Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(56)
Halaman 276-280

Di kamarnya, Jefri sedang menelepon Kakek Hong. Tidak semua masalah yang didapatnya selama di Bandung diberitahukannya pada Kakek Hong. Dia menyaring mana yang perlu dan mana yang tidak perlu, untuk dilaporkannya pada Kakek Hong. Pertimbangannya, segala sesuatunya telah dipercayakan padanya, sehingga hal-hal yang tidak prinsip, tidak perlu dibicarakan Paling tidak, jangan sampai laporannya mengganggu pikiran Kakek Hong. Jefri gembira. ketika Kakek Hong mengabarkan kalau surat menyurat tentang keberadaan keluarga mereka sedang dalam proses.
“Wah hebat, kalau begitu nantinya Kakek bisa memiliki paspor. Oh ya, apakah Kakek masuk kewarganegaraan Inggris atau Cina ?”
“Pasti Kakek memilih kembali ke Cina. Begitu juga dengan kelompok dagang CYC semuanya memilih Cina. Kalau tidak salah dengan, calon gubernur Hong Kong, malah sahabatnya Ketua Lim, Jadi itulah yang memudahkan semuanya Jef.
“Syukurlah kalau begitu. Itulah yang namanya suratan Kek. Dengan begitu, akhirnya Kakek dan keluarga tidak perlu was-was atau khawatir lagi tinggal di Hong Kong. Saya gembira mendengar kabar ini Kek. Kalau semuanya lancar, itu artinya tidak lama lagi Kakek akan memiliki paspor, dan bisa berkunjung ke Bandung, iya kan “
“Itulah saat yang Kakek damba-dambakan Jef Irene sendiri sudah tidak sabar ingin segera berkunjung ke Bandung. Eh Jef, coba kau usahakan minta sama Sumarna satu rumah untuk Kakek, dan kalau bisa lokasinya di pinggiran kota lah !
“Kalau pun nanti jadi, Jefri kan sudah ada di Bandung Kek. Tetapi kalau diberitahu, bahwa Kakek akan ke Bandung dan Jefri ada waktu, Jefri pasti ke Bandung. Kakek kan tahu, setelah urusan ini selesai, Jefri akan segera kembali ke Singapura Mengenai permintaan Kakek, akan saya usahakan. Sekaligus saya juga akan meminta hal yang sama. Hanya, yang saya minta, rumah yang merangkap toko yang kini sedang dibangun. Perlu Kakek tahu keluarga Pak Sumarna sangat kaya raya. Saya yakin, kalau kita minta dua rumah saja, mereka tidak akan keberatan.”
“Hau ! Bagus, bagus kalau begitu Jef. Hanya, pintar-pintarlah kau memohonnya jangan sampai ada keributan. Kakek masih percaya kalau Sumarna itu orang baik Jef. Kakek kira itu kesempatan baik buatmu untuk memiliki rumah. Kakek mendukungnya. Bila perlu Kakek sendiri nanti yang mengatakannya, kalau Sumarna meragukanmu.”
“Akan saya usahakan Kek. Saya yakin ada beberapa langkah telak, yang saya miliki di mana mereka akan memenuhi permintaan kita. Do’akan saja Kek. Rencananya, besok saya akan makan siang bersama Pak Sumarna di rumahnya. Sekalian saya akan kabarkan kalau Kakek tidak lama lagi akan berkunjung ke Bandung.”
“Kakek percaya kau dapat melakukannya dengan baik Jef. Aturlah bagaimana baiknya, yang penting, berjalan lancar, dan penuh persaudaraan. Minimal, kalau Kakek dan Irene datang nanti, mereka semua menyambut Kakek dengan baik. Itu saja Jef.. Terima kasih Jef, dan tadi sebelum berangkat kantor pusat. CYC, Irene titip salam buat kau Jef”
“Baiklah Kek, terima kasih atas kepercayaan ini semuanya. Titip salam kembali pada Irene. Oh ya Kek, soal rumah di pinggiran kota, yang Kakek katakan tadi, sebenarnya sudah ada Kek. Rencananya malah saya yang akan membelinya. Saya sudah pernah ke sana. Tempatnya sangat menyenangkan, yaitu di kawasan kebun bunga.” “Kebun bunga Jef ?”
