Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(60)
Halaman 296-300

Hari-hari terakhir di Bandung, bagi Jefri adalah hari-hari yang penuh dengan kerja keras. Seakan ada sesuatu hal yang mendesaknya untuk segera meninggalkan kota Bandung. Keseriusan Jefri tersebut sangat dirasakan Tatang dan ternan-temannya, terutama bagi Desy, yang belum pernah merasakan bekerja, apalagi secara tim. Terlebih-lebih dia langsung menjadi pimpinan. Jefri sendiri, tidak merasakan sebagaimana yang dirasakan orang-orang di sekelilingnya. Dia biasa kerja keras, dan segala sesuatu yang telah direncanakan, dilaksanakan, sesegera mungkin. Kalau sudah demikian, baginya tidak ada waktu untuk bersantai apalagi bercengkrama. Bertolak belakang dengan apa yang dirasakan Desy, yang baru pertama kali bekerja. Dia mcrasakan kepenatan yang tidak terhingga. Pingin rasanya dia berhenti. Tetap dia sulit untuk mengutarakannya. Mulutnya seakan tersumbat rapat-rapat. Ada kekuatan lain yang menahan, menyumbat mulutnya untuk menyuarakan kekesalan, dan kepenatan hatinya. Begitu kepenatannya memuncak, begitu pula terbayang wajah Jefri. Suatu ketika, saat kepenatannya memuncak, telepon berdering, dan terdengat suara Jefri. Suara Jefri yang terdengar nyaring di telinganya, tiba-tiba saja dapat membuyarkan kepenatannya. Demikian mujarabnya suara Jefri bagi saluran nadi-nadi ketegangannya. Hal-hal seperti inilah yang terus bergejolak di hati Desy.”Tapi sampai kapan aku bertahan dengan suasana ini ?”
Desy belum sanggup mcluluhkan hati Jefri untuk tetap bertahan di Bandung. Bagi Desy, kalaupun Jefri tidak memberinya perasaan kasih sayang sebagai seorang kekasih, kasih sayang sebagai adik pun, telah cukup baginya asal Jefri masih ada di Bandung, dan selalu bersamanya. Bagi Desy, Jefri adalah kekuatan, adalah semangat. Semangat untuk terus bekerja hersama orang-orang yang ternyata pcnuh pengabdian, dedikasi, dan menghormatinya. Terlepas masih banyak saja kckurangan yang dirasakannya dalam memimpin sebuah biro perjalanan. Walaupun masih uji coba, beberapa order sudah dijalankan, terutama dalam melayani perjalanan dalam negeri. Dari hari ke hari ada peningkatan volume kerja. Termasuk menandatangani kerjasama dengan beberapa sekolah menengah ummn, sekolah tinggi, universitas, dan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang ada di Bandung. Permintaan untuk perjalanan luar negeri mulai ada satu dua, walau sementara waktu masih dikerjasamakan dengan biro perjalanan lain yang ada di Bandung, ataupun di Jakarta.
Keberangkatan Jefri tinggal menunggu hari. Segala kelengkapan untuk keberangkatannya telah diurus Tatang. Tiket pesawat juga tinggal menuliskan tanggal keberangkatan, dan konfirmasi. Surat-surat kepemilikan yang berkaitan dengan ruko dan tanah di Cihideung sudah selesai. Pak Sumarna benar-benar menepati janjinya untuk memberikan semua yang telah disepakati. Di depan pejabat notaris, Jefri telah mempercayakannya pada keluarga Tatang. Tidak ada keraguan lagi bagi Jefri untuk segera meninggalkan Bandung. Hal yang juga sangat mengagetkan Jefri, ketika Irene memberinya bantuan baik untuk pemeliharaan dan pengurugan tanah, dan bangunan yang ada Cihideung,
Menjelang pembukaan sekaligus peresmian “Easy Tour & Travel” intensitas kerja sangat meningkat. Tidak kenal siang maupun malam, semuanya sibuk.
