Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(23)

Halaman 101-105

“Terima kasih, Ma. Lulu akan mencobanya,” ujar Lulu memeluk mamanya dan menangis. Dia sangat terharu atas pengertian mamanya yang demikian bijaksana. Di sisi lain, dia merasa sangat berdosa, karena tidak patuh pada mama yang sangat menyayanginya sejak kecil sampai dia dewasa seperti saat ini.

“Sudahlah, Lu,” desah Nyonya Wong yang juga meneteskan air mata. Dia tidak tahan melihat puterinya yang semata wayang menangis di pelukannya.

Maimunah heran melihat majikan dan puterinya saling merangkul dan menangis. Didekatinya, diletakkannya lemon tea pesanan Lulu di atas meja. Terenyuh juga perasaannya melihat orang-orang yang selama ini sangat dihormati dan disayanginya, sedang menangis. Tak terasa menetes juga air matanya.

“Maaf Neng, ini lemon tea pesanan Neng,” tutur Munah coba mengusik kesedihan orang-­orang yang diseganinya itu.

“Oh ya, bawa ke sini saja,” kata Lulu kaget, dan langsung melepaskan pelukannya.

“Terima kasih, Munah. Tetapi, kau juga sedang menangis Munah ?” Tanya Lulu lagi ketika dilihatnya Munah sedang menyeka air matanya dengan ujung bajunya.

“Neng dan Nyonya menangis, jadi saya juga sedih Neng.”

“Kau ini ada-ada saja Munah. Aku dan puteriku bukan menangis karena kesedihan, tetapi karena bahagia,” imbuh Nyonya Wong.

“Bahagia Nyonya ? Bahagia kok menangis, Munah jadi tidak mengerti.”

“Bahagia, karena puteri mama ini sekarang mulai menyadari makna orang beragama,” kata Nyonya Wong mengangkat dagu Lulu. ”Bukan begitu, Lu ?”

“Ya, ya benar begitu Munah,” jawab Lulu singkat.

“Mama kira sekarang sudah saatnya kita makan. Kau lihat, asap sopnya masih mengepul, kalau dingin, nanti tidak enak. Ayolah.”

“Baik, Ma. Tapi Lulu mau cuci muka dulu, mama teruskan saja makannya,” tukas Lulu berdiri dan membersihkan tangannya di wastafel.

Suasana hening. Lulu dan Nyonya Wong begitu menikmati hidangan hasil olahan Maimunah. Tiba-tiba kenikmatan mereka terusik dengan dering telepon.

“Munah, tolong kau angkat telepon itu,” titah Nyonya Wong pada Munah.

Munah bergegas lari ke arah telepon. Perlahan diangkatnya gagang telepon didekatkan ke telinganya. Tersentak dia mendengar suara di seberang sana. Dia sangat kenal suara pria yang satu ini. Pria yang telah berani mengangkatnya dari lumpur kegelapan.

“Dari siapa Munah ?” Tanya Nyonya Wong penasaran.

“Ini Nyonya, ini dari tuan. Tuan ingin bicara, penting katanya,” ujar Munah sedikit gugup.

”Baiklah, katakan tunggu sebentar, saya akan menuju ke sana,” ketus Nyonya Wong.

Agak berat juga Nyonya Wong mau menerima telepon dari suaminya. Nyonya Wong takut kalau-kalau suaminya perlu modal lagi. Tetapi dikuatkannya juga hatinya menerima telepon dari suaminya, Wong Chung Hwa. Dia harus menampilkan keceriannya di depan puterinya, walaupun seberat apa perintah yang akan dipesankan suaminya. Dia bertambah ceria, ketika suaminya hanya menunda kepulangannya. Pada saat Nyonya Wong meminta ijin rencana berliburnya ke Bali, ternyata suaminya mengijinkannya. Betapa senang dan gembiranya Nyonya Wong.

“Apa kata Papa, Ma ?” desak Lulu begitu mamanya duduk kembali di sebelahnya.

“Papamu satu dua hari ini, katanya tidak bisa pulang. Ada bisnis gede yang tidak dapat ditinggalkannya.”

“Itu Ma, masalah rencana Mama ke Bali, kenapa Mama tidak minta ijin sekalian, Ma.”

“Kalau masalah itu, Mama tentu tidak lupa. Kata papamu sui pien ni lah, ya terserah Mama, asal toko tetap buka. Kasihan pelanggan, katanya.”