“Ya, kawasan kebun bunga. tepatnya di daerah Cihideung. Seandainya Kakek ingat, jalan menuju ke sana itu, dari Terminal Ledeng, ya lewat Kampus IKIP sedikit, kemudian belok kiri dan terus menuju ke atas. Yah dan sana tidak begitu jauhlah jaraknya.”
“Sebentar-sebentar Jef. Maksudmu Kampus IKIP yang jalannya menuju Lembang ? Kalau itu, tentu saja Kakek masih ingat. Wah, udaranya pasti sejuk, iya kan Jef ?”
“Persis Kek. Kalau begitu Kakek masih ingat. Artinya Kakek sudah dapat membayangkan di mana daerah Cihideung tersebut.”
“Aduh Jef, mendengar cerita sepertimu, Kakek jadinya tidak sabar lagi untuk segera terbang ke Bandung.”
“Ha, ha, Kakek bisa saja. Sabar, sabar sajalah Kek. Waktunya kan tidak begitu lama lagi. Mudah-mudahan urusan dengan Pak Sumarna selesai dengan lancar, dan baik. Sehingga kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli rumah dan lahan di pinggir kota, dan rumah toko di Kota Bandung. Bukan begitu Kek ?”
“Kakek kira juga demikian Jef. Eh, jangan lupa segera telepon Kakek kalau besok urusannya sudah selesai.”
“Oh, tentu, tentu Kek. Bila perlu, saya akan hubungi Kakek dari rumah Pak Sumarna, agar Kakek dapat berhincang-bincang langsnng dengannya.”
“Kau atur bagaimana baiknya sajalah Jef. Pokoknya, begitu kalian selesai berunding, segera kontak kemari.
Kakek tidak akan keluar rumah besok sebelum mendapat telepon darimu. Katakan saja pada Sumarna, kalau segala sesuatunya telah Kakek, percayakan padamu Jef. Kalau dia tidak percaya, Kakek nanti yang akan bicara padanya.
“Siap Kek ! Kata-kata kakek barusan menambah energi saya.”
“Oke, selamat bcrjuang Jef ! Selamat malam, ya”
“Malam Kek, malam.”
Setelah meletakkan telepon, Jefri menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Rencananya untuk, memiliki tanah di daerah Cihideung terbayang sudah. Walaupun itu diperuntukkan untuk keluarga Kakek Hong. Tetapi Jefri yakin, semua itu akan dibuat atas namanya. Kalau negosiasinya berhasil dengan Pak Sumarna, itu berarti dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tanah di sana. Kemudian satu rumah toko di komplek perumahan mewah yang pembangunannya dalam tahap penyelesaian. “Aku harus segera mengetahui lokasinya, agar aku dapat mendesainnya sesuai dengan seleraku. Bila perlu, aku yang menanggung biayanya. Tetapi, seandainya Pak Sumarna berkenan untuk membiayainya, kenapa aku harus repot-repot mengeluarkan biaya” desah Jefri membayangkan desain rumah toko yang kelak dimilikinya.
Jefri tidak dapat memejamkan matanya. Terbayang sebuah rumah yang akan dikembangkannya menjadi tempat usaha. Tetapi usaha di bidang apa ?
Paling tidak, saat malam-malam seperti ini, dia harus mergambil wudhu, untuk segera menghadap Allah Subhanahuwata”alla, untuk sujud syukur.
Agar pertemuannya dengan Pak Sumarna besok berjalan lancar, dan apa yang direncanakannya berjalan baik dan lancar.
