Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(30)

Halaman 146-150

 

“Cerita kita kian melebar ke mana-mana dan kian tak berujung. Perhatian kita kan tertuju pada permintaanmu untuk menghabiskan uang penjualan perahu motor, dan meminta Hidayat untuk tidak berhubungan lagi dengan puteri kita. Kalau begitu….., nah kebetulan itu mereka datang,” ujar Nyonya Wong melihat Hidayat dan Lulu menuju ke ruang belakang.

“Siapa ?” Kata Wong Chung Hwa melihat ke arah depan.

“Apakah kita bicarakan sekarang dengan mereka ? Apa tidak sebaiknya menunggu Kuo Wei datang ?” Tambahnya terus berdiri.

“Sudahlah, kau jangan ke mana-mana dulu, duduk saja di sini, dan kita suruh mereka duduk di depan kita. Aku mohon, jaga emosimu,” pinta Nyonya Wong mencoba menahan suaminya.

Begitu Hidayat dan Lulu sampai rumah, Maimunah memberitahukan kalau di belakang ada tuan Wong. Hidayat ragu untuk masuk, tetapi Lulu memaksa Hidayat, bahkan Lulu menarik tangan Hidayat. Hidayat membayangkan, orang suruhannya saja, seperti Paman Kuo sudah galak, bagaimana yang menyuruhnya ? Tetapi Lulu terus memegang erat tangan Hidayat, sehingga ketika tiba di ruang belakang, mereka berdua sedang bergandengan. Melihat adegan itu, tersirap darah Wong Chung Hwa. Dalam hatinya, berani benar orang asing ini merangkul puterinya di depan matanya. Kalau tidak ditahan isterinya, sebenarnya dia akan menghampiri Hidayat. Berulangkali isterinya memintanya untuk tetap duduk.

“Di depan ini saja kalian duduk,” titah Nyonya Wong pada puterinya dan Hidayat.

Hidayat coba mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Tetapi Wong Chung Hwa tidak menyambutnya. Dia diam saja sembari memandang sinis kepada Hidayat.

“Sambutlah Wong, inilah yang namanya Hidayat,” ujar Nyonya pada suaminya yang masih belum menyambut tangan Hidayat.

“Pa, orang mau kenalan, kenapa tidak diterima, ayolah Pa,” bujuk Lulu menghampiri papanya.

”Tu, kasihan Hidayat dari tadi berdiri mengulurkan tangannya untuk papa,” lanjut Lulu memegang bahu papanya. Didesak puterinya, Wong tidak berbuat apa-apa, kecuali memenuhi permintaan puterinya. Wong coba berdiri menyambut tangan Hidayat.

“Yah, duduklah,” kata Wong menyambut tangan Hidayat.

“Nah begitulah. Eh, Ma, kelihatannya papa agak kurus ya Ma ? Dan…………..”

“Dan kalian akan mengatakan kalau aku ini, jorok kan ? Akh. Sudahlah ! Ini masalah lelaki satu ini, apa tidak bisa kita beritahukan soal aturan rumah ini ?”

“Ingat Wong, dia punya nama.” tandas Nyonya Wong mengingatkan suaminya yang belum bisa menerima Hidayat.

“Siapapun dia, tidak sembarangan bisa membawa anak orang kan ? Kalian sudah membiarkan orang asing memasuki rumah ini. Tanpa aturan, tanpa adat istiadat, dan tidak sopan lagi.” ketus Wong Chung Hwa.

“Tidak sopan bagaimana ?” Tanya Nyonya Wong memandang ke arah suaminya.

“Iya, tidak sopan bagaimana Pa ?” Tambah Lulu.

“lnilah akibat dari salah urus. Katanya sekolah tinggi, tetapi adat istiadat tidak dijunjung tinggi, akibatnya seperti ini. Aku dikeroyok oleh isteri dan puteriku sendiri, permainanku berantakan, aduh pusinglah aku !”

“Maksudnya apa ini Wong ?” Tanya Nyonya Wong keheranan melihat tingkah suaminya yang terus marah tidak bersahabat dengan Hidayat.

