Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(52)

Halaman 256-260

 

Ketika turun menuju ke lobby, Jefri sengaja membawa album foto kecil hasil bidikan Tatang dan teman-temannya. Tidak ada perintah khusus antara dirinya dengan Kakek Hong soal pemeriksaan, apalagi penyitaan harta kekayaan Pak Sumarna. Hanya melihat bagaimana perkembangan usaha. Kalau terjadi perubahan di Hongkong setelah dikembalikan Inggris pada Cina ada perubahan, paling tidak kalau ada umur, Kakek Hong akan berkunjung ke Bandung, atau malah berusaha kembali di Bandung. Kalau tidak dengan modalnya sendiri, atau kerja sama dengan Pak Sumarna, paling tidak dia akan memanfaatkan kedekatan cucunya Irene yang dekat dengan kalangan pengusaha di Hong Kong, atau minimal dengan kelompok CYC, yang memang sangat dekat dengan cucunya. Bahkan kelompok inilah yang selama ini menyelamatkan mereka tinggal di Hongkong sebagai pelarian dari daratan Cina.

Pemikiran Jefri sebenarnya sama dengan Kakek Hong. Yaitu, bagaimana cara mereka merangkul Pak Sumarna untuk dijadikan rekan bisnis. Baik Kakek Hong, bahkan Jefri sendiri tidak keberatan menanamkan modal untuk dijalankan Pak Sumarna. Sayangnya mereka tidak tahu sampai sejauh mana usaha dan kesuksesan Pak Sumarna. Bahkan setelah Jefri berada di Bandung, khususnya ketika melihat rumah, dan foto-foto yang kini ada di tangannya, Jefri tidak menyangka kalau Pak Sumarna demikian populernya di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. Selain sebagai tokoh yang cukup disegani, dan berpengaruh, Pak Sumarna juga termasuk salah seorang konglomerat pribumi. Tidak heran kalau orang seperti Tatang saja, tahu soal Pak Sumarna. Sejak muda, Kakek Hong terbiasa hidup dengan kehati-hatian dalam mempercayai seseorang. Kepercayaan yang diberikannya kepada Sumarna saat itu, adalah kepercayaan yang sebetulnya agak terpaksa. Dari pada harta bendanya hilang begitu saja disita pemerintah, kenapa dia tidak percayakan saja pada Sumarna, yang saat itu masih sangat muda, dan taat beribadah. Demikian juga dengan tertinggalnya sebuah peti kecil di bawah lemari yang berisikan perhiasan emas, dan emas batangan. Ketika Kakek Hong menceritakan pada Jefri, Kakek Hong pasrah tentang hartanya yang satu itu.

“Kalau mereka mau menceritakannya dengan jujur, Kakek akan bertambah percaya pada mereka. Karena Kakek yakin peti itu dengan mudah ditemukan. Tetapi kalaupun tidak, kakek pasrah saja. Sumarna memang pernah membantu, tetapi soal jumlah kekayaan dan soal peti, tidak pernah diceritakan. Kakek kepingin juga mengetahui hal itu darimu Jef, siapa tahu kau bisa mendapatkan informasinya lebih jauh. Kalau Sumarna benar-benar jujur, Kakek akan usahakan menambah modalnya. Aku ingin juga memiliki rumah peristirahatan di Bandung. Tapi kali ini tentunya sebagai wisatawan. Kau sendiri Jef, apa tidak menginginkan rumah di Bandung ?” tanya Kakek Hong seraya menepuk bahu Jefri berulang-ulang.

“Bang Jef, Bang Jef !” Terdengar suara merdu menusuk telinga Jefri. Dia tersentak, dan betapa kagetnya, karena yang menepuk bahunya, ternyata Desy.

“Aduh, kau mengagetkan aku saja Des. Ayo, silahkan, silahkan duduk,” kata Jefri langsung berdiri, dan mempersilahkan Desy untuk duduk berhadapan dengannya.

