Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di taman Merlion Singapura-(5)
Halaman 20-25

Selepas Maghrib, Ahmad mendesak Jefri untuk makan. Ahmad takut, kalau-kalau Jefri akan makan lagi di rumah Pak Hasan, akan sia-sialah masakannya.
“Jef, sebaiknya kau rasakan dulu masakanku hari ini. Coba sini kau lihat,” tawar Ahmad sambil membuka tudung saji di atas meja makan.
“Terima kasih, Mad. Tetapi, aku baru mau makan kalau kau temani aku makan di meja ini.”
“Te ta pi, Jef….”
“Ayolah, sini,” kata Jefri memotong pembicaraan Ahmad dan menarik kursi yang disiapkannya untuk Ahmad.
“Terima kasih, Jef.”
“Hei, harusnya aku yang mengucapkan terima kasih, bukan kau Mad.”
“Aku kira, kau tak mau makan kak sini lagi. Bukankah kau tu nak pergi ke rumah Pak Hasan sebentar lagi. Pastilah kau nak makan masakan si Azizah tu lagi. Tak iya, Jef ?”
“Huh ! Kau nak pancing aku lagi soal si Azizah tu Mad, nanti aku benar-benar tinggalkan meja ini, Mad !” Jefri berdiri pura-pura akan meninggalkan meja makan.
“Sorry lah Jef, aku cuma bercanda,” Ahmad mendekat dan memegang tangan Jefri.
“Habisnya kau tu terus cakapkan soal Azizah, aku bosan lah.”
“Hah ? Kau tu sudah bosankan Azizah ? Hei, Jef, nanti aku kasih tahu ke Azizah, bahwa kau tu sudah bosankan dia.”
“Bukan, bukan itu maksudku, Mad, tetapi….”
“Okey Jef, aku fahamlah. Sudahlah, sekarang mari kita santap makanan ini. Nanti kalau ngobrol terus, kasihan Pak Hasan menunggu terlalu lama,” ajak Ahmad mengingatkan Jefri tentang rencana pertemuannya dengan Pak Hasan.
Selepas makan, Jefri masuk kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah Pak Hasan. Di pintu sebelum keluar kamar, Jefri masih sempat mengucapkan salam pada Ahmad dan mengangkat tangannya. Sampai di lantai dua, begitu pintu lift terbuka dan keluar, Jefri melihat Pak Hasan sedang berada di beranda rumahnya. Dengan membungkukkan sedikit badannya, Jefri memberi salam pada Pak Hasan.
“Selamat malam Pak Hasan.”
“Malam, malam, Jef. Sini-sini silahkan duduk.”
“Terima kasih, Pak.”
“Oh ya, bagaimana, apa Kapten Martin sudah datang ?”
“Belum Pak. Tetapi saya sudah pesankan ke Ahmad, kalau dia datang nanti, Ahmad akan menelpon ke sini.”
“Baiklah kalau begitu. Berarti, kita masih bisa minum-minum dulu kan ? Dan maaf ni bapak masih pakai sarung,” ujar Pak Hasan langsung meninggikan suaranya menitah Azizah untuk membuatkan dua gelas kopi.
Azizah bergegas membuatkan dua gelas kopi untuk bapaknya dan tamu yang belum diketahuinya siapa. Seperti biasanya, Pak Hasan selalu saja ada tamu, dan biasanya kalau sudah kumpul dengan teman-temannya, bisa sampai larut malam. Kalau sudah demikian, tugas Azizah ataupun ibunya membuat kopi dan menyediakan makanan ringan. Setelah tugas Azizah ataupun ibunya, membuat kopi dan menyediakan makanan ringan. Setelah menyiapkan dua gelas kopi, Azizah menambahkan sepiring kue hasil buatannya sore tadi yang baru dicobanya dari majalah Menu Today. Kuenya kurang enak memang, tapi Azizah melihat, kalau tamu bapaknya adalah Jefri. Tetapi Jefri tidak melihatnya. Azizah buru-buru masuk lagi ke dalam. Ada perasaan ragu, malu, tetapi ingin bertemu. Namun Azizah tidak sampai hati memberikan kue buatannya yang rasanya agak kurang enak itu pada Jefri. Jefri harus spesial. Diletakkannya kembali baki yang dibawanya di atas meja. Jantungnya bergejolak kencang. Azizah tidak mengerti perasaan itu timbul begitu saja setiap menatap Jefri. Sejak berkenalan dengan pemuda asing itu perasaan aneh yang dirasakannya. Apakah ini yang dinamakan cinta pandangan pertama? Azizah juga tidak tahu. Seusianya, Azizah belum pernah dekat dengan pria. Banyak pria yang coba-coba mendekatinya, tetapi selalu saja tidak menarik perhatiannya. Kedua orang tuanya juga sangat berhati-hati kalau ada pria yang datang ke rumah. Tetapi dengan lelaki asing dari Indonesia ini, kedua orang tuanya sangat memberi perhatian. Tiba-tiba Azizah dikejutkan suara ibunya.