“Maksudnya apa, maksudnya apa ! Apa kau tidak lihat tadi dia masuk ke ruangan ini bergandengan tangan dengan puteri kita. Selamat sore atau apalah. Coba, begitu lama aku tidak bertemu dengan puteri kita ia bisa lebih mesra dengan orang lain dari pada aku yang jelas-jelas papanya.”

“Oh, jadi kau cemburu, kalau puterimu bisa manja dengan orang lain, tetapi tidak manja denganmu, begitu maksudmu ?”

“Apalah namanya, yang penting permintaanku yang tadi itu. Kalau Kuo Wei datang, kami berangkat, dan lelaki ini jangan menutup rejekiku. Aku rasa itu dululah, aku mau istirahat, mau tidur, dan tolong jangan ganggu aku,” tegas Wong Chung Hwa seraya berdiri dan melangkah menuju ke tangga.

“Kalau Kuo Wei datang, Bangunkan aku “ kata Wong tanpa memperdulikan isteri, puterinya, dan Hidayat yang masih tercengang melihat tingkah Wong Chung Hwa. Tidak sepatah pun Hidayat dapat membela dirinya. Sebenarnya dia akan mengatakan kalau dia mencintai Lulu, tetapi mulutnya seakan tertutup rapat. Ingin rasanya dia mengatakan sesuatu, tetapi dipandangnya Nyonya Wong. Wanita yang memberikan kesejukan pada dirinya, dari penjelmaan figur ibu yang didambakannya selama ini. Kesopanan dan adat istiadat apa yang telah dilanggarnya. Dan aku dituduh menutup rejekinya, rejeki apa ? Hidayat menundukkan kepalanya. Tuduhan yang tidak beralasan itu akan dibantahnya, tetapi Wong Chung Hwa keburu pergi. Pergi untuk istirahat ke kamarnya di atas, dan akan tidur. Sungguh luar biasa. Seakan kejadian yang barusan terjadi tidak mengganggu pikirannya, dan dia dengan tenang bisa tidur ?”Sudahlah Dayat, jangan terlalu kau pikirkan. Lebih baik kita keluar, biar dia istirahat dulu. Siapa tahu kita datang nanti, pikirannya sudah tenang, kita bisa ajak dia berbicara baik-baik lagi. Ayo, Lu, kau siap-siap. Kalian tidak keberatan aku ikut kan ?”

“Dengan senang hati. Sebenarnya. sudah lama aku ingin mengajak Mama makan di restoran Tambuah Mas. Restoran Indonesia, yang khas bernuansa Padang.”

“Yang di Tanglin Shopping Centre atau yang di Shaw Centre ?” Tanya Lulu.

“Terserah Ibu saja lah. Dua-duanya sama. Yang satu di lantai 4, yang satu di lantai 5, dan jaraknya juga tidak berjauhan,” jawab Hidayat.

“Sudah, aku saja yang memutuskannya. Kita yang di Shaw Centre saja, oke ?”

Akhirnya mereka bertiga meninggalkan kawasan Victoria Street menuju ke daerah Orchard Road, tepatnya di Shaw Centre, di Scotts Road, berseberangan dengan Hotel Marriot.

Nama restoran Tambuah Mas, di Singapura cukup terkenal. Tidak saja bagi warga Indonesia yang menetap di Singapura. Bagi warga Singapura pun, restoran khas bernuansa Indonesia ini, cukup terkenal. Wisatawan asal Indonesia, yang tidak biasa dengan masakan luar, restoran yang satu ini dapat menjadi alternatif utama. Letaknya yang sangat strategis di antara kawasan elit Orchard Road, dan Scotts Road, ditambah dengan perpaduan pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, dan perhotelan. Restoran ini tidak pernah sepi dari pengunjung ini, sengaja dipilih Hidayat untuk dibanggakannya pada Nyonya Wong dan Lulu. Suatu restoran yang dapat bersaing di tengah masyarakat Singapura yang mayoritas etnis Cina. Atau di tengah persaingan mulai dari restoran Cina, India, Eropa, Jepang, Amerika, Australia, Korea, sampai ke restoran bernuansa Afrika yang ada di daerah Science Park Road, dengan nama African Heartbeat.

