Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(51)
Halaman 251-255

“Ya, aku akan kembali ke Singapura, setelah urusanku beres di Bandung ini.”
“Desy tahu Bang apa yang akan Abang urus. Soal kekayaan Bapak, kan ?”
“Hah ? Soal kekayaan Bapak ? Wah, kata siapa itu Des ?”
“Desy dengar-dengar saja. Tahu nggak Bang Jef, sejak rencana kedatangan Abang sampai kehadiran Abang di tengah keluarga kami, Bapak dan kakak-kakak Desy terus-terusan gelisah. Mereka, eh…maksud Desy, Bapak, Kak Andi dan Kak Deddy, takut kalau-kalau Abang akan memeriksa mereka.”
“Kenapa berlebihan begitu Des, tidak sampai sejauh itulah tugasku ke Bandung ini. Biasa-biasa saja lah. Bukankah hubungan kalian dengan Kakek Hong sudah sedemikian lama. Bahkan sebelum kau lahir kan Des ?”
“Nggak tahu lah Bang, barangkali mereka takut dengan bayangan mereka sendiri. Hidup mereka yang demikian mewah dan boros selama ini. Tiba-tiba Tuan Hong mengutus Abang datang ke Bandung ini, bagaimana mereka tidak takut Bang ?”
“Kenapa harus takut ? Kakek Hong tidak sekejam itulah Des. Abang saja yang baru kenal sudah dianggap keluarga, apalagi kalian ? Sebenarnya tanpa menemui keluarga Desy, Abang sudah sejak lama ingin berkunjung ke Bandung.”
“Tetapi tetap saja ada hubungannya dengan aset-aset Tuan Hong yang dikelola Bapak kan ?”
“Kalau soal itu jangan terlalu dirisaukan lah. Abang ataupun Kakek Hong tidak akan bertindak terlalu jauh. Tidak seperti yang dibayangkan orang tua dan kakak-kakakmu.”
“Desy tahu bagaimana percayanya Tuan Hong pada Bapak. Bapak pun pada awal-awal kehidupannya berjalan baik dan sangat Desy banggakan. Tetapi beberapa tahun belakangan ini terlebih-lebih setelah Bapak punya dua isteri muda, Desy sangat menyesal. Kasihan Ibu Bang.”
“Sebagai laki-laki Abang tidak bisa banyak bicara sebenarnya Des. Takut Abang sendiri akan berbuat hal yang sama kalau Abang juga kaya raya seperti Pak Sumarna. Kau harus bersabar Des. Tetapi Abang lihat keluargamu baik-baik saja ?”
“Itu hanya sandiwara saja Bang. Mereka benar-benar aktor yang berpengalaman dan sutradaranya Kak Andi. Desy yakin, begitu Abang pulang nanti atau tidak ada di Bandung lagi, Desy yakin mereka akan kembali dengan tabiat mereka masing-masing.”
“Hus ! Desy nggak boleh begitu. Terus, menurut yang Desy dengar, apa kira-kira yang akan mereka lakukan terhadap Abang.”
“Kalau yang Desy tahu, justru mereka menunggu apa kira-kira langkah yang akan Abang lakukan.”
“Nah, Desy sendiri, kalau sekiranya Abang akan melakukan seperti apa yang mereka perkirakan. Desy akan berpihak ke mana.”
“Yah, tergantung apa yang akan Abang lakukan. Kalau itu untuk kebaikan hubungan di antara keluarga kami dengan Tuan Hong. Desy akan bantu Abang.”
“Benar kau akan membantu Abang, Des ?”
“Kenapa tidak ? Desy sudah sangat muak sebenarnya dengan perlakuan Bapak atau kakak-kakak Desy yang demikian lupa daratan. Mereka lupa siapa mereka dulunya. Ibu telah menceritakan bagaimana sejarah keluarga kami.”
“Oh, jadi Desy sudah tahu ?”
