Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(49)
Halaman 241-245

Di suatu tempat di bilangan perumahan mewah di Jl. Sukarno Hatta Bandung, berkumpul keluarga besar Oon Sumarna. Salah satu konglomerat pribumi yang tidak sembarangan orang dapat menemuinya. Rumahnya dipagar tinggi, di depannya ada pos Satpam yang siap siaga selama 24 jam. Dalam usianya yang kini di atas 50 tahun. Oon Sumarna terlihat lebih muda. Dari ketiga anak laki-lakinya dan satu orang puteri yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri, semuanya telah dibangunkan rumah yang lengkap dengan isinya. Sumarna sangat memperhatikan ketiga putera dan puteri semata wayangnya. Yang tertua Sopandi atau yang biasa dipanggil Andi, telah menikah dengan dua orang putera. Kedua, Deddy, yang belum lama menikah. Ketiga Tedy dan satu-satunya putera Sumarna yang bekerja di luar lingkup perumahan dan kontraktor. Tedy bergelut di bidang musik. Si bungsu Desy Martina mahasiswi semester empat, Fakultas Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi Swasta di Bandung. Andi putera tertua Sumarna, kehidupannya selalu dikelilingi para pengawal. Dia tidak pernah menyetir sendiri mobilnya. Ada supir pribadi, pengawal pribadi dan selalu ditemani wanita-wanita cantik.
Ketika Sumarna mengatakan ada seorang pemuda yang akan datang ke Bandung, utusan keluarga Tjoa Hong Beng, bekas majikan Sumarna yang menetap di Hong Kong, Andi dan pengawalnya langsung bereaksi.
“Maunya apa itu orang dikirim ke Bandung,” desak Andi.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya barangkali Tuan Hong ingin mengetahui seluk beluk usaha yang kita jalankan saat ini,” jawab Sumarna.
“Lho, memangnya dia akuntannya Tuan Hong ?”
“Bukan, bukan. Dia masih orang kita juga, hanya kabarnya dari Sumatera Utara.”
“Orang Batak ?” Tanya Deddy yang tertarik juga dengan cerita orang tuanya.
“Aduh, Bapak nggak tahu asalnya, tetapi dari daerah sanalah”
“Ya, kalau orang sana, pastilah orang Batak,” tandas Andi.
“Akh, ya belum tentu lah. Lihat saja nanti, kalau dia datang, kita akan tahu dari mana asalnya. Karena kita bisa bertanya padanya,” ujar Desy mencoba mendinginkan suasana.
“Biasanya orang sana wajahnya persegi dan bicaranya meledak-ledak. Gigih dan bandel !” tegas Andi yang memang banyak juga temannya orang Batak.
“Nggak bisa disama-ratakan begitulah. Kalau dia bandel, Bapak kira, tidak mungkin Tuan Hong mempercayainya. Tuan Hong itu baik, dan orangnya sangat hati-hati,” sanggah Sumarna.
“Yah kita tunggu sajalah. Karena mau tidak mau, ia itu tamu kita dan kita perlu menghormatinya. Terlepas dia itu apalah yang menurut kalian macam-macam tadi. Ingat, pepatah kita mengatakan, someah ka semah, ya kita harus menghormati tamu. Bukankah begitu, Pak ?” Desy mencoba dukungan Bapaknya.
Isteri Sumarna bersama seorang pelayan, masuk ke ruang tamu, mengantarkan minuman dan makanan ringan. Seperti biasa, dia tidak pernah ikut berbincang-bincang dengan suami dan putera-puterinya. Paling juga dengan Desy dan itupun biasanya di dalam kamar. Tiba-tiba telepon di ruang tamu berdering.
“Bu, tolong diangkat teleponnya,” kata Sumarna pada Isterinya.
“Ya, ya, sebentar Tuan Hong, saya akan panggilkan suami saya, sebentar,” kata Isteri Sumarna meletakkan gagang teleponnya, kemudian memanggil suaminya.
“Hallo Tuan Hong. Sumarna di sini. Bagaimana, apakah tuan baik-baik saja ?”
“Baik, baik Marna. Begini Marna, sebenarnya, Jefri, ya anak muda yang penah saya katakan dulu itu sebenarnya dia sudah di Bandung, dua hari yang lalu. Sayangnya, alamatmu yang aku berikan padanya hilang, jadi dia tidak tahu di mana rumahmu. Lagi pula dia minta setelah tiga hari, baru boleh memberitahukan alamatmu.”
“Lho, kenapa begitu ? Dia kan belum pernah ke Bandung, jadi bagaimana ? Nah, selama dua hari ini, dia ada di mana ?”
“Kalau aku tidak salah ingat, katanya di menginap di Homann. Ya, ya, di Homann. Hanya aku tidak ingat nomor kamarnya, tetapi tolong cek lah.”
