Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(37)

Halaman 181-185

“Nah kalau itu beta setuju. Terakhir, malah beta dengar calon isteri abang kita ini dari Nairobi, Kenya.” Potong Victor, mendukung ucapan Jefri.

“Mak, jadi awak pula yang kalian serang. Matilah awak kalau dikeroyok begini,” kata Udin merebahkan dirinya dan menggelepar-gelepar.

Melihat tingkah Udin, semuanya tertawa terbahak-bahak. Paman Wei yang melihat orang-orang tertawa, walaupun tidak mengerti akhirnya ikut juga tertawa. Mereka terhenti ketika Yang Chun, tiba-tiba mendekat ke arah Udin.

“Mr. Chan, call you !” katanya pada Udin seraya menunjuk ke anjungan.

“Oke, oke, thank you, I will be there,” jawab Udin, langsung berdiri menepuk-nepuk bahu Yang Chun dan terus melangkah menuju ke tangga.

Kalau semua mereka tertawa karena tingkah Udin, sekarang mereka tertawa karena menurut perkiraan mereka, Mr. Chan akan memberikan bonus muat barang. Kusnadi berdiri kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Sebentar, sebentar. Jangan senang dulu, bagaimana kalau bos-bos di atas bukan mau memberi uang, tetapi malah memarahi kita karena ribut. Apa nggak gawat,” ujar Kusnadi.

Mendengar kata-kata Kusnadi, akhirnya semua tegang menunggu turunnya Udin dari anjungan. Suasana ruangan makan yang semula ramai, tiba-tiba sunyi senyap. Paman Wei mendekati Jefri. Dengan sedikit berbisik, dia menanyakan pada Jefri.

“We sheme (ada apa) ?” kata Paman Wei.

“Wo phu chetau (saya tidak tahu).” Jawab Jefri menggelengkan kepalanya.

Tetapi begitu Paman Wei akan menanyakan kembali pada Jefri, Udin datang dan di tangan ada map berwarna merah. Dia langsung menuju ke meja yang kosong.

“Ini ada pengumuman, ke sinilah kalian,” ajaknya, langsung duduk. Semua serius menanggapi ajakan Udin, mengambil posisi duduk melingkar mengelilinginya.

“Pengumuman pertama, menurut kapten Martin, kapal akan diberangkatkan nanti malam, agar siap-siap. Kedua, dari Mr. Chan ini ada uang yang dititipkan ke saya untuk dibagikan. Saya akan panggil satu-satu dan tolong nanti ini di tanda tangani,” lanjut Udin membuka map, dan memperlihatkan kwitansi dan sejumlah uang dollar Hong Kong. Udin menyebutkan satu persatu teman-temannya.

Selagi mereka menghitung uang yang baru saja mereka terima dari Udin, datang tongkang ukuran sedang merapat ke Ever Blue. Mereka bubar dan melihat ke bawah ke arah tongkang. Terlihat lima orang naik ke kapal dan langsung naik ke anjungan. Jefri dan teman-temannya kembali mengulang menghitung uang mereka. Semua jumlahnya sama, termasuk Udin. Yang berbeda hanya Paman Wei dan Yang Chun. Namun keduanya menerima dengan tulus karena keduanya memang tidak ikut mengerjakan pemuatan barang. Ketika mereka siap-siap untuk bubar, seseorang datang.

“Maaf, saya mengganggu acara anda-anda. Nama saya Go Phau Chiang atau kalian boleh memanggilku Aciang. Saya ditugaskan di bagian mesin,” ujar Aciang mendekat ke arah Udin dan teman-temannya.

“Oh, selamat datang. Silahkan, silahkan duduk,” kata Udin menyambut hangat kehadiran Aciang, dan mengatakan jabatannya. Kemudian yang lainnya yang berada di ruang makan, mengikuti memberi salam pada Aciang. Paman Wei dan Yang Chun juga tidak ketinggalan memperkenalkan diri mereka. Ternyata walaupun mereka sesama dari Hongkong belum saling mengenal.