“Bagus. Selamat ya Ma. Kalau soal toko Mama jangan takut, saya dan Munah akan menjaganya terus. Tetapi kabar ini harus Lulu beritahukan pada Ang Mei.”

“Oh ya, sekalian katakan pada mamanya Ang Mei, kalau dia siap-siap. Bila perlu suruh dia ke sini besok.”

Ternyata Nyonya Ong, mamanya Ang Mei sangat gembira dengan kabar yang disampaikan Lulu. Malah pagi-pagi besok, mereka akan ke rumah Lulu. Tanpa diberitahukan ke mamanya, Lulu mencoba menghubungi Hidayat. Karena Hidayat lah yang akan memberikan fasilitas hotel dan kendaraan selama berada di Bali.

“Aku baik-baik saja Lu. Tetapi, tunggu dulu, dari mana kau tahu nomor telepon ini ?”

“Apa sulitnya sih mencari nomor telepon orang top seperti kamu. Selama kantor Kedutaan Indonesia masih ada, tentu kau terdaftar di sana. Kau keberatan aku mengetahui nomor telepon ini ?”

“Hebat juga kau Lu. Tetapi yang kau katakan barusan, aku protes. Aku tidak pernah keberatan kau mengetahui nomor telepon ini. Aku malah yang minta maaf, karena tidak memberitahukannya padamu. Hanya ada apa kau menghubungi malam-malam begini.”

“Ada hal penting yang ingin kukatakan, soal Mama.”

“Mama ! Kenapa dengan Mama ?” desak Hidayat khawatir.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan, kalau Mama sudah dapat ijin dari Papa soal berlibur ke Bali.”­

“Oh, baik, baik, kalau begitu. Kalau soal ke Bali, aku kira tidak ada masalah, tinggal kapan Mama mau berangkat. Malah, kalau mereka mau naik Garuda, ada discount khusus. Apalagi kalau pulang-pergi, harganya akan lebih murah.”

“Wah itu berita bagus. Nanti aku kabarkan pada Mama, dan mamanya Ang Mei. Jangan ke mana-mana, nanti aku hubungi kau lagi, ya?”

“Baiklah, aku akan menunggumu.”

Lulu mengabarkan pada mamanya tentang tiket pesawat yang baru diusulkan Hidayat. Bagi mama Lulu tidak ada masalah, malah dia sangat berterima kasih pada Hidayat. Ternyata Nyonya Ong, juga menyetujuinya. Mendengar jawaban Nyonya Ong, Lulu kemudian menghubungi Hidayat kembali.

“Hallo Yat, mereka semua setuju dengan idemu tadi. Pokoknya soal keberangkatan ke Bali, kami mempercayakannya padamu.”

“Wah, aku jadi tersanjung atas kepercayaan ini semua.”

“Tentu saja kami harus mempercayaimu. Karena bagaimanapun itu negaramu. Hanya herannya, Bali lebih terkenal dari negaramu sendiri,” canda Lulu.

“Tingkat humormu boleh juga, Lu. Oke lah kalau begitu. Pokoknya besok pagi-pagi aku meluncur ke rumahmu.”

“Thanks ya, sampai bertemu besok pagi. Good night !”

Sesuai janjinya, Hidayat pagi-pagi sudah sampai di rumah Lulu. Begitu pula dengan Ang Mei dan mamanya. Agar tidak terlalu repot perpanjangan paspor dan dokumen lainnya, mereka sepakat mempercayakannya pada biro perjalanan. Di antara travel biro yang baik di Singapura, adalah Chan Brother Travel, yang terletak di Cecil Street, dekat Robinson Road. Agak jauh memang, tapi travel biro itulah yang mereka pilih.

Dikeramaian Bandara Changi yang megah, menawan, dan terbaik di Asia, atau termasuk lima besar terbaik di dunia, terlihat Hidayat, Lulu, Ang Mei, Nyonya Wong, dan Nyonya Ong. Bandara Changi memang cukup populer, karena dari sana dapat berhubungan dengan 124 kota dari 56 negara. Tiap minggunya lebih dan 2.800 penerbangan yang mendarat di Bandara Changi atau rata-rata 34 pesawat per jamnya. Dapat dibayangkan berapa income negara Singapura dari jasa bandara. Ratusan bahkan ribuan orang berlalu lalang di lingkungan bandara Changi. Puluhan tahun lalu bandara udara Singapura adalah Payalebar. Hanya letaknya tidak jauh dari kota. Akhirnya pilihan jatuh ke Changi walaupun jaraknya dari pusat kota sekitar 20 Km.