“Baik, baik Tuan Hong, ya, ya, ya.”
“Bagaimana Pa, kapan katanya orang suruhan Tuan Hong datang,” tanya Andi sebelum Pak Sumarna duduk kembali di tengah putera-puterinya.
“Anak muda itu memang aneh !”
“Aneh ? Aneh apanya, Pa ?”Desy penasaran.
“Tahu nggak kalian, anak muda itu sebenarnya sudah dua hari di Bandung ini.”
“Sudah dua hari ? Terus sekarang itu orang ada di mana, Pa !”
“Kalau kata Tuan Hong, dia menginapnya di Homann.”
“Dari mana Tuan Hong tahu bahwa itu orang menginap di Homann ? Berarti itu orang yang memberitahu. Nah, kita yang di Bandung tidak dihubunginya. Terlalu juga itu orang, maunya apa sih ?”
“Sebentar, sebentar, kalau kata Tuan Hong, alamat kita yang diberikan kepadanya hilang. Yah, dia nggak tahu mau ke sini.”
“Kalau hilang, apa susahnya dia menanyakan kembali pada Tuan Hong, iya kan ?” Deddy memberi pendapatnya.
“Nginap di Homann lagi, huh ! Kalau memang dia menghormati kita-kita seharusnya dia rundingkan dulu lah sama kita. Nggak bisa dong seenaknya saja, terus tahu-tahu kita yang harus membayar hotelnya, enak juga itu orang. Nggak, nggak Pa, orang seperti itu, perlu diberi pelajaran,” tegas Andi sedikit emosi.
“Bisa saja dia ingin membuat kejutan untuk kita-kita, jadi jangan gegabah. Lagi pula ingat, dia suruhannya Tuan Hong. Biar Desy cek saja dulu ke Homann. Oh ya namanya siapa Pa ?” Desy melirik ke Pak Sumarna.
“A, a …, siapa ya, hmm, Jefri, Jefri, Des !”
Terlihat Desy membuka buku telepon, kemudian langsung menghubungi Homann. Desy langsung minta dihubungi ke kamar Jefri. Betapa terkejutnya Jefri ketika mengangkat telepon, karena terdengar suara wanita.
“Aduh, aku sudah katakan pada Tatang, aku nggak maulah begini-beginian. Udah ya, aku mau istirahat,” ujar Jefri hampir kembali meletakkan telepon. Tetapi masih terdengar, ”Sebentar, sebentar Jef, aku Desy puterinya Pak Sumarna,” tegas Desy.
“Puteri Pak Sumarna ? Pak Sumarna temannya Kakek Hong ?”
“Benar, benar Jef,” ujar Desy mencoba mengakrabkan diri.
“Aduh, maaf, maaf Des, aku kira temannya si Tatang. Kau mau memaafkan aku kan ?
“Tentu, Jef. Tetapi aku penasaran terutama soal Tatang, siapa sih dia Jef ?”
“Oh itu, pegawai di sini. Cuma, dia baik orangnya. Bahkan tadi siang aku mengunjungi rumah orang tuanya, di desa Cihideung. Wah, asyik banget. Des. Kau pernah ke sana ?”
“Hebat juga kau Jef. Jarang lho laki-laki suka bunga.”
“Kalau kau katakan bunga, berarti kau pernah ke sana, iya kan ?”
“Aku memang sering ke sana Jef. Baik untuk di rumah ini ataupun di kompleks perumahan yang kami bangun.”
“Hei, hei, kau ini pacaran atau mengecek ? Bagaimana, benar nggak orang itu di sana. Kok kau malah mojok sama dia, jaga Des, jangan…”
“Jangan apa ?” potong Desy yang masih menggenggam telepon, sehingga Jefri dapat mendengar suara Desy dan seseorang.
“Des, Des, oke lah, sampai besok, ya ?”
“Ya, ya, maaf Jef, kami telah mengganggu istirahatmu.”
“Bagaimana Des, kau sudah memberitahukan alamat rumah ini ?”
“Nah, itu yang belum aku katakan. Tetapi sudahlah, sebaiknya kita ke Homann saja besok, aku kira beres. Iya kan ?”
“Terserah Bapak lah. Tetapi kalau Bapak yang ke sana, bisa-bisa itu orang besar kepala. Sudah biar aku saja lah besok yang ke sana.”
“Aku ikut. Aku penasaran, ingin bertemu juga dengannya. Paling tidak, dari nada suaranya, orangnya kelihatan ramah dan baik.”
“Nggak usahlah Des, kau tunggu saja di rumah ini. Lebih baik kita suruh supir menjemputnya. Kalau kau ke sana, kemudian orang itu wajahnya segi empat, hitam, dan kasar, kau bisa semaput. Ha, ha, ha…”
“Mau segi empat, segi tiga, urusannya kan bukan itu. Urusannya, dia tamu kita, itu yang penting.”