“Ya, Desy sudah tahu asal usul keluarga Desy. Itulah yang sangat Desy sayangkan, kenapa Bapak bisa berubah hanya karena harta dan wanita-wanita cantik. Jangan karena Ibu sudah tua, gemuk, terus ditinggalkan begitu saja.”
“Jangan begitu Des. Tanpa keahlian khusus, tidak mungkin dapat berkembang seperti saat ini. Keluarga kalian, seperti yang Abang dengar, termasuk keluarga yang terpandang di kota ini. Bahkan banyak pejabat yang berkunjung ke rumah kalian.”
“Benar juga sih, tetapi banyak ahli yang mendampingi Bapak. Abang kan tahu sampai di mana pendidikan Bapak.”
“Minimal, mereka semua menerima gaya kepemimpinan Pak Sumarna. Di samping tentunya, mereka menerima pengupahan yang baik. Terus kalau para pejabat, bagaimana mereka begitu dekat dengan keluarga kalian.”
“Biasalah Bang, bisnis dan perkeliruan.”
“Perkeliruan ? Akh, yang benar saja Des, kok kau tahu sampai begitu jauh.”
“Yah sudahlah Bang, semuanya juga permainan. Terutama itu tu, sejak campur tangannya Kak Andi, pokoknya main kasar dan main kotorlah. Makanya, kalau Abang mau membantu memperbaiki permainan ini semua, Desy siap membantu, asal jelas saja langkah-langkah yang Abang ingin lakukan.”
“Sampai begitu jauhnya usaha Bapak ? Wah, hebat juga ya. Tetapi beginilah Des, bagaimana kalau besok sore kita bicarakan. Sepertinya sudah larut malam kita di tempat ini. Terserah Desy, besok mau bincang-bincang di lobby atau di mana lah Desy tentukan saja. Abang akan jelas pada Desy, tetapi tolong jangan katakan pada siapapun tentang apa pun yang kita bicarakan.”
“Percayalah Bang. Desy akan mematuhui apa pun kata Abang.”
“Oke lah kalau begitu, sekarang kita pulang saja.”
“Lho, tidak sampai pagi Bang ?”
“Sampai pagi ? Kau serius Des ?”
“Tentu, tentu Desy serius Bang. Desy masih ingin bercerita banyak pada Abang. Desy merasa senang dan tenang berada dekat Bang Jefri.”
“Akh kau ini ada-ada saja Des.”
“Tidak Bang, Desy serius. Walau abang baru kenal, tetapi Desy percaya pada Abang. Lega rasanya Desy dapat menceritakan tentang keadaan keluarga Desy. Lagi pula, Abang kan baru di Bandung ini dan akan kembali ke Singapura, jadi Desy yakin cerita keluarga Desy, hanya Abang saja yang tahu.”
“Tetapi, keluarga isteri-isteri muda Pak Sumarna, isteri kakak-kakakmu, semuanya pada tahu kan ? Atau barangkali rekan bisnis Pak Sumarna dan banyak lainnya.”
“Yah, bisa saja demikian, tetapi mereka kan hanya tahu permukaannya saja. Riwayat masa mudanya Bapak, tidak semua orang tahu kan ? Belum lagi hal-hal lain yang,… ya sudahlah. Pokoknya Abang lebih deh dari mereka-mereka semua.”
“Kamu bisa saja Des ?”
“Kenyataannya memang begitu. Tetapi ada harta lain, selain tanah dan rumah, dan itu hanya Ibu yang tahu. Jadi peran Ibu sebenarnya sangat besar, terutama bagaimana awal-awalnya Bapak mengelola keuangan sampai bisa menjadi pengusaha seperti sekarang ini. Karena Ibulah pemegang keuangan sejak awal berdirinya.”
“Harta lain ? Tetapi sudahlah Des, apapun itu, itulah kenyataan hidup. Kau harus bisa menyikapi secara bijak, karena salah atau tidak, jelek atau buruk, mereka tetap orang tuamu, keluargamu juga Des. Mari kita pulang.”
