Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(43)
Halaman 211-215

Sampai di dermaga Tsin Sha Tsui Timur, masing-masing pasangan saling berpelukan. Demikian pula Jefri dan Irene. Mereka bersandar pada pagar besi dermaga.
“Salam saya buat kakek dan nenek. Perhitungan saya, lima atau enam hari lagi, kita akan bertemu. Do’akan perjalanan kami lancar. Jaga dirimu baik-baik, ya,” kata Jefri mengubah posisi berdirinya untuk berhadapan dengan Irene. Dikecupnya perlahan kening Irene. Mendapat perlakuan yang demikian lembut dan sopan Irene langsung memeluk Jefri erat-erat.
“Pokoknya, kapanpun datang, cepat hubungi kami,” desah Irene yang terus menangis tersedu-sedu.
“Pasti, pasti Irene. Percayalah, Yang Chun dapat mengatur itu semuanya. Oke, ya, sampai bertemu kembali,” ujar Jefri melepas pelukannya, dengan perlahan menuruni anak tangga kemudian naik ke atas perahu motor yang sudah menunggu lama.
Tidak hanya Jefri, teman-temannya juga seakan berat untuk berpisah dengan pasangannya masing-masing. Di tengah keramaian dermaga Tsim Sha Tsui Timur, tidak ada yang sungkan, atau malu-malu saling berpelukan dan berciuman. Bahkan pasangan Udin, nekad mengantarkan sampai ke atas perahu. Hampir saja wanita itu jatuh ke laut. Apa yang dikatakan Yang Chun, ternyata bukan saja persiapan pemuatan barang, tetapi malah pekerja pelabuhan sudah sedemikian banyaknya bekerja. Dua kapal tongkang besar telah merapat pada dua sisi kapal, dengan menggunakan kran kanan dan kiri. Perahu motor yang kami tumpangi pun merapat pada tongkang besar sebelah kanan. Sesampainya di kapal, Kapten Martin langsung menyambut dengan penuh canda.
“Aku lihat wajah kalian semuanya cerah dan segar-segar,” kata Kapten Martin.
“Aku kira, tenaga mereka juga sangat fresh, iya kan Kapten Martin ?” Tambah Peter.
“Langsung sekarang kami terjun, Kapten Martin ?” sambut Udin mendekat ke Kapten Martin dan Mualim Satu, Peter.
“Oh, no, no, bagian kalian belum sekarang. Tetapi setelah ganti pakaian, kalau kalian ingin melihat-lihat atau ingin mengawasi para pekerja, silahkan saja. Bagian kerja kita tunggu saja perintahku,” ujar Peter.
“Oke Bos, kalau begitu kami ke kamar dulu,” kata Udin diikuti teman-temannya, termasuk Yang Chun dan Paman Wei.
Benar saja menjelang tengah malam setelah perahu tongkang pertama berangkat meninggalkan Ever Blue, datang perahu tongkang dengan ukuran yang lebih kecil merapat. Peter sibuk mengatur di mana barang-barang tersebut diletakkan. Sebagai Mualim Satu, kestabilan kapal merupakan tanggung jawabnya. Sehingga dia yang paling tahu di mana barang tersebut diletakkan. Sebagaimana awalnya, barang-barang yang khusus kali ini pun diatur secara hat-hati dan rapi. Bagi Jefri ataupun teman-temannya, tetap saja masih tanda tanya, karena tidak seorang pun di luar kelompok mereka yang memberitahukan apa isi karung yang berlapis bihun tersebut. Yang sudah pasti mereka ketahui, bahwa karung-karung tersebut sangat berat.
Pagi-pagi sekali, pihak syahbandar telah tiba di kapal. Di dalamnya terdapat juga petugas imigrasi, bea cukai, dan kesehatan. Tidak lama pemeriksaan baik barang-barang ataupun paspor. Semuanya berjalan dengan lancar. Sehingga tepat pukul 10.00, perlahan-lahan kapal meninggalkan kawasan Victoria. Kami sedang berkumpul di ruang makan, sedang menikmati nasi gorengnya Paman Wei. Mr. Chan perlahan masuk ke ruang makan.