Setelah bersama-sama menikmati masakan khas Tambuah Mas yang terletak di Shaw Centre, Hidayat sebenarnya ingin mengajak Nyonya Wong dan Lulu ke tempat tinggalnya. Tetapi Nyonya Wong dengan halus menolaknya. Alasannya, dia takut suaminya buru-buru berangkat, tidak bertemu lagi dengannya.

“Mama minta maaf. Lain kali pasti mama akan singgah ke tempat tinggalmu. Tetapi kalau Lulu mau main-main ke sana, silahkan saja. Biar mama pulang ya, naik taksi saja,” ujar Nyonya Wong melirik ke arah Lulu.

“Tidak usah lah Bu, nanti terlalu malam. Apalagi di rumah kan ada Bapak. Apa kata beliau nanti, kalau dilihatnya Ibu pulang tidak bersama Lulu. Wah, bisa bertambah ramai nantinya, dan ujung-ujungnya Ibu juga yang kena getahnya.”

“Kalau begitu, biar kami pulang naik taksi saja, ya ?” Usul Nyonya pada Hidayat.

“Iya Ma, kita pulang naik taksi saja lah. Kasihan kan Hidayat pulang pergi terus,” tambah Lulu menyetujui usulan Mamanya.

“Saya jadi tidak enak hati ini. Sudah selayaknya, saya yang mengajak pergi, seharusnya pula sayalah yang mengantarkan pulang.”

“Tidak, tidak apa-apa. Kami justru mengucapkan terima kasih atas undangan makan yang barusan. Sungguh mengesankan,” kata Nyonya Wong, dan Lulu menganggukkan kepalanya, mendukung pernyataan Mamanya.

Nyonya Wong langsung masuk ke dalam taksi, ketika taksi yang distop Hidayat berhenti. Sementara Lulu terus berdiri di depan pintu taksi yang masih terbuka. Dipanggilnya Hidayat agar mendekati dirinya.

“Sebentar, ada yang ingin kubisikkan padamu,” kata Lulu membuka kedua tangannya lebar-lebar.

“Hus ! Itu ada Mama,” desah Hidayat, karena tiba-tiba Lulu memeluk erat dirinya.

“Tak apalah,” ujar Lulu terus memeluk Hidayat.

Semula Hidayat canggung juga, karena Nyonya Wong berada persis di belakang Lulu. Tetapi pelukan Lulu saat itu, dengan ciuman yang bertubi-tubi, kemudian terdengar isak tangis Lulu, Hidayat tak kuasa menahan perasaannya. Akhirnya dia pun membalas memeluk Lulu dan menciumnya. Ada perasaan yang begitu mendalam menyesakkan dadanya. Ada perasaan yang aneh, seakan Lulu sangat takut sekali kehilangan dirinya.

“Ada apa sayang ?” bisik Hidayat perlahan ke telinga Lulu.

“Aku takut kehilanganmu, jangan tinggalkan aku Dayat. Bila perlu, sekarang bawalah aku pergi, bawalah,” desak Lulu menggoyang-goyangkan tubuh Hidayat.

“Lho, lho, ada apa mi ? Memangnya aku mau pergi ke mana ? Aku kan masih di sini.”

“Tak tahulah, ada perasaan aneh melintas di benakku, kalau kau akan meninggalkan aku. Peluk, peluklah lagi aku Dayat,” pinta Lulu, ketika Hidayat mencoba melepaskan pelukannya, dan memandangnya. penuh tanda tanya.