“Eh Zizah ! Tadi kau mak lihat mau mengantarkan minum ke depan, tetapi kenapa sekarang masuk lagi. Ada apa ini ?”
“Tidak ada apa-apa Ma. Cuma Zizah malu nak berikan kue ini untuk Jefri. Takut nanti dia tidak mau makan kue ini dan mentertawakannya.”
“Jefri itu, tidak begitulah.”
“Tapi Zizah malu Mak,, bagaimana kalau Mak saja yang antar kopi dan kue ini.”
“Tak masalah. Biar aku antarkan kedepan.” Bu Hasan pun mengabulkan permintaan puterinya yang semata wayang itu.
“Silahkan diminum Jef. Dan ini coba kalian cicipi dulu kue buatan Azizah. Tadi dia nak antarkan ke sini, tapi dia malu. Katanya, kuenya kurang enak.”
Tanpa dikomando, Pak Hasan dan Jefri sama-sama ingin mencicipi kue buatan Azizah. Mereka penasaran juga. Tetapi akibatnya, tangan mereka beradu sebelum menyentuh kue. Melihat adegan itu, Bu Hasan tertawa. Pak Hasan dan Jefri serentak melihat ke arah Bu Hasan yang terbahak-bahak. Akhirnya, Pak Hasan dan Jefri ikut juga tertawa. Mendengar suara tertawa yang demikian ramai, Azizah penasaran. Wah, jangan-jangan mereka sedang mentertawakan kue hasil masakanku ? Azizah tidak dapat menahan amarahnya.
“Sudahlah, Zizah tahu kalau kalian sedang mentertawakan kue ini,” sentak Azizah terus mau mengambil piring yang berisi kue di atas meja.
“Sebentar, sebentar !” Kata Jefri menangkap tangan Azizah yang belum sempat meraih piring. Langsung Jefri berdiri dan terus memegang tangan Azizah. Azizah juga tidak berusaha menarik tangannya.
“Kau tu jangan marah dulu Zizah. Kami ini bukan mentertawakan soal kue. Mak tertawa karena melihat Jefri dan bapak sama-sama berebut mau mengambil kue, tetapi tangan mereka beradu keras, sehingga bukan kue yang didapat, tetapi tangan mereka yang kesakitan. Jadi bukan soal kue, karena sampai sekarang mereka belum merasakan kue buatan kau tu, Zizah,” jelas Bu Hasan agak menunduk menatap muka Azizah dan membelai rambut Azizah perlahan.
“Nah, sekarang, bagaimana kalau Jefri saja yang pertama mencicipinya,” Pak Hasan menawarkan pada Jefri yang berdiri di sebelah kanan Azizah. Bu Hasan yang berdiri di sisi kiri Azizah mendukung usulan suaminya. Sebelum Jefri mengambil kue, Fuad keluar memberitahukan ada telepon dari Ahmad untuk Jefri.
“Bang Jef, ada telepon dari Ahmad,” ujar Fuad sambil mengangkat tangan di dekatnya ke telinganya. Fuad juga terperanjat melihat Jefri dan kakaknya saling berpegangan tangan. Fuad melirik dan sorot matanya diarahkan ke tangan kakaknya. Azizah spontan melepaskan tangannya dari pegangan Jefri. Jefri juga tersentak dan beranjak ke dalam rumah untuk menerima telepon dari Ahmad.
“Akh, bapak nak tukar baju dulu. Itu pasti dari Kapten Martin,” ujar Pak Hasan meninggalkan isteri dan puterinya di beranda depan. Sebelum masuk ke kamarnya, dilihatnya Jefri telah meletakkan telepon.
“Bagaimana Jef, Kapten Martin sudah datang ?”
“Sudah Pak, dia sedang menunggu kedatangan kita.”
“Tunggu sebentar ya Jef.”
