Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(33)

Halaman 161-165

“Kalau begitu, aku juga akan mencoba akh…..” Sambut Ang Mei langsung mengambil rokok yang diletakkan Lulu di atas meja. Seperti apa yang dialami Lulu, Ang Mei juga terbatuk-batuk ketika pertama kali menghisap rokoknya.

“Huh, kalian ini telah membuat aku bingung saja. Aku tidak menjamin kalau papa-papa kalian nanti akan marah atau tidak, Kalau melihat tingkah kalian seperti ini. Menurutku, kalau kalian belum punya penghasilan sendiri, janganlah merokok.”

“Penghasilan sendiri ? We, itu artinya kita harus kerja Mei, ya kita harus kerja.” Ujar Lulu gembira.

“Kalian mau kerja apa ?” Terus kuliahmu bagaimana, Lu ?”

“Mudah lah, dua-duanya kan bisa jalan. Aku akan kerja sambil kuliah, no problem lah. Hitung-hitung aku mengobati hati yang sedang hancur. Ya Wo shi cuilek !”

“Kelihatannya asyik juga Lu kalau kita kerja. Bagaimana kalau besok pagi kita ke bursa tenaga kerja, siapa tahu ada yang cocok untuk kita, oke ?” Kata Ang Mei langsung berdiri dan langsung pamitan pada Nyonya Wong dan Lulu.

“Oke lah. Aku tunggu kau besok di sini ya ? Thank you, lah, atas informasinya.”

“Ma, masalah kasus yang menimpa orang tua Hidayat, kalau bisa papa jangan sampai tahu, Ma. Biarkan papa hanya tahu bahwa Hidayat tidak berhubungan lagi dengan Lulu,” rayu Lulu pada mamanya.

“Masalah kerja tadi, kamu serius, Lu ?” ungkap Nyonya Wong seraya memeluk puterinya yang sedang berduka.

“Lulu serius Ma ! Mama tahu sendiri kan, baru saja Lulu mencintai seseorang, sekarang Lulu tidak tahu dia ada di mana. Pikiran Lulu lagi kacau Ma. Di satu sisi Lulu sangat sayangkan Hidayat, tetapi pada sisi lain, Lulu sangat kesal kenapa sampai terjerumus begitu jauh dengan obat-obat terlarang. Kalau dia punya masalah, kenapa sih tidak mengadu pada Lulu ? Apakah Lulu tidak dianggapnya, Ma ?”

“Bukan dia tidak menganggapmu, Lu. Lulu kan tahu, dari kecil dia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Itu artinya, dia sangat tergantung pada orang tuanya, khususnya papanya. Jadi, begitu papanya meninggal, apalagi didapati sedang berduaan dengan isteri simpanannya, kemudian diindikasikan korupsi, dimuat di berbagai media, tentunya itu dirasakan sangat berat dirasakannya. Itu yang harus dapat kau fahami, Lu.”

“Lulu tidak tahu lah ma, semua begitu cepatnya berlalu. Lulu harus cari kesibukan, Ma. Mama bantu Lulu ya, kalau papa sampai tahu Lulu kerja. Lulu percaya mama dapat melakukannya.”

“Ya, mama akan usahakan. Sekarang, kau tidurlah,” bisik Nyonya Wong pada Lulu. Dibelainya rambut Lulu, dipeluk, dan diciuminya. Kemudian mereka berdiri bersama. Lulu melangkah ke kamarnya dan Nyonya Wong menapaki tangga menuju ke kamarnya.

Sejak 1985, Singapore Tourist Promotion Board (Badan Promosi Pariwisata Singapura) atau yang biasa disingkat STPB, setiap tahunnya menyelenggarakan Tourism Awards. Setiap penyelenggaraannya selalu saja menarik perhatian tidak saja bagi warga Singapura yang bergerak di bidang pariwisata, tetapi menarik perhatian masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara. Pada penyelenggaraan tahun ke-11 kali ini pun, panitia penyelenggaraan Tourism Awards, demikian gencar mempromosikannya. Tidak saja di surat-surat kabar, majalah, radio, TV, brosur-brosur, spanduk, tetapi ada juga baliho di beberapa tempat yang strategis. Gaungnya sangat terasa di mana-mana. Pada saat sarapan pagi, diselingi asap rokok yang mengepul ke udara, Lulu mendapatkan inspirasi “Kalau Ang Mei datang nanti, aku akan mengajaknya untuk mendaftarkan diri ke pihak penyelenggara,” desah Lulu seraya menengadahkan kepalanya menatap ke langit-langit, dan menghembuskan semua asap rokok yang ada di mulutnya. Saking asyiknya, Lulu tidak menyadari, kalau Ang Mei sudah berdiri di depannya.

