Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(45)

Halaman 221-225

“Lain kali, kalau kapal kita masuk ke sini lagi Pa, usahakan ada waktu untuk main ke rumah. Mungkin ke sini lagi nggak Pa ?”

“Papa tidak tahu sayang, tetapi mudah-mudahan sajalah. Kenapa, kau ingin bertemu lagi dengan si ganteng ini, hah ?”

“Wah, coba dengar Ma, Papa mempromosikan anak buahnya yang satu ini. Padahal itu kan urusan anak muda. Jadi soal pribadi lah. Yang penting, adalah titik-titik, ya nggak Jef,” kata Betty terus mendekat ke Jefri dan berdiri di sampingnya.

“Iya, iya,” jawab Jefri, yang sebenarnya tidak mengerti apa maksud Betty dengan kata titik-titik.

“Dengar Ma, kata mereka itu urusan anak muda, jadi kita harus menyingkir dari sini, Ma,” bisik Kapten Martin pada isterinya. Namun, sebelum Kapten Martin dan isterinya meninggalkan Jefri dan Betty, Peter datang.

“Well, well pemandangan ini perlu diabadikan. Sebentar, ya kalian jangan beranjak dulu, sebentar,” kata Peter begitu melihat betapa akrabnya keluarga Kapten Martin dan Jefri.

Tidak berapa lama, Peter keluar dan membawa kamera. Peter pun memotret keluarga Kapten Martin dan Jefri. Bahkan Peter meminta Betty dan Jefri melihat ke arahnya. Diabadikannya pasangan Betty dan Jefri. Betty juga tidak segan-segan memeluk mesra Jefri. Agak canggung juga Jefri, tetapi diusahakannya untuk tidak mengecewakan Betty. Peter juga ternyata tidak mau ketinggalan. Diberikannya kamera pada Jefri, untuk memotret dirinya bersama keluarga Kapten Martin. Kemesraan yang indah, terusik ketika Udin datang melaporkan semua palka telah bersih dan palka-palka telah tertutup. Ini berarti, Kapten Martin akan berpisah dengan isteri dan puteri tersayang. Terlihat Kapten Martin memeluk mesra isterinya. Setelah itu dia juga memeluk erat puterinya semata wayang. Betty sendiri sangat besar pengertiannya. Begitu melihat ada pertemuan Papa dan Mamanya, dia berusaha keluar kamar dan mencoba berkeliling-keliling di kapal. Pengertiannya seakan Betty benar-benar wanita dewasa. Tetapi pengertian pada orang tuanya, ternyata membuahkan kemesraan lain. Yaitu dia dapat berkenalan dengan Jefri. Perkenalan yang sangat singkat itu telah membuahkan kenangan yang sangat manis. Minimal bagi dirinya. Apakah dia akan mengikuti jejak mamanya yang menikah dengan seorang pelaut ? Betty tidak dapat membayangkan.

Yang ada dalam bayangannya, dia telah jatuh cinta pada Jefri. Cinta pada pandangan pertama. Tanpa ragu-ragu, Betty mendekati Jefri dan langsung memeluknya. Diciuminya pipi Jefri berulang kali, Jefri juga membalas memeluk Betty. Jefri mengantar Betty sampai ke tangga menuju ke perahu motor yang telah siap membawa ke darat. Saat turun ke tangga, setelah hampir mencapai ke perahu motor, Betty kembali lagi ke atas. Padahal mamanya telah berada di dalam perahu motor yang bergoyang-goyang. Sesampai di atas geladak, kembali Betty merangkul Jefri. Dia seakan tidak mau ikut ke darat. Semua yang melihat terharu, terlebih-lebih Betty tidak dapat menahan tangisnya.

“Sudahlah Bet, kalau ada umur, kita pasti bertemu ya,” ujar Jefri mengelus-ngelus rambut Betty.