“Habis, sore-sore begini Abang sudah termenung, ada apa sih Bang ?`”

“Nggak, nggak ada apa-apa. Aku cuma ngantuk saja. Oh ya, bagaimana kita di sini saja, atau keluar Des,” sapa Jefri terus meletakkan album foto yang dipegangnya ke atas meja.

“Sebentar, sebentar Bang, soal di mana-mananya, gampanglah, tetapi itu album foto apa, Desy penasaran, boleh lihat kan ?” tanya Desy mengalih pembicaraan, karena dia lebih tertarik untuk melihat album foto yang baru saja diletakkan.lefri di atas meja.

“Oh, silahkan, silahkan,” jawab Jefri langsung menggeser duduknya di samping Desy.

“Waw, bukankah ini bangunan di perumahan kami Bang ? Dari mana Abang dapatkan foto-foto ini.

Tetapi yang satu ini rumah siapa Bang ?”

“Benar Des. Ternyata, kau Jeli juga. Kecuali yang satu ini tentunya,” kata Jefri menunjuk bangunan yang tipenya berbeda dengan yang lainnya.

“Ya, rumah siapa Bang. Abang tidak keberatan untuk memberitahukannya, pada Desy, kan ?” desak Desy memandang wajah Jefri.

“Kau serius ingin tahu, Des ? Tetapi kalau Abang beritahu, kau jangan kaget, ya ?”

“Enggak, enggak, Bang. Percayalah, aku hanya penasaran saja..”

“Ini rumah Ibu tirimu yang di Soreang,” jawab Jefri perlahan.

“Hmm, bukan main, bukan main. Tahu nggak Bang, anak Bapak yang belum dapat rumah cuma Desy. Ini benar-benar keterlaluan Bang, baru dinikahi, sudah dibangunkan rumah sebesar ini. Kalau Ibu tahu, pasti ribut lagi,” ujar Desy dengan suara yang terbata-bata. Desy tidak dapat menahan air matanya.

Dengan perlahan direngkuhnya Desy. Disandarkaimya perlahan ke dadanya. Diusapnya perlahan-lahan rambut Desy.

Suasana jadi hening. Desy kian terisak-isak, dan kian membenamkan wajahnya di dada Jefn. Melihat itu, Jefri seakan menyesal kenapa dia membiarkan album foto dilihat Desy. Dia bingung tidak tahu harus berbuat apa di saat-saat seperti itu.

“Tenang, tenang Des. Semuanya telah terjadi, apa yang harus kita perbuat. Sebaiknya bicarakan dengan Bapak, secara baik-baik, dan beri pengertian pada Ibu. Kalau diperlukan, Abang akan membantumu.”

“Benar Abang akan membantu ?” Kata Desy langsung bangkit, mencoba mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Kemudian, diusapnya perlahan wajahnya.

“Abang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan permasalahan ini:, tetapi Abang melihat permasalahan ini akan mengusik penilaian Kakek Hong terhadap Pak Sumarna. Tetapi kalau diperlukan, Abang pasti membantumu. Ya, paling tidak, Abang berusaha untuk bersikap neteral.”

“Desy sedih bukan karena iri soal rumah, tetapi Desy merasa malu, karena kelakuan Bapak Desy. Malu sekali Bang.”

“Kenapa Desy harus merasa malu. Garis kehidupan Pak Sumarna memang harus demikian, yah kita harus berbuat apa. Tidak mungkin kita akan merusak kehidupan Bapak, kan ? Begitu juga dengan wanita-wanita yang telah diperisterinya.

Desy juga tidak akan melakukan hal itu. itu semua terjadi pada saat Desy meningkat dewasa, sehingga kian hari, Desy kian sadar. Tetapi Abang perlu tahu, Desy jadi takut berteman, atau berhubungan dengan pria. Takut Bang, takut disakiti seperti apa yang dialami Ibu. Ibu, Bang.”

“Tidak harus demikian sebenarnya Des. Tidak semua pria itu sama seperti apa yang Desy bayangkan. Masih banyak pria yang baik, setia, dan siap menyayangimu. Apa sih yang kurang dari Desy ? Cantik, berpendidikan, dan kaya lagi.”

