Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(59)
Halaman 291-295

Apa lagi yang perlu dibahas dengan mereka.
“Bang kita pulang saja lah. Ayo !”sentak Desy membuyarkan pikiran Jefri.
“Sebentar. sebentar Des. Aku masih penasaran dengan kedua orang kakakmu. Bukankah selama ini mereka sangat membenciku, tetapi tiba-tiba saja mereka berdua akan belajar padaku. Nah, yang aku tidak habis pikir, mereka mau belajar apa ? Barangkali kau tahu Des ?”
“Barangkali, ya ada kaitannya dengan apa yang Abang lakukan terhadap mereka beberapa menit lalu di atas. Bang”
“Memangnya aku melakukan apa sihk Des ?”
“Yah, aku juga tidak tahu Bang, tetapi kalau aku boleh menebak, kelihatannya mereka menduga kau mcmiliki ilmu bela diri yang tinggi atau ilmu lainnya, yang aku sendiri tidak paham Tetapi biar sajalah Bang, yang penting mereka sudah mendukung rencana kita.
“Aku berharap mereka benar-benar mendukung kita. Bagiamana, kita tidak sampai malam di sini, kan?”
“Tentu saja tidak, bukankah nanti malam Abang akan mengadakan pertemuan ?”
“Ya. Desy juga akan datang kan ?”
“Kalau Desy, bagaimana yang mengundang saja. Kalau diundang, ya Desy datang”
“Sudah, Sudahlah sekarang kita ke hotel.”
“Siap Boss “
Dengan langkah-langkah kecil, dan wajah ceria Desy masuk ke dalam rumahnya Tadinya dia berniat untuk langsung masuk ke kamarnya dan istirahat. Ternyata, Pak Sumarna ada di ruang tengah dan melihat ke arah Desy.
“Eh, eh, jangan langsung masuk, Bapak pingin bicara padamu Des,” sapa Pak Sumarna.
“Aduh Desy capek. Pak. Nanti sajalah,” jawab Desy terus melangkah.
“Des, apa kakak-kakakmu tadi menyusul ke sana ?”
Mendapat pertanyaan tentang kedua kakaknya, Desy jadi menghentikan langkahnya.
“Datang Pak. Tapi tidak ada masalah, malah mereka mendukung usaha yang kami jalankan dengan Bang Jefri.
“Kok bisa begiitu ? Bukankah mereka masih membenci Jefri ?”
“Mereka sudah damai, Pak ?”
“Damai ? Maksudmu, mereka….”
“Ya mereka sempat juga ribut. ya sedikitlah. Tetapi ternyata memang Bang Jefri tidak semudah yang mereka duga, untuk mereka taklukan.”
“Maksudmu, mereka menyerang Jefri ?”
“Iya, tetapi sayangnya, malah mereka yang terpental. Kalau saja Bung Jefri tidak dapat menahan emosinya, Desy kira mereka sudah terkapar”
“Mudah-mudahan mereka benar-benar menyadari kekhilapan mereka, dan kalian semua akrab, dan harmonis. Oh ya, bagaimana dengan ruko, kan sudah memilihkannya ?”
“Semuanya sesuai dengan rencana, Pak Sudah ya Pak, Desy mau istirahat sebentar, nanti malam ada pertemuan dengan teman-teman Bang Jefri,” jawab Desy terus melangkah menuju ke kamarya.
Desy sangat terkejut begitu masuk ke kamarnya, karena dia melihat Ibunya ada di dalam. sedang duduk di atas ranjang. Desy menghampiri ibunya perlahan-lahan.
“Bu, ada apa Bu ? Kelihatannya Ibu sedang menangis,”tanya Dcsy seraya memegang bahu Ibunya.
“Tidak tidak ada apa-apa Des”
“Sudahlah Bu, Ibu tidak perlu menyembunyikan perasaan Ibu lagi. Desy bukan anak-anak lagi Bu. Sudah saatnya Ibu membuka diri, katakanlah Bu,”
Bu Sumarna bukannya bercerita, tetapi tiba-tiba saja dipeluknya erat-erat tubuh Desy. dan terus menangis. Desy bertambah heran, dan berusaha memandang wajah ibunya. Desy menyingkapkan rambut ibunya perlahan-lahan, dan ditatapnya penuh kasih dan iba. Mereka berdua saling pandang dan akhirnya mereka saling berpelukan. Desy tidak dapat membendung air matanya Akhirnya mereka berdua menangis. “Des, tadi Bapakmu memaksa Ibu untuk kembali lagi pada Bapak. Katanya, dia akan mengembangkan rumah ini, dan membangun musholla di belakang. Tetapi. Ibu masih belum percaya”
“Bukankah itu kabar bagus ? Terus kenapa Ibu menangis ?”