“Din, tolong kau bagikan ini pada teman-temanmu. Termasuk Paman Wei dan Yang Chun. Di sana sudah ada namanya masing-masing, kau tinggal bagikan saja,” kata Mr. Chan pada Udin dan menyerahkan setumpuk amplop.
“Beres Bos, gampanglah aku mengaturnya,” jawab Udin langsung menerima setumpuk amplop dari Mr. Chan.
“Oke ya, aku tidak lama, ada urusan di atas,” ujar Mr. Chan melangkah meninggalkan ruang makan.
Ombak laut Cina Selatan kian meninggi. Posisi kapal kembali ke jalur pertama menuju Filipina. Jalur yang membelah gelombang yang terkadang tidak dapat mempertahankan posisi jalannya kapal. Pada saat giliran Jefri, pukul 4.00 sore, kemudi harus dipegang secara manual. Itu dilakukan Jefri dia harus meninggalkan anjungan bersama Peter.
“Ombak kali ini memang agak tinggi Jef, jadi kau agak repot juga, ya. Tetapi pulangnya nanti, aku kira tidak sebesar ini lagi. Perwira radio mengatakan, ada pergeseran arah angin dari Utara yang menyebabkan ombak kali ini agak tinggi. Hitung-hitung olah raga lah, Jef,” kata Peter mendekat ke arah Jefri yang siap-siap turun dari anjungan.
“Tidak apa-apa Chief. Saya senang dapat melakukan pekerjaan ini. Dengan demikian saya dapat menimba pengalaman. Bukankah saya harus mengalami segala musim ataupun cuaca. Saya menikmatinya, Chief.”
“Baguslah Jef. Kerja apa pun itu, kalau dapat menikmatinya, kau akan senang. Dengan demikian, kau tidak panik menghadapinya. Walaupun kau baru Jef, aku perhatikan kau cukup senang menjaga posisi kemudi. Itu permulaan yang baik.”
“Terima kasih, Chief, selamat malam,” tutur Jefri sedikit membungkukkan badannya dan terus melangkah, menuruni anak tangga menuju ke kamarnya.
Jefri mulai dapat menikmati sentuhan ombak untuk mengantarnya tidur. Semula dia tidak dapat membayangkan bagaimana orang dapat tidur dengan ayunan ombak yang tidak pernah terhenti. Kalau tidak tidur, berarti awak kapal tidak dapat istirahat, tidak istirahat, pastilah melelahkan. Kamu lelah, bagaimana awak kapal dapat bekerja ?
Ternyata itu hanya perasaan awak saja. Kini ayunan ombak, suara hempasan ombak yang deras pada lambung kapal, deru mesin, merupakan irama pengantar tidur. Posisi jaga Jefri juga posisi yang mengantar terbenamnya matahari dan menyambut matahari. Yaitu posisi jaga 4-8. Ketika Jefri sampai di anjungan pukul 04.00 pagi, dia terkejut, karena Peter sudah ada di sana. Di tangannya masih tergenggam gelas keramik yang berisi kopi panas. Kemudi dalam keadaan otomatis. Persis apa yang dikatakan Peter kemarin, bahwa ombak akan mereda. Jefri mengambil alat keker dan mencoba keluar dari ruang kemudi.
“Good morning, Chief,” sapa Jefri pada Peter.
“Morning, Jef. Bagaimana tidurmu, apakah kau bisa bermimpi ?”
“Ya, bisa Chief,” jawab Jefri agak gugup, karena Peter seakan tahu kalau tadi malam dia bermimpi.
“Tentunya mimpi dengan kekasihmu, kan ?”
