Wartawan, Pekerjaan dari Kaki ke Otak Plus Moralitas

JAKARTA,reformasitotal.com
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Tri Agung Kristanto mengibaratkan profesi wartawan adalah sebuah pekerjaan dari kaki ke otak, namun ditambah sentuhan moralitas.
“Ini saya mengutip apa yang dikatakan oleh Wartawan Kompas yang juga seorang pastor dan filsuf, Dr. Sindhunata,” kata Tri Agung ketika menerima kunjungan 10 jurnalis asal Papua di kantor Kompas, Jakarta, Senin (26/9/2022).
Wartawan adalah pekerjaan kaki dikatakan Sindhunata karena baru bisa melakukan sesuatu, setelah turun ke lapangan.
Namun begitu Tri Agung mengakui bahwa saat ini banyak yang mengaku wartawan, dan bisa membuat berita, tapi tidak pernah turun ke lapangan.
“Dia hanya mengambil dari media sosial orang lain. Bahkan tanpa konfirmasi, dan menyebut sumbernya,” terang Tri Agung.
Wartawan tersebut seolah-olah melakukan wawancara dengan seorang atau lebih narasumber. Padahal dia hanya mengutip dari media sosial.
Dalam masa pandemi, jelas dia, wartawan memang tidak bisa turun ke lapangan. Namun pekerjaan kaki tetap bisa dilakukan dengan bantuan teknologi. Wawancara bisa dilakukan melalui teleconference, zoom atau lainnya.
Dari pekerjaan kaki, selanjutnya masuk ke pekerjaan otak. Maksudnya adalah, data yang ditemukan dari narasumber di lapangan tidak semua bisa dilaporkan, terlebih jika dia adalah wartawan televisi dan radio.
Wartawan tersebut harus punya kemapuan menganalisa. Mana data yang harus dilaporkan dan mana yang tidak. Kenapa? karena wartawan harus berpikir tentang ke Indonesiaan dan kemanusiaan.
Ia mencontohkan, jika seorang wartawan menemukan korban konflik dengan kondisi yang parah. Korban tersebut meninggal dan darahnya mengalir di pinggir jalan.
“Apakah kita akan menulis semuanya? Sedetail apa yang kita lihat. Termasuk darah yang mengalir di jalan? Bahkan menggunakan foto seperti itu? Tentu hal ini tidak mungkin kita dilakukan,” tegas dia.
Hal Inilah yang dimaksud dengan pekerjaan kaki, menuju pekerjaan otak ditambah adanya moralitas. Moral itulah yang membedakan wartawan dengan pencerita lainnya.
“Jadi inilah yang dimaksud dari pekerjaan kaki menuju pekerjaan otak,” jelas dia.
Kunjungan jurnalis Papua ke Kantor Kompas diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
Kominfo mengundang 10 jurnalis Papua ke Jakarta untuk melakukan diskusi tentang kebijakan dari Program Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Papua serta isu-isu kontemporer lainnya.
10 jurnalis yang hadir diantaranya dari LKBN Antara, Kompas.com, TV Papua.com, TVRI Jayapura, TVRI Papua, Tribun Papua, Metro TV, Cendrawasih Pos, Lintas Papua dan RRI Biak.
RED-FAUJI