Sembari menanti keberangkatan Garuda Indonesia, Hidayat mengajak Lulu, Ang Mei, dan orang tua mereka ke salah satu bar yang ada di bandara Changi. Tempat yang sering dikunjungi Hidayat adalah North Satellite Bar. Di salah satu sudut dekat dinding berornamen pesawat, mereka berlima minum-minum. Belum habis minumnya, Hidayat pamitan untuk menelpon seseorang di Bali. Setelah itu Hidayat bergabung kembali.

“Nanti di bandara Ngurah Rai, Ibu tinggal mengangkat ini tinggi-tinggi. Nanti, seseorang akan menjemput Ibu-ibu. Namanya I Wayan, atau nanti Ibu dapat memanggilnya, cukup Wayan saja,” ujar Hidayat memberitahukan pada Nyonya Wong, dan memperlihatkan kertas berukuran panjang 60 cm. dan lebar 20 cm., tertera nama NYONYA WONG, SINGAPURA.

Mendengar pengumuman keberangkatan pesawat Garuda menuju Bali, Lulu langsung memeluk mamanya. Begitu pula dengan Ang Mei dan mamanya. Hidayat hanya menyalami Nyonya Wong dan Nyonya Ong, kemudian mengucapkan selamat jalan.

“Begitu mama sampai di Bali, mama telepon ke rumah ya. Lulu, Ang Mei, dan Hidayat akan menunggu di rumah. Ya, begitu ketemu dengan…… siapa tadi Dayat ?” Tanya Lulu pada Hidayat.

“I Wayan, ya minta Wayan mengantarkan Ibu ke tempat telepon,” jawab Hidayat atas pertanyaan Lulu dan memesankan Nyonya Wong.

“Ya Ma, jangan lupa. Paling juga dua setengah jam Mama sudah sampai di Bali, Lulu ingin tahu kalau Mama sudah sampai,” pesan Lulu yang terharu juga ditinggal mamanya.

“Tentu, Mama akan telepon kalian, begitu sampai di Bali nanti.”

Hidayat, Lulu, dan Ang Mei, meninggalkan bandara Changi setelah melihat Garuda Indonesia take off. Lulu meminta pengertian Ang Mei karena dia akan bersama Hidayat.

“Maaf Mei, kau tidak keberatan kalau aku ikut Hidayat ?”

“Silahkan saja Lu. Kita bertemu di rumahmu kan ? Kalau begitu aku duluan, lah”

“O ya, kita bertemu di rumahku, sembari menunggu telepon dari Mama kita,” kata Lulu terus melangkah menuju ke mobil Hidayat.

Saat Hidayat memarkirkan mobilnya, di depan telah ada mobil Ang Mei. Hidayat dan Lulu masuk ke rumah. Ang Mei duduk di kursi dekat pintu kamar Lulu, dengan meluruskan kakinya. Kelihatan dia lelah dan ngantuk.

“Hai Mei, kelihatannya kau mengantuk, kenapa tidak langsung saja tidur di kamarku. Nanti kalau ada telepon, aku akan bangunkan kau,” kata Lulu mendekat ke Ang Mei dan menyentuh tangannya.

“Tak payah lah biar aku di sini saja,” jawab Ang Mei sedikit kaget. Kalau Lulu dan Hidayat tidak selekas itu datangnya, Ang Mei sudah terlelap tidur. Sebelum terlelap, Ang Mei sebenarnya sedang membayangkan dirinya berjalan berduaan bergandengan tangan. Mereka bergandengan tangan. Mereka berjalan di jalan yang lurus, terang, tanpa bangunan, tanpa pepohonan. Ang Mei tidak tahu ke mana Hidayat akan membawanya. Terus jalan ke depan, lurus ke satu titik yang menyerupai matahari. Sinarnya sangat menyilaukan mata, tetapi Ang Mei tidak berusaha menutup matanya. Hidayat merangkul bahu Ang Mei, tetapi tiba-tiba datang mobil sedan dengan kap terbuka. Pengemudinya adalah Lulu. Betapa kagetnya Ang Mei ketika terbangun, yang menyentuh tangannya adalah Lulu. Ang Mei tak berani menatap mata Lulu, apalagi Hidayat yang juga berada di depannya. Walaupun sepintas lelap itu datang, dan bayangan dekapan Hidayat hanya mimpi, Ang Mei merasa gembira juga.

“Ada apa Mei, kelihatannya kau senyum-senyum terus ?”

“Ah, kau ini bisa-bisa saja, Lu. Aku memang mengantuk, karena kemarin malam aku dan mama sampai larut malam tidurnya.”