“Akh, Abang bisa saja. Itu kan hanya teori Bang. Kalau Abang mau tahu, kurang setia apa sih Ibu pada Bapak ? Malah, Ibulah yang pertama menyarankan ke Bapak untuk bergerak di bidang kontraktor, dan pengembang, termasuk menemukan modal yang tidak terduga.”

“Modal tidak terduga ? Bukankah tanah-tanah yang luas, dan rumah peninggalan Kakek Hong cukup untuk dijadikan modal awal ?”

“Tidak hanya itu, tetapi modal yang tidak terduga tadi. Justru itu yang paling dominan pada waktu mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor, maupun pengembang. Di samping tentunya ajakan, dan bimbingan dari saudara Ibu, yang lebih dahulu bekerja pada perusahaan kontraktor, dan pengembang yang cukup ternama di Kota Bandung.”

“Sekarang saudara Ibumu di mana ? “Terus, kalau aku boleh tahu, apa maksudnya dengan modal tidak terduga tadi. Ibumu mendapatkannya dari mana ? Kau keberatan nggak Des memberitahukannya padaku.”

“Saudara Ibu sudah keluar dan kembali bekerja di perusahaan yang lama. Sempat ribut juga waktu itu, tetapi ibu memintanya untuk mengalah. Oh ya, yang Desy maksud modal tidak terduga itu, adalah perhiasan emas, berlian, dan emas batangan, di dalam sebuah peti yang ditemukan Ibu di bawah lemari pakaian.”

“Kalau tidak salah, peti itu berukiran indah, warnanya coklat. Iya kan ?”

“Benar, benar Bang. Kok Abang bisa tahu ? Abang kan tidak pernah melihatnya

“Iya ! Abang tidak pernah melihatnya, tetapi Kakek Hong pernah menceritakan soal peti ukiran itu. Hanya yang disesalkan Kakek Hong, masalah tersebut tidak pernah diceritakan keluargamu padanya. Sementara harta dalam peti itu, milik isterinya yang sudah puluhan tahun menyimpannya. Hanya pada waktu itu, karena buru-buru dan panik, peti itu terlupakan.”

“Kalau Desy nggak salah, Ibu pernah menyarankan agar Bapak memberitahukannya pada Tuan Hong. Anehnya, setiap ditanya Ibu, Bapak selalu saja mengatakan sudah, ya Ibu percaya saja. Kalau dengar cerita Abang barusan, ternyata Bapak telah membohongi Ibu, dan kami semua. Huh ! Desy jadi malu Bang, malu sekali sama Abang. Terutama, pada Tuan Hong. Enggak tahu apa kata Ibu kalau dia tahu kenyataan ini.”

“Sudahlah Des, kau tidak perlu malu, atau takut. Tenanglah, nanti pintar-pintar Abang menceritakannya pada Kakek Hong. Itu urusan Abang. Yakinlah, kalau Abang yang mengatakannya, Kakek Hong akan percaya. Pak Sumarna barangkali pada waktu itu sangat membutuhkan dana, sehingga dia ragu, jangan-jangan kalau diberitahu, Kakek Hong akan memintanya kembali. Kalau itu yang terjadi, akibatnya sangat fatal. Itu barangkali yang ditakutkan Pak Sumarna, dan kau harus memakluminya, Des.”

“Tetapi tidak harus membohongi Tuan Hong, kan ? Desy percaya, kalau saat itu diberitahukan bahwa Bapak sangat memerlukan tambahan modal, Tuan Hong akan merelakannya. Sebelumnya, Desy mengucapkan terima kasih bahwa Abang mau menengahi masalah ini. Tetapi seperti yang Desy katakan tadi, bagaimana perasaan Ibu, kalau kelak dia tahu masalah ini. Desy takut, di rumah akan ramai lagi Aduh, nggak tahu lah Bang.