“Ibu menangis karena memikirkan nasib Ibu yang selama ini ditinggalkan semua orang-orang yang Ibu sayang “
“Tetapi Desy kan selama ini ada terus di sisi Ibu.”
“Ya, itu pun sampai kapan ? Bagaimana kalau Jefri membawamu ke Singapura, atau ke Hong Kong ?”
“Kok Ibu sampai berpikiran demikian sihk ?”
“Ibu melihat, kalian sangat pantas untuk berpasangan. Pada saat dia ada di rumah ini, secara diam-diam Ibu perhatikan bagaimana harmonisnya, kalian Ibu doakan agar Tuhan dapat mempertemukan kalian.”
“Aduh, Ibu terlalu jauh. Bang Jefri itu tidak akan tinggal di Singapura atau di Hong Kong. Kami sedang membangun usaha di sini jadi kenapa Ibu takut ?”
“Alhamdulillah, kalau kalian akan membangun usaha di sini ?”
“Ya, tetapi Bang Jefri tetap berangkat ke Singapura, Bu Dia tetap akan berangkat”
“Jadi“
“Ya, Bang Jefri, setelah usaha yang akan kami dirikan mulai jalan, dia akan meninggalkan Bandung. Ya, meninggalkan kita semua. Bu.”
“Apa kau tidak bisa menahannya ? Atau Ibu akan“
“Tidak, tidak Bu. lbu tidak perlu melakukan itu.Desy tahu Ibu akan memintanya untuk tetap di Bandung, tetapi jangan,jangan Bu. Dengan menganggapnya sebagai kakak saja, Desy sudah sangat senang, Bu.”
“Des, sejak kapan kau tertutup pada lbumu ini, hah ?”
“Sudah Bu, sudah. lbu jadi ngelantur terus. sementara Ibu tidak menceritakan kenapa sampai Ibu menangis, dan ada di kamar Desy”
“Ibu sengaja berada di kamarmu, karena Ibu rnembayangkan, kalan kau sebentar lagi tidak ada di kamar ini, jadi lbu bertambah kesepian “
“Kesepian bagaimana, bukankah tadi Ibu mengatakan kalau Bapak akan kembali berkumpul dengan ibu di rumah ini ?”
“Ahk, Bapakmu saja kau percaya, Des. Jangan-jangan dia mau membangun rumah ini karena dia sudah diusir sama isteri-istcri mudanya. Kalau sudah reot, kucuran dana mulai seret dan…..
“Tidak, tidak Bu Bapak sudah bcrjanji pada Desy, kalau Bapak akan meninggalkan kedua isteri mudanya, dengan memberikan semua rumah, mobil, dan sejumlah uang. Jadi Desy kira wajar, kalau Bapak akan merehab rumah kita ini “
“Berjanji padamu ?”
“Benar, Bu. Desy sudah berbincang-bincang dengan Bapak tentang hal itu dan Bapak menyanggupinya. Desy malah tidak menyangka kalau Bapak akan mematuhinya sedemikian cepat. Kalau begitu, Desy akan mengucapkan terima kasih sekarang pada Bapak. atau Bapak Desy ajak ke sini ya Bu !”
“Hush ! Kau jangan macam-macam Des Kalau kau bawa Bapak ke sini, ibu akan kunci kamarnya. Biar dia buktikan dulu omongannya, setelah itu kita nikah lagi, baru Ibu mau berkumpul bersama Bapakmu.”
“Ya, tetapi untuk kumpul-kumpul saja kan tidak apa-apa, Bu.”
“Itulah yang Ibu tidak mau. Ibu tidak akan melayani apa pun, sebelum semuanya dibuktikan. Ibu mau tenang Des, Ibu mau tenang.”
“Percayalah Bu, Bapak benar-benar sudah menyadari kekhilafannya. Desy percaya, sebelum rumah ini selesai direhab, dan musholla sudah berdiri, Bapak sudah ada di sisi kita. Sudah, Ibu tenang saja, ya ?”ujar Desy mengecup kening ibunya dengan mesra.
Malam itu Desy datang ke hotel untuk menemui Jefri. Di lobby hotel, Ternyata Jefri sudah ada di sana dengan beberapa temannya Ketika melihat Desy datang, Jefri langsung berdiri menyambut . Melihat Jefri berdiri, semua yang hadir saat itu, berdiri semuanya.
“Ini boss kita datang, perkenalkan,” kata Jefri menyambut Desy, dan berdiri di sisi kiri Desy seraya memegang bahu Desy.