“Bapak kira, kita tunggu saja dia di rumah ini besok,” ujar Pak Sumarna.
“Ya, aku kira begitulah. Kita jangan terlalu pusing dengan kehadirannya. Bandung ini kita yang punya. Tenang sajalah,” Andi memberikan kesimpulannya.
Sebagaimana pagi sebelumnya, pagi ini pun Jefri pagi-pagi telah meninggalkan hotel, dan menuju ke Alun-Alun Bandung. Di sana terlihat beberapa orang tua sedang melakukan senam. Tanpa ragu-ragu, Jefri langsung bergabung secara perlahan, dia dapat mengikuti gerakan orang-orang yang berada di depannya. Setelah selesai dan istirahat, Jefri mengepalkan kedua tangannya, sambil membungkukkan badannya dia langsung mengucapkan “Sie-sie, sie-sie” (terima kasih, terima kasih). Serentak beberapa orang membalas mengangkat kepalan tangan. Bahkan ada satu orang yang membalas, mengatakan “phu yau khe chi” (nggak usah sungkan-sungkan). Jefri langsung bergabung dan berakrab-akrab. Pagi itu, minimal dia telah berkenalan dengan enam orang tua yang sebaya dengan Kakek Hong. Mereka tidak menanyakan lebih jauh kenapa Jefri dapat menggunakan bahasa Mandarin, tetapi satu-persatu mereka menyalami Jefri. Sayangnya, mereka menolak ketika Jefri mengajak untuk makan bubur di Homann. Mereka pun berpisah. Jefri yakin besok dia kan bertemu kembali dengan mereka.
Sebelum kembali ke hotel, Jefri membeli dua koran pagi dan satu majalah berita. Jefri langsung menuju ke kamarnya. Dia sengaja naik tangga, yang berada di belakang, dekat ruang bisnis. Diambilnya minuman dingin dari kulkas kecil yang berada di bawah meja. Koran terbitan Jakarta sedang memperbincangkan perseteruan di tubuh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Permasalahan bermula ketika Adnan Buyung Nasution, Ketua Dewan Pengurus sejak 1993, mengundurkan diri Oktober 1995, dan terpilihnya Bambang Widjojanto. Berita lain, tentang berdirinya Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Yang satunya, koran terbitan Bandung, mengangkat berita terbakarnya Pasar Kebon Kembang Bogor, yang jumlah korbannya simpang siur.
Telepon di kamar Jefri berdering. Resepsionis mengatakan, ada tamu yang ingin bertemu dan menunggu di lobby. Keluar dari lift, Jefri langsung menuju ke lobby. Di sana ternyata banyak orang, termasuk beberapa orang asing. Akhirnya Jefri menuju ke bagian Resepsionis dan menanyakan di mana orang yang mencarinya. Resepsionis menunjuk seseorang yang sedang duduk sendiri di kursi ujung dekat pintu keluar bagian kiri hotel.
“Maaf Pak, Bapak mencari saya ?”
“Apa Bapak tamunya Pak Sumarna ?”
“Benar. Tetapi Pak Sumarna-nya mana ?”
“Mereka menunggu di rumah, saya disuruh menjemput Bapak.”
“Oke lah, tetapi tolong Bapak tunggu dulu sebentar, saya akan ganti pakaian dulu,” ujar Jefri kembali ke kamarnya.
Jefri tidak pernah lupa selalu membawa kameranya. Jefri tidak menyangka kalau kendaraan yang akan membawanya ke rumah Pak Sumarna cukup mewah. Jefri tidak menyangka sama sekali kalau rumah Oon Sumarna yang dahulunya hanya seorang pembantu Tjoa Hong Beng, dapat berubah menjadi seorang jutawan. Lebih tidak menyangka lagi, kalau perubahan nasib telah merubah pola tingkahnya dalam menerima tamu yang benar-benar utusan bekas majikannya. Sepertinya gengsinya akan turun apabila dia sendiri menemui Jefri. Jefri sendiri sebenarnya tidak memerlukan sambutan yang sedemikian rupa. Dia belum dapat memasuki ruangan tata cara, protokoler, dan lain sebagainya soal sambut menyambut tamu. Tamukah dia ? Baginya, dia datang ke Bandung, kemudian ada orang yang ditemuinya, atau orang yang menemuinya kemudian persoalan selesai. Tidak kaku seperti ini, ada jemputan, bahkan kata supir yang membawanya, Pak Sumarna dan keluarganya telah mempersiapkan jamuan makan siang. Ada keluarga, ada jamuan, sambutan resmi. Bagaimana kalau Pak Sumarna tahu kalau dirinya masih muda ? Apakah kakek Hong tidak pernah menceritakan tentang usianya ? Pada saat kendaraan memasuki pekarangan rumah, jantung Jefri kian kencang berdetak. Sampai akhirnya mobil berhenti dan supir langsung masuk ke dalam rumah. Tinggal Jefri sendirian di depan rumah. Jefri tidak melihat, kalau di belakangnya telah berdiri Pak Sumarna dan puterinya Desy.
