Kemampuan Mitigasi Aksi Terorisme Integratif Aparat Penegak Hukum di Bali Ditingkatkan

JAKARTA,reformasitotal

Kemampuan mitigasi aksi terorisme integratif para aparat penegak hukum (Apgakum), termasuk aparat Intelijen, dan aparat pemerintah (pegawai kementerian dan lembaga) di Bali ditingkatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan melakukan Pelatihan Mitigasi Aksi Terorisme Integrative 2022.

Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Ibnu Suhaendra, menyatakan, pelatihan ini akan meningkatkan keterampilan apgakum dan aparat sipil pemerintah dalam pencegahan ancaman aksi-aksi teror di kawasan tujuan wisata ini.

“Tentu kita tidak mengharapkan adanya aksi, namun kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan aparatur pemerintah di wilayah Bali,” ujar Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT dalam keterangannya di laman resmi bnpt.go.id pada Rabu (28/6/2022).

Menurut Ibnu, mitigasi aksi terorisme di Bali bisa dilaksanakan dengan baik jika didukung kesiapsiagaan para pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk aparatur pemerintah dan apgakum, setempat.

Mitigasi ini juga dinilai akan semakin optimal juga ditambah kekuatan kewilayahan yang selalu siap meminimalisir risiko yang muncul saat terjadi aksi terorisme.

“Kegiatan ini sekaligus meningkatkan sinergitas antar stakeholders penanggulangan terorisme. Untuk itu, peserta diharapkan mengikuti pelatihan ini dengan seksama, serius, aktif, dan antusias,” katanya.

Selain melaksanakan kegiatan Mitigasi Aksi Terorisme, BNPT juga menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Nasional dalam rangka persiapan pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 bersama aparat intelijen di Bali dan ditutup dengan Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional.

Persiapan pengamanan KTT G20 merupakan upaya mengantisipasi kelancaran pertemuan para pemimpin negara-negara forum 20 ekonomi terbesar dunia yang akan di gelar di Bali Pada November mendatang.

“Seperti yang kita ketahui, Indonesia menjadi tuan rumah puncak Konferensi Tingkat Tinggi G20 Bali pada bulan November mendatang, yang akan dihadiri oleh pimpinan tinggi Internasional,” jelasnya.

Lebih lanjut Ibnu menjelaskan, pelatihan dilakukan dengan metode soft approach (pendekata lunak), yakni dengan ceramah, diskusi, simulasi table top exercise (TTx) yang disampaikan oleh narasumber, serta instruktur atau pelatih.

Metode ini diterapkan agar para peserta berfokus pada pencegahan terorisme melalui pendekatan yang bersifat humanis, mengedepankan dialog, peningkatan deteksi dini, dan peningkatan kerja sama antar instansi terkait dalam rangka pencegahan terorisme.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi adanya resiko ancaman dan mencegah adanya aksi-aksi teror, yang berpotensi di Indonesia,” pungkasnya.**

RED – FAUJI

Back to top button