Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(67)

Halaman 324-327

“Jef, ini alamat Azizah di Inggris.”

“Oh ya, terima kasih Bu. Mulai minggu ini, saya kerja kembali di Tan Hau Shipping, dan tinggal bersama Ahmad kembali. Jadi kalau Ibu ada apa-apa, telepon saja, atau suruh Fuad main-main ke mess.” tutur Jefri menerima potongan kertas dari Bu Salma.­

“Terima kasih, terima kasih Jef,” kata Bu Salma melepas kepergian Jefri dan Ahmad.­

Fuad terus saja memeluk Jefri sampai Jefri masuk ke dalam taksi. Jefri tidak dapat menahan air matanya. Fuad benar-benar telah kehilangan Bapaknya. Dia sangat berharap ada orang yang menyayangi, dan memperhatikannya sebagaimana didapatnya selama ini dari bapaknya, Pak Hasan. Selayaknya, sebagai anak yatim, Jefri harus memperhatikan kelangsungan pendidikan Fuad. Baginya, membantu Fuad adalah ibadah yang harus dilakukannya. Di samping tentunya, penghargaan terhadap Pak Hasan.

Di dalam taksi, dalam perjalanan menuju Beach Road, Jefri mengambil secarik kertas yang diberikan Bu Salma dari saku bajunya. Dengan perlahan-lahan dibukanya, dan tertulis, Azizah Binti Hasan, Humanities (Cultural Studies), Western International University, 3 Muirfield Crescent, Glen gall Bridge West Millharbour, London, E 149 SZ.

“Jangan nak buang waktu lagi la Jef. Begitu sampai di mess nanti, kau tulis surat untuk Azizah. Pastilah Azizah tu senang dapatkan surat darimu, Jef.”­

“Ya, aku juga berharap begitu. Tetapi kau yakin kalau Azizah senang menerima suratku. Jangan-jangan dia sudah berubah, Mad.”

“Tak baik nak buruk sangka, kau coba dululah.”

“Oke, oke Boss !”

Malam hari, saat Jefri menulis surat untuk Azizah, pamannya datang, dan mengajaknya ke luar. Namun Jefri menolaknya, dengan alasan akan keluar bersama Ahmad, untuk menelepon ke Hongkong dan Bandung.

“Soal menelepon kan gampang Jef. Hampir di setiap jalan, kau bisa menelepon ke mana pun kau mau. Ayo lah, kita enjoy dulu,” bujuk pamannya.

“Lain waktu sajalah paman. Lagi pula, badan saya kurang fit.”

“Akh, kau kan kan bisa ajak teman wanitamu, siapa, siapa namanya, Jef ? Sebentar, sebentar kalau tidak salah, namanya Lulu, iya kan ?”

“Wah, dia orang sibuk. Selain kuliah, dia juga kan kerja part timer. Jadi aku kira, tidak setiap saat kami bisa bertemu,” ujar Jefri memberi alasan. Padahal, malam ini dia akan memenuhi ajakan Lulu sebelum berpisah pagi tadi.

“Kau kan belum mencobanya. Jangan terlalu sentimental Jef, ingat kita ini pelaut, pelaut sejati Jef ! Jangan pernah kau lupakan itu !” desak Mustafa.­

“Saya kan masih bayi dalam percaturan dunia pelaut, jadi bertahaplah.“

“Oke lah Jef,” kata Mustafa meninggalkan Jefri dan Ahmad.

“Jef kalau ingatanku tak salah, tadi paman kau tu mengatakan, ajaklah teman wanitamu. Namanya, kalau tak salah, Lulu. Siapa dia, Jef ?”

“Yang begituan, jangan kau dengar, Mad.”

“Tetapi pamanmu tidak berbohong, kan ?”

“Aduh, nanti, nanti sajalah Mad. Bagaimana kalau kau buatkan dulu aku teh manis, tetapi gulanya jangan terlalu, banyak.”