“Kamu tidak salah menjemput orang, Deng ?” Tanya Pak Sumarna pada Odeng supirnya.
“Tidak Pak. Dia memang tamu kita yang baru datang dari Hong Kong.”
Jefri sedang asyik melihat-lihat koleksi bunganya Pak Sumarna. Benar kata puterinya kemarin, bahwa di halaman rumah mereka tumbuh beraneka ragam bunga. Begitu dia akan memotret, seseorang yang dia kenal suaranya memanggil namanya.
“Kamu pasti Jefri, ya,” sapa Desy mendekati Jefri.
“Benar, oh ya kenalkan nama saya Jefri dan kamu pasti Desy, ya,” ujar Jefri menjulurkan tangannya.
“Lho kok Bang Jefri tahu namaku ?” Tanya Desy, langsung menyambut tangan Jefri.
“Ya tahu lah. Kita kan kemarin sudah berbincang-bincang di telepon iya kan ?”
“Oh iya,” kata Desy tersipu malu, membiarkan tangannya dipegang Jefri. Dia benar-benar tidak menyangka kalau namanya Jefri itu demikian simpatik, ramah, masih muda, dan ganteng. Desy menarik tangannya ketika Pak Sumarna datang.
“Tamunya kenapa tidak diajak ke dalam Des ?” kata Sumarna mendekati Jefri dan Desy.
“Assalamu’alaikum. Maaf Pak, waktu itu saya tidak langsung ke sini.”
“Wa’alaikumsalam. Oh nggak apa-apa, Bapak sudah tahu. Mari, mari masuk,” ujar Pak Sumarna mengajak Jefri menuju ke ruang tamu.
Melihat kehadiran Pak Sumarna dan Desy mengapit Jefri, Andi, Deddy dan dua orang temannya, serentak berdiri, menghampiri dan menyalami Jefri. Tidak ada wajah keangkeran ataupun keangkuhan, semuanya ramah menerima kehadiran Jefri. Seakan mereka terhipnotis. Melihat suasana yang demikan kaku, Desy berdiri di belakang Jefri.
“Bang Jefri mau minum-minum dulu, atau langsung makan, karena Mama sudah menyiapkan makan. Aduh hampir lupa kenalkan ini mamaku,” kata Desy memegang bahu Jefri.
“Jefri. Apa kabar, Bu,” ujar Jefri mengikuti cara salam isteri Sumarna yang merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian menyentuhnya.
“Baik, baik. Bagaimana, langsung makan saja ya ? Ibu sudah siapkan lho makanan khas Sunda.”
“Ayolah Bang,” desak Desy menarik tangan Jefri.
Akhirnya semua meninggalkan ruang tamu, menuju ke ruang makan. Keluarga Sumarna benar-benar menyiapkan hidangan yang khusus untuk menyambut kehadiran Jefri. Ketegangan masih menyelimuti keluarga Sumarna. Terutama Sumarna sendiri, terlebih-lebih Andi dan Deddy. Mereka tidak tahu harus dari mana menceritakan tentang harta-harta Tjoa Hong Beng yang mereka kelola pada Jefri, karena Jefri sendiri belum menanyakan hal tersebut pada mereka. Apa yang mereka rencanakan untuk menghadapi Jefri, ternyata tidak dapat mereka laksanakan, karena Jefri sangat pasif. Begitu irinya mereka melihat ketenangan Jefri dan sangat menikmati hidangan yang ada. Berbeda dengan Sumarna, Andi dan Deddy, keragaman hidangan yang berada di depan mereka malah membuat mereka bingung, dan canggung. Mereka merasa kenyang sebelum makan. Kalau tidak ada canda Desy, barangkali pertemuan tersebut sangat kaku.
“Tenang saja Bang Jef, kalau kami kan tiap hari makan model yang beginian, jadi kelihatan biasa-biasa saja. Tapi ngomong-ngomong, kalau di Hongkong ada nggak makanan yang beginian ?”
“Ada sih ada, tetapi tidak sehebat ini. Hanya yang satu ini, agak berbeda mirip pecel, atau…., apa ya namanya….”
“Yang mana Bang ?”
“Ini lho,” kata Jefri menunjuk ke salah satu piring di depannya.**Bersambung…..