“Ho, ho, ho begitu nikmatnya kau merokok Lu, sampai aku berdiri di depanmu pun kau tidak tahu. Bukan main ! aku jadi ingin juga merokok, akh,” ujar Ang Mei langsung mengambil bungkus rokok yang ada di meja, dan duduk berhadapan dengan Lulu. Diambilnya sebatang, kemudian disulutnya.

“Kau ini benar-benar membuatku terkejut, Mei !”

“Sorry, Sorry Lu. Habisnya, sejak aku masuk tadi, aku perhatikan, sepertinya kau sedang melamun. Kau masih memikirkan dia ?”

“Dia siapa ? Maksudmu, Hidayat ?”

“Ya, Hidayat lah. Tidak mungkin lah aku menyebut lelaki lain atau barangkali….”

“Sudahlah, forget it ! naik darahku kalau mendengar nama itu.”

“Separah itukah ? Hebat, hebat sekali kalau kau dapat melakukan itu, Lulu.”

“Terus aku harus berbuat apa ? Sudahlah ! Hei, Mei, aku ada ide, bagaimana kalau kita bekerja di bidang pariwisata, kau setuju ?”

“Maksudmu, kita menjadi pegawai negara ?”

“Ya, tidak lah. Kita akan mendaftarkan diri ke panitia penyelenggara Tourism Awards. Terserah mereka, kita mau ditempatkan di mana. Yang penting kita di terima. Sepertinya, kegiatannya banyak dan mengasyikkan sekali,” ungkap Lulu tentang idenya.

“Kalau itu keputusanmu, aku setuju-setuju saja. Apa salahnya kita coba. Namanya, juga usaha, iya kan ? Nah, terus, kau tahu nggak di mana kita harus mendaftar.”

“Di kantor STPB lah. Habis mau di mana lagi, kau ini ada-ada saja.”

“Kantor STPB kan banyak di sini. Yang dekat juga ada, itu Raffles Hotel, iya kan ?”

“Benar. Tetapi bagaimana kalau kita ke Cuscaden Road. Aku kira, pusatnya di sana, atau minimal kita tahu informasinya.”

“Kita berangkatnya, sekarang ?”

“Ya sekarang lah. Habis kita mau menunggu siapa lagi ?”

“Siapa tahu, kau akan meminta ijin dulu pada mamamu.”

“Oh, jangan ! Kita jangan memberitahukannya, nanti tidak surprise. Kalau bisa, kita akan membuat kejutan untuk orang tua kita. Oh, ya, aku hampir lupa apa kau sudah sarapan ?”

“Sudahlah. Kalau aku sarapan dan masih menyuruh Munah menyiapkannya, keburu bibi bangun, tentu gagallah rencana kita membuat kejutan. Ayolah kita pergi saja.”

“Ayo ! Nanti di depan aku akan menyampaikan pada Munah, kalau kita jalan-jalan sekalian coba-coba cari kerja,” kata Lulu berdiri dan terus melangkah menuju ke luar rumah.

“Mau cari kerja, non ? Apa Munah tidak salah, non ?”

“Tidak Munah, tidak. Kau tidak salah, memang aku dan Ang Mei, ingin cari kerja. Oke, jangan lupa sampaikan pada mama, pesanku tadi.”

Di sudut Cuscaden Road, yang di seberang depannya terdapat Traders Hotel, dan di samping sudut kiri terdapat Omni Marco Polo Hotel, terbaca jelas STPB. Kantornya terletak di lantai dasar. Seseorang menerima kehadiran Lulu dan Ang Mei, kemudian mengenalkannya pada pimpinan mereka. Semula, pihak panitia menolaknya, tetapi Lulu dan Ang Mei tetap ingin membantu. Bahkan Lulu dan Ang Mei bersedia menjadi tenaga sukarela, selama berlangsungnya penyelenggaraan Tourism Award. Karena kegigihan dan keseriusan Lulu dan Ang Mei, pihak panitia akhirnya menerima mereka berdua. Berbagai buku, majalah, brosur yang merupakan official guide, diberikan pada Lulu dan Ang Mei. Selanjutnya, pada saatnya nanti, mereka akan mendapatkan pelatihan dan berbagai fasilitas, termasuk tanda pengenal. Setelah mendapat kepastian diterima, akhirnya Lulu dan Ang Mei kembali ke rumah Lulu. Sebelum meninggalkan kantor STPB, Lulu dan Ang Mei berkenalan dengan Rukiyah binti Somad. Seorang gadis Melayu kelahiran Singapura yang seusia dengan Lulu dan Ang Mei. Rukiyah memang baru awal tahun bekerja di STPB, tetapi dia rajin dan gesit dalam bekerja. Rukiyah banyak membantu melayani keperluan Lulu dan Ang Mei. Memang ketiganya baru berkenalan, tetapi kelihatan mereka cepat akrab. Sehingga salah seorang pimpinan STPB mempercayakan pada Rukiyah, untuk nantinya melatih Lulu dan Ang Mei.