“Kalau tugas saya adalah pelayan dan ini Paman Wei juru masak kita,” kata Yang Chun sekaligus memperkenalkan Paman Wei.

“Ya, dia nanti yang akan menunjukkan di mana kamar Anda. Dan jangan lupa Chun, kau tanyakan apakah Aciang mau minum kopi atau barangkali dia belum makan, coba kau tanyakanlah. Apalagi kalian kan sama-sama dari Hong Kong,” kata Udin pada Yang Chun yang berdiri dekat Aciang.

“Hei, Anda juga dari Hongkong ?” Tanya Aciang melihat ke arah Yang Chun.

“Benar, Saya dan Paman Wei dari Hong Kong. Kalau teman-teman kita ini, mereka semuanya dari Indonesia,” jawab Yang Chun.

“Tadinya saya kira Anda dari Singapura. Soalnya orang kantor mengatakan kalau sebagian crew, bahkan Kaptennya didatangkan dari Singapura. Oh ya saya kebagian pukul berapa, ya ?”

“Nah, kebetulan Anda sudah hadir di sini. Anda dan ini saudara Kusnadi, Effendi yang sama-sama Anda di bagian mesin, sebaiknya kalian atur sajalah,” jawab Udin menunjuk ke arah Kusnadi dan Effendi.

“Saya mengusulkan bagaimana kalau saya di 04.00-08.00, Effendi pada 08.00-12.00, dan Anda 12.00-04.00. apakah kalian setuju ?” Ungkap Kusnadi.

“Saya pribadi tidak keberatan. Sebaiknya kita sepakati sajalah,” jawab Aciang.

Sebagaimana yang ditetapkan Kapten Martin, tepat pukul 08.00 malam, kapal mengambil posisi 14,2 derajat Lintang Utara dan 7,5 Lintang Selatan, tujuan Trece Martines, Manila, Filipina. Setelah Jafar menemukan posisi perintah Mr. Chan, kemudian Mr. Chan memerintahkan agar dipasang saja auto pilot.

“Far, kalau sudah kau pasang auto pilotnya, kau pegang saja alat keker ini dan lihat-lihatlah keluar,” titah Mr. Chan pada Jafar, langsung memberikan alat keker pada Jafar.

“Siap Mr. !” jawab Jafar, seraya mengambil keker di tangan Mr. Chan.

Baru satu jam meninggalkan pelabuhan Hong Kong, kapal langsung disambut hempasan ombak Laut Cina Selatan. Posisi kapal memang membelah gelombang yang turun dari arah Selatan Taiwan. Lampu-lampu dari kapal lain terlihat demikian jelasnya, Laut Cina Selatan ini memang jalur yang banyak dilewati kapal-kapal niaga, kapal pesiar, dan kapal tanker. Dengan bertahan pada posisi lajur masing-masing dengan kontak radio antar kapal, walaupun ramai, kemungkinan untuk tabrakan, sangatlah tipis. Karena setiap kapal ada perwira radio yang selalu stand by setiap saat. Begitu pula dengan kekuatan angin, arah angin, cuaca dan tekanan udara, dapat diketahui secara dini. Di samping tentunya berita-berita dunia atau hubungan dengan kantor pusat dapat dilakukan setiap waktu. Baik secara mekanik siaran ataupun morse.

Giliran Jefri masih sangat panjang, karena pukul 04.00 dia baru ke bagian jaga. Di tengah gelombang yang tidak henti-henti demikian, untuk tidur tenang tidaklah mungkin. Jefri mengeluarkan handuk pemberian Azizah. Diletakkannya di atas bantal. Kemudian direbahkannya kepalanya. Dipandangnya langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Terbayang wajah Azizah yang sedang murung memandang ke arahnya.

“Bagaimana mungkin Abang bisa bersama Azizah, Kalau janji Abang saja dua hari, ternyata tidak dapat Abang tepati. Benar juga kata Bang Rahmat, kalau pelaut itu sulit lah untuk dipercaya. Jadi tidak ada lah kepastian kapan kita nak bertemu lagi !” ketus Azizah.