Kinerja yang ditunjukkan Tatang dan teman-temannya, sangat melegakan hati Jefri. Dia tidak salah memilih orang. Kalaupun dia harus segera meninggalkan Bandung, dia akan berangkat dengan perasaan yang lega. Lega bagi Jefri, Ternyata tidak demikian dengan apa yang dirasakan Desy. Makin dekat ke hari peresmian, gairah kerjanya kian menurun. Pikirannya penuh gejolak. Makan, minum, mulai terasa hambar. Namun di tengah staf dan karyawannya, termasuk di depan Jefri, Desy berusaha untuk menyembunyikannya. Dia berusaha terus tersenyum. Semua orang, termasuk Jefri tidak memperhatikan ada perubahan yang dialami Desy. Bagi mereka, kalaupun Desy terlambat datang, atau tidak banyak memberikan masukan, atau ide-ide, mereka menganggap apa yang mereka lakukan, telah sesuai, dan disetujui Desy. Mereka terkejut, dan sangat khawatir, ketika tiba-tiba Desy jatuh tergeletak, begitu sampai di pintu kantor. Semua panik ! Jefri yang saat itu dekat dengan Desy, malah tidak kalah paniknya. Dia berteriak-teriak memanggil Tatang. Tatang langsung mengambil kunci mobil yang masih terpegang di tangan Desy. Mereka langsung melarikan Desy ke rumah sakit. Semua rumah sakit jaraknya agak jauh, tetapi Tatang menuju ke rumah sakit yang berada di Jalan Kopo. Semua sangat gelisah, bingung, dan panik.
Ketika dokter yang memeriksa Desy keluar, mereka serempak menanyakan tentang Desy. Dokter menyarankan agar mereka memesan kamar, karena Desy harus diopname. Jefri menyuruh Tatang untuk segera mengurus kamar yang terbaik bagi Desy. Desy sendiri belum bisa ditemui. Setelah mengurus kamar VIP, dan membercskan semua administrasinya, Jefri menelepon Pak Sumarna.
Ketika Desy membuka matanya, udara yang dihirupnya berbeda, Desy tersentak. Dia kaget, karena di sana ada bapak, ibu, Jefri, dan Tatang. Desy sangat terharu ketika jari tangan kirinya dipegang ibunya, dan di sebelahnya ada bapaknya. Sementara jari tangan kanannya digenggam Jefri. Desy memandang perlahan satu-satu orang yang ada di sekelilingnya
“Tadi pagi, kata Jefri, begitu sampai di kantor kau terjatuh. Mereka semuanya panik, dan barn malam ini kau sadar. Hayo ucapkan terima kasih pada Bang Jefri,”ujar Bu Sumarna. Desy tidak mengeluarkan kata-katanya. Dia menatap ke arah Jefri, dan coba tersenyum. Jefri mengangguk-anggukan kepalanya, dan menepuk-nepuk tangan Desy.
“Sudahlah, yang penting Desy cepat sembuh, ya”?”
Selama Desy diopname di rumah sakit, selama itu pula terjadi perubahan yang sangat tidak diduga-duga oleh Desy ataupun semua kakak-kakaknya. Terlihat semua mesra, dan akrab. Bapak dan ibunya tidak canggung lagi duduk berdampingan, bahkan sesekali Desy melihat tangan bapaknya merangkul mesra bahu ibunya.
Jefri juga tidak malu-malu mencium kening Desy pada saat-saat tertentu. Semua mendapat giliran untuk menemani Desy selama opname. Semua keluarga dan karyawan memberikan perhatian khusus pada Desy. Demikian pula beberapa dosen dan teman-teman kuliahnya. Perhatian yang demikian besar yang dirasakan Desy selama di rumah sakit, merupakan obat yang paling mujarab. Kalau selama ini dia merasakan keterasingan, sebenarnya itu perasaannya saja. Keberadaannya di rumah sakit telah menjawab, bahwa semua orang sangat menyayanginya. Termasuk kedua orang kakaknya, Andi dan Deddy. Tetapi bagaimana dengan Jefri ?”