Hidayat trenyuh melihat keseriusan Lulu. Dipeluknya kembali Lulu, dan Lulu demikian eratnya membalas memeluk. Lulu melepaskan pelukannya ketika Nyonya Wong menepuk punggungnya. Lulu memegang tangan Hidayat, sebelum masuk ke dalam taksi. Hidayat terpaku sejenak di pinggir jalan. Ditatapnya taksi yang membawa Nyonya Wong dan Lulu, sampai jauh. Ditatapnya gedung-gedung pencakar langit, yang dihiasi gemerlapnya lampu yang berwarna-warni. Pertanda apa semua ini ?

Beberapa jam yang lalu, debar jantungnya juga demikian kencang, dan mengalami apa yang barusan dirasakannya. Pada saat mengantar Ang Mei, anehnya Ang Mei meminta agar dirinya mengantarnya ke dalam rumah. Alasannya, Mamanya ingin bertemu denganku. Betapa kagetnya Hidayat, begitu berada di ruang tamu, tanpa malu dan sungkan, Ang Mei tiba-tiba memeluk dan menciumnya. Dengan teregah-engah Ang Mei mengatakan, bahwa dia juga sangat mencintai Hidayat. Terakhir, dengan meneteskan air mata, Ang Mei menatap lama wajah Hidayat. Kemudian Hidayat dirangkulnya kembali.

“Jangan tinggalkan aku Dayat. Maafkanlah kalau selama ini, aku pun mencintaimu. Kau tidak marah, kan ?” Kata Ang Mei terus melingkarkan kedua tangannya ke leher Hidayat.

“Tidak, aku tidak marah, tetapi coba mengertilah, di luar sana Lulu menungguku. Apa katanya nanti kalau aku terlalu lama di sini,” jawab Hidayat sedikit gugup.

“Aku kan sudah mengatakan tadi, kalau Mama ingin bertemu denganmu.”

“Iya, tetapi…………”

“Sudahlah, kalau begitu, ciumlah aku,” pinta Ang Mei terus menangis.

“Oke lah, aku pergi dulu, ya !” kata Hidayat mencium pipi Ang Mei, kemudian memutar badannya menuju keluar. Tetapi Ang Mei memeluknya kembali dari belakang dan terus melangkah. Ang Mei baru melepaskan pelukannya begitu sampai di depan pintu.

Pada saat Hidayat masuk mobil, Lulu tidak menanyakan tentang pertemuan Hidayat dengan keluarga Ang Mei. Tidak ada kecurigaan di hati Lulu terhadap Hidayat maupun sahabat dekatnya Ang Mei. Berbeda dengan Hidayat, dia tidak berani menatap wajah Lulu. Dikuatkan hatinya yang sedang berkecamuuk. Apakah ini pengkhianatan ?

“Hei, kau memikirkan apa ?” sapa Lulu menepuk tangan Hidayat.

“Maaf, maaf, Lu. Aku tiba-tiba ingat dengan, orang tua dan adik-adikku,” jawab Hidayat tersentak dan lamunannya.

“Besok Jangan lupa ! Jemput aku, ya Sayang. Awas ! Jangan sampai lupa.”

“Don’t worry, aku pasti datang lah “ ujar Hidayat seraya mengecup pipi Lulu

“Walaupun ada papa di rumah, masuk sajalah, jangan takut, kan ada mama.”

Serombongan turis melintas di dekat Hidayat. Hidayat tersentak. Dia berjalan menuju ke tempat parkir. Hidayat kembali termenung di dalam mobilnya. Wanita petugas parkir mendekat ke mobilnya. Hidayat menurunkan kaca jendela mobilnya. Wanita itu menyerahkan karcis parkir dan Hidayat membayarnya. Padahal, kalau wanita petugas parkir tidak datang, dia ingin berdiam diri di dalam mobil. Akhirnya, Hidayat memutuskan untuk pulang saja ke kediamannya. Betapa kagetnya Hidayat, ketika memasuki halaman, ada orang yang mengejarnya dari belakang, dan menghampirinya. Hidayat buru-buru memarkir mobilnya, dan terus turun.

“Ada apa ini, Pak ?” Kata Hidayat tergugup-gugup.

“Itu Pak, Bapak-bapak dari kedutaan dari tadi menunggu Bapak”

“Wah, ada apa ya ?”

