Mengenal P.A Ursone, Oerki dan Mafalda Dibalik Perkara Tanah di Lembang

BANDUNG BARAT, reformasitotal.com
Perkara lahan atas tanah di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus bergulir di ranah hukum. Masing-masing pihak terus mengklaim lahan atas tanah itu.
Perkara kepemilikan lahan atas tanah tersebut, diharapkan agar dapat memberi kepastian hukum terhadap siapapun yang berhak atasnya.
Kepastian hukum atas kepemilikan lahan yang diperkarakan itu juga harus bisa menjadi tolak ukur yang tak dapat diganggu gugat, yang pada akhirnya perkara yang telah berlarut-larut tersebut dalam penanganannya diharapkan akan terurai benang merahnya.
Pada hari Sabtu (24/9/2022), Tim Investigasi reformasitotal.com berhasil menemui dan mendatangi kediaman keluarga Ahli Waris Soepiah alias Mafalda yakni Ronnie Noma di Bandung, Jawa Barat.

“Mengenal Ahli Waris Oerki dan Petro Antonio Ursone”
Dalam wawancara eksklusif, saat dikonfirmasi oleh wartawan, Ronnie Noma mengakui bahwa ia adalah salah seorang dari ketiga anak laki-laki dari perkawinan kedua Soepiah alias Mafalda dengan Durman Noma.
Kedua saudara kandung Ronnie Noma lainnya diketahui bernama, Rudi Noma dan Martino Noma. Namun sayang, Rudi Noma lebih dahulu meninggal dunia pada tanggal 21 September 1994 sesuai dengan Akta Kematian No. 85/JT/1994.
Rudi Noma semasa hidupnya menikah dengan seorang perempuan bernama Tuti Rochyati, dari buah pernikahannya Rudi Noma dikaruniai dua orang anak laki-laki bernama, Aretino Noma dan Renaldo Noma yang ditetapkan juga sebagai ahli waris.
Tak berhenti sampai disitu, sebelum Soepiah alias Mafalda menikah dengan Durman Noma, diketahui kembali, bahwa Soepiah alias Mafalda telah menikah dengan Oeka Muhamad Noor yang juga mempunyai dua orang anak perempuan bernama Mariane dan Yutimah.
Akan tetapi, Mariane telah menjadi Warga Negara Belanda (WNA) mengikuti suaminya, dan diketahui Mariane meninggal dunia sejak tanggal 28 April 1989. Kemudian, Yutimah lah yang ditetapkan sebagai ahli waris dari pernikahan pertama Soepiah alias Mafalda dengan Oeka Muhamad Noor.

Perlu diketahui juga, berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Kls l A Bandung Nomor 274/Pdt/P/1989 PN Bdg, tertanggal 22 Juni 1989, Soepiah alias Mafalda adalah ahli waris satu-satunya yang ditetapkan dari orang tua angkatnya bernama Petro Antonio Ursone dan Oerki berdasarkan surat wasiat pada tahun 1919.
“Sejarah Petro Antonio Ursone dan Saudara, Orang Pertama Kebangsaan Italia Yang Datang Ke Lembang”
Keluarga Petro Antonio Ursone yang terdiri dari empat bersaudara, kala itu datang ke tanah Priangan pada tahun 1880 bertujuan untuk mengembangkan budi daya ternak, termasuk industri susu sapi di kawasan Lembang hingga menjadi terkenal.
Kemudian, mereka turut menjadi kalangan yang berpengaruh, karena memberikan tanah pribadi secara cuma-cuma untuk pendirian Observatorium Bosscha.
Selain itu, keluarga Petro Antonio Ursone juga dikabarkan berhasil menyelamatkan citra Bandung dari kabar miring kalangan Belanda/ non Priangan saat Kongres Pengusaha Gula (Suikerplanters Congress).