Di hari kesepuluh, dengan restu dokter yang merawatnya, Desy sudah dapat pulang ke rumah, walaupun statusnya masih berobat jalan. Desy berusaha tidak akan menanyakan bagaimana proses keakraban bapak dan ibunya. Baginya, kedua orang tuanya selalu berada di sisinya setiap saat. Bahkan, Desy merasakan, kedua orang tuanya agak berlebihan memberikan perhatian, dan kasih sayang. Desy melihat ada perubahan pada diri ibunya. ibu mulai memperhatikan penampilannya.
“Bu, kalau Ibu dari dulu begitu dandanannya, Bapak tidak akan lari,”ujar Desy perlahan. “Hush, kau ini bisa saja Des. Kau mau mencoba menggoda Ibu, padahal, ada yang mau lbu tanyakan padamu, Des ?”
“Soal apa, Bu ?”
“Ya soal Jefri. Ibu dan Bapak tidak tahu harus mengatakan apa padanya, Des. Terbayang kalau saat itu tidak ada dia, bagaimana dirimu. Begitu sibuknya dia ketika kau belum sadar, dan diawali yang memesan kamar yang terbaik uutukmu. Semua biaya perawatan dia yang menanggungnya. Dia tidak mau menerimanya, ketika Bapak mencoba untuk menggantinya. Ibu yakin dia mencintairnu, Des.”
“Ahk Ibu. Bang Jefri memang baik, tetapi kalau soal yang satu itu, Desy enggak percaya. Buktinya, dia akan meninggalkan kita, kan ?”
“Ya, tetapi dia kan bisa kembali lagi. Kan kalian punya perusahaan bersama di sini, iya kan? Jadi dia ke Singapura itu, Ibu percaya tidak akan lama.”
“Ibu tahu dari mana ia tidak lama, apa Ibu sudah menanyakannya ?”
“Belum. Tetapi kalau kau setuju, nanti malam kalau dia datang Ibu akan mencoba menanyakannya.”
“Jangan, jangan Bu. Malu, dong Bu. Ibu apaan sihk ?”
“Ibu, dan Bapakmu sihk kepinginnya, Jefri itu menjadi suamimu.”
“Lho Ibu membicarakannya bersama Bapak ?”
“Lha iya lah. Kalau tidak, mana mungkin lbu seserius ini. Kami kira sebagai Orang tua, wajar-wajar saja kalau kami punya keinginan demikian.”
“Wah, ini suatu kejutan yang perlu Dcsy syukuri. Allah telah mempertemukan Bapak dan Ibu di tengah keterpurukan kesehatan Desy”
“Itulah yang namanya hikmah Des. Di antaranya juga karena kehadiran Jefri di tengah-tengah keluarga kita, memang karena kau jatuh sakit di satu sisi. tetapi di sisi lain, adanya Jefri di tengah kira. Itu harus juga kita akui .”
“Aduh Bu, kalau sudah bicara Bang Jefri, Desy enggak bisa bicara lagi. Desy tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Kau kelihatannya seperti putus asa menghadapinya. Des, kalau memang kita mencintai seseorang, atau senang, menurut Ibu, kita perlu berjuang.”
“Tetapi Desy kan“
“Nah, di situlah salahnya. Itu namanya, kalah sebclum pcrang.”
“Ibu kok beda sihk sekarang.”
“Ya, ini semua, karena kami menyayangimu, Des. Kami menginginkan pendamping hidupmu yang baik, yang penuh kasih sayang, dan benar-benar mencintaimu. Begitu pula terhadap kami, dan kakak-kakakmu. Yang memeuhi kriteria itu, Ibu kira hanya Jefri”
“Desy bangga, dan bahagia semuanya memberi perhatian pada Desy. Desy bahagia sekali. Tetapi sudahlah Bu, kalau terus-terusan kita membicarakannya sementara yang kita bicarakan tidak memberikan peluang, bukankah kita akan sia-sia ?”
“Itu yang Ibu katakan tadi, kau belum apa-apa sudah menyerah, sementara orangnya masih ada di sini. Kalau kita telepon sekarang, dan kita suruh kemari, Ibu yakin dia akan datang. Apalagi kalau kita katakan kau kambuh, wah.. dia akan segera terbang ke sini.”