“Tidak mungkin bagaimana Zizah, bukankah saat ini Abang sedang mengumpulkan uang bekal masa depan kita ?”

“Iya, tapi kapan, Bang ? Kapan ? Menunggu Abang ditangkap polis Hongkong atau polis Filipina, karena abang bekerja di kapal penyelundup ?”

“Hei Zizah, jangan sembarangan cakap, nanti kalau benar-benar ketahuan polisi, mana mungkin kita bersatu ?”

“Memang kita tidak mungkin bersatu Bang, tidak mungkin !”

“Kenapa tidak mungkin, percayalah Abang akan menemuimu, Zizah.”

“Menemui bagaimana, Bang. Sudahlah Zizah nak pergi jauh juga lah.”

“Jangan pergi, jangan pergi Zizah, jangan tinggalkan Abang.”

Pada saat berteriak, ombak besar sedang menggoyang kuat kapal Ever Blue, Jefri hampir terjatuh. Empuknya kasur dengan gelombang terus-menerus berirama sama, akhirnya dapat membuat Jefri terlelap sejenak. Kelelapan yang telah mengantarkannya bertemu Azizah. Dia belum sempat menghitung berapa jumlah uang yang baru diterimanya sore tadi, apabila ditukarkan dengan kurs rupiah. Belum tahu di mana tempat yang aman uang tersebut akan disimpannya dan dia belum memikirkan uang sebanyak itu akan digunakan untuk apa. Yang ada di dalam pikirannya, di benaknya setiap dia memegang handuk pemberian Azizah, seakan Azizah terus memeluk dan mengawasinya. Tetapi dalam lelap barusan, Azizah mengatakan bahwasanya mereka tidak mungkin bersatu. Walaupun hanya sesaat, namun lamunan itu, telah mengganggu pikirannya. Kalau dia bekerja sampai akhir kontrak sebagaimana dikatakan Peter, itu artinya baru tahun depan dia dapat bertemu kembali dengan Azizah. Huh ! sungguh waktu yang cukup lama dan itu juga berarti, paling tidak 364 hari lagi, aku baru bertemu. Itu pun kalau tepat waktu, bagaimana, kalau diperpanjang ? Untuk menghilangkan sifat romantis, penghayal, sebagaimana dinasehatkan teman-teman kepadanya ternyata belum dapat dihilangkannya. Proses menjadi pelaut yang tegar, ternyata tidak lah mudah. Kenangan bersama Azizah adalah kenangan yang benar-benar sulit untuk dilupakannya begitu saja.

Jangankan saat-saat hening, pada saat gelombang datang pun, bayangan Azizah selalu saja datang. Agar bayangan itu tidak mengusiknya terus-menerus, Jefri mencoba untuk keluar dari kamarnya, dicobanya untuk menemui Jafar. Saat ini, kecuali Jafar tidak ada orang lain yang akrab dan memahami proses ketegarannya. Memahami hubungannya dengan Azizah, memahami proses belajarnya menjadi anak buah kapal yang baik dan pintar. Tetapi apakah aku harus menunggu Jafar sampai selesai jaga ? Itu artinya aku harus menunggu sampai pukul 12.00 tengah malam. Selangkah demi selangkah, akhirnya Jefri naik ke anjungan. Sampai di anjungan Jefri tidak melihat Mualim Dua Mr. Chan. Ruang kemudi kosong. Yang kaget justru Jafar, karena ketika dia akan masuk ke ruang kemudi akan melihat posisi kompas, di sana sudah ada Jefri.

“He Jef, ada perlu apa kau ke sini. Bukannya kau istirahat, agar tepat giliranmu nanti, kau dalam keadaan segar.”

“Aku sedang pusing, Far. Aku tidak bisa tidur, jadi aku sengaja menemuimu di sini.”