“Ya, kau harus berhati-hatilah mengatakannya.”

“Serba salah sih Bang. Kalau nggak dikasih tahu, kasihan Ibu. Sebaliknya, kalau dikasih tahu, pasti mereka akan ribut. Lemas rasanya badan ini Bang. Mau ke mana-mana jadi malas, dan tidak semangat.”

“Oke, bagaimana kalau kita pindah ke depan sana,” kata Jefri menunjuk ke sisi kanan hotel.

“Akh, kurang nyaman Bang, terlalu dekat ke jalan, bising.”

“Kalau kita ke restoran di jalan belakang sana, ya enggak begitu jauhlah dari sini, bagaimana, kau setuju, kan ? Di sana ada rumah makan Padang, atau yang sebelah sininya, kan ada rumah makan Cina. Abang yakin, Desy pernah ke sana, karena Abang dengar keduanya cukup terkenal di Bandung ini. Ayo lah kita ke sana saja.”

“Sebentar, sebentar, Desy jadi penasaran, kok Abang bisa tahu di sana ada restoran.”

“Akh itu hanya kebetulan saja Des. Come on !” Jefri langsung menarik tangan Desy.

“Kalau cuma makan, di hotel ini juga bisa disiapkan mereka, kan ?”

“Ya, bisa saja sih, hanya suasananya kurang menyenangkan.”

“Kurang menyenangkan, atau Abang malu berlama-lama Desy temani.”

“Malu bagaimana ? Dan tadi kita kan sudah ngobrol di sini.”

“Ya, itu kan soal ngobrol. Kalau soal makan, tentu beda lagi. Tempatnya juga bukan di sini, tetapi di belakang, dan biasanya banyak orang, karena dekat galeri, iya nggak !”

“Ngaco aja ! Pokoknya, Desy harus mau, kalau tidak ….” kata Jefri merangkul pinggang Desy, terus dirapatkannya ke badannya, dan diajaknya jalan bersama meninggalkan hotel. Desy tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali dia membalas memeluk pinggang Jefri, dan mereka terus berjalan menuju ke arah samping hotel, sampai di Jl. Dalem Kaum. Dari sana mereka belok ke arah kanan, dan hanya beberapa puluh meter mereka berjalan, mereka telah berada di depan restoran Cina. Suasananya sangat berbeda, mengingatkan Jefri pada restoran-restoran yang terdapat di Hong Kong atau Kowloon. Terlihat di meja lain, ada dua orang lelaki paro baya sedang makan. Jefri duduk berhadapan dengan Desy. Ternyata mereka hanya memesan nasi putih, gurame goreng, saus udang, cumi-cumi, dan es jeruk. Seusianya, barang kali inilah Desy makan berduaan dengan seorang pria. Apalagi di restoran Cina. Biasanya dia dan teman-temannya makan di rumah makan khas Sunda.

Setelah makan, Desy teringat dengan album foto yang dilihatnya di lobby hotel tadi, lelaki yang kini berada di depan matanya begitu tenang, dan menyejukkan hatinya. Mungkinkah orang sebaik dia akan menghancurkan usaha keluarganya ? Kalau tidak, kenapa dia menyelidiki perkembangan usaha orang tuanya, dan apa gunanya foto-foto itu baginya ? Desy mencoba memandang Jefri. Akhirnya diberanikannya juga bertanya.

“Bang, Abang datang ke Bandung ini sendirian kan ?” Desy coba menyelidik.

“Iya. Kenyataannya, Desy lihat Abang sendiri, kan ?”

“Benar, tapi. Desy kan belum pernah ke kamar Abang, jadi siapa tahu ada“

“Hus ! Kamu ngaco saja. Mana mungkin Abang menyimpan seseorang di kamar, bisa-bisa Abang diusir dari hotel. Sebentar Des, Abang jadi kepingin tahu, kenapa tiba-tiba Desy punya pikiran seperti itu. Ada apa sihk Des, sebenarnya ?”