“Oke lah. Kalau memang Abang tidak mau sampai pagi di sini, apa yang bisa Desy lakukan ? Padahal, rencana Desy, dari sini kita kan mandi air panas di Sari Ater, tidak jauh kok dari sini. Tetapi ya sudahlah…”
“Lain waktu saja, masih ada hari esok kan ?”
“Baik Boss !” kata Desy memberi hormat pada Jefri.
“Huh ! Pakai hormat segala, ayo lah,” kata Jefri memeluk pinggang Desy terus melangkah menuju ke mobil.
Mobil yang dikendarai Desy menuju ke Bandung. Tepat di halaman Homann, Jefri turun dan melambaikan tangannya. Dia langsung menuju pintu lift, naik dan langsung menuju ke kamarnya. Kalau tidak sendiri sebenarnya Desy tidak ingin pulang. Sayangnya Jefri tidak tertarik menghabiskan malam dengannya. Di zaman edan seperti ini, masih ada orang yang seperti Jefri itu. Baik, sopan dan sangat berwibawa. Atau aku ini kurang menarik di matanya ? Atau jangan-jangan karena dia tahu kalau aku ini sebenarnya hanya puteri seorang tukang kebun ? Lampu trafik di perempatan Jl. Buah batu – Jl. Sukarno Hatta, tiba-tiba menyala merah. Walaupun lalu lintas sepi, Desy mencoba untuk mematuhi peraturan lalu lintas.
Desy menatap jauh ke depan. Disatukannya kedua tangannya kemudian dengan perlahan diletakkan di belakang kepalanya. Tenang, tenang, dan lamunannya buyar ketika terdengar bunyi klakson dari belakang mobilnya. Desy tersentak. Dipacunya kembali kendaraannya. Posisi lampu sign menyala, mengarah ke kanan. Sarnpai akhirnya berhenti di pintu gerbang rumahnya. Seseorang keluar dari pos penjagaan, dan membukakan pintu gerbang untuk Desy. Turun dari mobil, Desy langsung menuju ke kamarnya. Desy membuka lemari, dan mengganti pakaiannya dengan daster batik berwarna hijau tua. Dicucinya wajah dan tangannya. Diambilnya handuk kecil untuk mengelap wajah dan tangannya. Dipandangnya kaca berlama-lama. Desy memutar badannya, berulang-ulang, kemudian, dipandangnya lagi ke kaca.
“Apakah aku ini kurang menarik ? Sepertinya perhatian Jefri padaku biasa-biasa saja. Diajak menghabiskan malam saja dia tidak mau. Padahal, selama ini banyak teman pria yang tahan berlama-lama bila bersamaku. Tetapi pria yang satu ini, biasa-biasa saja. Mungkinkah…. huuuuh,” desah Desy melangkah ke pembaringan.
Pagi-pagi, Jefri coba menghubungi Irene. Jefri menceritakan bagaimana perkenalannya dengan keluarga Pak Sumarna, termasuk kedekatannya dengan Desy.
“Kau tertarik dengannya Jef ?”
“Kalau tertarik, pastilah tertarik, tetapi kau tahu sendiri lah, aku sulit untuk jatuh cinta.”
“Ya, aku percaya lah. Tetapi kalau menurutku tidak ada salahnya kan kalau kalian juga berhubungan ?”
“Aku rasa tidak lah. Aku coba dekat dengannya agar semua data-data yang kita butuhkan dengan mudah kita dapatkan, dan aku segera dapat meninggalkan Bandung.”
“Lho, kau segera meninggalkan Bandung ? Memangnya kau mau ke mana, Jef ?”
“Rencanaku ke Singapura.”
“Kau mau kembali lagi kerja di Singapura, Jef ?”
“Rencananya sih begitu.”
“Tadinya aku kira kau akan membuat usaha di Bandung. Sebentar Jef, ini Kakek mau bicara.”
“Hallo Kek, apa kabar ?”
“Baik, baik Jef. Bagaimana, apa mereka menerimamu dengan baik ?
“Baik, baik Kek, tidak ada masalah, Kalau soal tugas, nanti malam. Saya akan hubungi Kakek lagi. Soalnya sore ini, rencananya data-data sudah kita dapatkan.”