“Aduh, lbu apa-apaan, sudahlah Bu, Desy pingin istirahat ” pinta Desy pada lbunya yang terus membicarakan Jefri. Ditariknya selimut dan ditutupnya ke seluruh badannya. Terdengar pintu kamarnya terbuka, dan ditutup kembali. Desy yakin kalau ibunya tidak ada lagi di dalam kamar. Sedikit sesak, Desy menyibakkan selimutnya. Ditatapnya langit-langit kamar. Kalau dia ingin berterus terang, sebenarnya dia sangat senang membicarakan tentang Jefri. Tetapi kalau sudah sampai pada kata-kata cinta, dia langsung menyerah. Sebesar apa pun cintanya pada Jefri, dia tidak akan melakukan hal-hal yang kurang baik,. Pura-pura sakitlah, minta dibelikan sesuatu lah, atau main dukun. Gila apa ! Ada yang mengatakan, “Cinta ditolak dukun bertindak !” Tidak, aku tidak mungkin sebodoh itu.
“Aku menyerahkan semuanya pada Allah. Kalau memang Allah akan menyatukan aku dengan Bang Jefri, tentu tidaklah ke mana-mana.”ucap Desy kemudian menghapus wajah dengan kedua tangannya. Sebagai penutup doa.
Pada suatu sore, Desy mengajak bapak, dan ibunya untuk mcmberikan kejutan pada orang-orang di kantor Easy Tour & Travel. Kehadiran mereka benar-benar suatu kejutan. Termasuk Jefri tentunya. Begitu dia mendapat telepon dari bawah kalau Desy dan kedua orang tuanya ada di bawah, Jcfri Iangsung cepat-cepat turun. Padahal, saat itu mereka sedang mengadakan rapat. Setelah memberikan salam pada Pak Sumarna dan isterinya, tanpa canggung-canggung, Jefri langsung memegang tangan Desy.
“Sebaiknya kita ke atas. Kita sedang mengadakan rapat, untuk persiapan pembukaan kita. Kau sudah benar-benar sehat, kan Des ?” Ujar Jefri terus memcgang tangan Desy dan jalan berdampingan menapaki satu-satu anak tangga.
“Seperti yang kau lihat Bang Jef. Aku sudah sangat rindu dangan suasana kantor ini. Tidak ada masalah sebenarnya, tetapi bapak, dan ibu belum yakin kalau aku benar-benar sudah pulih, yah mereka ikutlah mendampingi aku. Sekalian, memang mereka ingin melihat bagaimana suasana kantor kita.”
“Tang, kau teruskan saja rapat kita tadi. Siapa tahu justru dengan kehadiran Desy atau Pak Sumarna, kita dapat masukan baru lagi. Teruskan, Tang,” pinta Jefri pada Tatang yang masih berdiri di dekat white board.
Setelah memberi hormat pada Desy dan kedua orang tuanya, Tatang menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam acara pembukaan Easy Tour & Travel. Semula, lanjut Tatang, acara akan diselenggarakan di sebuah hotel. Tetapi dari hasil rapat, dan berbagai pertimbangan, diputuskan bahwa acara diselenggarakan di depan halaman kantor saja. Pada kesempatan tersebut, Tatang meminta Pak Sumarna untuk memberikan wejangan. Pak Sumarna memenuhi permintaan Tatang.
Pak, Sumarna melangkah mendekati Tatang. Dengan suara datar dan perlahan, Pak Sumarna memberikan wejangannya.
“Bapak sangat bangga mendengar rencana kalian untuk menampilkan kesenian Sunda.
Kalau kalian belum menghubungi salah satu sanggar kesenian, Bapak ada kenalan seorang tokoh seniman Sunda. Kalau kalian setuju, Bapak akan mengundangnya, dan semuanya menjadi tanggung jawab Bapak.”
Mendengar kata-kata Pak Sumarna, secara serempak semuanya memberikan tepukan.
“Terima kasih, terima kasih, Pak. Saya atas nama Ketua Pelaksana, menghaturkan teruna kasih atas perhatian, dan partisipasi Bapak,” ujar Tatang mengulurkan tangannya mengucapkan terima kasih pada Pak Sumarna.