Walaupun Jefri yakin kalau permintaannya hanya sebidang tanah, dan satu kavling rumah toko, yang bagi Pak Sumarna tidak ada artinya, apalagi jika dibandingkan dengan kemewahan yang diberikan pada isteri-isteri mudanya, tanpa ridho Allah, dan belum rezekinya, tentu tidak akan berhasil. Jefri kemudian masuk ke kamar mandi, kemudian bermunajat kepada Sang Khalik, Ar Rahman, Ar Rahim. Rencana pertemuan dengan Pak Sumarna tanpa didampingi Andi dan Deddy, suatu langkah kebaikan bagi Jefri. Harapannya, tanpa kedua putera Pak Sumarna tersebut, pertemuan akan herjalan Iancar. Mudah-mudahan saja Desy ada di sana. dan ikut makan bersama. “Semoga Desy mendukungku,”desah Jefri membasuh muka dengan kedua telapak tangannya. Lho, kenapa tiba-tiba meminta dukungan gadis itu ? Mungkinkah dia berpihak kepadaku ? Apa aku tidak terlalu pagi rmengatakan kalau gadis itu ada dipihakku ? Kalau pun iya, apa alasannya ? Jefri ragu. Dia berdiri kembali, ditatapnya cermin di depannya. Kemudian dia duduk lagi di sisi ranjang. “Huh ! Kenapa tiba-tiba aku memikirkan gadis itu ?” Terbayang wajah Desy yang lembut, ramah, dan selalu tersenyum. Gadis yang penuh enerjik, lincah, tetapi anehnya lebih serang menyendiri. Kabarnya, sejak Pak Sumarna meninggalkan Ibunya untuk menikah dengan wanita-wanita muda, yang pantas dipanggilnya kakak. Atau bahkan cukup memanggil namanya saja, dia mulai membenci yang namanya lelaki. Tetapi padaku, kenapa dia bisa cepat akrab ? Kalau saja…, ahk tidak, tidak aku tidak bisa memberikan harapan padanya. Dia gadis yang baik. Lebih baik aku memanggil adik.Ya, hanya adik !
Malam kian larut. Kelelahan dalam melukis, dan mcrajut angan-ang;m, dan harapannya, Jefri pun terlelap. Terlelap dalam kesunyian malam.
Seperti pagi-pagi yang telah berlalu, pagi itu pun Jefri meninggalkan hotel menuju Alun-Alun. Orang- orang tua yang telah menjadi temannya telah ada di sana sedang berolah raga. Berkumpul dengan mereka, seakan dirinya berkumpul dengan Kakek Hong. Setibanya di hotel, Jefri melihat Tatang di lobby.
“Eh Tang, sudah lama ? Kebetulan sekali, aku memang ingin bertemu denganmu Tang. Banyak yang ingin aku bicarakan. Kau tidak keberatan menunggu aku mandi, dan ganti baju dulu, kan”?”“
“Beres Boss, asal jangan terlalu lama saja. Kau kan tahu aku baru saja off. Apa kata Boos ku kalau aku terlalu lama di sini.”
“Don’t worry, give me ten minute, oke ?”ujar Jefri memperlihatkan scpuluh jarinya pada Tatang, langsung berlari perlahan meninggalkan Tatang, menuju tangga.
Di salah satu sudut restoran, yang berada di lantai tiga gedung Palaguna, Alun-Alun Timur, Jefri dan Tatang sedang berbincang-bincang.
“Kau doakan aku Tang, agar perundinganku siang ini dengan Pak Sumarna berjalan baik dan lancar. Kau kan tahu Tang, perundingan ini puncak dari tujuanku ke Bandung ini.”
“Insya Allah, aku berdoa untuk keberhasilanmu Jef.”`
“Kalau perundingan siang berhasil, kau bcrsiap-siap untuk meninggalkan hotel, dan menjadi pimpinan dari sebuah biro perjalanan.”
“Kau serius Jef ?”
“Tentu. Tentu saja aku serius. Sementara ini kau bekerja seperti biasa saja dulu. Siang ini kau boleh mencari informasi atau data-data tentang persyaratan untuk mendirikan sebuah biro perjalanan. Atau kau ada ide lain usaha apa kira-kira yang baik kita buka”?”
“Aku kira biro perjalanan prospeknya cukup baik. Banyak temanku yang bekerja di biro-biro perjalanan. Baik di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan. Bali.”