“Baiklah Jef, kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya !”
“Baik, baik Kek. Salam untuk Irene.”
Jefri sengaja makan siang di kafe bawah, yang berhadapan dengan taman. Baru siap dia akan meninggalkan kafe, Tatang datang menemuinya. Tetapi Tatang menolak ketika diajak makan. Paling tidak dia tidak enak saja pada atasannya kalau dia makan di sana, itu alasannya. Akhirnya Tatang mengajak Jefri jalan ke belakang ke Jl. Dalem Kaum. Mereka belok ke arah kanan, dan terus berjalan. Di sana terdapat rumah makan Cina yang kata Tatang cukup terkenal juga di Kota Bandung. Di seberang restoran Cina, terdapat rumah makan Padang, yang juga cukup terkenal di Bandung. Jefri hanya memesan es jeruk, sekedar menemani Tatang makan.
“Aku sengaja mengajak ke sini, karena sebelum ke hotel tadi, aku telah menitipkan ke tempat cuci cetak foto. Mudah-mudahan hasilnya bagus semua.”
“Kalian sudah melakukan pemotretan ?”
“Sudah, sudah Jef, kita lihat saja nanti, bagaimana hebatnya usaha Pak Sumarna. Baik yang sudah lama, baru, atau malah ada yang sedang dalam tarap pembangunan. Dan ada lagi yang tentunya tidak kau duga Jef”
“Apa itu Tang ? Masih ada kaitannya dengan tugas yang kuberikan ?”
“Antara ada dan tidak ada, Kalau aku katakan ada, barangkali sangat pribadi, tetapi kalau kukatakan tidak, tetapi ada kaitannyajuga, jadi ya anggap saja lampiran, atan tambahan.”
“Ayo kau katakan sajalah Tang, jangan buat aku penasaran.”
“Kita ambil juga rumah isteri termudanya Pak Sumarna yang di Soreang. Tau nggak Jef, Soreang itu jaraknya lebih kurang dua belas kilometer lah dari sini. Aku tidak perlu cerita soal bagaimana luas, megah dan tersembunyinya rumah tersebut, karena sebentar lagi kau dapat melihat sendiri fotonya”
“Terus ada data-data lainnya.”
“Banyak, banyak Jef. Aku menemukan orang yang tepat untuk aku ajak kerja sama, sehingga semuanya berjalan dengan lancar. Teman-temanku sebenarnya ingin sekali bertemu denganmu, paling tidak, sementara ini mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih.”
“Wah bagus sekali kerja kalian. Aku malah tidak menyangka kalau kalian dapat bekerja demikian cepat dan sangat memuaskan. Tolong katakan pada temanmu, jangan dulu sekarang untuk bertemu denganku. Tunggu sajalah satu atau dua hari ini, aku bersedia mereka temui.”
“Ini baru satu hari Jef. Kalau diperlukan, temanku juga tahu di mana Pak Sumarna menempatkan isteri mudanya yang di Cianjur. Atau kalau mau lebih jauh lagi, pejabat mana saja yang diajaknya berspekulasi soal pembebasan tanah, hebat kan ?”
“Hebat, hebat sekali Tang. Tetapi bagaimana dengan uang yang aku berikan, apakah ada keberatan dari mereka, terutama soal jumlah uang yang aku berikan. Kalau nanti mereka keberatan, kau jangan ragu-ragu mengatakannya padaku Tang.”
“Kalau menurutku, mereka senang menerima apa yang kuberikan. Itu sebabnya mereka masih siap kalau mereka kau ijinkan berangkat ke Cianjur sekarang juga.”
“Soal itu, ya terserah mereka saja Tang. Kau tinggal katakan pada mereka berapa biaya yang mereka butuhkan.”
“Mereka tinggal menunggu perintah saja Jef. Tetapi kali ini, tentunya tanpa aku, karena kau tahu malam ini aku harus kerja.”