Pak Hasan dan Jefri beriringan akan meninggalkan rumah. Tetapi di depan pintu Azizah mencegatnya. Di tangan kirinya ada piring yang berisi kue dan tangan kanannya direntangkan.
“Hei Zizah, kau ini ada apa. Jefri dan bapak kau tu sedang ditunggu Kapten Martin di atas. Jangan halangi mereka,” rayu Bu Hasan mau menarik tangan Azizah.
“Tidak ! Zizah tidak mau pergi, sebelum bapak dan Jefri makan kue ini !”
“Okey, okey,” desah Pak Hasan langsung mengambil sepotong kue.
Jefri mau menjulurkan tangannya untuk mengambil kue dari piring, tapi Azizah sudah menjulurkan tangannya lebih dulu menyuapkan kue ke mulut Jefri. Jefri membuka mulutnya dan menggigit kue pemberian Azizah.
“Terima kasih, terima kasih. Aku permisi dulu, Zizah, nanti kita ketemu lagi. Simpan saja kue ini, pasti nanti aku makan,” ujar Jefri tersenyum dan melangkah keluar meninggalkan Azizah, Fuad, dan Bu Hasan.
Jefri mengiringi Pak Hasan menuju ke pintu lift. Di dalam lift keduanya membisu, mengunyah kue buatan Azizah.
Tepat di depan kamar 602, Pak Hasan langsung memencet bel. Terdengar suara agak parau tapi tegas, mempersilahkan mereka masuk. Ternyata pintu tidak dikunci, Pak Hasan mendorongnya dan melangkah perlahan. Jefri mengiringi Pak Hasan dari belakang. Terlihat Kapten Martin sedang membaca majalah. Menyambut kehadiran Pak Hasan dan Jefri, Kapten Martin berdiri dan meletakkan majalah di atas meja.
“Malam Kap. Ini Jefri keponakan Pak Mustafa,” kata Pak Hasan menyentuh bahu Jefri.
“Jefri Darmawan”
“Martin Marquesto”
“Oh ya, ini titipan dari Bu Lili,” Pak Hasan menyerahkan amplop yang dipegangnya.
“Terima kasih, Pak Hasan. Hayo silahkan duduk.”
“Bagaimana pamanmu, apakah dia dalam keadaan sehat-sehat saja ?”
“Alhamdulillah Kap, paman waktu saya tinggalkan dalam keadaan sehat-sehat saja. Bahkan, kalau tidak salah, rencananya bulan-bulan ini paman akan datang ke sini,” papar Jefri menjelaskan tantang kabar pamannya.
“Ya, saya kira begitu, karena rencananya kapalnya akan berangkat ke Taiwan.”
“Kap, saya tinggal dulu, dan Jef, kau di sini saja bersama Kapten Martin. Biasa, kau dengar tadi kan, si Fuad itu mau belajar dan tidak mau tidur kalau tidak ada bapak.”
“Tidak tunggu Ahmad dulu Pak Hasan, saya sudah minta Ahmad untuk beli makanan, paling sebentar lagi dia akan datang.”
“Terima kasih, Kap.”
“Lho, semestinya aku yang mengucapkan terima kasih. Terutama Pak Hasan sudah membawa ini,” ujar Kapten Martin mengangkat amplop belum dibukanya.
Pak Hasan meninggalkan Jefri dan Kapten Martin di ruang tamu. Saat ditinggal berdua dengan Kapten Martin, Jefri tidak tahu harus berbicara apa. Kapten Martin yang tampan, gagah, dan tegar penuh wibawa, membuat Jefri tidak berani menatap Kapten Martin, apalagi mencobanya mengajak bicara. Kekakuan ini dirasakan Kapten Martin, sehingga dia yang memulai pembicaraannya.
“Bagaimana Jef, kau sudah siap mau jadi pelaut ? Aku kira sedikit banyaknya pamanmu sudah cerita apa, siapa, dan bagaimana pelaut itu Jef. Soal jam terbang, aku kalah dengan pamanmu itu. Kami dulu pernah satu kapal dan aku banyak belajar dari pamanmu itu.”
“Tekad saya sudah bulat Kap. Soal lain-lainnya, saya belum membayangkannya, karena inilah pertama kalinya saya akan bekerja di kapal.”
“Soal apa Jef ?”
“Itu Kap, bahwa pelaut itu identik dengan wanita, perjudian, minum-minuman, dan perkelahian.”
“Yah, mitos itu berlaku sampai sekarang Jef. Tetapi waktu juga Jef yang dapat menentukan atau mengendalikan hal-hal seperti itu. Tidak seratus persen benar, tetapi tidak pula seratus persen salah. Tergantung dengan kepribadian masing-masing.”