“Yah baiklah kalau begitu, kalian tinggal menentukan kapan hari H-nya saja. Lebih cepat akan lebih baik, karena kalian tahu sendiri, bahwa seniman yang satu ini orangnya sangat sibuk. Bagaimana, apa kalian sudah menentukan waktunya ?”
“Soal waktu, kami serahkan pada Desy, karena dialah pimpinan tertinggi kami,” kata Tatang melihat ke arah Desy.
“Tidak, tidak harus saya yang menentukan. Kita tentukan bersama saja,” jawab Desy.
“Maksud kami, kalau kami yang menentukan, sementara Bu Desy masih belum pulih, kami akan khawatir,” ujar Tatang.
“Sudah, aku sudah sehat. Aku bahkan mengucapkan terima kasih atas perhatian dan doa kalian sclama saya diopname di rumah sakit. Tentukan sajalah, aku akan menyetujuinya.”
“Tetapi sclama Ibu di rumah sakit. yang paling repot dan gelisah, Pak Jefri Bu,” kata Tatang mencoba bergurau, dan melihat ke arah Jefri.
“Kalian ini bisa saja. Yang pasti, bukan hanya saya, tetapi kita semua menyayangi ibu kita yang satu ini, iya kan ?” Kata Jefri menepuk-nepuk perlahan bahu Desy.
“Beda Bu, beda,” ujar Tatang, staf, dan karyawan yang hadir secara serempak.
“Oke, oke, mari kita teruskan rapat kita. Kasihan ada orang tua kita di sini, teruskanlah,” usul Jefri seraya berdiri meredakan suasana.
Setelah menentukan hari dan tanggal untuk pembukaan Easy Tour & Travel, Desy dan kedua orang tuanya pulang. Desy meminta ijin pada Tatang, dan yang hadir, karena mereka akan mengajak Jefri ikut bersama mereka. Pak Sumarna berdua dengan supir di depan, di bagian belakang, Desy diapit ibunya sebelah kanan, dan Jefri sebelah kiri. Jefri tidak tahu ke mana dia akan dibawa. Ternyata mereka memasuki pekarangan rumah makan khas Sunda yang baru saja di bangun di bilangan Soekarno-Hatta.
Acara pembukaan Easy Tour & Travel sesuai dengan rencana. Berlangsung sangat meriah. Wartawan yang meliput juga banyak. Baik dari media cetak maupun dari media elektronik. Terlihat hanya Desy dan Tatang yang dikerumuni wartawan. “Tidak satu pun yang menemui Jefri. Padahal. terdengar sesekali namanya disebut Tatang ataupun Desy. Penampilan artis-artis dari sanggar kesenian Sunda, saling bertaut-tautan seiring dengan bunyi gendang, kecapi, dan seruling, mengundang perhatian masyarakat luas. Sehingga acara kian meriah. Itulah puncak dari sebuah keramaian di tengah kegalauan. Kegalauan seorang gadis yang akan ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Orang yang berhari-hari bersamanya, tetapi tak terjangkau hatinya. Hati seorang pemuda yang sampai saat terakhir pun tidak diketahuinya bersemi pada wanita mana. Tidak pernah terucap sepatah pun nama wanita selama bersamanya. Apalagi sebuah potret. Seperti apakah wanita yang telah mematri hatinya sehingga tidak dapat tergoda, terayu, dan tertarik dengan wanita lain ? Sungguh beruntung wanita itu. Beruntung memiliki seorang kekasih yang begitu setia. Terkadang Desy malu sendiri, karena terlalu memperlihatkan perhatian, dan terkadang berlebihan. “Tetapi bukankah cinta adalah perjuangan ?” Berkecamuk terus perasaan Desy memikirkan jalan apa yang dilakukannya untuk dapat merebut hati Jefri. Keberangkatan Jefri tetap saja tidak dapat ditundanya. Di tengah keputus-asaannya, Desy mendapat ide untuk membuat kenangan.****
Bersambung…..