“Aku tidak keberatan nak buatkan kau teh, tetapi soal wanita tadi, aku pingin juga mendengarnya.”

“Sejak kapan kau tertarik bicara soal wanita, Mad. Sudahlah kau ke belakang saja dulu, nanti aku pikirkan apakah aku perlu menceritakannya padamu atau tidak.

“Benar, benar, ya Jef ? “ kata Ahmad bersemangat, dan terlihat begitu gembira.

Terkadang Jefri geli juga melihat tingkah laku Ahmad. Di satu sisi dia begitu pendiam, dan taat menjalankan syariat agama, tetapi di sisi lain, dia menginginkan teman wanita. Sayang, wanita yang menjadi idolanya ternyata, Azizah ! Di satu sisi, terlihat dia begitu gembira kalau melihat keintiman Jefri dan Azizah. Tetapi pada sisi lain, sebenarnya batinnya hancur ! Hebatnya, tidak ada satu orang pun yang tahu soal pilihan hatinya, termasuk Azizah. Karena sampai kepergian Azizah, dari flat Beach Road Ahmad tidak berani mencurahkan perasaannya pada Azizah. Di sanalah Ahmad harus menerima kenyataan, bahwa Azizah lebih tertarik pada Jefri. Ahmad kalah selangkah, kalah cepat dalam memilih teman wanita. Sebagaimana yang akan dilakukan Jefri dalam waktu beberapa menit lagi, untuk menepati janjinya menemui Lulu.

Betapa kagetnya Ahmad ketika di ruang tamu dia tidak melihat Jefri. Dicarinya di kamar, ternyata Jefri sedang mengganti pakaiannya. Ahmad menghampiri Jefri.

“Jef, kelihatannya kau ni siap-siap nak pergi. Pergi ke mana, Jef ?”

“Nah Mad, kebetulan kau datang. Sekarang, kau ganti bajumu, tolong kau temani aku kita berangkat.”

“Berangkat ke mana, Jef ?”

“Aku nak belikan kau baju, saluar (celana), jam tangan, dan sepatu. Kau pilihlah apa yang kau suka, nanti aku yang membayarnya.”

“Kau ni serius kah jef ?”

“Serius. Sudah lama aku bemiat untuk memberikan kau hadiah. Hanya, waktu itu aku ragu, jangan-jangan sudah pindah. Atau pulang ke Malaysia. Makanya aku gembira ketika melihat kau masih ada di mess ini. Mari kita pergi sekarang.”

“Kenapa buru-buru, malam kan belum begitu larut, tenang sajalah.”

“Aku ingin, menelepon seseorang di Hong Kong, dan di kota Bandung ““

“Menelepon ? Di meja itu kan ada telepon, kau tak payah keluar jauh-jauh. Tinggal tekan ke mana kau mau. Simpel, kan ?”

“Mad. aku tidak mau membebani perusahaan dengan urusan pribadiku. Tapi sudahlah yang penting, kita keluar belanja. Setelah itu baru kita ……..”

“Setelah itu, kita ke mana lagi Jef. Kau ni sebenarnya, nak belikan aku baju, mau menelepon, atau ada acara lainnya lagi kah. Jangan-jangan, ada hubungannya dengan wanita, tak iye Jef. “

“Aku salut padamu, Mad. Salut ! Soalnya, dari dulu kau tahu saja apa yang sedang aku pikirkan. Kau benar-benar hebat. Kalau aku boleh berterus terang, memang setelah urusan menelepon, dan belanja selesai, aku ingin menemui seseorang di Victoria Street.”

“Dan seseorang itu pastilah wanita. Benar kan, Jef ?”

“Tepat, tepat sekali. Dia memang seorang wanita. Wanita yang aku anggap dahsyat !”

“Sehebat itu kah dia Jef ? Kalau aku boleh tahu, apakah wanita itu mirip Azizah, atau barangkali melebihi Azizah, atau jangan-jangan dia mirip …….”

