Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(54)
Halaman 266-270

“Insya Allah. Abang akan membantu. Selama itu untuk kebaikan, kenapa tidak. Tetapi masalah penceraian dan masalah Kakek-kakakmu, Abang tidak mau turut campur.”
“Oh tentu, tentu Bang. Tugas Abang hanya para-pura mengaudit, dan meminta kembali uang yang berada di dalam peti. Kedua itu saja, pasti mereka sudah takluk. Bang. Selanjutnya, itu urusan Desy. Abang siap kan ?”
“Kalau Abang sihk selalu siap saja”
“Kapan itu kita lakukan !”
“Malam ini juga. Ya, malam ini.”
“Malam ini?”“
“Kenapa, Abang ada acara lain ?”
“Tidak, Abang hanya janji mau menelepon Kakek Hoag malam ini.”
“Kalau begitu, Desy antarkan ke “
“Bagaimana kalau kembali ke hotel. Ada beberapaa catatan yang harus Abang laporkan, dan kebetulan Abang lupa membawa catatan itu. Desy tidak keberatan.. kan ?”
“Tidak. Kalau begitu kita berangkat saja sekarang.”
Desy tidak keberatan menanti di lobby, sementara Jefri menuju ke kamarnya. Tanpa Desy di sampingnya, Jefri lebih leluasa berbincang-bincang dengan Kakek Hong, dan. Irene. Jefri belum menceritakan, kalau malam ini dia masih ditunggu keluarga Pak Sumarna, bahkan orang yang akan menjemputnya telah menunggu di lobby hotel.
“Tidak apa-apa Jef lebih baik kau penuhi saja undangan keluarga Sumarna Terima kasih kau telah menepati janjimu untuk menelepon Kakek malam ini.” “Terima kasih atas pengertiannya, Kek. Salam untuk Irene, besok pagi saya akan menghubungi Kakek kembali. Maafkan, ya Kek ?”
“Ho, ho, kau baik-baik, ya.”
“Terima kasih, terima kasih,”ujar Jefri meletakkan telepon, dan langsung turun ke lobbi.
“Kok sebentar, Bang?”
“Tidak apa-apa, kita kan ada pertemuan yang lebih penting. Sebelum larut malam, memang sebaiknya kita tidak buang-buang waktu, ayolah,” kata Jefri mengulurkan tangannya, dan langsung disambut Desy.
Desy sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Dia akan menanyakan pada kakak-kakaknya yang telah melanggar kesepakatan yang disampaikannya sebelum meninggalkan rumahnya sore tadi. Untungnya ada seorang pemuda yang kini berada di sampingnya yang terlihat begitu tenang, dalam menghadapi suasana yang ada. Sehingga dia juga dapat menahan emosinya. Tetapi tidak tahu kalau sampai di rumah nanti, bagaimana suasana di rumah, dan siapa yang memulainya.
“Kau kelihatannya begitu tegang Des, tenang-tenang sajalah,”kata Jefri menepuk-nepuk perlahan bahu Desy.
“Desy sudah tidak tahan Bang. Sudah Lama Desy ingin mendobrak suasana di rumah. Desy sudah muak Bang, muak !”
“Ya, tetapi kita jangan sampai gegabah, Salah-salah bicara, nanti bertambah rumit, dan tidak sesuai dengan kehendak Desy. Tenanglah saja lah”
Setelah memarkir mobilnya, Desy langsung masuk ke rumah. Jefri mengikutinya dari belakang. Di ruang tengah, ternyata sedang berkumpul banyak orang. Pak Sumarna berdiri memandang ke arah Jefri. Dia tida meyangka kalau Jefri datang bersama Desy.
“Ke sini saja langsung nak Jefri,”sapa Pak Sumarna mencoba ramah pada Jefri.
“Sebentar Bang, sebentar. Kita jangan mau duduk bersama mereka, sebelum orang-orang Kak Andi keluar dari ruangan ini. Mereka-mereka itu tidak ada hubungannya dengan persoalan yang akan kita bicarakan,” kata Desy menarik tangan Jefri. `
“Lho, memangnya ada apa dengan mereka Des. Mereka kan….”
“Ya mereka tukang pukul Kakak, kan ?”tanya Desy memotong pembicaraan Andi.
“Kau jangan sembarang bicara Des ?”Andi sedikit meninggikan suaranya, dan berdiri.
“Sudahlah. Bapak, atau Kak Andi, boleh tanya mereka, siapa di antara.mereka yang datang ke restoran di Sukajadi tadi. Tanyakan Pak,” kata Desy melihat ke Bapaknya.
“Benar begitu, Di ?”tanya Pak Sumarna pada Andi.
