Perkuat Kolaborasi Untuk Bangkitkan Perekonomian, APINDO Jabar: “Kita Bisa, Harus Bisa, Pasti bisa”

BANDUNG, reformasitotal.com
Jajaran pengurus dan anggota yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jabar gelar halal bihalal di Hotel El Royal, Kota Bandung, pada Senin (6/6/2022).
Tampak hadir dalam kegiatan acara tersebut, Ketua APINDO Jabar Ning Wahyu Astutik, Kapolda Jabar Irjen Pol Suntana, Mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Ketua Bidang Parekrap UKM dan Koperasi Perry Tristianto. Selain itu hadir juga, Ketua DPN APINDO Haryadi Sukamdani, dan Ketua Kadin Jabar Cucu Sutara.

Dalam kesempatan itu, Ketua APINDO Jabar Ning Wahyu Astutik mengatakan bahwa dampak ekonomi akibat Covid-19 sangat terasa tidak hanya bagi para pelaku usaha di Indonesia.
“Begitu banyak negara terpuruk, belum lagi dengan adanya perang Rusia-Ukraina yang semakin mempersulit keadaan. Harga sumber daya energi menjadi naik, komoditas ikut naik, dan pastinya harga-harga yang lain turut naik,” ujarnya.
Dikatakan Ning Wahyu, Pemerintah Indonesia, yang dipimpin oleh Bapak Presiden Jokowi dan para menteri telah berupaya secara luar biasa dan maksimal.
“Alhamdulillah, ditengah kesulitan yang mendera pertumbuhan ekonomi kita masih bisa mencapai 5.01%. Pertumbuhan ini diatas pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di dunia,” terangnya.
Seperti di Amerika, Ning Wahyu menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat tahun lalu sempat menyentuh 6,9% – very promising. Namun secara mengejutkan terjun bebas pada kuartal pertama di 2022 dengan mengalami kontraksi hingga 1,4%.
Pertumbuhan ekonomi China mencapai 4,8 % pada kuartal 1-2022. Angka ini naik dari peningkatan 4%, pada kuartal keempat tahun lalu, meski masih di bawah Indonesia. Begitupun negara maju seperti Inggris yang tumbuh hanya diangka 0,8 persen pada kuartal pertama 2022.
“Singapura 3,4 %, Korsel 3,07 %. Jerman mengalami perlambatan 1,5% dan Jepang turun 1%,” katanya.
Lembaga dunia seperti IMF, OECD, World Bank, lebih lanjut Ning Wahyu memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun adalah sebesar 5 % – 5,4 % atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi dunia memang sangat melambat, tetapi bukan yang terburuk. Inflasi terjadi dimana-mana bahkan cenderung mengarah pada stagflasi.
” Meskipun Indonesia memiliki pertumbuhan terbilang bagus serta inflasi yang lebih rendah dari negara lain, namun demikian tidak boleh berpuas diri. Kita harus terus berusaha dan bekerja nyata,” tuturnya.

Ning Wahyu menghimbau, Jangan sampai Jabar untuk Jabar, Jabar untuk Indonesia dan Jabar untuk Dunia hanya berhenti sebagai sebagai slogan saja.
“Para pengusaha besar dan pengusaha kecil, harus betul-betul bergandeng tangan, berkolaborasi satu sama lain untuk membangkitkan kembali perekonomian Jabar. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat. Kita bisa, harus bisa, pasti bisa,” tutup Ning Wahyu.**
DRIVANA