“Kalau mereka sudah siap, ya suruh saja mereka berargkat Berikan kamera itu pada mereka. Nanti waktu mengambil hasil cetak, sekalian kau beli, dan isi filmnya. Hanya kita harus kembali ke hotel, uang yang aku bawa sekarang tidak cukup.”
Tatang meninggalkan Jefri sendiri di restoran Padang. Dia akan mengambil hasil cetakan film dari hash bidikan mereka. Tatang tidak menyangka kalau basil bidikannya demikian bagus. Padahal, itu pertama kali dia menggunakan kamera besar, yang penggunaannya sebenarnya agak merepotkan. Kalau pun selama ini dia pernah menggunakan kamera, hanya kamera kecil yang otomatis.
“Bukan main, bukan main hasil bidikan kalian. Aku tidak menyangka kalian menghasilkan foto-foto yang menakjubkau ini. Terima kasih, terima kasih Tang,”kata Jefri berulang-ulang memperhatikan berbagai sudut bangunan perumahan milik perusahaan Pak Sumarna.
“Ini, yang inilah rumah isteri muda Pak Suntarna. Untuk ke rumah ini, dari pinggir jalan, kita akan masuk lagi ke dalam, melalui pintu gerbang yang besar. Nanti ada jalan yang ke kiri, terns, ya kira-kira tiga ratus meter, baru dapat rumah ini,”ujar Tatang menunjuk ke foto yang sedang diperhatikan Jefri.
“Oke lah Tang, kita ke hotel dulu mengambil uang, kemudian kau serahkan pada teman-temanmu. Apa kamera itu sudah kau isi filmnya ?”
“Sudah. Aku sudah suruh penjaga toko tadi mengisi filmnya ,baterainya juga sudah diganti.”
“Aku yakin Tang, foto-foto ini akan mengejutkan tamuku nanti sore, pasti dia kaget melihat foto-foto ini semuanya. Kau mau tahu siapa tamuku sore ini Tang ?”
“Kalau aku boleh menebak, tamu yang akan mengunjungimu, adalah…..”
“Hayo, siapa, hayo tebak saja Tang !”
“Hmm, puterinya Pak Sumarna, iya kan?”
“Seratus buatmu Tang. Kau benar-benar hebat. Heh, Tang, tahu saja kau.
“Yah, tahulah Jef. Orang seganteng kau, kalau tidak seorang wanita muda, cantik, ya siapa lagi yang ingin menemuimu, iya kan ?”
“Oke aku menyerah, ayo kau ikut aku ke kamar. Tapi kita tidak bisa lama-lama ngobrol, aku sudah nggak tahan ini mau istirahat dulu. Kemarin aku sampai larut malam baru pulang bersamanya.
Tadinya, malah dia menantang ngobrol sampai pagi, malah mengajakku mandi air panas di….. di mana itu, pokoknya lewat Lembang lah.“
“Oh, Sari Ater barangkali.”
“Iya, iya, Sari Ater.”
“Di sana memang tersedia pemandian untuk umum. Tetapi ada juga bak-bak pemandian yang dirancang khusus di dalam villa-villa, atau kamar, yang disewakan. Jadi kalau kalian menyewa salah satu kamar di sana, di dalamnya ada tempat pemandian. Selesai mandi, kalian bisa….”
“Eit, eit, jangan ngacau bicaranya Tang. Nih, nih bawa uangnya. Ingat, besok kita bertemu lagi, dan jangan lupa, katakan terima kasih pada teman-temanmu.”
“Oke, oke Bos.”
“Eh Tang, kalau kau perlu uang, pakai saja sebagian. Kau atur-aturlah. Terus masalah rental, kau perpanjang saja, dan nanti, kalau kau lihat aku dan Desy, kau pura-pura nggak kenal. Jangan sampai dia curiga, kalau kita sudah saling kenal, dan akrab. Ingat itu, Tang.”
“Beres Boss !”
“Mudah-mudahan semuanya lancar, sesuai dengan rencana. Makin cepat selesai, makin cepat aku meninggalkan Bandung ini.”**Bersambung……