“Oleh karenanya, Kap, saya belum dapat menjamin diri saya, apakah saya dapat mengelak dari mitos tersebut.”
“Paling tidak, kau harus dapat membentengi dirimu dengan kegiatan yang positif, tugasmu saja melawan ombak, badai, cuaca yang berubah-ubah, atau menjaga mesin, merawat mesin sesuai dengan job yang diberikan padamu. Tetapi tugasmu yang tidak kalah pentingnya adalah melawan atau mengendalikan gejolak nafsumu. Itu ombak yang paling dahsyat sebenarnya bagi orang-orang seperti kita.”
“Termasuk Kapten ?”
“Oh, ya. Termasuk saya Jef. Kapten itu kan hanya jabatan dan kepercayaan, tetapi saya manusia biasa juga, Jef. Kalau kau puber pertama, barangkali sekarang saya memasuki puber kedua. Jadi, gejolak nafsu kita sama saja Jef, termasuk soal wanita.”
“Ya, itu maksud saya tadi, Kap. Kalau soal judi atau minum-minuman, sepertinya saya dapat mengatasinya, Kap. Tetapi kalau soal wanita, aku tidak dapat menjaminnya.”
“Lho kok bisa begitu Jef, jangan-jangan kau playboy. Sebenarnya aku tadi konyol menanyakan kau serius atau tidak menjadi pelaut. Tetapi aku punya alasan.”
“Alasan apa Kap ?” Jefri memotong pembicaraan Kapten Martin.
“Kau mau tahu alasannya Jef ? Begitu aku lihat kau masuk tadi Jef, aku kira kau itu bintang film. Serius Jef.”
“Akh Kapten bisa saja !”
“Benar Jef, aku serius. Nah, dengan ketampananmu, aku yakin kau memiliki banyak teman wanita. Ya kan Jef ?”
“Tidak juga, Kap. Yang pasti aku belum punya wanita yang spesial. Kalau sekedar teman sih memang banyak. Kalau Kapten ?” Jefri memberanikan diri bertanya.
“Sampai saat ini, isteriku masih tetap satu. Namanya Shirley Manuel, bekerja di Manila Sanatorium Hospital. Puteraku, Barney Marquesto, seorang polisi yang baru berpangkat letnan dan bertugas di Kepolisian Metro Manila, dan si bungsu, Betty Marquesto, yang aku harapkan dia dapat lulus dari Fakultas Kedokteran tahun depan.”
“Filipinanya di mana, Kap ?” Tanya Jefri lebih jauh.
“Kami tinggal di Jalan Fortune, kawasan San Jose, Manila. Ya, tidak begitu jauh dari tempat kerja isteriku di Manila Sanatorium Hospital.”
“Mereka baru saja pulang dari sini, Jef. Berty kan belum pernah ke sini. Jadi kemarin, waktu ibunya libur dan akan main ke sini, dia ikut. Barney juga ikut, tetapi hanya dua hari, karena waktunya memang tidak ada. Yah, cukup menyenangkan dan paling tidak ada pelepas rindulah,” papar Kapten Martin.
“Wah sayang. Kalau aku datangnya minggu lalu, aku masih sempat bertemu mereka.”
“Ya, kau pasti dapat mengenal mereka lebih jauh. Dan aku yakin, Betty akan senang sekali dapat berkenalan denganmu. Dari dulu dia itu penasaran lho Jef, ingin berkenalan dengan pemuda Indonesia !”
“Wah, sayang ya,” desah Jefri coba membayangkan wajah Betty.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan Ahmad masuk. Kapten Martin berdiri menerima uang pengembalian yang diserahkan Ahmad. Kemudian Ahmad menuju ke ruang makan untuk menyiapkan makanan yang baru dibawanya dan diantarnya ke ruang tamu.
“Silahkan, Jef, silahkan.”
“Eh, Mad, kau duduk di sini saja, biar ramai lah,” tawar Kapten Martin.
“Ayo Mad, sini Mad,” ajak Jefri lagi.
Sembari makan, minum dan ngobrol, tak terasa malam telah larut, Jefri dan Ahmad meninggalkan Kapten Martin.