“Jangan lupa kirim surat nanti, ya Jef ! Jangan lupa kirim foto yang di atas,” jawab Betty.

“Tentu Bet. Sampai di Hongkong nanti, aku akan mencetakkan yang besar untukmu, terutama foto kita yang berdua. Aku yakin hasil bidikan Peter akan baik.”

“Oke lah,” kata Betty memeluk kembali Jefri erat-erat.

“Pa, titip Jefri buat Betty, Pa, please, Pa !” teriak Betty mengarah ke Papanya.

Akhirnya dengan langkah lemas, Betty perlahan-lahan turun, dan masuk ke perahu motor.

Ever Blue perlahan-lahan meninggalkan Filipina. Ombak laut Cina Selatan langsung menyambut dengan gelombangnya yang kian tajam, kian meninggi. Pada jam 4.00 pagi, setelah Jefri keliling-keliling anjungan, Peter mendekatinya.

“Jef, kemarin sewaktu Betty naik kembali ke atas, semua orang terkejut. Termasuk saya, Jef. Aku kira dia tidak mau meninggalkan kapal ini. Kau memang hebat Jef. Kau membuat kami cemburu,” kata Peter seraya menepuk-nepuk bahu Jefri.

“Akh, Chief bisa saja. Saya jadi malu Chief.”

“Kenapa malu ? Kamu tahu nggak semua mata di kapal ini saat itu sedang memandangi kalian berdua. Seolah-olah kami sedang menonton syuting film.”

“Ha, ha, ha, Chief membuat aku demikian tersanjung.”

“Benar, Jef. Yang pertama, wanita yang jatuh cinta padamu itu, puteri seorang Kapten kapal, yang berada di kapal ini. Yang kedua, wanita itu, seorang mahasiswi dari Fakultas Kedokteran. Bukankah itu hebat, Jef ?”

“Yah, bagiku biasa-biasa saja lah. Soal jatuh cinta, aku belum dapat mengatakannya, dan berterus terang. Apakah itu cinta, atau hanya sebuah pertemuan anak muda.”

“Ya, anak muda di kapal ini bukan hanya kau Jef. Tetapi kenapa pilihannya padamu ? Bukankah itu dewi fortuna itu ada padamu.”

“Oh ya, soal foto, jangan lupa Chief, aku minta klisenya nanti, ya. Aku coba membesarkannya nanti. aku sudah janji untuk mengirimkannya pada Betty.”

“Soal itu jangan takut Jef. Bila perlu aku akan mencetakkannya untuk kalian berdua.”

“Terima kasih sebelumnya, Chief. Aku akan memanggil Jafar, agar dia bersiap-siap menggantikan aku. Permisi, Chief,” ujar Jefri melangkah meninggalkan Peter.

“Sebentar Jef. Kau ini bisa saja mengalihkan pembicaraan. Tetapi….benar juga waktu jaga kita telah selesai, ya ? Memang, kalau topiknya cinta, mengasyikkan Jef. Oh ya sekalian tolong kau bangunkan Mr. Chan.”

“Siap Boss,” ujar Jefri meninggalkan Peter seorang diri.

Ever Blue kembali berlabuh di kawasan Victoria. Jefri sudah tidak sabar ingin bertemu Irene. Dia akan membawa seluruh uang yang ada yang selama ini dia simpan. Paling tidak dia akan sisakan untuk berbelanja celana dan kemeja. Suatu kebetulan, tepat sampai di Hong Kong, Jefri tidak kebagian jaga, sehingga pada sore itu di langsung dapat ke darat bersama-sama awak kapal lainnya. Yang Chun sebagaimana biasa, langsung mengantarkan kami ke hotel. Selesai mandi, Jefri merencanakan akan berangkat ke Hongkong dengan ferry. Dia kan mengajak Udin atau Jafar. Tetapi baru saja dia menghidupkan televisi, telepon kamarnya berdering.