“Itu sebabnya aku menyarankan kau tidur saja di dalam. Atau kau mau mandi akan siapkan, bagaimana ?”

“Hm….. boleh juga lebih baik aku mandi saja,” ucap Ang Mei langsung berdiri dan masuk ke kamar Lulu.

“O ya, kau tunggu di sini dulu ya, Yat ? Aku mau menyiapkan handuk untuk Ang Mei,” kata Lulu pada Hidayat dan langsung mengikuti Ang Mei masuk ke kamarnya.

Pada saat mereka makan siang, telepon yang mereka tunggu-tunggu berdering. Lulu dan Ang Mei bersama-sama bangkit dan saling cepat menuju telepon. Ternyata yang lebih dulu memegang telepon adalah Ang Mei. Betapa kecewanya Ang Mei, karena yang menelpon adalah papanya Lulu.

“Lu, ini telepon dari Papamu,” ujar Ang Mei menyerahkan telepon ke Lulu.

Lama juga Lulu berdialog dengan papanya. Papanya lagi-lagi belum bisa pulang. Ketika didesak Lulu, ternyata papanya sedang berada di sebuah kapal pesiar menuju ke Christmas Island. Lulu mengabarkan juga kalau sekarang dia sedang menunggu telepon dari mama yang barangkali baru saja tiba di Bali. Lulu merasa sedih karena papanya tidak memberi reaksi atau menanyakan lebih jauh tentang kepergian mamanya ke Bali.

Baru saja Lulu menutup telepon, tiba-tiba telepon berdering kembali. Lulu tidak langsung mengangkatnya. Lulu berharap telepon kali ini dari mamanya. Ternyata dugaan Lulu benar. Dari bandara Ngurah Rai, mamanya benar-benar meneleponnya.

“Ma, bagaimana perjalanannya, melelahkan ?”

“Wah, nggak terasa, tau-tau sudah pengumuman pemasangan belt dan siap landing.”

“Mamanya Ang Mei bagaimana, apa juga baik-baik saja Ma ? Ini Ang Mei mau bicara,” kata Lulu memiringkan kepalanya ke kiri dan menekan telpon ke bahunya dan memanggil Ang Mei. Ang Mei pun berdialog dengan mamanya.

“Mei, Mama disambut sangat meriah. Kami bersama-sama rombongan orang asing lainnya, selain disambut tari-tarian, kami dikalungi bunga, hebat kan ?”

“Sehebat itu Ma?”

“Ya, sangat mengagumkan, Mama sangat terkesan, Mei, terkesan sekali.”

“Terus yang menjemput Mama, bagaimana ?”

“Baru saja mamanya Lulu mengangkat kertas namanya, seseorang sudah datang. Terus membantu mengangkat koper mama dan mengantar mama ke telepon ini.”

“Katakan terima kasih padanya Ma. Eh Ma, ini Hidayat mau bicara padanya,” Terus Ang Mei, menyerahkan telepon ke Hidayat.

“Wayan, aku minta tolong selama mereka di Bali, tolong kau temani, ya ?”

“Nggak masalah, aku akan mengantar mereka, membawa mereka keliling-keliling selama di Bali,”jawab  I Wayan.

“Terima kasih sebelumnya, terima kasih Wayan,” kata Hidayat terus mengembalikan telepon pada Lulu.

“Ma, kalau sampai di hotel, nanti telepon lagi, ya Ma ?” pinta Lulu manja.

Begitu duduk di dalam mobil, Nyonya Ong dan Nyonya Wong baru melepaskan kalungan bunga. I Wayan memacu mobilnya ke Sanur, menuju ke Hotel Bali Beach. Hotel ini sendiri puluhan tahun yang lalu sangat populer, karena satu-satunya yang termegah yang pernah dimiliki pemerintah. Masih berkaitan dengan Hotel Indonesia di Jakarta dan Samudera Beach di Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jawa Barat. Tetapi dengan dibangunnya kawasan Nusa Dua, diiringi hotel-hotel lain yang memiliki jaringan internasional, Bali Beach seakan pudar popularitasnya. Dua orang pelayan hotel secara serempak memberikan salam selamat datang pada Nyonya Ong dan Nyonya Wong. Petugas jaga, langsung memberikan kunci pada Wayan. Pihak hotel memberikan kamar 402. Tidak di suite room, tetapi cukup luas bagi Nyonya Ong dan Nyonya Wong. ** Bersambung…….

Back to top button