“Terima kasih, anda begitu baik pada kami,” kata Lulu pada Rukiyah.

“Tak apa, itu Sudahlah tugas saya. Kalian kan diterima, nantinya kita akan selalu bersama-sama,” balas Rukiyah ramah.

Di sepanjang jalan menuju Victoria Street, Lulu mencoba membuka-buka buku yang dibawanya. Dia penasaran, kategori apa saja yang diperlombakan dalam Tourism Award. Pada formulir dengan judul Honoring the Stars of Tourism, terdapat sembilan kategori. Diantaranya,  Tourism Host of the Year, Best Dining Experience, Leisure Attraction of the Year, Night of the Year, Best Shopping Experience, Travel Article of the Year, Travel Agency of the Year dan Most Innovative Linked Product. Lulu memeluk erat buku-buku, majalah dan brosur yang barusan diterimanya dari STPB.

“Akhirnya kita diterima juga Mei. Dan itu artinya, sejak besok dan seterusnya, kita akan sibuk berkeliling dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu tempat wisata ke tempat lainnya, dan akh. Pokoknya kita sibuklah.”

“Benar Lu, kita akan disibukkan tugas-tugas kita yang selama ini tidak pernah dibayangkan. Sudah saatnya kita membiasakan diri berkomunikasi, berhubungan dengan komunitas yang berbeda. Semua ini bukan untuk kepentingan bangsa dan negara kita. Iya tidak, Lulu.”

“Wah, wah, wah, ternyata kau hebat juga Mei. Aku tidak menyangka pola pikirmu sampai sejauh itu. Masak sih Mei, untuk kepentingan bangsa dan negara orang tua kita tidak menyetujuinya.”

“Itu dia, Lulu. Kalau orang tuaku, aku yakin akan memberikan ijin, karena aku memang tidak punya kegiatan. Tetapi kau berbeda Lulu, kau masih kuliah. Aku rasa, itu persoalannya.”

“Aku akan meminta dukungan mama. Itu satu-satunya jalan bagiku. Oke lah Mei, sampai bertemu besok. Nanti, kalau aku bisa meyakinkan mama dan direstuinya, aku akan meneleponmu. Oh ya, kau tidak turun dulu ?” Tanya Lulu pada Ang Mei ketika tiba di depan rumah Lulu.

Nyonya Wong sedang membaca buku di ruang belakang. Dengan perlahan-lahan, Lulu mendekatinya. Dengan tiba-tiba, Lulu memeluk dari belakang dan langsung menciumi mamanya. Nyonya Wong terkejut, sehingga buku yang sedang dibacanya terpelental.

“He, he, he, ada apa ini kau kelihatannya begitu gembira. Tadi perginya murung, sekarang begitu gembiranya.”

“Mama lihat semua ini ? Inilah awal dari kesibukan Lulu nantinya,” jelas Lulu seraya meletakkan buku, majalah, dan brosur-brosur yang tadi didapatnya di STPB.

“Terus, apa hubungannya ini semua dengan apa tadi ? A..a..a.. kesibukan, ya kesibukan yang barusan kau katakan mama tidak mengerti, coba kau jelaskan satu persatu, dan kau sebaiknya duduk dulu lah.”

“Lulu akan membantu panitia penyelenggara Tourism Award tahun ini, Ma. Lulu dan Ang Mei sudah diterima bekerja di sana. Pokoknya mengasyikan lah. Mama harus membantu Lulu untuk mengatakannya pada papa.”

“Tentu, tentu mama akan membantumu. Bahkan mama akan mengatakannya pada papamu sekarang juga.”

“Sekarang, Ma?”

“Itu papamu turun,” kata Nyonya Wong menunjuk ke arah tangga.

“Nah, sekarang kalian percaya kan, apa yang aku katakan dulu ? Si Hidayat itu, memang memiliki gelombang hitam, yang tidak saja menghancurkan aku, tetapi juga orang tuanya. Karena itu, aku tidak terkejut, orang tuanya meninggal, dan artinya tidak ada lagi yang membiayainya sekolah di Singapura ini,” kata Wong Chung Hwa mendekati isterinya dan duduk di sebelahnya.