“Hei, Jef, kau keberatan kalau aku masuk ke kamarmu ?” Terdengar jelas suara wanita.

“Maaf, saya berbicara dengan siapa ?”

“Huh ! Kau sudah tidak mengenali lagi suaraku, ya. I’m Irene.”

“Sorry, sorry aku tidak menyangka kalau kau begitu cepatnya tahu kalau kami sudah sampai di Kowloon ini.”

“Kamu salah, Jef. Kita ini satu perusahaan. Setiap saat kami tahu di mana Ever Blue berada. Kau lupa itu barang kali. Jangankan kau di darat, di laut pun kami tahu kau sedang apa, ha.., ha.., ha. Bagaimana, apa aku ke atas ?”

“Tidak usah, tidak usah. Aku akan segera turun, tunggu saja.”

“Baik, aku menunggumu di lobby,” ucap Irene meletakkan telepon.

“Kau sendiri ? Di mana teman-teman kita yang lain,” tanya Jefri terus duduk di sisi Irene.

“Kau kelihatannya bertambah gagah saja, Jef,” kata Irene menepuk-nepuk perlahan bahu Jefri, kemudian menggesek-gesek tangannya ke kepala Jefri.

“Huh, kau ini bisa saja. Oh ya, bagaimana dengan kabar kakek dan keluarga lainnya, semua sehat-sehat saja kan ?”

“Baik, semuanya baik-baik saja. Kakek malah titip salam untukmu Jef. Besok kita jalan-jalan lah. Kakek akan menghubungi Om Oon di Bandung besok. Dia kan mengenalkanmu lebih jauh dengan Om Oon. Bukankah nanti kalian akan bertemu ?”

“Wah bagus itu. Sekalian, besok kau temani aku ke bank. Aku ingin menabungkan uangku. Kau tidak keberatan untuk mengantarkan aku, kan ?”

“Dengan senang hati, tuan besar. Sekarang, ke mana kita pergi, Jef.”

“Kalau aku, bagaimana yang punya Hongkong ini saja.”

“Enak saja. Yang punya Hongkong atau Kowloon ini ya gurunya Ketua Lim lah. Aku hanya bagian kecil dari mereka.”

“Wah, kau bagian dari mereka juga ?” Tanya Jefri.

“Oh tidak, tidak. Maksudku, aku sama saja dengan kau, Jef, hanya pegawai biasa lah,” ujar Irene mengangkat tangan kanannya dan digoyang-goyangkannya.

“Kalau pun iya, kan tidak apa-apa. Aku malah bangga, punya saudara bagian dari keluarga besar Ketua Lim.” Mendengar jawaban Jefri, Irene seakan sedih. Ada perubahan tatapan wajah Irene. Malah Irene langsung menundukkan kepalanya. Jefri tidak enak juga melihat perubahan itu. Dia merasa bersalah. Dengan tangan kanannya, Jefri coba memeluk Irene.

“Maafkan kalau aku membuatmu sedih. He, bukankah kau tadi akan mengajakku jalan-jalan ke Hongkong ?” Jefri coba mengalihkan pembicaraan.

“Oh ya, kalau begitu kita ke Tsimshatsui, kemudian menyebrang ke Hong Kong.”

Mereka bergegas menuju dermaga ferry untuk menyebrang ke Hong Kong. Irene mengajak Jefri ke lantai dua. Bangku-bangku telah penuh dengan penumpang di pagar haluan, Jefri memandang jauh ke depan. Di antara gedung-gedung pencakar langit yang demikian kokoh tumbuh pada perut-perut bukit dan gunung. Sungguh pemandangan yang demikian mengagumkan, baik dari sisi konstruksi bangunan maupun tata ruang kota. Kota pelabuhan internasional yang sudah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu. Hongkong memang diciptakan untuk keindahan di malam hari. Ada pameo yang mengatakan mimpi apapun kita tentang Hongkong dapat terwujud dengan sekejap. Terutama bagi para wisatawan. Dari wisata budaya, sampai modern, seperti rollercoaster, di Hongkong disebut juga The Dragon. Barangkali karena liku-liku berputarnya bagaikan naga yang mengamuk. Tata ruang taman laut kawasan Brick Hill atau Aberdeen, demikian menakjubkan. Dari arah laut yang paling menonjol adalah restoran Jumbo. Demikian indahnya restoran bergaya arsitektur Cina, di malam hari.