“Wah, bagus kalau begitu .Kau hubungi saja mereka, dan nanti malam kita bicarakan masalah ini. Aku harap kau sudah mendapatkan informasi yang banyak. Baik ijin mendirikan usaha, sampai perijinan lain-lainnya. Untuk itu, kau terima dulu ini,” ujar Jefri memberikan sejumlah uang pada Tatang.
“Tetapi Jef”jawab Tatang yang belum berani mengambil uang pemberian Jefri.
“Sudahlah. Ini bagian dan rencana kita dalam membangun persahabatan, dan usaha kita. Aku akan mempersiapkan kantor kita, dan kau boleh tinggal di sana nantinya. Bahkan kalau siang ini selesai, besok kita sudah bisa melihatnya. Oh ya, nanti malam kau boleh undang teman-temanmu, dan kau carilah tempat yang baik.”
. “Jef, aku harus mengucapkan apa untuk ini semua ? Aku sepertinya sedang bermimpi.”
“Ha, ha, kau tidak sedang bermimpi Tang. Kau sedang kutantang untuk bersama-sama membangun sebuah usaha. Aku percaya padamu, pegang lah itu sebagai bekalmu. Itu saja Tang “
“Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan Jef. Sejak saat ini juga aku harus mempersiapkan apa-apa yang akan kita persiapkan untuk membangun usaha kita. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.”
“Begitulah sebaiknya Tang. Kesempatan tidak pernah datang dua kali. Ingatlah itu Tang.”
“Baik, baiklah Jef. Aku sudah tidak sabar untuk segera melaksanakannya “
“Good job ! Mari kita mulai membangun masa depan kita dari sekar ng. Oke lah, sampai bertemu nanti malam.”
Baru saja Jefri sampai di Hotel, Andi dan dua orang temannya sudah berada di lobby. Salah seorang dari mereka menghampiri Jefri.
“Hei Bung, Boss kami mau bicara. Itu di sana,” katanya menunjuk ke arah Andi.
“Hallo anak muda, kau keberatan kalau sekarang kita pergi dan hotel ini ?”tanya Andi tanpa memberikan kesempatan pada Jefri untuk duduk
“Maksudmu pergi ke rumah orang tuamu ? Bukankah janjinya siang rni ?”jawab.Jefri tenang, dan mencoba duduk berhadapan dengan Andi.
“Bukan, bukan ke sana, tetapi ke suatu tempat”
“Suatu tempat. Maksud Anda apa sihk ?”
“Maksudnya untuk mengajari Anda, untuk tidak memeras orang tuaku. Ingat, ini Bandung, Bukan Hong Kong, jadi jangan coba-cobalah “
“Memeras ? Aku enggak salah dengar nih ! Bukankah Anda yang selama ini memeras orang tua Anda sendiri ?”
“ltu urusanku ! Mau meras, atau tidak itu urusan kelurga, tidak ada hubungannya dcnganmu. Apa pedulimu ?
“Itu menurut. Anda. Tetapi, menurutku, hubunganya ada. Bahkan sangat besar sekali, sehingga keluarga Anda menjadi terpandang di kota ini. Anda lupa, atau coba melupakannya Tidak etis kalau aku bukakan di depan anak buahmu inf. “tegas Jefri menunjuk kedua pengawal Andi.
“Ingat anak muda, apa pun keputusan yang akan kalian sepakati siang ini, jangan sampai merugikan orang tuaku. Aku tidak akan tinggal diam, ingat itu !”
“Anda tidak perlu mengajari aku soal-soal beginian. Tidak bisakah Anda berpikir jemih bahwa hubungan di antara kita tidak hanya sampai di sini.
“Pikirkanlah itu ! Kalau Anda hormat dengan orang tua Anda, bangunlah usaha yang dirintisnya dengan baik.” “Soal itu, soal nantilah. Yang penting, aku telah memperingatkamnu bahwa orang tuaku jangan sampai kau pernainkan. Itulah tujuanku menemuimu,”tegas Andi langsung berdiri, dan siap-stap untuk meninggalkan hotel,
“Oke, aku akan pikirkan “ Jefri ikut berdiri rnelepas kepergian Andi dan anak buahnya.
***Bersambung…….