“Wong, sudahlah, lupakan cerita itu semua ! Apa yang kami bicarakan saat ini, tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang barusan kau katakan. Itu, coba lihat puterimu itu. Begitu tegar, dan hebatnya dia Wong. Dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan, tetapi dia bangkit dan sekarang sudah diterima kerja di kepariwisataan.”

“Kerja apa itu ? Terus, kuliahmu sendiri, bagaimana ?

“Baru tenaga sukarela, Pa. Aku dan Ang Mei diterima di lembaga promosi dan pariwisata Singapura. Artinya kami bergerak di bidang kepariwisataan negara dan untuk kuliah, Lulu rasa tidak masalah. Percayalah Pa, Lulu akan tetap kuliah.”

“Selama itu tidak mengganggu kuliahmu, ya papa setuju-setuju saja kau kerja. Tetapi perlu kau tahu Lulu, walaupun kau satu-satunya wanita, papa banyak berharap darimu untuk nantinya mengelola perusahaan kita. Kokomu Chung Pha, orangnya pendiam, ya dia tidak cocoklah mengelola perusahaan. Papa dengar, malah setelah tamat nanti, dia merencanakan ingin menjadi dosen. Bukan begitu Cheng ?” Wong mengalihkan pertanyaan pada isterinya.

“Benar, keinginannya memang ingin menjadi dosen. Tetapi kau sendiri, bagaimana ? Apa kebiasaanmu, bisa berubah ?” Kembali Nyonya Wong bertanya pada suaminya.

“Aduh, jangan distop dulu lah. Aku baru saja menang. Kalian tahu, perahu motor yang sempat kugadaikan, sudah aku tebus. Itu artinya, aku sudah menyelamatkan salah satu harta kita. Hebat kan ?”

“Itu sih tidak hebat, karena kekalahanmu selama ini pun cukup banyak. Yang paling hebat menurutku, apabila kau berhenti bermain judi. Kita ini sudah tua Wong, marilah kita nikmati hari-hari tua kita, tanpa kegiatan seperti itu lagi. Betul kan Lu ?”

“Betul Ma, Lulu senang kalau melihat papa dan mama berduaan terus seperti ini. Lulu merasa bahagia ada di tengah-tengah papa dan mama.” Ujar Lulu terus berdiri mendekati kedua orang tuanya. Dirangkulnya erat-erat kedua orang tuanya. Diciuminya papa dan mamanya sambil menangis dan terus menangis. Akhirnya Nyonya Wong tidak dapat membendung air matanya. Dia juga turut menangis, kemudian berdiri, dipeluknya isteri dan puterinya yang semata wayang. Dengan lembut, diciuminya isteri dan puterinya. Mendengar suara isak tangis isteri dan puterinya, Wong Chung Hwa tidak sanggup lagi membendung curahan air matanya.

“Maafkanlah aku Cheng, aku benar-benar lupa diri selama ini. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi. Aku menyayangi kalian, aku….” Wong Chung Hwa tidak dapat meneruskan kata-katanya. Dia terus memeluk isteri dan puterinya lebih erat lagi.

“Percayalah Wong, kami tetap mencintaimu. Kami juga minta maaf kalau selama ini kurang memperhatikanmu. Kehangatan seperti ini sudah sejak lama kami nantikan, Wong. Jangan tinggalkan kami lagi,” bisik Nyonya Wong.

“Tidak, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi. Percayalah,” tegas Wong Chung Hwa meyakinkan isteri dan puterinya.

“Alhamdulillah,” desah Maimunah seraya menengadahkan wajahnya ke atas, dan disapunya perlahan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Maimunah sangat terharu melihat suatu peristiwa yang terjadi di depannya. Berulangkali Maimunah mengusap air matanya. Dia berharap, kehangatan, keharmonisan, dan kebahagiaan keluarga besar Wong Chung Hwa, terjalin erat selamanya. Sudah saatnya Nyonya Wong menikmati hasil dari ketabahan, kesabaran, perjuangan, dan pengabdiannya yang tulus untuk bersatu kembali dengan kekasih sekaligus suaminya. Suatu perjalanan dan penantian yang panjang dari kelembutan hati seorang wanita bernama Cheng Yuen Ma.

Betapa bahagianya Lulu merasakan pelukan papanya. Sampai seusianya sekarang, inilah pertama kali Lulu dipeluk, dibelai rambut, dan dicium keningnya oleh papanya. Lulu tidak dapat menggambarkan bagaimana kebahagiannya saat ini. ****Bersambung…..

Back to top button