“Kau tidak bisa tidur karena ombak ? atau…”

“Iya Far. Aku belum bisa tegar untuk menjadi seorang pelaut.”

“Tidak apa-apa Jef. Ada prosesnya dan proses itu mahal. Apa yang kau alami saat ini, pernah juga menimpaku, dan aku rasa begitu pula dengan pelaut-pelaut yang lain. Tidak kecuali bangsa apapun dia. Sudahlah anggap saja itu proses alamiah.”

“Eh Far, dari tadi aku tidak melihat Mr. Chan. Di mana dia Far, apa dia tidak marah kalau menemukan aku di sini ?”

“Mr. Chan ada di ruang peta, dan soal keberadaanmu di sini, aku kira dia tidak marah. Kau kan bukan storway atau kelasi gelap. Tenang sajalah.”

“Hitung-hitung aku beradaptasi Far. Jadi begitu nanti giliranku dengan perwira jaga Mualim Satu Peter, aku tidak canggung lagi.”

“Bagus juga idemu, Jef.”

Jafar dengan serius memberikan penjelasan pada Jefri yang berkaitan dengan tugas-tugas juru mudi dan beberapa istilah dalam menjawab order-order perwira jaga. Seperti istilah bagian kanan kapal, tidak disebut right, tetapi adalah starboard dan bagian kiri bukan left, tetapi port. begitu pula fungsi auto pilot. Hal-hal kecil demikian, paling tidak harus diketahui Jefri dengan cepat. Sesekali Jafar keluar melihat-lihat ke depan, kalau-kalau ada kilauan lampu dari kapal lain yang memberikan sinyal. Kelap-kelip lampu di tengah laut, bukanlah sembarangan. Itu bermakna bahasa morse. Kalau itu terlihat dan kita tidak memahaminya, maka segeralah melaporkan ke perwira jaga.

“Itu, Kalau malam hari Jef, Kalau siang ada simbol-simbol lain. Paling tidak kita harus belajar tentang jenis-jenis bendera karena itu semua bagian dari pengetahuan yang harus diketahui Jef, sebagai juru mudi.”

“Kalau kau sendiri, apa sudah tahu itu semua, Far ?”

“Tidak semua Jef. Paling hanya beberapa lah, dan itu sebenarnya kalau kita mau, kita dapat mempelajarinya. Itu terdapat dalam buku Navigation Light and Signals, International Code Flag  Letters Signal dan International Code Flag Double Letters Signal.”

“Bukan main kau Far. Kau memang benar-benar calon perwira. Baiklah Far, aku turun dulu, terima kasih atas bantuanmu,” ujar Jefri melangkah meninggalkan ruang kemudi.

“Kau yakin Jef, tidak menghayal lagi tentang gadis Singapura-mu itu, Jef,” pancing Jafar.

“Kau tahu saja, Far. Sebenarnya, tujuanku menemuimu tadinya, ya akan menceritakan tentang dia, tetapi ternyata kita lebih serius membicarakan tugas-tugas kita, yah sudahlah,” kata Jefri membalikkan badannya melihat Jafar, kemudian melangkah lagi dan turun menuju ke kamarnya.

Terpaan angin malam menyejukkan sekujur tubuhnya. Jefri menguap panjang. Rasa kantuk kian berat dirasakannya. Gelombang laut, deru mesin kapal, suara hempasan ombak pada lambung kapal yang tiada henti, mengantarkan tidurnya. Dia baru terbangun ketika lima belas menit menjelang pukul 04.00, Victor membangunkannya.

“Jef, Jef, siap-siap ya ?” Kata Victor sambil mengetuk pintu kamar Jefri.

“Oke, oke terima kasih, Vic !” jawab Jefri langsung bangun dan buru-buru ke kamar mandi. Di tengah olengan kapal, tidak mudah memang untuk menyiapkan secangkir kopi panas. Jefri harus perlahan-lahan membuatnya dan itu ternyata memerlukan keahlian tersendiri. Victor menyambut Jefri dengan senang di ruang kemudi. Dia memberitahukan bahwa posisi kapal masih pada lajur semula. Setelah serah terima, Jefri mencoba mengambil alat keker yang digunakan Jafar. Dia keluar dari peraduannya. Jefri coba melihat jauh ke depan, tidak ada yang terlihat, kecuali gelombang laut yang terus saling berlomba menuju ke kapal dan menghantam keras.