“Sebaiknya, Bapak ke dalam sajalah.”

Begitu Hidayat masuk ke ruang tamu, salah seorang dari Staf Kedutaan berdiri, dan menghampiri Hidayat. Dengan sangat perlahan, dia menyampaikan pada Hidayat.

“Ada amanat penting dari Jakarta, yang harus kami sampaikan pada adik.”

“Iya, ada apa ? Katakanlah Pak, ada apa ini ?”

“Kebetulan ada pesawat kenegaraan yang singgah, dan akan kembali ke Jakarta sekitar satu jam lagi, kalau bisa adik bersiap-siap karena kami sudah mendapat ijin.”

“Tetapi masalahnya apa dulu, kenapa saya harus pulang saat ini juga. Pasti ada berita……”

“Benar Dik, ada berita duka yang harus kami sampaikan. Kurang lebih satu jam yang lalu, kami menerima telepon dari Jakarta, bahwasanya Ayah Adik, meninggal dunia.”

“Papa meninggal ? Innalillahi wainnailaihi……”

Hidayat tidak sanggup lagi meneruskan ucapan do’anya, karena keburu jatuh. Serentak orang-orang yang ada di ruang tamu mendekap Hidayat, agar tidak jatuh ke lantai. Hidayat ditidurkan di kursi. Tidak berapa lama, Hidayat siuman kembali. Orang-orang pun bergantian mengucapkan duka cita pada Hidayat, dengan pelukan kasih sayang.

“Dik, kita tidak punya waktu, siap-siaplah. Kami bertugas mengantarkan adik ke bandara.”

“ Saya sudah siap, Pak.”

“ Apakah adik tidak membawa sesuatu atau menghubungi seseorang ?”

“Tidak, kita berangkat saja sekarang,” tegas Hidayat tidak sabar ingin segera berangkat

Dengan fasilitas diplomat, apalagi diantar dua staf kedutaan, perjalanan Hidayat sampai ke dalam pesawat berjalan lancar. Hidayat menitipkan kunci kamar dan mobilnya pada staf kedutaan yang memang dikenalnya. Di Bandara Soekarno-Hatta, pihak keluarganya telah menunggu. Mereka langsung menuju ke rumah duka. Setelah memeluk Mama dan adik-adiknya. Hidayat langsung membuka kerudung penutup wajah papanya. Hidayat tak kuasa membendung air matanya. Dikecupnya perlahan kening papanya. Kumandang ayat-ayat suci Al Qur’an memenuhi ruangan. Hidayat tidak sempat menanyakan apa penyebab papanya meninggal dunia. Mama dan saudara-saudara yang hadir, seakan menutup-nutupinya. Hidayat merasakan hal itu. Dia yakin ada yang dirahasiakan. Hidayat sendiri tidak mencari tahu, karena dia ingin membaca Surat Yassin. Tepat pukul 09.00 WIB, perwakilan dari departemen memberikan sambutan pelepasan. Satu persatu kendaraan yang mengiringi kepergian orang tua Hidayat ke pemakaman keluarga di Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Pihak departemen tadinya menginginkan upacara pemakaman di Jakarta. Tetapi pihak keluarga, khususnya permintaan sang isteri, almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga. Namun tidak mengurangi banyaknya orang untuk turut mengantarkan sampai ke Desa Argapura. Begitu sampai di Jakarta, para pelayat masih berdatangan, untuk mengucapkan belasungkawa.

Hidayat mengurung diri di dalam kamar. Dicobanya menyetel TV. Betapa kagetnya Hidayat, ketika menyaksikan berita sore. Hampir-hampir dia tidak percaya. kalau penyiar wanita yang sedang membaca berita pemakaman papanya. Tetapi yang mengejutkan Hidayat, ketika penyiar menyampaikan bahwa pada saat kematian di salah satu villa di kawasan puncak, didapati bahwa sang pejabat sedang berduaan dengan seorang wanita muda, yang diduga merupakan wanita simpanan. **Bersambung…..

Back to top button