“Kenapa Chief bisa menebak dengan tepat bahwa semalam aku bermimpi bertemu dengan kekasihku ?”
“Mudah, mudah saja, Jef. Semula aku hanya menduga-duga saja, tetapi kau menjawabnya dengan jujur. Aku senang dengan kepolosan dan kejujuranmu, Jef. Aku bangga punya kelasi sepertimu, Jef. Kau satu-satunya kelasi yang tidak minum alkohol dan tidak membawa wanitamu ke hotel.”
“Dari mana Chief tahu itu semua ?”
“Sudahlah Jef. Soal dari mana aku tahu, itu tidak penting, tetapi bagaimana selama kau di darat, aku tahu, dan aku respek padamu. Kau penuh perhatian, penuh kekeluargaan. Terutama, bagaimana kau memperlakukan Irene dan orang tuanya.
“Saya jadi malu Chief. Karena Chief tahu semua apa yang saya lakukan selama berlibur di darat.”
“Lupakan itu semua Jef. Bagaimana dengan mimpi tadi, kau keberatan menceritakannya padaku ?”
“Pada satu sisi aku bangga Chief, bahwa Azizah….”
“Azizah puteri Pak Hasan, orangnya Mr. Tan, kan ?”
“Soal itu juga Chief tahu ?”
“Kalau yang satu ini, Kapten Martin yang memberitahukannya.”
“Terus, terus Kapten cerita apa saja, Chief ?”
“Tidak, dia tidak banyak bercerita soal hubunganmu, hanya dia cerita, kalau Pak Hasan itu sekarang sedang sakit. Benar kan, Jef ?”
“Benar Chief. Saya sudah sangat dekat dengan Keluarga Azizah. Kecuali kakaknya yang polisi, yang kurang setuju saya berhubungan dengan adiknya.”
“Yang penting kan Azizahnya, Jef. Apalagi orang tuanya setuju, kenapa kau pusingkan kakaknya yang polisi itu ?”
“Justru yang polisi itu sangat berpengaruh dalam keluarga Azizah, Chief.”
“Terus, apakah ada hubungannya cerita itu dengan mimpimu, kemarin malam ?”
“Ada, Chief. Bahkan agak mengerikan.”
“Mengerikan bagaimana, Jef ?”
“Kakaknya ingin membunuhku. Dia telah menempelkan laras pistolnya di kepalaku. Untungnya, Azizah menghalangiku. Azizah malah meminta kakaknya untuk menembak saja kepalanya, sebelum meledakan kepalaku.”
“Wah menarik juga ceritamu, Jef. Tetapi kau perlu tahu, Jef. Singapura dan Hongkong itu, sama-sama anak didik Inggris. Jadi soal tertib hukum kepolisiannya sama-sama sangat disiplin, patuh aturan hukum. Jadi kau tidak perlu takut ancaman kakaknya Azizah. Itu ketakutan yang sangat berlebihan, Jef. Itu sebabnya terbawa mimpi.”
“Ya, mudah-mudahan itu hanya mimpi, Chief. Tetapi Azizah, akan meneruskan kuliahnya di Inggris, Chief. Saya khawatir, setelah Lulus, dia langsung bekerja dan menetap di sana. Itu artinya, dia tidak akan kembali lagi ke Singapura.”
“Apakah itu masih bagian dari mimpimu, Jef ?”
“Oh, tidak, tidak Chief, kalau soal kuliah, itu aku dengar langsung dari Azizah ketika aku meneleponnya beberapa hari yang lalu. Kalau soal kerja dan menetap di Inggris, hanya sebuah kekhawatiran.”
“Wow, bagus itu Jef. Kalau soal beasiswa, kau harus mendukungnya. Tidak mudah untuk mendapatkan beasiswa dan aku dapat memastikan Azizah itu orang pintar. Kalau soal kerja, dan terus menetap di sana, aku kira tidak mungkinlah. Kau beruntung dapat berkenalan dengannya Jef.”