“Enggak, nggak ada apa-apa. Desy hanya kepingin tahu soal album foto tadi. Desy lihat, objek dalam album tadi, masih baru. Siapa ya kira-kira yang melakukan pemotretan itu. Tentunya, ada seseorang atau kelompok yang membantu Abang.”

“Sampai sejauh itu analisamu Des ? Kelihatannya, Desy mulai meragukan Abang.”

“Bukan, bukan ragu, Bang. Desy hanya penasaran. Abang kan baru di Bandung ini, jadi mana mungkin semua itu Abang yang melakukannya. Termasuk ke Soreang, jadi wajar saja Desy curiga. Tidak salah kan Desy menanyakannya ?”

“Tidak, kau tidak salah Des. Kau memang wanita yang cerdas. Ya, pantaslah kau jadi detektif Terus terang Des, memang Abang menggunakan jasa orang lain untuk melakukan ini semua”

“Terima kasih, Abang mau berterus terang pada Desy.”

“Tetapi Desy harus percaya, Abang lakukan ini semua untuk menyenangkan Kakek Hong, ataupun Irene. Mereka telah menganggap Abang sebagai keluarga mereka sendiri.

Mereka sangat baik, wajar Abang membantu mereka. Perlu Abang beritahu pada Desy, bahwa mereka tidak akan tetap berbuat baik pada keluarga Desy.”

“Ya, soal kebaikan mereka Desy sudah dengar dari Bapak, ataupun Ibu. Seingat Desy, baik Bapak, terutama Ibu, sangat menghormati mereka.. Bahkan perubahan kehidupan keluarga kami, berawal dari kepercayaan mereka. Hanya setelah kejadian belakangan ini, ditambah kehadiran Abang, Desy tidak yakin, kalau Tuan Hong akan mempercayai keluarga kami lagi.”.

“Abang rasa tidak sejauh itu, Des. Kalau nanti ada perubahan yang baik setelah Hongkong kembali kc tangan Cina, Desy pun dapat mengunjungi mereka, dan Dcsy dapat membuktikannya sendiri. Abang yakin, Irene akan senang menerima kehadiranmu,”

“Benar, Bang ? Abang yakin, kalau mereka mau menerima kehadiran Desy ?”

“Tentu ! Tentu saja Des. Kita berdoa saja, semoga perubahan status Hong Kong, akan merubah pula nasib mereka. Kalau itu yang teriadi, kau tidak perlu menyiapkan dana yang besar, dan kau akan betah di sana.”

“Semoga mereka baik-baik saja ya Bang ? Kelihatannya, Abang begitu yakin kalau Desy betah di sana. Alasannya apa Bang ?”

“Alasannya, di sana banyak sekali hiburan, apalagi bagi wanita muda seperti Desy, wah pokoknya senang lah. Desy kan tahu, Hongkong adalah salah satu pusat mode di Asia, iya kan ? Nah, bukan kah itu suatu kesempatan yang baik ?”

“Mendengar cerita Abang, rasanya Desy ingin cepat-cepat terbang ke sana Bang. Te..ta..pi, bagaimana dengan hasil laporan Abang, bukankah itu akan membuyarkan semuanya ?”

“Desy tidak perlu khawatir, semuanya bisa diatur. Tenang sajalah.”

“Tenang bagaimana, Abang kan tidak lama di sini, terus kalau itu jadi, siapa yang mengurusnya ?

Kalau pun Abang meninggalkan Bandung, kita kan masih bisa berkomunikasi, atau berhubungan. minimal lewat surat, telegram, atau telepon, iya kan ?”

“Desy masih ragu, dan takut.”

“Kenapa harus takut ? Desy kan tidak ada masalah dengan mereka ?”

“Abang belum tahu sih bagaimana sepak terjang Bapak akhir-akhir ini…. terutama, sejak Bapak mempercayakan sebagian tugas-tugasnya pada Kak Andi, dan Kak Deddy Pokoknya, kalau Abang tahu, mengerikan lah.”

***Bersambung…..

Back to top button