“Wah, enggak usah sambutan begini-beginian ahk ! Biasa-biasa sajalah, Desy jadi enggak enak diri. Bang Jef, apa-apaan sihk ?”
“Eit, eit,jangan ngambek dulu. Kenalkan, ini yang namanya Tatang, yang akan menjadi direktur operasi, dan ini teman-teman lainnya, yang juga sudah siap menjalankan usaha kita. Mereka sebcnamya orang-orang yang masih bekerja, tetapi demi perusahaan yang akan kita bangun, mereka siap mengundurkan diri, dan bergabung dengan kita,”jawab Jefri terus memperkenalkan satu persatu yang hadir. Desy menyalami satu persatu yang hadir. Selain Jefri. dan Tatang, ada Fauji, Romi, Sekarwati, dan Nenny. Walaupun di antara mereka baru berkenalan,suasananya sangat akrab.
“Lho, kita kan belum operasi, bagaimana kita memberikan mereka..”
“Soal itu,jangan dipikirkan Des. Mereka ini siap menerima intensif sesuai yang mereka terima di perusahaan tempat mereka bekerja, sampai perusahaan kita mendapatkan income. Setelah itu, kita atur lagi hal-hal yang layak mereka terima, termasuk, bonus, dan lain-lainnya. Begitu, kan”“kata Jefri menatap satu persatu yang hadir.
“Benar, Bu Desy,” jawah mereka serentak
“Aku enggak lucu ahk, jangan panggil Ibu dong. Ini kan bukan kantor. Tetapi, saya bangga dan terharu. kalian begitu bersemangatnya. Terima kasih, terima kasih, tetapi apakah kita hanya berdiri-berdiri saja di sini ?”
“Kalau soal itu, biar Tatang saja yang menjawabnya, di mana Tang ?”
“Di Dago,” jawab Tatang spontan.
Di sebuah rumah makan khas Sunda, di kawasan Dago, selain untuk bersantap malam, mereka juga membicarakan program yang akan mereka lakukan dalam mendirikan perusahaan biro perjalanan. Mereka mulai menetapkan jadwal kegiatan yang harus mereka lakukan. Termasuk tentunya nama perusahaan yang mereka dirikan.
“Saya tidak punya ide untuk masalah nama, terserah teman-teman lah “jawab Jefri ketika Desy menanyakan tentang nama perusahaan mereka.
“Bagaimana, kalau Easy Tour & Travel,”usul Fauji.
“Wah, boleh juga itu Aku setuju, setuju, bagaimana Des “tanya Jefri melihat ke arah Desy, dan Jefri meletakkan tapal tangannya ke punggung tangan Desy.
“Kalau kalian setuju, enggak ?”Desy balas bertanya pada teman-teman baru yang akan menjadi mitra kerjanya. Semua serentak menjawa setuju. Sejak detik, dan malam itu mereka semua sepakat untuk sama-sama membangun,
dan, mengembangkan usaha biro perjalanan, dengan nama, “Easy Tour & Travel”.
Malam itu, malam yang sangat berkesan bagi Desy. Sejak meninggalkan hotel sampai di restoran, dan kembali lagi ke hotel, Jefri terus selalu berada di sampingnya. Saat kesendirian di dalam mobil menuju ke rumahnya, Desy baru menyadari yang hilang dari sisinya “Benar kata Ibu, aku telah tertutup padanya, dan membohonginya. Kalau saja Ibu sampai bicara pada Jefri, mungkinkah Jefri akan mengurungkan niatnya meninggalkan Bandung ? Bagaimana kalau aku sendiri yang mengatakannya ? Huh !” Spontan pikiran Desy buyar, karena tiba-tiba ada orang yang melintas persis dekat tikungan menuju ke rumahnya. Ternyata seorang tuna wisma.
Di atas ranjangnya, Desy masih belum dapat memejamkan matanya. Desy masih merasakan sentuhan, dan rangkulan Jefri. Seakan bantal guling besar di sisinya penjelmaan Jefri.
Mereka bersama-sama memandang ke langit-langit kamar. Desy meremas erat tangan Jefri. Perlahan-lahan Desy memalingkan wajahnya ke wajah Jefri.
“Abang bisa enggak untuk tidak meninggalkan Desy, Bang ?”
“Tidak Des, bagaimana pun juga, Abang harus berangkat ke Singapura. Bukankah kita akan mengembangkan usaha kita sampai kesana ? Banyak rencana Abang yang berkaitan dengan usaha-usaha kita di sini.”
