Cerita Bersambung Kutunggu Kau Di Taman Merlion Singapura-(72)
Halaman 341-343

Hidayat mengucapkan terima kasih tak terhingganya pada Tatang yang telah memberikan rekomendasi pada Desy, sehingga dirinya dapat diterima sebagai karyawan “Easy Tour & Travel”. Tidak tahu hadiah apa yang pantas diberikannya pada Tatang.
“Tang, aku sangat berterima kasih padamu, Aku rasa, tanpa referensi dan rekomendasimu, aku belum tentu dapat bekerja di perusahaan ini.”
“Tidak usah berterima kasih padaku. Biasa-biasa sajalah “
“Kalian ini benar-benar low profile ! Ya, sangat rendah hati. Selama aku melamar kerja, baru kali ini aku menemukan bos model kalian. Benar-benar hebat. Boleh aku tahu siapa di belakang kehebatan ini semua ?”
“Jefri !”
“Bukankah dia yang fotonya bersama seorang wanita di meja kerja Desy ?”
“Benar. Dialah orangnya dan dia pula yang merubah jalan hidupku dari seorang pelayan hotel di Bandung ini menjadi seperti apa yang kau lihat. Kami semua menghormiatinya.”
“Hebat sekali pemuda itu. Bagaimana dengan aku yang belum mengenalnya, apakah juga wajib menghormatinya ?”
“Tentu saja, kalau tidak akibatnya akan fatal bagimu.”
“Hebat sekali dia. Bagaimana cara kita menghormatinya, bukankah dia sendiri berada di Singapura ?” Hidayat kian penasaran dengan tokoh Jefri yang demikian dihormati.
“Lho, Desy tidak menceritakannya padamu ?”
“Tidak, Desy hanya mengatakan bahwa pria itu bukan saudaranya, bukan kekasihnya tetapi dia malah memuji dan begitu menghormatinya. Saya jadinya bertambah bingung.”
“Bagaimana kaIau saya katakan. bahwa pria tersebut di perusahaan ini jabatannya Komisaris Utama, apakah tidak wajar kalau kami semuanya menghormatinya ?”
“Hah, benarkah dia……”
“Benar. Dialah Komisaris Utama perusahaan ini. Bahkan kantor yang kita tempati ini juga miliknya.”
“Wah saya jadi malu. Maafkan saya dan sejak saat ini, saya juga akan menghormatinya.”
Apa yang diperkirakan Desy, ternyata menjadi kenyataan. Jefri benar-benar terkejut begitu mendengar kabar soal Hidayat. Malam itu juga Jefri menghubungi Lulu.
“Lu, aku sengaja malam-malam begini mengontakmu. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Kau boleh terkejut mendengarnya.”
“Sampaikanlah aku siap mendengarnya dan belum tentu aku terkejut.”
“Pasti, pasti kau terkejut.”
“Aku tidak akan terkejut, kalau Abang tidak mengatakannya. Katakan sajalah.”
“Beberapa menit yang lalu, aku menerima telepon dari Bandung. Katanya tadi siang Hidayat melamar dan sudah diterima bekerja.”
“Maksud Abang, Hi…da…yat…”
“Ya, Hidayat yang tiba-tiba menghilang, dan….”
“Sudah, sudah Bang, jangan diteruskan, Lulu tidak mau mendengar. Hanya yang Lulu herankan, kenapa mereka bisa tahu kalau dulu Lulu ada hubungan dengan Hidayat ?”
“Tentu saja Hidayat yang menceritakannya. Kalau tidak dari mana kami tahu.”
“Iya, tetapi yang Lulu herankan, apa alasan Hidayat menceritakan masa lalu kami, yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan pekerjaan yang diberikan padanya kan ?”
“Katanya, Hidayat sangat terkejut begitu melihat foto kita berdua di atas meja kerja Desy. Ya, Desy yang pernah aku ceritakan padamu. Hidayat sangat terkejut melihat fotomu, sehingga dia ceritakan kalau kalian dulunya pernah menjalin cinta.”
“Cinta yang kandas, cinta yang…..”
“Sulit kau lupakan, iya kan ?”
“Bang, kita sudah saling percaya jangan sampai kabar seperti ini mengeruhkan hati kita.”
“Maaf, maaf Lu. Abang hanya sedikit mengingatkan kisah masa lalu. Cuma itu !”
“Baguslah kalau cuma itu. Oke lah besok sore kita bertemu di tempat biasa ya Bang ?”
“Maksudmu, di Taman Merlion, kan ?”
“Tentu ! Apa ada taman yang paling berkesan bagi kita di Singapura ini selain Taman Merlion ?”
“Tidak, tentu tidak ada. Hanya ada satu taman yang menjadi saksi abadi di antara kita. Oke lah Kutunggu Kau di Taman Merlion Singapura, Liu Ching Shia.”
Di Serambi Clifford Pier, Jefri memandang ke tengah laut. Di tempat ini, ratusan tahun yang lalu, bagi warga pribumi, ataupun wisatawan asing yang baru menginjakkan kakinya di Singapura, merupakan tempat hiburan yang menarik. Anak-anak bertelanjang dada berenang menantikan pengunjung membuang uang koinnya ke laut. Ketika koin dilemparkan ke laut., ketika itu pula mereka terjun berhamburan menyelam memperebutkannya. Air lautnya tidaklah sejernih saat ini, tidak sesepi saat Sri Vijayan berkuasa, dan saat itu Singapura bernama Temasek atau Kota Laut, yang kelak dalam legendanya, berubah menjadi Singa Pura, atau Lion City, karena sang ratu saat berkunjung menemukan singa. Jadilah seperti apa yang, kita kenal sekarang Republik Singapura. Kota yang tidak pernah tidur, yang ramai setiap saat. Begitu pula suasana Clifford Pier. Di salah satu tiang, Jefri menyandarkan tubuhnya, dan terus memandang ke laut. Di dalam kesendirian, pikirannya melayang. Sesaat melayang ke masa silam, sesaat melayang ke masa yang akan datang. Ke masa depan, berarti ada bagian yang akan dirancangnya, dibangunnya dengan seseorang, dan itu Liu Ching Shia. Sore ini mereka berjanji untuk bertemu. Taman Merlion hanya beberapa ratus langkah dari Clifford Pier. Taman Merlion, sebenarnya lahan kecil yang kurang layak kalau disebut taman, tetapi suasananya sangat unik. Seunik hubungannya dengan Liu Chin Shia. Dari taman kecil inilah mereka akan membangun taman yang besar menuju ke masa depan, ke masa yang tentu saja bak pepatah Cina kuno yang menyebutkan, “Nien-nien cai lang hwa phu siosi”. Ya, dari tahun ke tahun ombak tiada henti.
Bagaimana hubungan mereka kelak ? Mungkinkah setelah penyerahan Hongkong dari Inggris ke Cina Kakek Hong dan Irene berkunjung ke Bandung ? Mungkinkah Hidayat dapat menggantikan Jefri bagi cinta Desy ? Benarkah Azizah di London aktif pada kegiatan jaringan Ahmadiyah ? Atau malah Tatang akhirnya menyunting Ang Mei ? Kita ikuti :

KUTUNGGU KAU
DI TAMAN MERLION
SINGAPURA
LIU CHING SHIA
SERIAL KE II
SAMPAI BERTEMU, SALAM MANIS DARI
- S. UCOK TAMBUNAN