“Dari Peternak Lembang Menjadi Juragan Susu Terkenal Se-Hindia – Belanda”
Nama Ursone Fam (Keluarga Petro Antonio Ursone) masih dikenang didunia industri per-susuan di tanah pasundan hingga Hindia – Belanda. Pasalnya, ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil mengembangkan geliat susu murni di wilayah Lembang pada saat itu.
Keluarga Petro Antonio Ursone, diketahui mengawali karier di dunia perindustrian susu dengan menjadi seorang “leveransir” (supplier), yang mengantarkan produk susu sapi ternaknya ke sejumlah hotel, salah satunya Hotel Savoy Homann.
Semasa itu, susunya mulai dikenal sebagai salah satu, dari tiga peternak susu yakni perusahaan di Pangalengan, dan dua lagi berada di Wilayah Ujungberung.
Di tahun 1895, kemudian mereka mendirikan pabrik pemerahan susu bernama Lembangsche Melkerij Ursone yang terkenal sebagai pabrik susu terbaik di Hindia – Belanda.

“Di awal karier, Ursone Fam telah memiliki 30 ekor sapi yang dibawa dari Negeri Belanda. Tak berapa lama jumlahnya meningkat hingga 250 ekor dengan produksi yang ikut meningkat dari 100 botol, menjadi ribuan liter dalam sehari. Produksi yang melimpah itu lantas ditampung di Bandoengsche Melk Centrale, (badan usaha gabungan para peternak dan pengusaha susu) yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi internasional,” tulis Haryono Kunto, dalam Bandoeng Tempo Doeloe : 95.1984.
“Sumbangkan Tanah Pribadi untuk Pendirian Observatorium Bosscha”
Sebagai keluarga yang dikenal dermawan, Petro Antonio Ursone dan keluarganya turut menyumbangkan tanah miliknya secara cuma-cuma untuk kepentingan ilmu pengetahuan astronomi pada saat itu.
Mereka, merupakan pihak pertama yang menginisiasi berdirinya Observatorium Bosscha di tanah pribadinya untuk kepentingan kemajuan di bidang objek bintang yang tengah dikembangkan Pemerintah Hindia – Belanda pada saat itu.
“Observatorium ini dapat dibangun berkat dana dari Karel Rudolf Bosscha (1865-1928) seorang pengusaha perkebunan di wilayah Priangan. Dalam proses pembangunan obervatorium ini, Bosscha mendapatkan bantuan dari pemilik perusahaan susu “Baroe Adjak” Ursone Bersaudara berupa tanah seluas 6 hektar di daerah Lembang,” melansir cagarbudaya.kemdikbud.go.id.
Kisah menarik lainnya dari Petro Antonio Ursone adalah ketika salah satu dari empat bersaudara tersebut berhasil menyelamatkan Bandung dari kabar miring kalangan Belanda luar Priangan di kongres Pengusaha Gula (Suikerplanters Congress) pada tahun 1896.
Saat itu dikabarkan, jika jalur kereta api dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menuju kawasan Priangan telah dibuka. Sebagai daerah dengan banyaknya juragan perkebunan Belanda, didirikanlah sebuah perayaan di Gedung Merdeka atas dibukanya jalur yang dihadiri Preangerplanters (Petani teh dan kopi dari Priangan) sebagai tuan rumah, dan Suikerplanters (Petani tebu dari Jawa tengah dan Jawa timur), dengan mengundang “zangeres” atau Penyanyi, kenamaan dari Paris, Prancis.
Nahasnya, saat itu wilayah Bandung tidak memiliki piano dengan kualitas baik. Hanya ada organ seadanya, dengan kondisi tak layak. Tak sampai di situ, penyelenggara pun turut kebingungan lantaran di wilayahnya juga tak ada pemusik handal (khususnya piano).
Mencegah tercorengnya Bandung di mata petinggi pertanian Belanda dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Mama Homann, pemilik Hotel Savoy Homann memberitahu bahwa tukang leveransir susu di hotelnya, yakni Ursone bersaudara sangat piawai dalam memainkan alat musik gesek.
Akhirnya Pieter Sijthoff selaku kepala Gementee Bandung, langsung menjemput Ursone bersaudara agar memainkan musik di pementasan tersebut guna menghindari citra buruk wilayahnya. Akhirnya Sijthoff berhasil memboyong Ursone bersaudara untuk memainkan biola dan piano, berbekal kemampuan musik vistuoso sejak kecil hingga mampu mengiringi penyanyi dari Paris itu.

Red – Korwil Jabar
CHEV – DRV – AMR