“Bagaimana Jef, apa aman-aman saja ?” Tanya Peter tiba-tiba dari belakang Jefri.

“Good morning, Chief,” ujar Jefri menyambut kehadiran Peter

“Morning. How about our position, running well ?”

“Everything is oke, Chief. Our position running wheel on, Chief !”

“Good !” balas Peter masuk kembali ke ruang kemudi dan masuk ke ruang peta.

Cuaca kian terang, ombak kian menurun. Peter kembali keluar dan membawa sextant, alat ukur matahari. Setelah berulang kali Peter melakukan pemantauan dengan sextantnya, dia kembali ke ruang peta. Matahari kian tinggi, tugas pertamanya sebagai juru mudi berjalan dengan lancar dan baik. Saat berpisah dengan Peter, malah Peter mengangkat tangannya memperlihatkan jari jempolnya. Jafar yang datang ke ruang kemudi sebelum dipanggil, juga memberikan selamat pada Jefri.

“Bagus Jef, suatu permulaan yang bagus,” kata Jafar mengulurkan tangannya.

“Ini semua berkat bimbinganmu, Far,” ujar Jef menyambut uluran tangan Jafar.

“Yah, sekarang kau sarapan dulu, kukira Paman Wei sudah menunggumu di bawah. Sudah itu, kau boleh tidur sepuas-puasnya.”

“Oke Far, aku turun dulu. Terima kasih atas dukunganmu,” kata Jefri langsung ke luar ruang kemudi dan turun menuju ke ruang makan.

Di ruang makan, telah ada Paman Wei dan Yang Chun. Melihat Jefri datang Paman Wei langsung berdiri dan menyambutnya.

“Jef, kau mau makan bubur atau nasi goreng ?” Tanya Paman Wei.

“Jef, kalau ada cucian dan kau malas mencucinya, kau berikan saja padaku,” tawar Yang Chun pada Jefri.

“Terima kasih, Chun. Sekarang sih belum ada, tetapi nanti kalau ada, aku akan memberitahukannya padamu,” jawab Jefri seraya menepuk bahu Yang Chun perlahan.

Selesai makan, Jefri langsung ke kamarnya, untuk istirahat. Sejak sekarang, dia harus pandai-pandai membagi-bagi waktunya. Kapan dia harus kerja, belajar, dan istirahat. Dalam keadaan kapal berjalan saat ini, walaupun alunan ombak telah berkurang, agak sulit rasanya menulis surat untuk Azizah. Bagaimanapun dia harus menceritakan bagaimana sampai dia bertahan hidup di Hong Kong. Tetapi benarkah kapal akan merapat atau berlabuh di Filipina nanti ? Apabila benar-benar merapat di dermaga di Filipina atau berlabuh, dan Kapten Martin pulang ke rumahnya, Jefri merencanakan untuk ikut. Itu pun kalau Kapten tidak keberatan membawanya serta. Selain ingin melihat dari dekat kota Manila, dia juga penasaran untuk berkenalan dengan keluarga Kapten Martin. Khususnya dengan Betty Marquesto, puteri kesayangan Kapten Martin. Jefri ingin sekali berkenalan, karena selama ini dia hanya mengenal Betty dalam foto. Wajahnya manis, mengingatkan Jefri pada puteri almarhum Bambang Irawan dan Ade Irawan yaitu Ria Irawan. Jefri membayangkan bagaimana dirinya berkeliling-keliling di Metro Manila bersama Betty, bila perlu sampai ke Quezon City, Makati, Pasay, Pasig, Kalookan, atau bila perlu sampai Mandaluyong. **Bersambung….

Back to top button