Tokoh KBB Sepakat Usung Calon Bupati-Wakil Bupati Asli Putera Daerah

BANDUNG BARAT-tabloidreformasi.com

Elemen masyarakat beserta tokoh agama, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Massa (Ormas), dan Organisasi Kepemudaan (OKP) se-Kabupaten Bandung Barat (KBB) bersepakat untuk mengusung calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat periode 2024-2029 yang merupakan putera daerah.

Kesepakatan ini muncul setelah berbagai diskusi dan pertemuan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Bandung Barat.

Para tokoh dan organisasi ini berpendapat bahwa pemimpin asli daerah memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat, serta diharapkan mampu membawa perubahan positif dan pembangunan berkelanjutan bagi KBB.

Hal itu mengemuka pada saat Musra (Musyawarah Rakyat Bandung Barat) yang bertajuk “Bade Kumaha Bandung Barat di Pilkada 2024?” di Balepare Kotabaru Parahyangan-Padalarang, Minggu (9/6/2024).

Salah seorang tokoh masyarakat yang menghadiri acara tersebut, Kustiwa Kartawiria mengatakan alasan harus putera daerah biar nantinya faham tentang kondisi Bandung Barat dengan segudang permasalahannya.

Selain itu, putera daerah bakal lebih faham dan mempunyai rasa tanggungjawab sehingga akan berusaha menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di KBB.

Sebaliknya jika mendatangkan calon dari daerah lain, tidak bakalan paham tentang karakteristik dan permasalahan Bandung Barat .

“Nggak menjamin, apalagi sekedar hanya ingin menjadi pemimpin daerah tidak jelas visi misinya dan tidak paham Bandung Barat. Dan tidak menjamin , KBB akan terlepas dari persoalan-persoalan yang ada pada saat ini,” tegasnya.

Ia menegaskan, jika Bandung Barat itu menghadapi segudang permasalahan , kondisinya jauh panggang daripada api dari tujuan pemekaran.

“Ini permasalahan saya tidak berbicara teknis dan data kalau ngomong dari hasil statistik dan sebagainya itu hanya kamuflase dari hitungan angka, tetapi dari esensi daripada permasalahan ini contoh dari konteks IPM dan sebagainya,” paparnya.

Persoalan lainnya yang dihadapi Pemkab Bandung Barat adalah tata kelola pemerintahan yang tidak baik. Intinya mereka harus punya kesadaran dan kepatutan juga kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam tata kelola pemerintahan.

“Ini harus ada pemimpin yang mempunyai komitmen dan punya keberanian juga ketegasan untuk membenahi di lokasi sehingga mereka paham lagi dan menyadari bahwa kekuasaan itu bagian dari amanat publik artinya amat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” paparnya lagi.

Kustiwa mencontohkan, kasus yang terjadi akibat ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan yang mengakibatkan
efektivitas dan sistem penggunaan anggaran pun jadi ngaco.

“Awalnya Bandung Barat belum pernah gagal bayar. Sekarang menjadi gagal bayar, ini juga disebabkan oleh konspirasi antara eksekutif dan legislatif,” ungkapnya.

Jika kondisi tersebut dibiarkan dan kita tidak ada kesadaran dari masyarakat tentang prioritas putera daerah ini, maka persoalannya tidak akan pernah selesai.

” Makannya kita sepakat komponen-komponen masyarakat di sini mengadakan musyawarah dan di rekomendasikan kepada seluruh partai mengusung putera daerah),” ucapnya.

Ia berharap, untuk calon Kepala Daerah ini hanya dilihat elektabilitas dan popularitasnya saja. Tetapi dia juga harus mengukur bagaimana seorang pemimpin kelapa daerah yang bisa memberikan solusi terhadap bergudang-gudang permasalahan yang ada di Bandung Barat (KBB) ini.

“Kita tidak tendensius siapa yang harus jadi, tetapi harus betul-betul kita fahami putra daerah yang paham dan sadar pada saat sekarang,” ucapnya lagi.

“Kalau cuman sekadar mau menjadi bupati tetapi tidak paham, bagaimana langkah yang harus ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan,” sambungnya.***

Back to top button