“No, no, no. Aku tidak ingin membanding-bandingkan wanita lain dengan Azizah. Azizah itu spesial dan wanita yang ingin aku

temui ini juga punya kharisma lain. Namanya, Liu Ching Shia.”

“Ai, Jef ! Kau ni benar-benar bikin aku iri lah. Setakat mata berkedip setakat itu pula wanita dapat kau pikat. Ada teorinya kah Jef. Kalau ada, aku nak belajar. A..t..a..u, aku harus jadi pelaut dulu, Jef. Pelaut tu sepertinya mudahlah nak dapatkan wanita.”

“Kau ini ada-ada saja, Mad. Sudahlah cepat kau ganti bajumu, kita berangkat sekarang,” ajak Jefri langsung melangkah ke luar ruangan.

Jefri dan Ahmad menelusuri Arab Street. Mereka belanja di kawasan perbelanjaan tingkat menengah, yang tidak pernah sepi pengunjungnya. Baik itu mau siang, sore dan malam hari. Hanya, kalau malam hari suasananya lebih ramai. Kita harus siap berdesakkan di kerumunan hilir mudiknya pengunjung. Tidak saja penduduk Singapura para wisatawan asing, juga senang berbelanja di kawasan Arab Street tersebut. Selesai belanja, di salah satu boks telepon, Jefri mencoba menghubungi Kakek Hong. Diberikannya telepon mess pada Kakek Hong. Agar suatu waktu dia dapat dihubungi. Baik oleh Kakek Hong, maupun Irene. Sayangnya, kalau malam hari, Irene jarang ada di rumah. Padahal, selain ingin meminta maaf karena baru sekarang mengabarkan ketibaannya di Singapura, Jefri juga ingin mengucapkan terima kasih pada Irene. Irene telah membantu demikian banyak padanya. Kirimannya terus mengalir, tanpa pernah menanyakan digunakan untuk apa uang yang dikirimkannya.

Sebagaimana Kakek Hong, Pak Sumarna pun sangat gembira mendapat telepon dari Jefri. Bahkan isterinya, yang selama ini terlihat pendiam, ingin berbicara dengan Jefri. Suatu perkembangan yang sangat menggembirakan Jefri. Suasana itu meyakinkan Jefri kalau Pak Sumarna dan isterinya kini kian intim, dan berbahagia, Desy sendiri, menurut Pak Sumarna, sedang ada kegiatan di kampusnya.

“Terima kasih Jef telah menghubungi kami. Kami benar-benar senang menerima telepon darimu. Kau baik-baik saja kan ?”

“Alhamdulillah. Saya baik-baik saja. Oh ya, bagaimana Desy dan teman-teman di perusahaan, apa mereka baik-baik saja, Pak ?”

“Setahu Bapak, perusahaan kalian berjalan baik, lancar, dan kelihatannya ada kemajuan. Baiklah, kalau Desy datang nanti, kami akan kabarkan bahwa kau barusan menelepon kami,” ujar Pak Sumarna.

“Terima kasih Pak. Oh ya dalam satu atau dua hari ini, saya mulai aktif bekerja, dan kalau tidak ada halangan, saya juga akan mengikuti kuliah sore. Jadi kalau nau menghubungi saya, sebaiknya malam hari. Salam saya untuk lbu, Desy dan keluarga lainnya,” ucap Jefri mengakhiri obrolannya, dan perlahan mengeja nomor telepon mess untuk keluarga Pak Sumarna.

Malam belum terlalu larut. Jefri pamit pada Ahmad. Mereka berpisah di Arab Street. Ahmad kembali ke mess sendirian sementara Jefri mempercepat langkahnya menelusuri Arab Street yang masih sangat ramai. Dia tidak ingin tiba di rumah Lulu terlalu larut. Di ujung jalan, Jefri belok ke kiri, memasuki Victoria Street. Tanpa ragu-ragu, Jefri langsung memasuki halaman rumah Lulu. Seorang wanita datang menghampiri Jefri.***

Bersambung……….

Back to top button