“Saya tidak pernah memerintahkan begitu pada mereka. Tetapi barangkali itu inisiatif mereka sendiri. Bapak kan tahu dari tadi saya di sini,”Andi coba mengelak.
“Sudahlah Kak. Yang penting, Desy tidak akan mau bicara, kalau mereka-mereka masih ada di ruangan ini. Itu saja ! Kalau tidak, Desy akan mengantarkan Jefri kcmbali ke hotel. Ayo Bang,” kata Desy menarik tangan Jefri, mencoba untuk keluar dari ruang tengah.
“Sebentar, sebentar Des. Coba lah Di, mereka suruh keluar dulu,”pinta Pak Sumarna pada Andi, dan menunjuk orang-orang yang duduk bersebelahan dengan Andi.
Andi membisikkan sesuatu pada orang yang duduk di sebelahya. Kemudian orang tersebut keluar, diikuti dua orang lainnya. Serentak mereka memberi hormat pada Pak Sumarna, Andi, dan Deddy. Mereka memandang juga ke arah Desy dan Jefri, tetapi dengan pandangan dingin.
“Sudah duduk lah nak Jefri,” kata Pak Sumarna menarik kursi yang ada di sebelahnya.
“Biar Desy yang di sana Bang. Abang di sini saja,”ajak Desy menarik tangan Jefri, dan meminta duduk di sebelahnya. Desy sendiri berdampiagan dengan Bapaknya Di depan mereka ada Andi, dan Deddy.
“Kalau sama orang lain, Kak Andi boleh menekan, atau apalah namanya. Tetapi tidak dengan Bang Jefri. Salah kalau Kak Andi mengira Jefri sendirian di Bandung ini. Salah besar Bang. Desy tidak perlu bicara banyak lah.”
“Oh jadi dia masih menantang !” kata Andi emosi, dan berdiri memandang ke Jefri_
“Ini mau berembuk enggak ? Kalau enggak, Desy antar pulang Bang Jefri.”
“Sudah, sudah,” ajak Deddy menyabarkan Andi, dan Andi kembali duduk.
“Bagaimana-bagaimana Des. Kau akan melaporkan yang baik-baik pada Bapak, kan ?”
“Tergantung Pak. Tergantung apakah ada kesepakatan di antara kita semuanya.”
“Semuanya ? maksudmu….”
“Ya, maksud Desy, termasuk dengan keadaan Ibu. Bila perlu kita ajak Ibu berada di ruangan ini bersama kita.”
“Memangnya ada apa sih Des, kok kelihatannya kau bertambah aneh saja. Apa dia itu enggak bisa bicara, kok kamu terus yang bicara. Terus terang saja, maunya apa sih !”
“Biar, biar Des, Abang akan“
“ Enggak usah Bang, biar Desy saja yang bicara,”ujar Desy memegang tangan Jefri.
“Sebaiknya memang Bapak menyuruh supir Bapak mengantar Jefri ke hotel. Dalam banyak hal pembicaraan kita tidak ada kaitan dengannya. ini masalah keluarga kita Pak. Soal apa dan bagaimana kedatangan Bang Jefri, nanti Desy yang menceritakannya. Enggak apa-apa kan Bang ?” Desy coba memegang tangan Jefri.
“Tidak, tidak, itu namanya pelecehan “ bentak Andi.
“Pelecehan bagaimana ?”
“Memangnya, kamu itu apanya sih Des ! Kau ini bagian keluarga kita, atau..”
“Yah, terserah lah. Bagaimana Bang Jef.”
“Begini, Pak. Dalam beberapa hal, memang saya dapat menjelaskannya Tetapi ada beberapa hal yang saya tidak etis untuk ikut berbicara. Singkatnya, masalah Bapak dengan Tuan Hong, sebenarnya tidak begitu rumit. Tapi saya hanya mendata, dan melihat keberadaan keluarga Bapak dan…..”
“Terus kenapa Anda berani mengatakan bahwa nyawa perusahaan kami ada di tangan Anda. Maksudnya apa ? jangan terlalu sombong lah !” potong Andi.
“Nah, apa kata Desy. Ini yang tidak Desy inginkan. Tetapi kalau semuanya memang sudah siap, tidak apa-apa. Ceritakan saja Bang apa adanya, Apa sekarang Abang bawa foto-foto, dan dokumen-dokumen ketidakberesan perusahaan ? Beberkan saja Bang.”
“Foto-foto, dan dokumen ketidakberesan perusahaan ? Memangnya dia punya saham apa Des ? Kok seenaknya memeriksa dokumen perusahaan kita. Ini sudah keterlaluan !”