Selepas Subuh, Jefri coba turun ke lantai dasar. Jefri coba menghirup udara pagi kota Singapura. Sebagaimana yang disarankan Kapten Martin padanya, agar Jefri giat berolah raga. Jefri mencoba lari-lari pagi, Jefri mencoba menelusuri Beach Road melalui Jalan Sultan, Arab Street, melintas Rochor Road. Tanpa disadari, tiba-tiba Jefri sampai juga ke Taman War Memorial. Orang-orang sudah ramai mengelilingi taman dan beristirahat di pinggiran lapang. Setelah agak terang, Jefri kembali lagi ke arah Beach Road. Tetapi Jefri hanya berjalan kaki. Jangan-jangan kalau siang berlari-lari orang akan mencurigainya.
Sesampai di flat, Jefri melihat Pak Hasan sedang membersihkan kendaraan. Pak Hasan sedang melap bagian bawah, sehingga dia tidak melihat kehadiran Jefri. Tetapi Jefri menghampiri Pak Hasan.
“Selamat pagi, Pak Hasan.”
“Eh, kau tu Jef. Dari mana kau sepagi ini.”
“Habis olah raga Pak. Kapten Martin menyarankan agar aku sering-sering berolah raga.”
“Ya tetapi sampai ke mana saja kau tadi berolah raga ?”
“Saya sampai ke Taman War Memorial, Pak.”
“Wah, jauh juga perjalanan kau tu Jef.”
“Yah, lumayan Pak, cukup mencucurkan keringat lah.”
“Okeylah Jef, kau siap-siaplah. Nanti pukul 07.00 kau dan Kapten Martin aku tunggu kak sini. Kau langsung saja ke sini, tak usah ke rumah. Sekalian pesankan itu pada Kapten Martin,” pinta Pak Hasan pada Jefri yang terlihat masih memakai celana pendek.
“Baik Pak, saya ke atas dulu,” ujar Jefri meninggalkan Pak Hasan yang sedang memanaskan kendaraan.
Jefri bersama Pak Hasan, duduk di depan. Kapten Martin sendiri duduk di jok tengah. Kapten Martin terlihat sedang asyik membaca Strait Times. Sebagaimana biasanya, dari Beach Road, kendaraan belok kanan ke Jalan Sultan terus belok kiri lurus ke Victoria Street. Berliku-liku, akhirnya sampai juga mereka di kawasan Jurong. Pak Hasan menghentikan kendaraannya. Kapten Martin turun menjinjing tasnya melangkah menuju ke pelabuhan. Jefri dan Pak Hasan mengikuti dari belakang. Tepat di sebuah kapal warna abu-abu dan hijau yang dominan, Jefri melihat nama Bay Tank demikian besar di lambung kapal tanker.
“Langsung saja ke atas Jef,” kata Kapten Martin yang sudah sampai di palka.
“Hayo Jef, mendekatlah ke Kapten Martin. Tu lihat orang-orang sudah pada menemuinya. Jangan ragu-ragu Jef, itu semua anak buah kapal ini,” titah Pak Hasan pada Jefri yang terlihat agak ragu-ragu untuk terus naik ke palka.
“Sini Jef, aku kenalkan dulu kau dengan, nah ini Mualim Satu Michelle Wong, kau cukup memanggilnya Chief. Yang ini si gendut Fredick Barrington, Chief Engineer, Masinis I atau kau boleh memanggilnya Bas. Bukan bos memang, tetapi di bagian mesin, dialah bosnya, jadi bosmu juga, Jef. Maka tidak salah kalau kau mau memanggilnya bos, bukan begitu Fred ?” Kapten Martin melirik ke Fredick dan Fredick hanya mengangkat bahunya.
“Jafar !” Teriak Kapten Martin ketika melihat seseorang yang mau melintas ke haluan. Begitu datang, Jefri langsung diperkenalkan pada Jafar. Jefri langsung bersalaman dengan Jafar.
“Far, tolong kau antarkan Jefri ke kamar F 7, berikan kunci dan perlengkapan kamarnya. Kalau kurang, kau koordinasi dengan Chief Store (Kepala Gudang), okey ?”
“Siap Kap !” ujar Jafar.
“Jef, kau ikuti si Jafar. Nanti selesai makan siang kita kumpul di officer dinning room (ruang makan perwira).”
“Baik Kap, saya permisi dulu,” kata Jefri sedikit membungkukkan badannya mengarah pada Kapten Martin, Michelle, dan Fredick.
Jefri mengikuti Jafar dari belakang menuju ke arah buritan. Pada saat tiba di kamar F 7, Jafar berhenti.
