Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(69)
Halaman 331-333

Bagi Maimunah, bekerja di luar negeri adalah dambaan yang sejak lama dicita-citakannya. Dambaan dari ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan rakyat Indonesia. Khususnya kaum wanita. Kaum yang terdesak dari gerakan percepatan pembangunan yang sampai ke pelosok-pelosok desa. Pembangunan yang tidak menyentuh nilai-nilai kultural, kecuali mengeksploitasi wanita untuk dijadikan buruh-buruh pabrik, buruh harian perkebunan, panti-panti pijat, klub-klub malam, bahkan bagian yang diperdagangkan. Kalaupun ada wanita pada posisi-posisi puncak di berbagai bidang tidaklah seimbang dari jumlahnya.
Jefri dan Lulu terkejut, ketika tiba-tiba mereka mendengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu depan. Maimunah bergegas ke depan membuka pintu.
“Tuan, tuan mabuk lagi,” ujar Maimunah mencoba membantu memapah Wong Chung Hwa berjalan ke belakang.
Lulu melepaskan dekapan Jefri. Dia berlari membantu Maimunah memapah papanya dan di dudukkan di kursi makan. Maimunah buru-buru menyiapkan air jeruk hangat, diberikannya pada Lulu. Dengan perlahan dan sedikit bujukan, Lulu meminumkan ke Papanya. Dia tidak habis pikir orang tua yang selama ini sudah berjanji untuk tidak minum-minuman keras lagi, tiba-tiba saja sekarang pulang, dalam keadaan mabuk.
“Munah, tolong kau bangunkan Mama, dan katakan Papa lagi mabuk.”
“Baik-baik non,” ujar Maimunah bergegas naik tangga membangunkan Nyonya Wong.
“Pa, kenapa lagi, Pa. Apa yang terjadi Pa, bukankah Papa sudah janji untuk tidak minum-minum lagi, Pa,”bisik Lulu dekat ke telinga Papanya.
“He, he, lelaki ini kenapa ada di sini, hah ? Ini yang dulu….”
“Pa, ini Jefri, teman baru Lulu. Jef, ini kenalkan, Papa,” kata Lulu melihat ke arah Jefri.
“Ya, ya, you, you go, go !”sentak Wong menampik uluran tangan Jefri.
“Pa., pa, ya sudahlah Pa, Papa istirahat ya ? Tuh Mama datang.” “Ma. Lulu antarkan Bang Jefri dulu ke depan.”
“Oke, oke. Biar Mama yang urus Papa,” ucap Nyonya Wong langsung, mengelus-ngelus rambut suaminya.” Maafkan Jef jangan diambil hati, ya ? Lain kali datang lagi, ya ?” pinta Nyonya Wong.
“Iya, iya, saya maklum Bu. Pasti, pasti saya datang. Mari Bu saya permisi dulu,” kata Jefri membungkukkan badannya ke arah Nyonya Wong.
“Bang, kenyataan yang barusan Abang saksikan, Lulu serahkan pada pandangan Abang. Baik terhadap Lulu, ataupun keluarga Lulu.”
“Abang tidak faham apa maksud kata-kata Lulu barusan.”
“Maksudnya, Abang kan sudah melihat, bahwa Lulu itu, puteri dari seorang pemabuk. Pemabuk, Bang. Lulu tidak tahu mau dikemanakan muka ini, Lulu malu Bang.
“Sudah, 1upakan saja lah. Bagi Abang, itu bukan hal yang baru. Apalagi di kapal, pemandangan yang demikian, bukankah hal yang aneh,”
“Di kapal ? Abang pernah kerja di kapal ? Berarti Abang juga…”
“Ya, beberapa waktu yang lalu. Tetapi, Abang tidak pernah meminum-minuman keras.”
“Baguslah kalau begitu. Terus, sekarang Abang kerja apa ?”
“Rencananya kerja di galangan kapal, milik Tan Hau Shipping di daeiah Jurong,”
“Abang tinggalnya di sana ?”
“Tidak. Abang tinggal di mess perusahaan di kawasan flat Beach Road, lantai enam.”
“Berapa orang yang tinggal di sana ?”
“Sementara ini, kami tinggal berdua.”
“Berduanya bersama wanita ?”
“Oh tidak, tidak. Teman satu mess Abang, seorang lelaki tulen. Namanya Ahmad, berasal dari Johor Baru. Bahkan tadi, sebelum Abang ke rumah ini, kami belanja dulu di daerah Arab Street.”
“Arab Street ? Kenapa dia tadi tidak Abang bawa saja kemari ?”
“Lain kali sajalah. Kalau dia ada waktu, pasti Abang bawa dia ke rumah ini.”