“Tapi kan Bang, Desy…”
“Kenapa dengan Desy, bukankah kita“
“Tidak, tidak, Desy tidak mau dengar Abang mengatakan kalau Abang hanya menganggap Desy adik, tidak, Desy tidak mau, tidak ! tidaaaaak ! “ “Des, Des, aya naon (ada apa) ?”ujar Bu Sumarna terus niengetuk pintu kamar Desy.
Desy tersentak. Desy meraba keningnya perlahan-lahan, kemudian ditekan-tekannya. Dikembangkannya jari-jari tangannya, kemudian disapunya rambutnya. Digenggamnya kuat-kuat. Kepalanya terasa pening. Dipandangnya ke sisi, Jefri benar-benar tidak ada. Padahal, Desy sangat yakin kalau barusan, dia berada di atas ranjang bersama Jefri. Desy meraba perlahan bantal guling yang ada di sisinya Dicobanya menatap pangkal bantal guling. Terbayang wajah Jefri. Senyumannya, tawanya, dan Desy tersentak. Ternyata dia sendiri, sendiri dalam kegelisahan, dan kegalauan. Ketukan pintu, dan suara ibunya menyadarkannya, kalau di kamarnya hanya ada dia. Dia yang merindu.
“Inikah yang namanya jatuh cinta ?”desah Desy, seraya bangkit, beranjak, melangkah, dan membuka pintu.
“Ada apa sihk Des, malam-malam kok teriak.-teriak.”
“ Nggak ada apa-apa kok Bu,” jawab Desy sekcnanya. dan mencoba menutup mulutnya yang menguap, pertanda dirinya masih ngantuk.
“Des, Ibu terlalu cepat tidur tadi, sehingga Ibu tidak tahu kalau kau sudah pulang. Baru saja Ibu akan membuka pintu kamarmu, tiba-tiha Ibu mendengar kau teriak-teriak. Ibu jadi takut mendengarnya.”
“Enggak Bu, enggak ada apa-apa, percayalah”
“Ya baiklah, kalau begitu. Tetapi kau keberatan kalau ibu menemanimu tidur ?” `Tidak usah Bu. Desy pingin sendiri. Biarlah Desy sendiri, Bu.”
Baru saja Bu Sumarna akan melangkah, Desy memanggilnya. Begitu berhadapan, Desy langsung memeluk Ibunya erat-crat. Dia menangis tersedu-sedu. Bu Sumarna membalas memeluk Desy, dan mengecup keningnya.
“lbu benar, Desy telah jatuh cinta pada Bang Jefri.”
“Bagaimana dengan Jefri, apa dia merasakan hal yang sama ?”
“Kelihatannya, dia hanya menganggap Desy sebagai adik, Bu”
“Apa dia sudah berkeluarga ?”
“Kalau pastinya Desy tidak tahu, tetapi Desy yakin kalau Bang Jefri belum berkeluarga”
“Itu artinya, masih ada harapan, kan ?”
“Maksud Ibu, harapan apa ? Sebentar lagi dia juga akan berangkat ke Singapura.” `
“Tetapi, dia ke sana bukan untuk menikah, iya kan ?”
“Aduuh enggak tahu lah Bu. Bagaimana nanti sajalah. Huh pusing, Bu.”
“Baiklah, kalau kau tidak mau ditemani,”ujar Bu Sumarna mencium kembali kening puterinya
“Ibu tidak menemani Bapak?”
“Sudah sudah, kau tidur saja lagi.”jawab Bu Sumarna melangkah meninggalkan Desy.
“Jadi Bapak tidurnya di mana, Bu ?”
“Cari sajalah sendiri,” kata Bu Sumarna tanpa melihat ke arah Desy, dan terus melangkah.
Desy tersenyum melihat tingkah Ibunya. Demikian kukuh, dan kuatnya pendirian sang ibu dalam mempertahankan prinsip hidup, prinsip cinta yang telah dinodai suaminya. Suami yang dulu sangat dicintai. yang telah bersama-sama menyemaikan cinta, dengan lahirnya tiga orang putera-puteri. Termasuk dirinya. Bukankah aku lahir dari persemaian cinta ? Desy masuk kembali ke kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Diletakkannya kedua tangannya di bawah kepala, “Prinsip Ibu benar,” desah Desy. Cinta tidak bisa dipermainkan, apalagi dikhianati. Cinta harus tegas ! Untuk mendapatkannya, tidak perlu memelas, meminta, apalagi mengemis. Cinta harus keluar dari lubuk hati, bukan sekedar dari mulut “Aku harus setegar ibu !”****
Bersambung…..







