tahu sendiri lah, di negara kita ini hal-hal seperti itu, sangat mengerikan hukumannya.”

“Kalau begitu, Lulu harus berbuat apa, Ma ? Aduh pusing lah,” kata Lulu langsung berdiri melangkah masuk ke kamarnya. Kemudian datang lagi menghampiri mamanya dan Ang Mei. Nyonya Wong dan Ang Mei, sama-sama terkejut.

“Lu, sejak kapan kau merokok ?” Tanya Nyonya Wong begitu melihat Lulu merokok.

“Iya Lu, mulai kapan sih kamu merokok ?” Ang Mei mengulang apa yang dikatakan Nyonya Wong.

“Mulai dari apa yang kita bicarakan saat ini. Aku harap mama tidak marah, please Ma, ijinkan aku. Aku belum sanggup mengatasi ini semua Ma,” pinta Lulu pada mamanya dan mencoba memeluk mamanya perlahan.**Bersambung…….

Back to top button