“Jef, ini kamarmu. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan kuncinya dan sekalian keperluan lainnya,” pesan Jafar langsung berlalu meninggalkan Jefri yang masih berdiri memperhatikan kamar yang disediakan untuknya. Jefri membayangkan, di kamar inilah hari-harinya nanti akan dihabiskan. Melihat suasana dan keramah-tamahan yang ada, Jefri yakin kalau dirinya akan betah bekerja d Bay Tank.
“Jef, ini kuncinya dan ini sebagian perlengkapan yang ada. Kurangnya, nanti akan saya minta lagi. Begitu dulu ya Jef, saya mau membereskan ruang makan di atas. Nanti kita ketemu lagi lah,” kata Jafar memberikan kunci dan barang-barang dalam dus besar.
“Terima kasih, terima kasih ya,” balas Jefri menerima kunci dan dus yang diserahkan Jafar.
Dengan mengucap syukur pada Tuhan, Jefri membuka pintu kamar yang disediakan untuknya. Kemudian diangkatnya dus yang berisikan barang-barang. Jefri masih belum tahu apa saja isi dus tersebut. Di kamar yang berukuran sekitar 2 kali 3 meter, ada satu tempat tidur, meja kecil dan kursi, wastafel lengkap dengan kacanya, dan lemari Pakaian. Jefri meletakkan dus di atas meja dan mulai membukanya. Ternyata isinya sprei, sarung bantal, handuk besar dan kecil, sabun mandi, shampo, deterjen, tempat minum, cangkir yang semuanya dari plastik dan termos berukuran sedang. Jefri mulai menata kamarnya. Setelah itu, dia keluar dari kamarnya untuk mencari kamar mandi. Lampu-lampu lorong terang benderang. Pintu-pintu kamar awak kapal lainnya dalam keadaan tertutup. Dari salah satu kamar, Jefri mendengar lagu dangdut, kalau tidak salah lagunya Rhoma Irama. Jefri belum tahu itu kamar siapa, tapi Jefri menduga penghuni kamar itu, orang Indonesia. Tepat di ujung lorong, Jefri melihat ada kamar mandi dan di depannya ada WC. Jefri masuk ke kamar mandi, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ada di rumah. Terlihat dirawat, bersih, dan masih harum. Apakah karena baru keluar dari dok, sehingga semuanya bersih dan masih harum ? Jefri tidak tahu, tetapi mudah-mudahan saja demikian seterusnya. Inilah pertama kalinya dia menikmati suasana kapal.
Keluar dari kamar mandi, Jefri jadi teringat dengan Pak Hasan. Di mana dia ? Jefri akan mengundang Pak Hasan ke kamarnya. Kembali Jefri ke palka tengah melihat keluar. Di dermaga dia melihat Pak Hasan sedang melap kaca depan. Jefri buru-buru turun ke bawah menemui Pak Hasan.
“Pak, Bapak harus melihat kamar saya dulu,” undang Jefri.
“Wah, kau sudah punya kamar, Jef. Sendiri atau berdua ?”
“Sendiri dong, Pak.”
“Baguslah Jef kalau kau sendiri. Bapak jadi penasaran, ingin melihatnya.”
“Ayolah,” kata Jefri seakan menarik tangan Pak Hasan.
Pak Hasan mengikuti Jefri naik ke atas kapal dan menuju ke kamar Jefri. Agak tergesa-gesa, Jefri membuka kamarnya.
“Yah, beginilah Pak, kamar yang disediakan untuk saya.”
“Wah, sudah bagus ini Jef, kau tinggal beli radio tape, dan jangan lupa, siapkan sajadah di kamar ini. Nanti malam, kalau kau belanja, jangan lupa itu. Atau nanti Bapak suruh isteri saya memberikannya padamu. Kalau aku tidak salah, ada yang baru, belum digunakan. Rencananya, kalau tidak salah, besok kapal ini sudah harus ke Malaysia, Jef.”
“Benar, Pak. Untuk itu, siang nanti kata Kapten Martin ada rapat persiapan. Karena ternyata kemarin sudah uji coba ke perbatasan Pulau Batam. Itu yang saya dengar tadi pembicaraan Kapten Martin dengan Bas Fredick, bahwa kapal siap untuk diberangkatkan.”
“Terus, kapan kau pulang kak rumah. Kau kan belum membawa pakaianmu dan belum belanja?” Tanya Pak Hasan.
“Selepas makan siang, rapat, terus pulang. Tetapi Bapak masih di sini kan ?”
………bersambung