“Pak, tolong Bapak jelaskan pada Kak Andi, Tuan Hong ada kaitannya enggak dengan keberadaan perusahaan kita. Atau Kak Andi lupa barangkali, Pak. Seharusnya, kalau kita sadar, jauh-jauh Jefri datang dari Hong Kong, kita harus menghormatinya, bukan malah mau mengeroyoknya. Coba Bapak bicaralah,”pinta Desy memegang tangan Bapaknya.
“Bapak kira kita semua tahu soal Tuan Hong, jadi tidak perlu lagi diceritakan di sini. Hanya soal nyawa perusahaan, Bapak masih penasaran. Terus, tadi soal foto-foto, Bapak bertambah tidak mengerti. Bagaimana, nak Jefri.”
“Saya sudah janji dengan Desy, Pak. Biar Desy sajalah nanti yang cerita dengan Bapak. Banyak hal memang terlalu intern keluarga. Sudah agak. larut, sebaiknya memang saya kembali saja ke hotel,” jawab Jefri.
“Ya sudah kalau begitu. Besok Bapak tunggu makan siang di sini, ya ? Des, kau antar dulu ke depan, suruh sopir mengantarnya.”
“Permisi Pak” kata Jefri menunduk ke arah Pak Sumarna, juga pada Andi, dan Deddy.
Desy mengantarkan sampai Jefri masuk ke dalam mobil Bapaknya, kemudian masuk kembali ke ruang tengah Baru menarik kursi untuk duduk, Andi langsung menyerang Desy.
“Aku tidak mengerti, ada permainan apa sih ini ? Orang yang kita tunggu-tunggu untuk memberikan keterangan, tahu-tahu disuruh pulang. Padahal, kuncinya kan ada di dia. Kau diberi apa sihk Des, seperti kau lebih memihak ke dia, daripada kami-kami saudaramu”
“Desy harus dari mana memulainya juga,bingung, karena ada yang sangat perlu hati-hati, dan sangat peka untuk dibicarakan, terutama untuk Bapak. Kalau ini bisa kita sepakat bersama, keluarga kita, Desy rasa akan harmonis kembali”
“Bahasanya yang langsung saja lah Des. Aku juga jadi tidak mengerti,”ujar Deddy.
“Kalau kita sepakat, dan Bapak juga siap rnendengarnya, ya Desy tidak keberatan mengatakannya sekarang. Tetapi tolong masalah ini iangan dikait-kaitkan dengan Jefri, karena ini sudah wilayah keluarga kita. Terserah Bapak, Desy siap saja.”
“Sebenamya, Bapak juga tidak mengerti, tetapi Bapak rasa, kalau itu jalan terbaik untuk keharmonisan keluarga kita, Bapak serahkan pada kalia semua, karena kalian lah sebenarnya kekayaan Bapak,”jawah Pak Sumarna sedikit memelas, seakan meryerah.
“Baiklah Pak, Desy juga tidak mau keluarga kita ber!arut-!arut dalam keadaan begini. Desy menginginkan keluarga kita harmonis, kita dapat berkumpul bersama seperti dulu. Desy ingin Bapak kembali di rumah ini, kembali dengan Ibu, itu saja, Pak.”“
“Des, itu urusan pribadi Bapak, kita tidak berhak turut cam ur !”bentak Andi.
“Tidak, itu bukan hanya urusan Bapak. Desy yang merasakannya. Desy saja tidak tahu menahu soal isteri-isteri Bapak, tetapi Jefri yang baru datang, sudah tahu, bahkan dia memiliki foto kedua rumah isteri muda Bapak, Kalau sampai tahu Tuan Hong, apa Bapak tidak malu, dan apa katanya tentang keluarga kita.”
“Dari mana si Jefri itu tahu, dan siapa yang memberikan foto-foto itu padanya, jangan-jangan malah kau yang menyuruhnya, Des.”
“Kak Andi kira, Desy tahu rumah isteri Bapak yang di Soreang, ataupun Cianjur ? Desy hanya tahu Bapak nikah lagi, tetapi rumahnya, satu pun, Desy tidak tahu. Desy baru tahu dari foto-foto yang ada pada Jefri. Soal dari mana Jefri mendapatkannya, Desy kira kita tidak perlu menanyakannya. Yang penting bagaimana cara kita mendekatinya”
“Benar, benar Des, Bapak setuju untuk memohon pada Jefri agar hal ini jangan sampai diketahui Tuan Hong. Tolonglah Des, tolong Bapak”
“Ya, Desy mencobanya. Tetapi ada yang lebih parah lagi Pak Kalau sampai itu terjadi, inilah, yang Desy istilahkan soal nyawa perusahaan. Dan yang satu ini ada kaitannya dengan Ibu. Untuk yang satu ini, kalau mau aman, Desy ada permintaan dari Bapak, Kak Andi, maupun Kak Deddy.”
**Bersambung…