“Sepertinya nyaman kalau kita bisa berada di sana,” bisik Jefri menunjuk ke restoran Jumbo.

“Jangan takut Jef, aku akan membawamu ke sana sekarang juga. Selain kartu dalam tas ini masih berlaku, soal-soal jamuan makan, belanja, dan lain-lainnya, aku dapat menjadikan kenyataan itu,” jawab Irene memasukkan tangannya ke dalam tas.

“Sebebas itukah kau menggunakan kartu kreditmu ?”

“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa lebih jauh soal itu Jef. Yang pasti, aku tidak pernah kecewa. Seberapapun aku belanjakan atau aku uangkan, tetap saja ada isinya. Kelompok CYC lebih senang kalau aku menggunakan kartu, Jef. Karena dengan begitu mereka dapat melihat pemakaiannya dan ke mana saja aku menggunakannya.”

“Kau sangat beruntung Irene. Aku tidak mau terlalu jauh mengetahuinya. Bagiku, kau dan kakek, saudaraku yang baik di Hongkong ini. Begitu pula dengan group CYC, yang semula banyak kecurigaanku, tetapi aku harus bijak menyikapinya.”

“Aku rasa, itulah jalan yang terbaik saat ini, Jef. Kalau kau tahu terlalu jauh, baik CYC ataupun tentang aku, pendamlah semuanya Jef. Mereka sangat percaya padamu Jef dan aku percaya untuk selalu mendampingimu.”

“Demikian perhatiannya kah mereka ?”

“Itulah mereka Jef. Semua dinding, jalan dan apapun benda yang berada di sekeliling kita, dapat berbicara pada mereka setiap saat. Apapun Jef !”

“Sampai jalinan persaudaraan kita ?”

“Sampai masalah itu Jef. Itu sebabnya mereka menaruh percaya padamu. Terutama sejak kau tidak mengajakku tinggal di hotel, tetapi malah mengantarkan aku pulang. Kemudian bagaimana akrabnya kau dengan kakek.”

“Aku melakukan itu tanpa rekayasa, Irene. Semua itu aku lakukan dengan tulus dan ikhlas. Tetapi kalau demikian penilaian mereka, begitu juga kau dan kakek, aku terima kasih. Aku benar-benar ingin bersaudara denganmu Irene,” kata Jefri memeluk Irene, melangkah turun dari ferry.

Suasana restoran Jumbo demikian maraknya, semarak gemerlap lampu ketika terlihat dari atas ferry. Karena ramainya, Jefri khawatir kalau-kalau tidak ada tempat untuk mereka. Tetapi begitu melihat kehadiran Irene, salah seorang pelayan langsung memberinya hormat dan langsung menunjuk ke satu tempat. Jefri mengikuti keduanya dari belakang. Pelayan lainnya datang, dan menyambut hangat pada Irene.

“Sekarang kau tinggal memilih apa yang kau inginkan Jef,” kata Irene memberikan daftar menu pada Jefri.

“Sebentar,” jawab Jefri mengambil daftar menu dan terus membacanya. Demikian banyak istilah-istilah yang membuat Jefri belum menentukan pilihannya. Melihat itu, Irene coba mengambil inisiatif.

“Kau tidak keberatan aku yang memilihkannya untukmu kan Jef ?”

“Yah, sebaiknya begitulah. Aku percaya kau dapat memilihkannya untukku,” kata Jefri meletakkan daftar menu.