“Berkenalan, yes ! Tetapi kalau untuk memilikinya aku masih ragu, Chief.”
“Yah, tetapi kau perlu memperjuangkannya, Jef. Kau harus…”
“Tetapi bagaimana mungkin aku bisa mengejarnya ke Inggris, Chief ?”
“Bisa, kenapa tidak ? Aku punya keluarga di sana. Aku sendiri, sampai saat ini masih mengantongi paspor Inggris. Aku belum memutuskan, apakah aku masuk ke Cina, atau memilih untuk meninggalkan Hong Kong.”
“Itu ada kaitannya dengan pengembalian Hongkong ke RRC, kan ?”
“Benar Jef. Aku belum dapat memperkirakan bagaimana Hongkong di tangan pemerintahan RRC. Tetapi, aku juga belum dapat membayangkan, kalau aku kelak benar-benar menjadi warga negara Inggris.”
“Bagaimana dengan isteri Chief sendiri ?”
“Orang tua, isteri, dan keluarga-keluargaku yang lain, menginginkan agar aku tetap bertahan di Hong Kong. Karena bagaimana pun kau kan tahu Jef, kalau di tubuh kami mengalir darah Cina, begitu pula dengan leluhur kami.
“Kalau anak-anak, bagaimana Chief ?”
“Anakku tertua, paling tahun ini juga selesai kuliahnya. Itupun, hampir setiap tiga bulan pulang, karena ibunya sangat mengkhawatirkannya. Sehingga, aku tidak yakin kalau dia akan menetap terus di Inggris. Tapi bagaimana dengan mimpimu tadi, Jef ?”
“Oh, aku kira Chief sudah lupa. Tetapi sudahlah Chief, mendengar cerita Chief barusan, aku lebih tertarik, karena bukan mimpi. Tetapi kenyataan. Kita cerita soal kenyataan saja lah Chief,” kata Jefri mengalihkan pembicaraan.
“Kalau soal kenyataan, bagaimana kalau kau ambilkan aku sextant. Aku mau melihat peredaran matahari yang baru muncul dan bintang-bintang yang masih tersisa di langit sana. Jangan-jangan posisi kapal kita berubah, Jef.”
“Siap Chief !” kata Jefri, langsung melangkah masuk ke ruang peta untuk mengambil sextant.
Setelah menyerahkan sextant, Jefri mengambil keker, coba keliling sekitar anjungan dan mengeker jauh ke depan, samping dan belakang kapal. Terlihat Peter sangat serius mengukur peredaran matahari. Dia memberikan catatan di buku notes. Setelah itu, dia masuk ke ruang peta. Kapal terus melaju dan Jefri merasa dialah orang yang paling bertanggung jawab menjaga lajur perjalanan menuju Filipina. Apalagi saat itu, hanya dia sendiri yang berada di anjungan. Sungguh membanggakan. Dia tidak pernah membayangkan, kalau dia dapat mengemudikan sebuah kapal niaga di tengah Laut Cina Selatan saat ini. Di tengah gelombang, di tengah keheningan laut yang saling kejar-mengejar, menampar haluan, menampar lambung dan menambah pengalamannya. Digantungkannya alat keker di lehernya, dihirupnya udara pagi dalam-dalam. Ditatapnya matahari yang baru muncul dari peraduannya. Merah, kuning menyala, menyeruak ke permukaan laut menerangi bumi, perlahan-lahan naik. Memancar, mewarnai laut biru yang tidak terbatas. Suatu lukisan alam yang sangat menakjubkan. Sentuhan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Seolah-olah Tuhan menyapa, menyampaikan selamat pagi, memberikan cahaya kehidupan, mengelus lembut angin pagi. Di belahan lain, Tuhan memberikan sinar bulan yang menyejukkan. Jefri benar-benar menikmati suasana pagi. Inilah cumbuan pagi, cumbuan seorang hamba yang jauh dari sanak keluarga, dan orang-orang tercinta. Cumbuan dahaga kesepian, kesendirian, dan kerinduan.
