Kristalisasi Hasil Survey vs Kerja Beriringan Partai dan Relawan

Oleh Jachja Taruna Djaja (Sekretaris Jenderal BP2M)

BANDUNG-reformasitotal.com

Orang yang pandai membaca suatu momen dan mengambilnya pada saat yang tepat dapat memengaruhi pendapat publik merupakan keberhasilan awal dalam menciptakan kondisi masyarakat untuk menyetujui apa yang dikehendaki orang tsb., meskipun itu sebuah pencitraan.

Dalam konteks pencapresan, pembangunan pencitraan sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya, baik oleh kelompok di lingkungan wilayahnya maupun bantuan surveyor, media massa/media sosial, dll. Tidaklah heran hasilnya sangat jauh berbeda dengan orang/tokoh yang mempunyai maksud yang sama tapi tidak/belum memanfaatkan momen tsb sebagai jalan yang harus dirintis.

Pada pencapresan 2024 nanti, Ketua Umum PDI Perjuangan belum memutuskan sesiapa yang ditugaskan partai untuk bertarung dalam pencapresan tsb., tapi sudah muncul nama Ganjar Pranowo dan Puan Maharani.

Menilik status jabatan politik mereka, Ganjar sebagai Gubernur Jawa Tengah, tentu saja berhubungan langsung dengan masyarakatnya, karena Ganjar adalah eksekutif. Sementara Puan Maharani adalah Ketua DPR RI yang memiliki tugas skala nasional dan internasional dan memiliki kedudukan setara dengan Presiden. Selain sebagai salah seorang ketua partai.
Pertanyaannya, kenapa elektabilitas Puan Maharani di bawah Ganjar Pranowo? Padahal bila diukur wilayah kerjanya sangat jauh berbeda.

Dampaknya sudah kita ketahui, bermunculannya relawan – relawan Ganjar, baik yang dikondisikan, maupun yang mengidolakannya dan ditopang dengan pemberitaan yang masif.

Bagaiman dengan Puan Maharani?
Puan Maharani sebagai salah seorang ketua di bawah kepemimpinan ibunya, Megawati Soekarno Puteri, tentu saja taat terhadap peraturan partai dan sangat paham akan tugasnya sebagai kader partai. Sebagai banteng, ia harus menjaga barisan banteng yang beriringan dalam derap langkah perjuangan negara dan bangsa. Itu banteng sejati. Bila ada sebagian politisi yang menganggap terpilihnya Puan Maharani sebagai capres/cawapres karena ketumnya adalah ibunya. Itu salah besar, itu pikiran politisi pragmatisme.
Ketua Umum PDI Perjuangan tidak akan terpengaruh dengan gema hasil survey. Beliau sangat memahami apa yang dibutuhkan bangsa dan negara ini dan figur yang pantas menjadi pemimpinnya.

Dengan taat peraturan hukum dan taat peraturan partai, Puan Maharani sudah memberi contoh kepada semua rakyat cara kita berbangsa dan bernegara, bukan dengan cara banteng yang memisahkan diri dari barisan.

Terkait kebijakan PDI Perjuangan tsb, bermunculannya relawan Puan Maharani merupakan bagian dari kesadaran diri relawan dari kondisi yang sudah terjadi.
Sepengetahuan penulis, relawan – relawan Puan Maharani adalah relawan yang menganut asas gotong royong, tulus ikhlas, selain mencintainya. Mereka bergerak secara masif, tidak memperlihatkan diri secara besar – besaran ataupun pernyataan sikap dengan panggung besar. Mereka lebih berkonsentrasi pada memperluas jaringan yang terstruktur dalam satu irama antara partai dengan relawan, seperti Barisan Pencinta Puan Maharani (BP2M). Menang – kalah dalam suatu perjuangan adalah hal yang biasa, tapi taat hukum dan asas berbangsa dan bernegara harus yang terdepan.

 

 

RED-CHEVI

Back to top button