“Eh Bang, Lulu boleh enggak suatu waktu main-main ke mess.”
“Tentu saja boleh. Dengan segala senang hati kami akan menyambut kedatanganmu.”
“Ha, ha, ha, menyambut kedatanganku ? Apa kalian pikir aku pejabat negara ?”
“Tentu saja tidak. Tetapi orang secantik kau, perlu mendapat perhatian yang lebih. Ya, lebih spesial, you are my eyerything.”
“Abang itu memang bisa saja. Eh. tapi Bang, Lulu mau datang bersama Ang Mei, dan Rukiah.. Abang masih ingat mereka, kan ?”
“Ya. kita cari saja waktu yang baik. Oke lah, Abang, pulang dulu, ya manis ?” kata Jefri mendekap, dan mengecup kening Lulu.
“Awas jangan menyimpang, lagi ke…..”
“Maksudmu ke Johor Road, atau ke Queen Street ?”
“Huh, dasar ! Kalau tempat begituan, semua pada tahu. Pokoknya, awas!”
“Don’t worry ! Kontak saja nanti, paling lambat dua puluh menit, Abang sudah sampai di mess. Kalau lebih dari dua puluh menit, baru Lulu boleh curiga. “
“Iya, iya, Lulu percayalah pada Abang,” ujar Lulu melepas kepergian Jefri.
Jefri kembali menelusuri Arab Street. Beberapa pedagang kaki lima mulai menata kembali dagangannya. Sesekali Jefri terganggu juga dari kesibukan pedagang yang sedang mengangkat tiang-tiang penyanggah tenda. Di ujung Arab Street. Jefri belok ke arah kiri. Setibanya di flat Beach Road, Jefri tidak langsung ke pintu lift. Ditariknya napasnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya perlahan-lahan. Gerakan itu dilakukannya berulang-ulang. Kemudian disekanya keringat yang membasahi wajah, dan tengkuknya. Udara terasa masih panas di tengah malam seperti itu. Baru saja Jefri melangkah menuju ke pintu lift, seseorang memanggil namanya.
“Kau itu, Jef ?”
Jefri hafal betul suara itu. Dia menoleh ke belakang.
“Paman ?” sapa Jefri menghampiri pamannya yang bergandengan dengan Shen-Shen.
“Kau barusan dari mana, Jef ? Pasti, kau juga ? baru pulang dari temanmu yang….”
“Ya, saya baru saja sampai. Tadi saya belanja dengan Ahmad, kemudian saya ingat, kalau saya ada janji untuk berkunjung ke rumahnya.”
“Bagus ! Sebagai lelaki, kau harus berani menunjukkan sikap ksatria. Apalagi, kau itu pelaut Jef. Ingat itu !”
“Huh ! Ternyata, kalian ini sama saja.Sama-sama buaya ! Dengan label pelaut, seolah-olah ada legalitas bagi kalian untuk seenaknya mempermainkan wanita.”
“He, he. manis. Jangan terlalu serius, aku sedang memberi garis ketegasan kepada keponakanku sendiri. Aku mau dia menjadi pelaut sejati !”
“Oh, jadi kalau pelaut sejati, harus diidentikkan dengan judi, minum-minuman keras, dan mengoleksi wanita di setiap pelabuhan ?”
“Aku tidak mengatakan itu, kan ?”
“Ya sudah. Ayo kita naik ke atas,”ajak Shen-Shen memegang tangan Mustafa. Mereka melangkah menuju lift.
“Jef besok kita sama lagi ke kantor, ya ?”
“Baik, baik paman.”ujar Jefri melangkah menuju mess.
Hari-hari yang dinantikan Mustafa, akhirnya terjawab sudah. Mr. Tan pada hari itu memberitahukan pada Mustafa, bahwa kapal yang akan dinahkodainya, beberapa jam lagi akan masuk Singapura. Itu artinya, Mustafa dan Jefri akan berpisah. Kalau menurutkan hatinya. Jefri sebenarnya ingin berangkat bersama pamannya. Apalagi peluang untuk itu ada. Yang menarik bagi Jefri, line-nya yang bagus, yang memungkinkannya untuk mengunjungi Amerika Serikat. Tetapi pada sisi lain, ada usaha yang sedang dibangunnya di Bandung. Juga ada, Liu Ching Shia. Wanita yang baru saja dikenalnya di Singapura yang begitu membelenggu hatinya berat untuk meninggalkan Singapura.
“Jef sebaiknya kau ke Clifford Pier, siapa tahu ada orang yang kau kenal atau kau pilih sendirilah seseorang yang menggantikanmu. Paman percayakan padamu “pinta Mustafa, setelah Mr. Tan mengatakan masih membutuhkan satu orang kelasi.**
Bersambung….