Irene langsung berbicara dengan pelayan. Sayangnya, mereka menggunakan bahasa Kanton, sehingga Jefri tidak mengerti. Tetapi, Jefri yakin apapun pilihan Irene, pastilah mendekati seleranya. Terutama soal nasi. Bagi Jefri dan teman-temannya, tidak afdol rasanya makan tanpa nasi. Ketika hidangan disajikan, Jefri langsung tersenyum karena ada satu mangkok nasi. Irene dapat membaca arti senyum Jefri.

“Kau pasti tersenyum, karena ada ini kan Jef ?” Irene coba menebak.

“Akh, kau tahu saja Irene !”

“Kau lupa Jef, begini-begini aku masih keturunan berlidah sama denganmu,” timpal Irene seraya tertawa.

Jefri ikut tertawa. Maka tertawalah mereka berdua tanpa harus ragu, apalagi takut dianggap tidak sopan. Mereka tidak peduli pada pengunjung lain yang memadati restoran Jumbo. Yang pasti, menikmati makan malam ditemani wanita cantik, dan tidak perlu mengeluarkan uang, bagi Jefri sungguh luar biasa. Dia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi. Di luar negeri lagi. Di mana ego individual demikian kentalnya. Untuk itu, Jefri berulangkali mengucapkan terima kasihnya pada Irene.

“Aku tidak akan pernah melupakan ini semuanya. Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih atas makan malam ini.”

“Tidak, tidak Jef. Kau tidak perlu mengucapkan itu. Kehadiranmu di tengah keluarga kami telah demikian besar maknanya. Terutama kakek. Dia berharap banyak darimu Jef. Kalau nantinya kau kami repotkan, maafkanlah kami Jef.”

“Aku akan senang menerima kepercayaan dari kalian. Kepercayaan yang demikian tidak ternilai harganya bagiku.”

“Terima kasih Jef,” kata Irene seraya memanggil pelayan.

Mereka pun beranjak meninggalkan restoran Jumbo. Beranjaknya malam di kota Hongkong tidak terasa, karena cahaya gemerlapan di setiap sudut kota.

Seperti biasanya, Irene mengantarkan Jefri hanya sampai di tangga hotel. Hanya Jefri yang turun dari taksi.

“Jangan lupa kau mengantarkan aku ke bank besok, ya ?” Jefri mencoba melongok ke dalam taksi.

“Oke Boss, sampai ketemu besok,” jawab Irene melambaikan tangannya. Taksi pun berlalu. Jefri terus melangkah menuju kamarnya.

Hari-harinya yang panjang yang sangat menyenangkan bagi Jefri. Kian hari kian betah saja Jefri berada di lingkungan kerjanya. Pihak perusahaan tidak memotong gajinya sepeser pun walau Ever Blue tidak jalan. Rute Hong Kong-Filipina, seakan rute penambah jam layar saja. Semuanya berjalan demikan cepatnya. Sampai suatu waktu, Kakek Irene, Tjoa Hong Beng menemuinya di hotel.

“Jef. Aku dengar kau tidak lama lagi akan habis kontrak. Apakah kau akan memperpanjang masa kerjamu, kemudian pulang ke…, ke mana ya Jef ?”

“Ke Bandung,” jawab Jefri spontan.

“Bagus, bagus kalau begitu Jef. Sesuai dengan rencanaku. Tetapi kau sendiri pernah ke Bandung, Jef ?”

“Sayangnya, aku buta sama sekali tentang kota Bandung.”

“Kalau begitu, kita segera menghubungi Oon Sumarna. Aku akan mengabarkan tentang kedatanganmu ke Bandung. Biar dia dapat mempersiapkan segalanya untukmu, Jef.”

“Dari dulu aku mendambakan untuk tinggal di kota Bandung. Dari cerita-cerita yang aku dengar, Bandung katanya salah satu kota yang nyaman di Pulau Jawa.”**Bersambung….

Back to top button