Sampai berapa lama ? Jefri tidak tahu. Yang tahu, di atas kertas, kontraknya satu tahun. Tetapi apakah itu akan berjalan selama itu ? Alam, dirinya dan bunyi perjanjian, hanya sekedar rencana. Mudah mengetahuinya. Sebagaimana uang yang ada padanya saat ini. Janganlah dalam hitungan kurs rupiah, dalam hitungan dollar Hongkong saja dia tidak tahu berapa banyak uangnya. Tetapi, itu pekerjaan yang mudah. Paling lama sepuluh menit, dia dapat menghitungnya. Tetapi soal kebesaran Illahi, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Bukankah dia bekerja untuk mencari uang dan pengalaman ? Tetapi kenapa sudah ada uang tidak pernah dihitungnya ? Tiba-tiba Jefri teringat Irene. Sampai di Hongkong nanti, aku akan mengajak Irene untuk mengantarkan aku ke bank. Tidak ada pengeluaran dari uang yang berulangkali didapatnya selama ini. Semuanya telah tersedia dengan baik. Kelompok kerja yang baik, demikian pula dengan perusahaan. Semuanya berjalan lancar dan baik. Terutama Yang Chun. Di kapal jabatannya memang pada level rendah, tetapi begitu sampai di darat, hampir semua crew, ataupun perusahaan, dia semua yang mengaturnya. Keramah-tamahannya membuat tidak ada yang menganggap sebagai bawahan, tetapi semua menganggapnya sebagai teman.
Selepas jaga, Jefri mencoba mau menghitung uang, tetapi diurungkannya. Dengan tanpa menghitung pun, dia yakin jumlah uangnya demikian banyaknya. Dia seakan tidak yakin kalau tumpukan uang itu adalah miliknya. Baginya, itu suatu jumlah yang menakjubkan untuk ukuran dirinya. Bagi orang lain, boleh saja uang sebanyak itu tidak berarti apa-apa, tapi bagi Jefri, uang sejumlah itu, barangkali dapat membangun rumah di kampung halamannya. Baru saja Jefri akan membaringkan dirinya, terdengar suara Yang Chun memanggilnya.
“Masuk saja Chun,” kata Jefri begitu melihat Yang Chun membuka pintu kamarnya.
“Apakah aku tidak mengganggu istirahatmu, Jef ?”
“Tidak Chun, kau boleh duduk di kursi itu, biar aku di ranjang ini saja.”
“Jef, nanti malam saat kapal bongkar, rencananya aku dan Paman Wei akan ke darat. Itu pun tidak lama, karena pihak agen kita yang memintanya. Sebenarnya, yang diminta itu Peter, tetapi kau tahu sendiri, ada barang yang perlu pengawasan khusus darinya. Jadi dia menugaskan aku. Dan aku minta Paman Wei menemaniku.”
“Sepertinya persoalannya sangat serius, Chun ?”
“Tidak juga Jef. Tahu sendiri lah, ini bukan Hong Kong, sehingga urusan bagi membagi agak berbeda. Tetapi agen kita di sini cukup piawai, sehingga tidak ada masalah. Begitu pihak pabean, imigrasi datang, aku dan Paman Wei ikut mereka ke darat.”
“Terus kita-kita tidak bisa ke darat, Chun ?”
“Sebenarnya, setelah kita dapat landing pass kita dapat saja turun, tetapi waktunya tidak banyak. Apalagi kita ada kesepakatan untuk tetap mengawasi pembongkaran barang-barang di kapal ini kan ? Hanya, perlu aku kasih bocoran, bahwa isteri dan puteri Kapten Martin, besok siang akan berkunjung ke kapal ini.
”***Bersambung…..







